Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 85 Kebersamaan


__ADS_3

Dihutan barat kekaisaran Xili.


Seorang Pria paruh baya, tengah berbaring diatas ranjang, didalam sebuah pondok di tengah hutan.


Matanya terpejam, namun senyum tergambar jelas di bibirnya. Entah apa yang tengah ia angankan, ataukah ia berjalan diantara buaian buaian mimpi indah.


Sepasang mata dibalik pintu, menatapnya dengan penuh kepiluan, jari jemarinya menggengam kekosongan dengan erat.


Hatinya meratap penuh kesedihan, melihat pemandangan sesosok tubuh diatas ranjang.


''Bahkan tahta dan wanita yang selama ini anda jaga, telah anda relakan Yang Mulia. Namun inikah akhir dari jawaban atas pengorbanan anda?.'' Ucap lirihnya.


Namun, tetap tak memperoleh jawaban apapun dari Pria yang berada diatas tempat tidur. Hatinya bergulat dengan perasaan yang bercampur aduk, sedih, pilu, terluka bahkan kemarahan, atas apa yang dialami oleh Pria yang pernah berkuasa dikekaisaran Xili tersebut.


''Mengapa Anda harus melakukan ituTuan?, jika hati anda sakit melihatnya bersama orang lain, maka.....'' Lanjut ya lagi dengan nada yang masih sama, sebuah intonasi suara yang menunjukan ketidak puasan.


Pemilik sepasang mata yang tak lain adalah Kasim Di itu, mamang merasa tidak puasa dengan hasil akhir yang di peroleh oleh sang Tuan, yang ia layani dengan supenuh hati.


Ia merasa tidak adil, menurutnya Dewa tidak adil, takdir tidak adil, bahkan Ziaruo pun mengambil keputusan yang tidak adil atas Murongxu.


Namun, ucapannya terhenti saat ia mendengar sebuah sahutan pelan, dari sosok diatas ranjang tersebut.''Jika aku tidak puas dengan keadaanku sekarang, maka apa yang dapat ku lakukan Di?.''


Sosok diatas ranjang yang tak lain adalah Murongxu, suami dari Permaisuri kekaisaran Awan Ziaruo, yang kini menjadi permaisuri Jiang jingwei.


Semenjak hari pernikahan Ziaruo, ia memutuskan untuk menyendiri di hutan barat kekaisaran Xili.


Murong menempati pondok milik Ziaruo, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berbaring diatas ranjang.


Bahkan, ia bisa melakukan hal tersebut, hingga dua hari tanpa makan, Pria itu hanya bangun sesekali untuk minum, dan melakukan panggilan reaksi tubuhnya, dan kembali berjalan menuju ranjang.


Seolah baginya, disana... dengan memejamkan mata pekatnya, jauh lebih membahagiaakan, ketimbang menikmati hidup diluar.


Bagi Murongxu dengan terpejam, ia dapat bertemu sang kekasih yang sangat ia rindukan, bahkan ia selalu dapat melakukan apapun yang ia inginkan bersamanya.


Sebuah kebersamaan yang ia inginkan, menjadi nyata dibalik matanya yang terpejam.

__ADS_1


Dan kebersamaan itu akan menghilang ketika, ia membuka mata tajam serta pekat miliknya.


Lalu, mengapa ia harus membuka mata untuk waktu yang lama, bukankah itu hal bodoh berpisah dengan Ziaruo jika ia bisa bersamanya.


Apapun pandangan serta pemikiran Murong tak dapat diganggu gugat. Karena hal inilah Kasim Di menumbuhkan kebencian yang sulit, untuk Ziaruo atau Nyonya Yun, Permaisuri negri Zing tersebut.


''Kasim Di...Maka apa yang harus aku lakukan?.'' Tanya kembali Murongxu, saat ia tak mendengar jawaban dari pelayan setianya.


Pria itu, membuka mata perlahan dan menoleh ke arah sang Kasim.


Ia tahu bahwa pelayannya tersebut, sedang gelisah dan bersedih untuk dirinya.


''Heeehhhh....'' Murongxu mendesah kasar, sembari bangun dari tidur serta mendudukan tubuhnya, ia menatap ke arah Kasim Di dengan raut wajah tak terbaca.


''Apakah kau akan membawanya paksa, dan memintanya menerimaku?.'' Murongxu masih menatap tajam ke arah sang pelayan, ketika ia mengatakan semua itu.


Ditatap sedemikian rupa, bagi sang Kasim, ia merasa ada sesuatu yang telah ia lakukan, dan itu membuat tuannya marah.


Karena dimasa lalu, tatapan tajam tersebut selalu ia terima, ketika melakukan kesalahan. Namun, Kasim Di tidak dapat menebak ataupun mengingat kesalahan apa yang telah ia lakukan sekarang. Ia hanya terdiam dan duduk dengan tenang, sambil menundukan kepalanya.


''Haah... Apakah itu mungkin Tuan?.''Sahut reflek Kasim Di, mendengar ucapan Murongxu.


Pria itu bergumam penuh keraguan, ia tak mampu mencerna ucapan Murongxu, yang seolah terlalu menganggap tinggi Nyonya Yun.


Akan tetapi, ia juga faham betul dengan sifat sang Tuan, yang tak akan pernah berkata sembarangan.


Banyak pertanyaan didalam pikiran Kasim Di seputar jati diri Ziaruo, meskipun ia pernah mendengar percakapan yang pernah kedua orang itu lakukan( Murongxu dan Ziaruo). Namun, nalar obyektifnya menolak apa yang di terima oleh pendengarannya, ia menyangkal tentang kehidupan serta status terdahulu, kedua orang tersebut.


*Episode 38 dan 39 *@* Rindu dan benci*


Meskipun, hingga sekarang Kasim Di, belum menemukan penjelasan yang masuk akal, untuk penjabaran kondisi hubungan mereka berdua. Kasim Di kembali diam dan menunduk, berusaha mencari penjelasan atas situasi yang tengah ia hadapi.


Murongxu masih menatapnya lekat, ia mengela nafas perlahan, sebelum berkata dengan suara yang setengah ditahannya.''Kau ingat, pasukan hitam yang membantu membereskan pergolakan Suyao beberapa tahun yang lalu?.''


Mendengar ucapan Murong, Kasim Di membulatkan matanya, ia bergumam lirih.''Tidak...itu tidak mungkin.''

__ADS_1


Dalam pikirannya, ia membayangkan bahwa Ziaruo memiliki pasukan yang kuat, serta pengikut yang banyak.


Namun, lagi lagi ia salah mengartikan maksud ucapan dari sang Tuan.


''Lalu...dimanakah pasukan Nyonya Yun ditempatkan Tuan?, selama ini jangankan, keberadaan mereka, bahkan gerak geriknyapun tidak tercium sama sekali.''


''Pasukan?.'' Sahut Murongxu keheranan mendengar pertanyaan dari pelayan tua tersebut.


''Benar yang Mulia, pasukan...pasukan dengan baju hitan hitam yang pernah membantu kekaisan Xili?.'' Jawab Kasim Di, dengan posisi masih duduk dibawah, namun wajahnya kini, terangkat menatap wajah Murongxu dengan antusias.


''Kau ini....masih belum mengerti juga, tidak pernah ada pasukan ataupun tentara bayaran, hanya ada Dia dan saudaranya saja, hanya mereka berdua.'' Ucap Murong menjelaskan.


''Sudahlah...aku mau tidur, jangan menggangguku lagi dengan ide ide konyolmu, seperti beberapa bulan yang lalu.( mengacu pada peristiwa beracun, dimalam pernikahan Ziaruo).


Jangan membuatku meminta maaf untuk kesalahanmu lagi, meskipun kami tidak dapat bersama, setidaknya aku tidak malu ketika bertemu dengannya.'' Lanjut Murong, sebelum membaringkan tubuh, serta memejamkan matanya kembali.


Sementara itu, Kasim tersebut terdiam ditempat, ia tak menyangka bahwa ratusan prajurit terlatih yang membantu kekaisaran Xili, ternyata adalah Ziaruo, wanita cantik nan lembut yang ia kenal.


Meskipun ia tahu, bahwa Ziaruo memiliki kelebihan luar biasa, akan tetapi ia tidak membayangkan, bahwa akan sehebat dan seluar biaazaaa itu, hingga tak dapat ia lukisan.


Ia juga tak dapat membayangkan seperti apa kekuatan, yang dimiliki oleh wanita tersebut dan saudaranya.


Bahkan, wanita yang dianggapnya hebat dengan kemampuan yang ia pahami tersebut , jauh...sungguh jauh lebih dari kata kata hebat. ''Apakah dia benar benar seorang dewi?, bahkan wanita itu, bisa menciptakan banyak tiruan dirinya dan sang kakak?.''


''Lalu apakah Tuan meminta maaf atas keterlibatanku, dalam upaya memberi racun kepada Kaisar Zing?, meskipun aku tak berniat melukainya, akan tetapi justru wanita itu yang meminum racun tersebut.'' Gumam dalam hati Kasim Di.


Tubuhnya lemas terduduk di lantai ruangan, ia menatap ke arah ranjang, dan berkata pelan. Ada keragu raguan dalam nada suaranya.''Tuan....apakah Nyonya Yun tahu, kalau kami yang melakukan semuanya?.''


''Ia....dia tahu, dan hanya berpesan, bahwa aku harus bersyukur serta bahagia telah memiliki dirimu disampingku.'' Jawab Murongxu dengan mata yang masih tetap tertutup.


''Keluarlah, tarikan dan hembusan nafasmu mengganggu kebersamaan kami.'' Lanjut Murong dengan suara pelan dan tenang.


Mendengar setiap ucapan dari Pria diatas ranjang tersebut, Kasim Di merasa ada yang mengusik ketenangannya. Namun dengan tubuh yang seolah kehilangan kekuatan ia mulai berdiri dan beranjak pergi.


''Hamba undur diri Yang Mulia.'' Ucap Kasim itu sebelum menutup pintu ruangan.

__ADS_1


Mendengar suara pintu yang tertutup, Murong kembali membuka matanya, dengan posisi yang telentang, ia menatap lurus ke langit langit ruangan dan bergumam lirih.'' Ruoer.. aku tak membutuhkan mereka memahamiku, asalkan kau mengerti dan paham, segalanya sudah cukup bagiku.''


__ADS_2