Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 239 Membujuk.


__ADS_3

Wajah itu, masih belum menunjukan sebuah tampilan percaya untuknya.


Akan tetapi, disana juga tak lagi terlihat kesenduan beberapa saat yang lalu.


Melihat ekspresi Ziaruo yang sedikit lebih baik, Jing kembali membuka bibir dan berkata. ''Kebanyakan dari mereka adalah tawanan sangkar emas, untuk mengontrol keluarga para bangsawan, dan tak ada yang benar-benar berperan sebagai selir.''


''Yun...Bisakah kau mengerti?''


Ziaruo yang melihat ketulusan, serta kesungguhan dari setiap ucapan sang suami, merasa sedikit ringan dalam hati.


Kekecewaan tentang sosok tak penting, yang memenuhi harem istana dalam sedikit memudar.


Perlahan ia menggerakkan tubuh dan kepala, berhadapan langsung dengan Jiang Jing wei.


Bahkan ada senyum tipis yang mulai tersembul untuk pria itu, yang sedari tadi menatapnya penuh harap.


''Yun...Dengan apa yang kita lalui selama kebersamaan kita, apakah kau masih belum mengerti tentang diriku?.'' Lanjut Jing lagi.


Wajah itu, ekspresi serta keseriusan yang terlihat jelas menunjukkan ketulusan yang nyata.


Ziaruo bergerak perlahan bangkit dari posisi tidur, ia membawa tubuh rampingnya duduk, seraya mensejajarkan dengan tubuh Jiang Jing wei.


''Wanita ini, tak seharusnya menuntut terlalu banyak kepada Anda baginda.


Dengan kelalaian dan absennya wanita ini, atas kewajibannya, segalanya adalah benar dilakukan.''


Ziaruo mengatakan apa yang benar tentang sosok pengabdian seorang istri, serta etika dan kriteria permaisuri yang baik.


Namun, suara itu serta raut wajah yang terlihat, jelas bukan sesuatu yang menggambarkan diri, sebagai sosok teladan dalam bait ucapan barusan.


Ziaruo memahami setiap etiket, dan sosok sempurna istri terbaik untuk seorang kaisar.


Namun dalam hati dan keegoisan diri, ia menentang keras kategori yang terjabar dari diskripsi itu sendiri.


''Namun, hati dan perasaan saya tidak pernah rela dan mampu untuk tulus, melakukan itu semua Baginda.'' Lanjutnya lagi, setelah terdiam sejenak.


Ziaruo menunduk di depan Jiang Jing wei, ia merasa keegoisan itu terlalu tak adil untuk pria di depannya saat ini.


Akan tetapi, sebesar apa pemahaman yang ia miliki, berkali-kali lipat ia enggan melepas sang suami untuk bersama wanita lain.


Bahkan membayangkannya saja ia hampir kehilangan kesabaran.


Apakah kini hatinya tulus dan benar-benar mencintai sosok jing?.


Ziaruo semakin menundukkan wajah dalam.


Ada kecamuk tentang rasa dan kebingungan, atas sikap serta keegoisan besar yang kini bersemi di dalam dirinya saat ini.

__ADS_1


Apakah semua bersangkutan dengan tubuhnya yang telah sempurna menjadi manusia biasa?.


Pikiran dan hati Ziaruo saling bertentangan dan tak dapat saling berkolaborasi.


Pikiran yang sadar tentang semua kenyataan, dan arti perjalanan putaran reinkarnasi, yang membuatnya tetap stabil.


Dan hati yang mulai memiliki perasaan keduniawian berwarna-warni, dengan rasa-rasa beraneka ragam, yang membuatnya tak lagi menjadi sosok tenang.


Melihat wajah di depannya yang menunduk, hati Jing semakin tak berdaya.


Ziaruo dalam ingatan yang ia miliki, tak pernah merasa bersalah dan ragu, atas apapun keputusan yang di ambil.


Sosoknya akan selalu tenang, baik dalam situasi apapun.


Tanpa menunggu wanita itu berkata lagi, Jing meraih tubuh Ziaruo dan mendekapnya dengan lembut.


''Siapa yang memintamu untuk membagi kaisar ini?, itu tidak akan terjadi Yun.'' Jing.


''Biarkan yang telah berlalu, selama pria ini masih menjadi suami dari permaisuri Yun, ia tak akan melihat hati wanita lain, aku berjanji.'' Lanjut Jing lagi.


Suara itu terdengar tegas, dengan posisi mereka yang berpelukan, segalanya menjadi jauh lebih sakral dalam pendengaran wanita itu.


Hatinya berdetak tak beraturan, seolah ia telah berlari memutari pelataran istana, dengan kecepatan kijang yang sedang di buru.


Ziaruo menyentuh jantungnya perlahan, dari sana terdengar jelas degub debaran yang bergemuruh. ''Degub....degub...degub.''


Ia merasa perasaan itu sangat menarik untuknya. Selama putaran waktu reinkarnasi yang ia jalani, seingatnya baru kali ini ia memiliki perasaan seperti sekarang.


''Yun...'' Panggil Jing dengan lembut.


''Bisakah kalian kembali?, aku memiliki waktu terbaik kita bersama.''


Jiang Jing wei terdiam sejenak, ia berpikir jika tidak mengatakannya saat ini, mungkin kedepannya ia akan kehilangan kepercayaan diri, untuk mengatakan apapun isi hatinya.


Atau lebih tepatnya, Jing akan berubah pikiran untuk ide membawa kembali kedua orang terpenting dalam hidupnya tersebut.


''Biarlah hanya sejenak Yun. kembalilah!, kita berikan Weiyun keutuhan keluarga sempurna.''


Suara Jing semakin melemah, saat mengutarakan kata sejenak, sebagai pengukur waktu kebersamaan.


Dalam baris penggalan pengucapan tersebut, ia jelas memahami apa yang tengah ia minta dari wanita itu.


''Mungkin dengan kebahagian utuh itu, kami akan bisa melanjutkan hidup setelahnya.''


Jiang Jing wei tengah membagi ritme suara, dengan detak jantungnya yang memberontak, untuk kepedihan tentang gambaran waktu perpisahan, yang kian mendekat untuk mereka.


Suara itu semakin lama, semakin terdengar dalam.

__ADS_1


Seolah ada benda berat yang membuat sang pengucap, membutuhkan banyak usaha untuk meluncurkannya dari bibir.


''Yun...jangan membuatnya menjadi sosok yang menyedihkan. Bahkan jika itu hanya sebentar, mari kita berikan kelengkapan keluarga untuknya.'' Lanjut Jing lagi.


Pria tersebut terus mengucapkan apapun yang dia pikirkan.


Dan sebagian besar dari perkataan tersebut, telah ia susun dan pikirkan sejak lama, sebagai upaya untuk membujuk wanita tersebut.


Sementara sosok di dalam pelukannya masih tetap diam, dan hanya mendengarkan apa yang tengah ia ucapkan.


Jiang Jing wei berharap dengan perkataannya saat ini, ia dapat merubah keputusan sang istri dengan menekankan, atas kebutuhan bagi putra mereka Weiyun.


''Bisakah itu dilakukan Yun?.''


Jing merasa ragu, dengan apa yang akan di ucapkan oleh sosok dalam dekapannya saat ini.


Dalam pemahamannya tentang wanita itu, ia akan memperoleh jawaban dengan akhir jalan tertutup untuk keinginannya.


Meski demikian, Jing masih tetap mengutarakan keinginan terbesarnya, untuk dapat menikmati kebersamaan mereka, sebagai keluarga seperti pada umumnya.


Melihat kebungkaman dari sosok Ziaruo, Jing semakin yakin bahwa ia telah menemui jalan buntu.


Kaisar tersebut masih memeluk tubuh Ziaruo erat.


Tak ada perbedaan untuknya memeluk sang istri, dengan apa yang akan di katakannya nanti sebagai jawaban.


Mungkin garis perbedaan terbesarnya, ia akan segera kehilangan momen sekarang, ketika wanita itu membuka suara untuk menolak usulannya.


Lalu mengapa ia harus menyia-nyiakan waktu melepas pelukan, untuk sebuah kekecewaan yang tak seberapa, di banding dengan perpisahan yang akan di hadapi.


Mata tajam Jiang Jing wei meredup perlahan, sebelum akhirnya terpenjam sejenak di atas kepala Ziaruo.


Dan pada akhirnya, terdengar sebuah helaan nafas panjang dengan keengganan.


''Ternyata semuanya memang harus terjadi.


Bahkan setelah banyaknya kebaikan yang kami lakukan, Dewa tetap tak memberikan jalan untuk kami bersama.'' Pikir Jing dalam diam.


Hati Jiang Jing wei seolah kembali hancur berkeping-keping.


Wajahnya masih kokoh di atas kepala Ziaruo, dengan dagu yang menyentuh pucuk kepala.


Wanita dalam dekapan itu masih diam, seakan tidak memahami apa yang tengah di pikirkan oleh sang suami.


Namun, ketika semua harapan yang di inginkan Jing perlahan memudar, suara lembut dari dalam dekapan membuat tubuh itu membeku.


''Baiklah..... Wanita ini akan menjemput Weiyun.''

__ADS_1


__ADS_2