Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 175.


__ADS_3

Jing menatap sendu kearah Ziaruo, hatinya berkecamuk dan berontak tak puas.


''Yun...haruskah itu kau lakukan?.'' Tanya Jing dengan ketidak berdayaan.


Ia tidak rela, melepas wanita itu pergi kali ini.


Akan tetapi, di sisi lain pemahamannya, ia mengetahui dengan jelas, bahwa hanya sang permaisuri sajalah, yang dapat mencegah kerugian besar, penderitaan, bahkan kematian dari rakyatnya akibat pertempuran .


''Atau kita biarkan saja takdir yang menentukan nasib kita kali ini Yun, aku....'' Tambah Jing lagi.


Ziaruo memahami pemikiran Jing suaminya.


Dengan kedua tanganya, perlahan wanita itu menangkup lembut, pipi pria di depannya, seraya berkata. ''Apa yang anda takutkan?, apakah Yang mulia masih ragu dengan wanita ini?.''


Ziaruo sengaja mengatakan hal itu, ia tahu dengan benar bahwa suaminya, tak pernah memiliki keraguan atas dirinya.


Namun, hanya dengan kembali meyakinkan jing menggunakan ucapan itu, ia dapat menjauhkan penderitaan rakyat kekaisaran Zing dari kekalahan.


''Baiklah...Tapi kau dan dia harus baik-baik saja.''


Mata Jing menatap kearah perut rata Ziaruo sejenak, ketika mengatakan hal tersebut.


Hatinya tidak rela, pikirannya berkecamuk penuh cemas.


Seolah, ia telah melepas sebagian dari jantung, serta segumpal hati miliknya, ketika melepas izin itu untuk sang istri.


Namun, jika mengingat siapa wanita yang ia nikahi di depannya, sedikit keresahan dalam hati memudar.


Dia adalah Ziaruo, bahkan selemah apapun dirinya, tidak akan ada yang mampu melakukan hal buruk, atau mengambil kesempatan padanya.


Didalam ketidak berdayaannya sekarang, Jing bersumpah bahwa hanya kali ini saja, ia akan mengijinkan hal seperti ini terjadi.


Sebagai seorang kaisar, darma dan kewajiban melindungi rakyat, serta meringankan beban penderitaan rakyat, dan para prajurit miliknya, adalah suatu keharusan.


Dan bahkan, ia harus mengijinkan wanita tercintanya, pergi untuk melakukan perundingan, untuk mencegah kejadian yang lebih buruk lagi.


Ada banyak alasan, atas ketidak relaan di hati Jiang jing wei.


Namun, pada akhirnya ia tetap harus mengijinkan Ziaruo pergi.


''Baiklah, kau boleh melakukannya, dan aku akan mengurus para pemberontak b*doh itu.'' Sambungnya lagi, sembari mengeraskan rahang.


''Aku akan menghancurkan, dan tidak akan mengampuni mereka, yang telah membuatmu datang kepadanya(Canzuo).'' Lanjut Jing dalam diam.


Jing melepas pelukan, setelah beberapa saat kemudian.


Rela dan tidak rela, bukanlah penentu dari permasalahannya kali ini.


Pria tersebut, mengatar Ziaruo berjalan menuju kedalam tenda dadakan, yang baru saja di didirikan, atas perintahnya untuk sang istri beristirahat.


Jing memerintahkan prajurit untuk mendirikan tenda dadakan, beberapa saat setelah kedatangan wanita itu.


Ia ingin sang istri merasa nyaman, ketika menunggu waktu senja sebelum keberangkatan mereka, kembali kekota kekaisaran Zing.


Akan tetapi, jangankan untuk menggunakan tempat tersebut, untuk beristirahat.


Justru, Jing melepas tangan sang istri, menuju perjalanannya kali ini, di dalam tanda tersebut.

__ADS_1


''Yun...kau hanya di izinkan melakukan apapun, sesuai dengan apa yang kau jelaskan padaku, jangan melakukan yang lainnya lagi.'' Ucap Jing serius, ketika melepas tangan wanitanya.


Sebuah ungkapan kata, dengan pebulatan makna yang mencakup batasan, atas tindakan diri sang istri.


Ziaruo hanya di izinkan datang ke sana, untuk berunding, dan harus langsung kembali, tidak untuk yang lain, tidak sama sekali. Titik.


Mungkin itu dalam penjabaran kasar, kalimat pria tersebut.


Ziaruo perlahan menarik tangan miliknya, dari genggaman tangan Jing.


''Permaisuri mengerti.'' Jawabnya, dengan senyum lembut terpasang pada wajah cantiknya, sebelum tubuh itu kian mengabur, menghilang dari pandangan Jing.


Jing menatap tepat, kearah dimana tubuh sang istri menggilang.


Secapat apa tubuh itu tak terlihat, secepat itu pula raut wajah Jing memudarkan kelembutannya.


''Kalian akan menerima akibat yang buruk, atas tindakan ini.'' Gumamnya lirih, sembari mengepalkan tangan kuat


''Wuhan..'' Panggilnya keras.


Dan tentu saja, sang empunya nama dalam hitungkan detik saja, berkelebat hadir di depannya.


''Hamba Yang mulia.'' Jawab Wuhan.


''Kita akan melakukan strategi berburu mangsa, dan mereka yang menjadi otak pemberontakan harus tertangkap di akhir perburuan.'' Ucap Jiang jing wei, dengan sorot mata tajam.


Mendengar perintah dari kaisar tuannya, Wuhan terkesiap sejenak.


Pasalnya, ia mengetahui bahwa taktik berburu mangsa yang hendak dilakukan, telah lama dihapus dari pelatihan prajurit.


Oleh karenanya, sudah hampir 5 tahun yang lalu, di hapus dari pelatihan dan dianggap tabu dilakukan.


Namun, entah kemarahan apa yang membuat kaisarnya itu, memutuskan untuk menerapkan kembali metode tersebut.


''Hamba menerima perintah, Paduka.'' Sahut Wuhan lagi, sebelum menunduk memberi hormat, dan beranjak dari sana.


Baginya, tak pernah ada penyangkalan, ataupun bantahan, atas perintah sang tuan.


Baik itu salah dan buruk dimata dunia.


Namun pada kenyataannya, perintah dari kaisar Jing akan selalu benar, dan akan tetap dibenarkan di mata Wuhan.


.....................................


Di kekaisaran Tang.


Sebuah klebat bayangan, melintas di taman kekaisaran.


Bayangan itu mungkin hanya sekilas saja melintas.


Namun, ia meninggalkan aroma wewangian yang semerbak diantara bunga, yang masih kuncup disana.


''Akhirnya anda datang.'' Ucap bayangan lain, yang melihat kelebatan dari atas pohon taman.


Sosok bayangan, yang tersamar diantara rimbunnya daun pohon itu, menyembulkan senyum lembut dari bibirnya.


''Setidaknya, ada kebahagiaan sebelum penderitaan.

__ADS_1


Dan akan tetap terukir dalam hati sebagai kenangan.'' Sambungnya lagi.


Sosok itu melesat meninggalkan tempatnya, mengikuti kelebatan sosok, dengan keharuman yang menyeruak.


Gerakannya akan melambat., ketika gerakan didepannya melambat.


Dan begitu juga gerakannya akan di percepat, ketika sosok di depannya mempercepat langkahnya.


Hal itu berlangsung tak lama, hingga sampailah ia pada sebuah pintu gerbang besar, dengan ukiran sepasang naga, yang menghiasi sisi kanan, maupun kiri tiang penyanggah gerbang.


Di sana, tepat di depannya seorang wanita dengan gaun violet meliuk di terpa angin, memasuki halaman dalam gerbang.


Seolah, wanita itu transparan serta tak berwujud.


Para prajurit penjaga gerbang hanya diam, melihat wanita itu memasuki daerah pribadi kaisar Canzuo.


Sementara, melihat dirinya yang sampai disana setelah kepergian sang wanita, ke empat prajurit penjaga membungkuk kepadanya, seraya memberi salam.


''Semoga anda sejahtera.'' Ucap para prajurit penjaga, secara bersamaan.


''Bangunlah.'' Jawab sosok bayangan kedua, sembari mengibaskam tangan singkat.


''Apakah ada yang datang hari ini?.'' Tanya sosok bayangan kedua, yang tak lain adalah Biyi.


Ia datang kesana kali ini, dengan sosok sebagai dirinya sendiri.


Tidak seperti biasanya, ia akan berpura-pura, serta menyamarkan wajah, dan mengubah tampilan menyerupai kaisar Canzuo.


''Lapor tabib agung, tidak ada yang datang berkunjung.'' Jawab salah satu prajurit penjaga.


Mendengar jawaban dari sang prajurit penjaga, Biyi terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia melangkah masuk, mengikuti langkah wanita, yang mulai jauh dari tempatnya sekarang.


''Jadi mereka tidak melihatnya. Heemz... anda memang luar biasa Adik.'' Gumamnya dalam diam, disela langkah kaki mengikuti wanita itu.


........................


Seorang wanita dengan santai berjalan memasuki pintu gerbang, sebuah pavilliun megah dalam Istana kekaisaran.


Tidak tampak ketakutan, ataupun ragu pada langkah kakinya.


Bahkan, ketika ia dihadapkan pada para penjaga di depan pintu terbang, wanita itu tak menunjukan perubahan pada wajahnya.


Ia tetap berjalan, dan tak di hentikan oleh para penjaga, pintu gerbang tersebut.


Seakan semua prajurit penjaga, tak melihat kehadiran tubuhnya, yang melintas di depan wajah mereka.


Wanita dengan gaun ungu ke biruan, yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, terus berjalan menyusuri jalan setapak, dengan taman bunga kecil di sepanjang pingirannya.


Ziaruo seolah telah mengenal baik, setiap tempat disana.


Bahkan, dirinya tak perlu menanyakan arah, atau suatu tempat yang kini tengah ia tuju kepada siapapun.


Hingga, langkahnya sampai pada sebuah pintu utama. Dengan dua penjaga dan seorang dayang, berdiri di depan pintun tertutup sebuah ruangan.


Ziaruo menghentikan langkahnya sejenak, ia mengusap perut ratanya lembut, sembari berucap lirih.


''Putraku, ingatlah ini adalah darma ibundamu, atas tahta dan kemuliaan yang ia emban, dan bukan suatu kehinaan, atas perjumpaan seorang lawan jenis, tanpa kehadiran ayahandamu.''

__ADS_1


__ADS_2