
Mendengar perkataan Ziaruo, Jing kembali geram.
Dan ia telah berencana, tak akan membuat mereka mati dengan mudah.
Baginya para pemberontak tersebut, telah berbuat kesalahan yang besar.
Karena merekalah, yang telah menyebabkan sang permaisuri, ikut kerepotan, serta membuatnya melakukan sesuatu, yang tak seharusnya.
''Tenang saja, kita hanya tinggal menunggu kabar dari para mata-mata.
Jika semua prajurit itu telah mundur, maka perburuan akan segera di mulai.'' Zing.
.......................................
Beberapa saat sebelumnya.
Setelah kepergian Ziaruo dari paviliun Yaksa.
Seorang pria dengan pakaian sederhana, berjalan masuk ketempat itu.
Dari gelagatnya, Ia tak membutuhkan undangan, ataupun sambutan dari sang pemilik pavilliun.
''Ternyata ada tamu lain yang datang. Haah...sungguh hari yang menyenangkan.'' Ucap sarkas Yaksa.
Wanita dengan tubuh ular tersebut, kembali meliukkan tubuh mendekati pria, yang baru saja masuk kesarangnya.
''Manusia bukan, dewa juga bukan. Hahahaha...hahaha...,anda memang pantas datang kemari.'' Lanjut Yaksa lagi.
Ia merasa lucu, dengan keadaan di sekelilingnya sekarang.
Di depannya, hadir sesosok tubuh manusia tampan, namun dengan aura kental dari bangsa abadi.
''Apa yang ingin anda minta?.''
Wanita itu, berkata tanpa basa-basi.
Dengan tubuh masih di tengah kolam, ia kembali menggerakkan kepala meliuk, mendekat kearah sang pria.
Kedua tangannya memainkan bola-bola bulat, yang menjadi kesukaanya akhir-akhir ini.
Memutarnya bergantian arah, beberapa kali. Seolah ia tengah menempatkan posisi yang tepat, pada sisi tampilan pandangan yang ia inginkan.
Dan pada kenyataannya, bulatan ditangan Yaksa memanglah bola mata, dari mereka yang telah melakukan pertukaran dengan dirinya.
Entah itu berfungsi untuk indera penglihatan baginya, atau sekedar kesenangan yang ia lakukan untuk menghabiskan waktu.
Namun yang jelas, wanita Yaksa sangat protektif, serta selalu memainkan bola mata tersebut.
Sementara, pria yang tak lain adalah Murongxu tersebut, masih diam.
__ADS_1
Wajah itu, menampilkan rasa enggan untuk melihat kearah Yaksa.
Atau dapat di deskripsikan, sebagai rasa geli, serta jijik secara bersamaan.
''Aku ingin memiliki tempat disini, dan itu harus berdekatan dengan tempatNya.'' Ucap Murong, dengan nada tegas.
Perkataan yang lebih mirip sebagai sebuah perintah, daripada meminta bantuan kepadanya.
Mendengar hal itu, Yaksa tertegun sejenak.
Namun, tak membutuhkan waktu yang lama, ia kembali meliuk mendekatkan diri kearah murongxu.
Lidah bercabangnya menjulur kedepan, seolah benda bercabang itu hendak menjilat wajah dari sang pria.
Melihat dan memperoleh perlakuan yang demikian, Murongxu menjadi kesal.
''Lancang!.'' Pekiknya dengan tangan, yang ia kibaskan dengan keras, pada kehampaan udara di depannya.
''Apa kau sudah bosan hidup?.'' Lanjut Murongxu lagi.
Mendapat reaksi yang demikian, Yaksa dengan cepat menarik diri, dan kembali menyelam di dasar telaga dengan brengutan pada wajahnya.
Ia merasa tersinggung, atas perlakuan dari tamu di depannya itu.
Wanita setengah ular tersebut, kembali menyembulkan diri, setelah murongxu memberikan tekanan, kedalam air telaga dengan tenaga dalam miliknya.
''Anda datang untuk meminta bantuan?, atau untuk memberi pertolongan?, mengapa seolah suara anda jauh lebih tinggi dari wanita ini?.'' Ucap Yaksa malas.
Akan tetapi, dengan kekuatan yang ia rasakan. Ketika ia berada di dalam kolam tadi, Yaksa tahu bahwa pria itu bukanlah orang pada umumnya.
Oleh karena hal tersebut, meski ia malas berurusan dengan Murong, Yaksa tetap harus datang, dan menghindari kerusakan di tempatnya.
Yaksa bukanlah seseorang dengan nyali kecil.
Akan tetapi, ia juga bukanlah orang bodoh, yang akan bertindak gegabah, dan membuat dirinya menanggung kerugian.
''Katakan, apa keinginan Anda sebenarnya?.'' Ucap Yaksa lagi.
Tampak jelas, ada raut ketidak sukaan, pada wajah mahkluk setengan jelmaan ular, di dalam telaga.
Dan Murong tidak mengambil pusing akan hal itu.
Baginya, bukanlah masalah sama sekali.
Seorang Murongxu kaisar Awan yang tersohor, meski telah menemukan kesadaran diri, dan pengertian tentang hidup bertoleransi dengan orang lain.
Tetap saja, ia adalah sebuah pribadi egois, serta jiwa arogan, yang di besarkan dengan hak istimewa, serta banyak penghormatan.
Ia masih butuh banyak pengetahuan tentang toleransi, tata krama, serta banyak hal tentang hidup bersosialisasi sesama manusia.
__ADS_1
Tak akan semudah membalikan telapak tangan, dapat berubah dengan cepat begitu saja.
Ia telah terbiasa memerintah, dan mengambil apapun yang ia inginkan tanpa peduli kepentingan orang lain.
Dan melihat sikapnya hari ini, Murongxu benar-benar masih butuh banyak belajar, ketika ia meminta bantuan, serta bermanis kata kepada orang lain, yang tengah ia mintai pertolongan.
''Siapa dirinya?, dan siapa wanita itu bagi anda?, dan mengapa aku harus menuruti perintah anda?.'' Jawab Yaksa dengan wajah tak berubah.
Dalam tampilan wajah itu, memanglah tampak wajah pada umumnya.
Akan tetapi, nyatanya jantung yang berdetak itu, masihlah bagian dari bangsa reptil yang dinggin.
Hati Yaksa penuh dengan kabut beku.
Ia hanya peduli dengan apa yang penting untuknya, dan mengapa harus perduli untuk orang lain.
Pikirannya hanya bergerak, seirama dengan keinginan yang tengah ia harapkan. Penuh perencanaan, dan teliti mengkalkulasi keuntungan diri sendiri.
Atau dapat di kategorikan, dalam sebuah bahasa global sebagai sebuah sifat licik, serta culas.
''Ooh....kau yakin itu jawaban terbaiknya?.'' Sahut Murong, dengan senyum menyeringai.
Ia merasa kesal, dan berpikir telah di remehan dengan jawaban sang Yaksa.
Bagi Murong, wanita tak sempurna di tengah telaga itu, telah memancing kemarahan yang berusaha ia tekan, sejak awal sampai di sana.
Pria tersebut, mengangkat tangan kanan, dan mengarahkan tepat di depan sang wanita.
''Apa yang akan kau lakukan?, ingatlah tanpa Yaksa, wanita itu.... Yun'er, tidak akan bisa melewati hari dengan baik, jangan harap ia akan baik-baik saja setelah ini.'' Ucap Yaksa lagi, dengan raut wajah sedikit panik.
Bahkan, setiap penggalan kalimat yang meluncur tersebut, sedikit terbata, dan hal itu bukan tanpa alasan.
Ketika Murong menyelesaikan ucapan. Tiba-tiba saja, aura ruangan berubah menjadi mencekam.
Terlebih lagi ketika pria tersebut, mulai mengangkat tangan. Yaksa merasa tatapan memb*n*h yang kuat, dari tubuh Murong.
''Menurutmu, apakah kau bisa mengamcamku?, dan apa kau yakin, aku tak bisa menemukan orang-orang sepertimu yang lain di sini.'' Jawab Murong.
Mendengar ucapan tersebut, Yaksa semakin panik.
Ia tahu dengan benar, bahwa memang ada satu orang lagi, seperti dirinya disana.
Meski orang itu telah digantikan, atau telah ngasingkan diri, di kedalaman hutan terlarang Yincang.
Akan tetapi, pria di depannya juga bukan orang biasa.
Dan sudah barang tentu, pria ini dapat dengan mudah menemukan orang tersebut.
''Baiklah...baiklah...katakan dengan jelas.'' Pekik Yaksa, dengan nada suara agak keras.
__ADS_1
Yaksa menyanggupi permintaan Murong, dengan keterpaksaan.
''Lihat saja nanti, aku yakin pasti ada saatnya kau lengah.'' Gumam dalam diam Yaksa.