
Sehari sebelum malam pernikahan tuan besar Gutingye.
Ziaruo melangkah kearah halaman tengah, didepan bilik kamarnya, ia masih melatih kakinya untuk berjalan.
Dengan bantuan Xioyu, yang memegangi pergelangan tangan kanannya, sebagai antisipasi jika ia terjatuh atau merasakan kelelahan.
Maklum saja, terkadang ia masih merasakan kebas, dan lemas pada kakinya.
"Nona, berhati hatilah, jangan sampai anda terjatuh, nanti saya bisa di marahi tuan nona.''
Ucap Xioyu dengan perasaan penuh kecemasan .
Mendengar perkataan gadis itu, Ziaruo tersenyum kearahnya, ia menepuk lembut sesaat tangan gadis itu, yang kini memegang erat pergelangan tangannya.
Ia tahu, bahwa Xioyu peduli padanya, baik itu atas perintah Gutingye, ataupun tidak gadis disampingnya tersebut tulus peduli kepadanya.
"Setelah pernikahanku, kau juga menikahlah, aku akan memintanya memberikan suamimu dan keluargamu tempat tinggal yang dekat dengan kediamanku, karena kau sudah seperti saudara bagiku." ucap Ziaruo lembut, dengan senyum cantik, serta teduh miliknya.
Mendengar ucapan Ziaruo, ia menghentikan langkah kakinya, dan hal itu membuat Ziaruo juga menghentikan langkahnya.
"Kenapa?, apa perkataanku salah?, atau kau tidak ingin tinggal berdekatan denganku Xioyu?.'' Lanjut Ziaruo ketika melihat wanita itu, menghentikan langkahnya.
"Ada apa, mengapa sekarang justru kau menangis, maafkan aku jika ada perkataanku yang menyakitimu.'' lanjut Ziaruo lagi, kali ini tampak rasa khawatir, pada wajah cantik itu, ketika melihat Xioyu melelehkan air matanya, dengan manik mata menatap lekat kearahnya.
"Hixs...nona, bisakah hixs..dikehidupan mendatang, hixs..menjadi saudaramu, saudara sesungguhnya?.'' Pinta Xioyu, ditengah isak tangisnya yang terdengar lirih, namun deras bulir air mata gadis tersebut, mengatakan isi hatinya yang terharu, atas keperdulian wanita cantik didepannya tersebut.
Sontak saja, Ziaruo merasakan gejolak hati yang terasa bergelora di dalam hatinya, ia merasa tersentuh dengan ucapan gadis itu.
Dengan cepat ia memeluk Xioyu erat, bulir bening air matanya juga ikut menetes.
"Tentu saja boleh, aku akan sangat senang memiliki saudara seperti dirimu, namun jika dewa tidak menjadikan kita saudara kandung, bukankah, kita masih bisa menjadi saudara angkat, terimakasih Xioyu.'' ucap Ziaruo dengan pelukan hangat, dan bulir bening pada sudut matanya.
__ADS_1
"Heemmmzz ..., bolehkah aku cemburu dengan dirinya Ruoer?.'' Tanya seorang pria dari kejauhan, yang perlahan melangkah kearah mereka.
Dia adalah Gutingye, pria yang selalu mewaspadai Xioyu, Pria itu berjalan mendekat dan mengambil alih pergelangan tangan Ziaruo dari Xioyu.
"Apakah hari ini sudah lebih baik?, jangan terlalu memaksakan diri, aku tidak peduli kapan kau akan bisa berjalan, asalkan kamu sehat, itu sudah cukup.'' Ucap lembut Tingye kepada Ziaruo, sembari menuntunya berjalan pelan, mengarah ke sebuah meja dan kursi yang tertata rapi di depan bilik Ziaruo.
"Tentu saja, anda ingin nona lambat dalam penyembuhannya, agar nona tidak bisa pergi, saya akan memastikan nona akan segera sembuh.'' Pikir Xioyu.
Dengan berusaha mengatur ketenangan, dalam hatinya agar tidak tampak pada raut wajahnya, ia sadar bahwa dirinya masih selamat hingga sekarang, hanya karena nonanya.
Dan benar adanya, gutingye akan merasa kebingungan jika Ziaruo mencari Xioyu, jadi ia melepaskan gadis itu untuk saat ini.''
''Karena tuan sudah datang, saya akan mencuci baju sebentar ke sungai, nona saya pergi sebentar.'' Pamit Xioyu kepada mereka berdua, ketika keduanya ( Gutingye dan Ziaruo ) sudah duduk, pada kursi di halaman bilik kamar Ziaruo.
Dan hanya di angguki oleh Ziaruo sambil tersenyum kearah wanita itu, sedangkan Gutingye tak memperdulikannya, ia hanya fokus menatap calon mempelainya tersebut.
"Mengapa, anda terlihat tidak menyukainya?.'' Tanya lembut Ziaruo kepada Gutingye.
Pria tersebut, bahkan menarik kursinya mendekati kursi milik Ziaruo.
"Mengapa petanyaan saya, anda jawab dengan sebuah pertanyaan?.''
Tanya Ziaruo lagi, sambil tersenyum agak lebar hingga terdengar sekilas, kekehan kecil dari bibir wanita cantik tersebut, saat melihat pria itu menggeser kursi mendekat kearahnya.
Melihat hal itu, hati gutingnye serasa kejatuhan durian runtuh ia begitu bahagia.
"Benarkah? kapan aku melakukannya?.'' Tanya Gutingye lagi, dengan rona wajah berbunga bunga miliknya, ia hanya spontan saja, menjawab semua pertanyaan calon istrinya tersebut, tanpa menyadari apa yang ia ucapkan. Karena ia terlalu fokus pada wajah cantik, serta senyum indah milik gadis didepannya.
Mendengar hal tersebut, Ziaruo mendengus pelan, ia memalingkan wajahnya kearah lain.
"Tuh kan...heemmmzzz.'' Sahut singkat Ziaruo.
Mendengar hal tersebut, Gutinye diam sesaat, ia mengingat ingat kembali percakapannya dengan Ziaruo beberapa saat yang lalu, selang beberapa saat...
__ADS_1
"Haha..haha...haha...haha..."
suara tawa terdengar, dari bibir tipis Gutingye, memenuhi kediaman tersebut, ia merasa lucu atas sikapnya sendiri,
Seumur umur, baru kali ini ia merasa konyol sendiri, serta tidak menyadari apa yang terucap dari bibirnya.
"Ketika anda tertawa, seolah dunia ini hanya ada kebaikan dan kedamaian, sering seringlah tertawa dan tersenyum, karena anda terlihat begitu indah.'' Ucap lembut Ziaruo, sambil menatap lekat kearah Gutingye, tanpa sadar tangannya menyentuh wajah tegas pria di depannya. Disentuhnya dengan lembut serta penuh perasaan.
"Semoga, keputusan kita menikah, adalah pilihan terbaik, aku tak ingin menjadi sebuah penyebab atas ketidak beruntungan orang lain.'' Lanjut Ziaruo dengan nada pelan.
Entah mengapa ia merasa, bahwa dirinya akan membawa nasib buruk bagi pria di depannya itu.
"Tidak akan terjadi apapun, percayalah, bersamamu adalah keberuntungan untukku.'' Jawab gutingye sambil meletakkan tangannya, diatas punggung tangan Ziaruo, yang kini sedang mengusap lembut pipinya.
"Aku merelakan segalanya, untuk dapat bersamamu, bahkan aku siap, menantang maut untuk setiap sentuhan sentuhan ini." Gumam Gutingye dalam hati.''
"Bisakah kau menyandarkan kepalamu dibahuku sekarang?. Maaf, aku tetaplah pria normal, dan sudah lama tidak bersama wanita manapun, menunggu hari pernikahan kita besok, terasa waktu berjalan sangat lambat, tapi jika bersamamu, waktu seperti kilatan cahaya (cepat berlalu ). Jadi bantu aku melewati waktu yang terasa panjang ini.'' Ucap Gutingye lagi dengan ragu.
Mendengar hal tersebut, Ziaruo tersenyum, tanpa menjawab apapun, ia menyandarkan kepalanya di pundak pria disampingnya tersebut.
*Hanya kepala ya, meskipun kursi berdekatan, tetap saja tubuh mereka terpisah, pegangan tangan kursi masing masing.*
"Mengapa hatiku sangat sedih hari ini, mengapa seperti akan ada kejadian buruk.'' pikir dalam hati Ziaruo
"Tak ada penyesalan apapun, selama aku bisa bersamamu, hingga akhir hidupku nanti.'' Batin Gutingye.
''Apa yang harus kulakukan?,'' Gumam Xioyu.
"Akan kupastikan kau m*ti besok dengan mengen*skan.'' Ucap lirih topeng merah.
"Apa yang harus aku laporkan kepada tuan nanti?.'' Gurat bingung Wangze.
Dan masih ada sebuah bayangan, yang sedang mencengkeram dahan pohon sangat kuat, bahkan dahan tersebut hingga mengepulkan asap seolah dari tubuh bayangan tersebut dapat mengeluarkan api.
__ADS_1