Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 211. Berbalik.


__ADS_3

''Bahkan, jika kau ingin membunuhku lihat diri sendiri dulu, apakah kau memiliki kemampuan itu?.'' Ucap Murong.


''Yang perlu kau ingat, di sini kau hanya penguasa dari Yincang.''


''Dan akulah pemiliknya.'' Lanjut Murong lagi.


''Hahaha...hahaha...Anda sungguh pandai bercanda.'' Ucap Yaksa, setelah mendengar perkataan Murong.


Bagimana mungkin, Yincang yang sengaja di berikan untuknya, kini dengan tiba-tiba muncul sosok pemilik.


Bukankah dirinya sang pemilik?.


Yaksa merasa yang di ucapkan oleh pria tersebut adalah sebuah candaan.


Melihat wanita itu tertawa, Murong tak ambil pusing.


Ia masih diam, dan sibuk dengan beberapa bagian bajunya yang sedikit kotor.


Mengibas, menebah, dan merapikan beberapa bagian yang agak kurang enak di pandang.


Yaksa berhenti tertawa setelah beberapa saat.


Wanita tersebut, kembali merasa janggal dengan sikap, serta perilaku dari pria itu.


''Haaaah....'' Yaksa menghembuskan nafas kasar.


Ia menyudahi tawa, yang kian terasa canggung.


''Sejak kapan Yincang menjadi milik anda?.''


Tak ada keanehan dari pertanyaan wanita ular tersebut.


Karena ajak awal, Yincang memanglah sebuah wilayah yang kosong, dan dirinya yang dikirim kesana sebagai hukuman di awal, telah menjadikan wilayah tak bertuan itu, menjadi sebuah pemukiman.


Meskipun, dimensi Yincang bukan sebuah kemegahan istana, serta hunian yang lumrah.


Namun ,benar adanya jika tempat itu menjadi lebih hidup, karena jasa dari Yaksa.


Yaksa menawarkan tempat tinggal bagi mereka makhluk yang terbuang.


Ia menjadikan Yincang sebuah harapan, bagi mereka yang putus asa dengan masa depan yang gemilang, serta memenuhi segala ambisi dari siapapun yang memujanya.


Dan tentu saja, dengan ketentuan yang telah ia tetapkan.


Yincang milik Yaksa sejak awal ia menginjakan kaki disana.


Bahkan, bagi penghuni Yincang yang lain, Yaksa adalah setara dengan dewa di alam lain.


Lalu dari mana datangnya, pemilik baru di depannya sekarang.


Mendengar pertanyaan itu, Murong tertarik untuk menatap Yaksa.


Dalam sorot matanya yang tajam serta pekat, dan di tambah ketampanan Murong, Yaksa bisa kehilangan arah dengan mudah.


Namun, karena tatapan itu tak menunjukan sisi kelembutan sedikitpun, Yaksa kembali bergidik, dan memundurkan tubuh kembali.


''Sejak kau kehilangan kemampuanmu untuk menghentikan waktu.'' Murong.


Jeblaaaarrr...


Seperti sebuah sambaran petir, jawaban Murong membuat Yaksa terkejut, sekaligus kebingungan.

__ADS_1


''Bagaimana mungkin ia kehilangan kemampuannya, bukanlah baru saja itu di lakukan?.'' Yaksa bergumam dalam diamnya, dan tidak mempercayai perkataan Murong.


"Jika kau ragu dengan ucapanku, maka cobalah lakukan itu sekarang.'' Murong.


Nada suara Murong masih tenang, seperti diawal sebelumnya.


Tak ada sedikitpun kepedulian, atau keraguan sama sekali.


Dan itu membuat Yaksa gundah, serta cemas.


''Itu bercandakan?, Anda memang hebat membual.''


Yaksa mengatakan itu, memang sesuai dengan apa yang dipirkannya.


Bagi wanita Yaksa, Murong adalah pembohong besar.


Semula ia mengaku sebagai pemilik Yincang, dan kini kembali mengatakan bahwa kemampuan istimewanya telah menghilang.


Bagaimana itu mungkin?, sebuah anugerah dari dewa, tak akan menghilang dengan mudah, hanya karena perkataan seseorang saja.


Yaksa tersenyum sinis, dan menatap malas kearah Murong.


Sementara yang di tatap, masih acuh dan enggan menanggapi ejekan senyum dari Yaksa.


''Jika kau bodoh, jangan bawa itu hingga akhir.'' Ucap sarkas Murong.


''Sungguh menjengkelkan melihat orang bodoh hingga keakarnya.'' Lanjut Murong lagi.


Mendengar perkataan kasar yang di tujukan untuk dirinya, Yaksa menjadi geram.


Ia telah banyak bersabar untuk pria itu.


Akan tetapi, tak ada hal baik yang di terima dari kesabarannya saat ini.


''Jika wanita ini bodoh, memangnya mengapa?.'' Sahut Yaksa.


''Bahkan dengan kebodohan ini, aku bisa mengambil nyawa anda dengan mudah.'' Lanjutnya lagi.


Yaksa telah terpancing dengan kemarahan, atas perkataan dari Murongxu.


Jika Murong di hadapannya itu berkemampuan tinggi, atau seorang anggota klan negri atas awan, lalu apakah salah membunuhnya.


Bukankah, ia telah berulang kali mentolerir keangkuhan dan sikap kurang ajarannya.


Dan jika para dewa mempertanyakan hal itu, ia cukup memutar kembali kilasan waktu lampau, dan memperlihatkan keburukan dari pria disana.


Yaksa yakin dengan pemikirannya, bahwa tak akan ada yang menuding dirinya.


Dan dengan kejadian itu pula, ia akan menjadikan contoh untuk yang lain, agar tidak ada lagi yang meremehkan dirinya.


Wajah Yaksa berubah menjadi cerah, dan penuh semangat.


Dalam pikiran itu, kini telah terpatri bahwa Murong harus mati untuk kepuasan hati, dan juga sebagai pengingat seluruh rakyat Yincang.


Sementara itu, Murong yang telah menebak arah pemikiran Yaksa, kembali menyunggingkan senyum sinis.


''Aku benar kali ini, kau sangat bodoh.'' Murong.


''Bahkan ketika maut sudah mendekat, Anda masih arogan.'' Yaksa.


Tanpa menunggu waktu yang lama, Yaksa kembali menggerakan ujung ekor, dan menyentuh bola mata dalam genggaman telapak tangannya.

__ADS_1


''Zeblaaaar.''


Waktu kembali terhenti, dari segi Yaksa kini dirinyalah yang tersenyum kepada tubuh kaku Murong.


Yaksa mengambil sebilah benda tajam besar, dari dalam air telaga.


Melilitkan ujung ekornya pada gagang pegangan.


''Anda adalah orang pertama yang menikmati senjata ini, setelah aku datang ke Yincang.'' Ucap Yaksa, dengan desisan yang terus terdengar.


Tubuh Murong masih diam tak bergeming, wajah itu datar dengan sorot mata yang lekat kearah Yaksa.


Dan dengan cepat pula, wanita ular tersebut, menjulurkan tangan pemegang mata kearah depan, sembari menyabetkan ekor dengan sejanta tajam kearah Murong, yang diam mematung.


''Bola mata kesayanganku, harus menyaksikan ini dengan baik.'' Pekik Yaksa, sembari mengayunkan senjata pada ekor.


''Slaaash...''


Hullaaaa.....


Yaksa telah yakin, bahwa ia akan dengan mudah membunuh tubuh mematung di depannya tersebut.


Akan tetapi, ketika jarak tinggal sejengkal.


Wajah Murong, tiba-tiba menampilkan sebuah senyum menyeringai.


''Bodoh.''


Bahkan bibir itu, masih bisa mengatakan perkataan yang buruk untuknya.


Yaksa terperanjat tak percaya.


''Bagaimana mungkin, ada yang dapat menghindari pesona waktu miliknya?.'' Pikirnya.


Namun, belum juga keterkejutan itu mereda, tubuh Yaksa tiba-tiba saja membeku, dan tak dapat di gerakan sama sekali.


Ekornya dengan senjata yang hampir menyentuh leher Murong, kini diam tak bergeming(mematung).


Yaksa kebingungan dengan apa yang terjadi.


''Bagaimana...bagaimana ini mungkin?, tidak ini tidak mungkin.'' Sangkal Yaksa dalam hati.


Murong perlahan berjalan mendekat kearahnya.


Tangannya, yang sempat mengambil senjata besar dari ekor Yaksa, kini bergerak menyeret senjata itu dengan ujung di tanah.


''Sreeeek...sreeeeeeek.''


Bunyi tarikan pedang, dengan bilah ujungnya yang menciptakan goresan pada tanah, nyatanya meninggalkan kengerian dalam hati Yaksa.


''Sreeeeekkkkk.''


Suara itu semakin lama, semakin memicu ketakutan, serta aura dingin yang mencekam.


Murong kini telah tepat, di hadapan Yaksa yang mmatung.


Bola mata di tangan kirinya tersebut, dapat melihat kearah murong dengan jelas.


Hati dan pikiran Yaksa kini di liputi ketakutan.


''Tidak, ia belum ingin mati sekarang.'' Pikir Yaksa dalam kebisuan.

__ADS_1


''Bagaimana rasanya, apakah menyenangkan melihat dengan jelas kematian datang?.'' Murongxu.


__ADS_2