Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 91 Kebencian Janda permaisuri 2.


__ADS_3

Hentikan ibunda, saya tengah berusaha memaafkan, serta menahan kemarahan saya, jadi jangan memperburuk dengan menyakiti Permaisuri.'' Lanjut Jing kembali, tampak kemarahan serta kekecewaan pada setiap kalimatnya.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Jing meninggalkan sang ibu.


Wanita yang sangat ia pedulikan dulu, namun juga orang yang telah membuatnya, sulit memberikan kepercayaan untuk orang lain.


Janda permaisuri merasa sedih atas sikap sang putra, ia hanya dapat menghela nafas pelan.


Pandangannya menerawang jauh, diantara mega mega mendung siang itu, dalam hati Lexue merasakan luka yang tak dapat ia utarakan, wajah sendu miliknya semakin menampakkan garis garis guratan usia yang tak lagi muda.


'' Aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik putraku, bukan sepertinya yang bahkan telah pernah menikah.'' Gumamnya lirih, disela helaan nafas.


Taman kembali hening dengan kejadian tersebut, bahkan setiap kasim, dan pelayan seolah tak berani menggerakan tubuh mereka barang seincipun.


Hanya menemani dan tak menghalangi gulatan pikiran Sang Janda permaisuri.


Namun tak jauh dari tempatnya duduk, mengahayati pemikiran serta lamunanya. Kaisar Jing dengan langkah lebarnya, berjalan menuju pavilliun Phonix, ia ingin segera sampai disana dan memeluk erat sang Permaisuri.


Meskipun ia tak dapat memutar waktu, serta mencegah kejadian tadi, setidaknya ia ingin memberikan sebuah dukungan untuk istri tercitanya.


Pria tersebut tengah berpikir, bahwa sekarang mungkin Ziaruo tengah terluka, bahkan sedang menangis atas perkataan sang ibu.


''Krrriiiieeeeettt.'' Pintu ruangan Permaisuri Yun terbuka.


Kaisar Jing mengambil nafas panjang sejenak dan menghembuskannya perlahan.


Seolah ia menekan sesuatu yang tengah membara didalam dadanya.


Sebuah perasaan, yang ingin ia tinggal kan diluar ruangan, hingga tak ada keburukan serta kemarahan ikut menyertainya, saat bertemu dan menghabiskan waktu bersama sang Permaisuri.


Setelah merasa sudah tenang, ia mulai melangkah masuk, matanya menyusuri setiap sudut ruangan tersebut dengan cermat.


''Kemana dia?, memgapa ruangannya kosong?.'' Ucap lirih Jing, kebingungan.


Namun, belum sempat ia bertanya kepada penjaga pavilliun, sebuah suara menyapanya dari balik punggung, dan ia mengenal betul suara tersebut.'' Salam hormat saya Yang Mulia, apa gerangan yang membuat anda berkunjung di jam jam sekarang?, bukankah anda ada pertemuan Baginda?.''


Dengan reflek Jing memutar tubuh, dipeluknya wanita yang kini berada didepan pintu masuk kamar tersebut.


''Kau dari mana?, mengapa aku tidak menemukanmu saat aku mencari disana tadi?.'' Tanya Jing keheranan, karena ruangan tersebut sudah ia masuki dan ia tak menemukan siapapun sana.


Ziaruo terkejut sesaat, namun dengan sebuah senyum lembut, ia mampu menyamarkan keterkejutannya.


Wanita itu melepas pelukan Jing, dan mnggandeng tangan sang Kaisar. Membawanya duduk pada kursi didalam ruangan, sembari berucap.'' Tentu saja, saya disini Yang Mulia....Bahkan, saya melihat anda kebingungan mencari sesuatu.''

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Kaisar Jing mengerutkan keningnya sesaat, ia merasa heran.''Benarkah?.....Tapi aku benar benar tidak menemukanmu tadi.'' Masih dengan kebingungannya.


''Aahhhhkkk...sudahlah jangan dibahas lagi. Hari ini aku sangat lelah, bisakah kau memelukku sebentar?.'' Lanjut Jing, sembari berdiri, menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana.


Melihat hal tersebut, Ziaruo tersenyum serta menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali. Baginya Pria itu sangat imut serta menggemaskan saat ini.


Namun, juga sangat memalukan, melihat pria penguasa kejam tersebut, kini tengah menggodanya.


Kaisar Jing berbaring dengan posisi telentang, ia menepuk lengan kirinya pelan, berharap Ziaruo juga membaringlan tubuhnya, serta memakai lenganya sebagai bantalan.


Melihat tak ada reaksi dari sang Permaisuri, Kaisar Jing, kembali menepuk lenganya beberapa kali.'' puk.. puk. puk...'' Sembari menyebut nama wanita itu, lirih.'' Yuuunnn...'' Dengan air muka yang dia buat sememelas mungkin.


''Aku hanya ingin menghiburmu, Yun...., kau pasti sedih karena ibundaku.'' dalam pikiran Jing.


Mendengar pemikiran itu, Ziaruo merasa bahagia, bahkan tanpa ia sadari bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Dengan perlahan ia mengahampiri ranjang, hendak merebahkan tubuhnya disana.


Belum sempat Wanita itu, sempurna merebahkan tubuhnya, Jing menarik dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


Ruangan hening beberapa saat....


Hingga, Pria tersebut mulai membuka suaranya lirih.''Terimakasih masih disini, dan terimakasih karena sudah bersabar terhadap ibundaku Yun..., akan kupastikan tak akan terulang kembali.''


''Apa yang anda katakan Yang Mulia?, aku baik baik saja, jangan mencemaskan apapun yang tak pernah terjadi.'' Jawab Ziaruo dengan nada suara yang hampir sama.


Kaisar Jing menempelkan dagunya diatas kepala Permaisuri Yun, dengan suara khasnya ia kembali berkata.'' Aku mengetahui semuanya, bahkan setiap detil ucapan dari ibundaku Yun, aku....''Ucapan Jing tak terselesaikan, manakala jemari Ziaruo menyentuh bibirnya.


Ziaruo mengerti kegelisahan serta kekhawatitan sang suami, dengan perasaan yang berdebar, ia membalikan tubuhnya menghadap kearah Jing, serta menghentikan ucapannya dengan jari tangan kanannya.


''Terlalu banyak hal yang anda khawatirkan Yang Mulia, mengapa harus menambahnya dengan sesuatu yang tak seharusnya anda cemaskan.'' Ziaruo tersenyum dan mengusap pelan kepala Kaisar tersebut.


''Hanya sebesar ini....mampu memikirkan seluruh negri....sungguh anda adalah ciptaan dewa yang sempurna.'' Lanjut Ziaruo kembali, dengan senyum lembut khas miliknya.


Wanita tersebut, berusaha mengalihkan semua pikiran tidak nyaman dihati Kaisar Jing, atas tindakan sang ibu(Janda Permaisuri Lexue) terhadap dirinya.


Dan...seperti yang ia perkirakan, itu berhasil membuat Jing suaminya, memikirkan sesuatu yang membuat hatinya berdetak kencang.


''Apa kau serius dengan ucapanmu barusan Yun?.'' Tanyanya dengan ekspresi yang merona bahagia. Dan tak ayal tindakannya membuat Ziaruo tersenyum lebar.


''Jika anda bertingkah demikian, bisa bisa saya tak dapat menahan tangan ini, untuk tidak mencubit anda Yang Mulia.'' Jawab Ziaruo dengan tangan yang hendak meraih pipi Kaisar Jing.


Namun, gerak tangannya dihentikan oleh Pria tersebut, dan bukanya menahannya, namun justru meletakkan tangan wanita itu tepat diatas pipinya, sembari berucap pelan.''Jika kau menyukainya, lakukanlah sebanyak dan sesering yang kau inginkan, aku akan merasa bahagia Yun.''


''Bahkan dengan alasan apapun kau mencubitku, aku akan tetap bahagia menerimanya.'' Lanjut Jing kembali, serta mengusap usap punggung tangan Ziaruo yang kini menempel di pipi kirinya.

__ADS_1


''Bluuussh...'' Rona wajah wanita tersebut berubah semburat merah, dengan detak jantung yang seolah, hendak berlari keluar meninggalkan raganya.


Ziaruo menundukan wajahnya, menarik diri dari pandangan Kaisar Jing, sehingga semakin mudah bagi pria tersebut merengkuh tubuh ramping miliknya.


''Aku berharap Kau tak akan pernah berubah Yun....dan kuharap selamanya bisa bersama mu seperti sekarang.'' Gumamnya dalam hati, dan tentu saja Ziaruo mengetahui pemikiran tersebut.


Tanpa terasa, waktu bergulir dengan sangat cepat, meninggalkan sepasang suami istri diatas ranjang, dengan kehangatan dalam setiap kebersamaan mereka, tubuh ramping yang kini terlelap didalam dekapan sang pria, nampak nyanyak dengan buaian kasih sayang yang besar.


Hingga ketika Kaisar Jing telah memastikan, bahwa wanita tersebut masuk kedalam dunia mimpinya, ia menggantikan tangannya dengan penganggah kepala dari batu giok yang terbungkus beberapa lapis bulu bulu halus.


Pria tersebut turun dari ranjang, duduk pada sebuah kursi yang tak jauh dari tempat sang Permaisuri menjemput mimpinya.


''Wuhan...'' Panggilnya kepada sang penjaga setia.


Secepat apa ia memanggil, secepat itu pula Wuhan datang kepadanya, sembari menunduk serta memberi hormat sesaat, sebelum berkata dengan intonasi tegasnya.'' Hamba Yang Mulia.''


''Aku ingin kau melalukan sesuatu untukku, kemarilah....lebih mendekat.'' Lanjut sang Kaisar sebelum membisikan sebuah perintah, kepada Wuhan, penjaga sekaligus sahabat terpercayanya.


Sementara itu di negri yang berjarak, 6 hari perjalanan dari kekaisaran Zing.


Sebuah Negri yang terkenal sebagai tempat penghasil kuda kuda perang terhebat di benua tersebut, tampak kesibukan dengan persiapan acara festival tahunan.


Bahkan sepanjang kota yang menjadi jalur perjalanan kedatangan tamu kekaisaranpun, ikut sibuk berbenah.


Seorang Pria dengan pakaian mewah, serta raut wajah tampan turun dari kudanya, mendekati penjual yang kini sedang menawarkan manisan dipingir jalan.


Pria tersebut mengambil beberapa manisan dari sang penjual, mencicipinya dan berucap.'' Manisanmu ini enak dan lezat, apakah itu bisa dimakan untuk 10 hari mendatang?.''


Mendengar pertanyaan tersebut, sang penjual tampak antusias dan berkata.''Tuan...mengapa harus menyimpannya, saya bisa membuatkan yang baru, untuk anda 10 hari mendatang tuan.''


''Kau benar...tapi Apakah nanti rasanya akan sama seperti sekarang?.'' Tanya lagi sang Pria dengan wajah tenang.


''Tentu saja tuan.'' Sahut sang penjual dengan sopan, ia mulai membayangkan akan menerima uang pesanan untuk sepuluh hari mendatang.


''Manisan ini buatan istri saya tuan, jadi pasti akan sama seperti sekarang.'' Jawab sang penjual lagi, meyakinkan.


Mendengar perkataan tersebut, Pria itu mengangguk-anggukan kepala pelan, seolah tengah berpikir dan kembali berucap.'' Baiklah, siapkan untukku sebanyak yang bisa istrimu buat, dan antar Kekediaman Jendral Chang.


Ini uang mukanya....dan akan aku tambah lagi jika kau sudah mengatar manisannya.'' Lanjut sang pria sembari memberikan sekantong penuh uang perak.


Bahkan Jumlah yang hampir cukup, untuk membeli banyak manisan, beserta tokonya sekalian.


"Aku harap anda akan datang Nyonya, dan aku telah menyiapkan banyak makanan kesukaan anda.''Gumam sang pria dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2