Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 184


__ADS_3

''Jangan menyerah dengan apapun, ingat Kaisar telah mempercayakan Permaisuri kepada kita.'' Lianyi.


''Kami mengerti.'' Jawab ketiga orang lainnya, hampir bersamaan.


Keempat bayangan melesat dengan cepat, menyerang, menerjang, dan bahkan dua diantaranya beberapa kali melepas pukulan mematikan, kearah Lianyi dan rekannya.


Namun, secepat apapun gerakan dari serangan yang dilakukan, hingga beberapa saat setelah pergulatan tersebut, belum ada dari mereka yang mampu memukul, ataupun menerapkan sedikit goresan, di kulit keempat penjaga milik Jing.


Bahkan, justru merekalah yang hampir di buat babak belur oleh Lianyi dan 3 penjaga milik Jing.


Menyaksikan hal itu, Keempat penjaga Fengjiu, yang dia diantarannya telah mulai kesulitan berdiri menjadi geram dan berkata.'' Memang pantas Anda dijuluki sebagai perisai tahta Zing.''


Pria tersebut mengatakan apa yang ia pikirkan, dalam hati ia mngakui kemampuan Lian dan ke-3 temannya.


Akan tetapi, itu tidak membuat dirinya akan berhenti melakukan penyerangan.


Karena, prinsipnya berkata dimanapun tangan mengambil disitulah tuan yang berjaya.


Ia telah menerima uang dari tuannya, maka sebaik mungkin dia tidak akan membuat sang tuan kecewa, atas kinerja yang ia kerjakan.


''Huotu, sungguh orang yang pandai. Tapi sayang harus berkerja untuk seseorang yang dungu.'' Sahut Lianyi kasar.


Mendengar namanya disebut, pria penjaga itu menatap tajam kearah Lianyi.


''Jika kita tidak dipertemukan dalam pertempuran saat ini, mungkin bahkan seteguk arakpun, dapat kita nikmati bersama.'' Sahut Huotu.


''Namun sayang, mungkin hal itu akan sulit terjadi sekarang ini.'' Sambung pria Huotu lagi.


Dan tak menunggu reaksi dari Lianyi serta lrekannya, Huotu memusatkan tenaga pada lengan, serta mengarahkan pukulan kedepan.


Melihat tindakan tersebut, seorang pria di belakang Lianyi dengan cepat maju.


Ia menarik bilah pedang panjang miliknya, dan menerjang kearah pria Hu.


Sementara Lianyi dan kedua orang lainnya, juga kembali bergerak menyerang.


Namun, kali ini sasaran mereka mengarah kepada orang-orang yang diam menyaksikan, pertempuran dan berdiri di belakang Fengjiu.


''Slash...slash..bang..bang...''


Secara cepat, pertempuran kembali terjadi.


Mereka yang menerima serangan tak hanya tinggal diam.


Dengan kegesitan yang hampir sama, puluhan orang tersebut bersiaga, dan memberikan perlawanan.


Fengjiu menjauh dari sana, dan bergerak menuju kedalam pavilliun bersama 6 orang penyerang.


Tujuan mereka tak lain dan tak bukan adalah Ziaruo.


Fengjiu ingin segera menangkap, wanita yang ia anggap sebagai jelmaan, sekaligus perebut sang pria tercinta.

__ADS_1


Akan tetapi, ia hanyalah wanita pada umumnya yang tengah di kuasai oleh kecemburuan, dan tak menyadari bahwa disana, kedatangannya telah di tunggu oleh Ziaruo, dan dua penjaga tangguh yang berperan, sebagai pelayan permaisuri.


Dengan langkah antusias dan penuh kepastian, Fengjiu langsung menuju ruang utama pavilliun.


Dimana ia telah lama mengetahui, hanya disanalah seharusnya permaisuri Yun kini berada.


Karena ruangan itu saja, yang paling indah serta besar di istana dalam.


Dan benar saja, seperti apa yang di pikirkan olehnya.


Di dalam ruangan megah nan indah, Ziaruo tengah duduk bersama dua orang pelayan wanita, berada tak jauh dari dirinya.


Wanita itu tengah menikmati teh yang baru saja di siapkan, oleh Hanrui beberapa saat yang lalu.


Melihat kedatangan Fengjiu, permaisuri Yun hanya tersenyum sejenak, dan kembali melanjutkan menyeruput teh ditangan.


Tak ada ketakutan, ataupun bahkan sekedar terkejut, atas kedatangan wanita Fengjiu disana.


Dan hal itulah yang menyebabkan Fengjiu semakin geram, serta ingin membuatnya menyesal, karena telah mengusik, serta memprovokasi dirinya.


Fengjiu meraba sebentar untaian manik, pada pergelangan tangan kanan.


Entah karena manik tersebut, atau telah menemukan Ziaruo. Sekilas terlintas sebuah kepuasan, serta keyakinan atas sesuatu di dalam benak Fengjiu.


Namun, apapun itu tetap saja tak membuat ketiga wanita di dalam ruangan, menjadi gugup serta cemas atas tindakannya.


Bagaimanapun, sejak dirinya menerobos masuk ke halaman pavilliun phonix, ataupun membuat keramaian dengan teriakannya, Ziaruo dan kedua penjaga wanita dalam pakaian pelayan disana, telah mengetahui tentang kedatangannya.


Dari nada perkataan, dan tatapan mata pelayan wanita tersebut, seakan tak memiliki ketakutan sama sekali, dengan kehadiran ke-7 orang disana.


Justru, wanita dengan tubuh semampai dan kulit kecoklatan disisi Ziaruo, mengubah mimik wajahnya menjadi dingin.


Dan hal ini juga ditujukan oleh Xiobai, wanita pelayan satunya lagi.


Fengjiu tidak menghiraukan bentakan wanita pelayan disamping pemaisuri Yun.


Justru ia semakin berani masuk kedalam ruangan, dengan bertamengkan 3 penjaga pria di depannya, dan 3 yang lain melindungi wanita tersebut dari belakang.


Menyaksikan tindakan Fengjiu, Ziaruo merasa lucu.


Perlahan, Ia meletakkan cangkir dan menoleh kearah Fengjiu.


''Anda datang dengan rombongan, bahkan sebelum memastikan apa, dan siapa yang di datangi.''


Ziaruo mengatakan sesuatu, yang seakan hal itu di ucapkan untuk wanita Fengjiu.


Namun pada kenyataannya, disana sebuah tampilan senyum tercetak pada wajah, salah satu pria penyerang di belakang Fengjiu.


Namun, Fengjiu yang merasa itu untuk dirinya, segera menjawab dengan suara yang cukup keras.


''Siapa bilang aku tidak tahu?, kau adalah jelmaan, wanita rubah pemakan hati.''

__ADS_1


Fengjiu semakin mengeratkan pegangan tangan kiri, pada manik-manik miliknya.


Ia juga sedikit merapatkan tubuh, lebih mendekat kearah penjaga di belakangnya.


Bahkan, ucapan yang terdengar cukup keras itu, juga becampur dengan sedikit riak ketakutan.


Mendengar perkataan yang menuduhnya, Ziaruo masih tersenyum tenang.


Sekilas terlintas candaanya, beberapa waktu lalu di pavilliun milik Fengjiu, bersama Jiang Jing wei.


Akan tetapi, tidak dengan Hanrui dan Xiobai.


Kedua pelayan wanita disana, menampilkan kekesalan yang semakin memuncak.


''Langcang!.'' Pekik penjaga wnaita itu lagi.


Namun, kali ini keduanya mengatakan hampir bersamaan.


Xiobai yang memiliki latar belakang, dengan kekerasan dalam perjalanan hidup, lebih sedikit memiliki pengendalian kesabaran.


Baginya, kekuatan dan kesetiaan untuk orang terpercaya adalah segalanya, dan itu berlaku untuk kejadian hari ini.


Ziaruo yang ia ketahui berbudi baik, dan suka memberikan pertolongan untuk orang berkasta rendah, serta tak berdaya, seperti dirinya di masa lalu, adalah tuan dengan kebenaran yang ia akui.


Dan tak akan mengijinkan orang lain, untuk memberikan keburukan, ataupun ketidak adilan untuk tuannya tersebut.


Xiobai dengan cepat melesat menyerang kearah Fengjiu. Tubuhnya yang ramping, tak menjadikannya wanita yang lemah.


Dengan pengalaman pertempuran, kepahitan, serta pergulatan hidup yang penuh perjuangan, dalam sekejap saja Xiobai mampu mementalkan dua pria penjaga di depan Fengjiu, yang mencoba menghalangi dirinya.


Menyaksikan hal tersebut, Fengjiu semakin meringsekan tubuh kebelakang.


Ia merasakan aura membunuh dari tubuh Xiobai.


''Ternyata mereka bukan pelayan biasa.'' Ucap wanita itu, sembari bergerak cepat kebelakang.


''Tuan Pan...'' Panggilnya spontan.


Namun, panggilan itu tak memperoleh jawaban dari siapapun.


Fengjiu menoleh kearah pria penjaga, yang masih berdiam diri di belakang tubuhnya.


Pria yang ia panggil sebagai tuan Pan itu, hanya menatap lekat kearah Ziaruo, dan tidak sedikit pun menaruh perhatian untuk dirinya.


''Tuan...apa yang anda lakukan?, bukankah pangeran ke-2 memerintahkan anda melindungi saya?.'' Fengjiu.


Dengan wajah kesal dan kecewa, Fengjiu mengatakan apapun di benaknya tanpa berpikir panjang.


Sementara mendengar hal itu, Ziaruo, Hanrui, dan Xiobai keheranan.


''Pangeran ke-2?.''

__ADS_1


__ADS_2