Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 234. Pahatan dewa.


__ADS_3

Sebuah senyum yang bahkan tak menyentuh hingga ke ujung mata. Dan di balik lengkungan bibir itu, telah tersembunyi suatu rencana dan kearogansian yang kental.


''Jika demikian, maka pria ini juga akan sedikit memaksa, mohon di maklumi.''


Mendengar jawaban yang demikian, kini giliran Ziaruo mencetak senyuman di balik cadar.


Ada perasaan sinis yang tengah ia ungkapkan melalui gerakan tersebut.


Akan tetapi, tentu saja mereka tak mampu melihat hal itu.


Perlahan Ziaruo turun dari kuda, menambatkan binatang hitam peringkik nan gagah tersebut, pada salah satu pohon terdekat dari posisinya semula.


''Cangge jangan takut, tunggu kakak sebentar.'' Ziaruo.


Wanita itu berjalan mendekat kearah mereka, setelah memperoleh anggukan persetujuan dari bocah Cangge.


Ia mengambil jarak 6 hingga 7 langkah dari tempat mereka berdiri, dan kembali berkata. ''Bukan hal sulit untuk wanita ini membuka cadarnya.''


Ziaruo tepat berdiri di hadapan pria itu, dan mengabaikan kedua wanita di samping sang master.


Ia juga tidak menganggap serius mereka yang berada di atas pohon sana, dan ke empat penjaga kekar tak jauh dari ketiga orang yang berdiri kokoh di belakang.


''Namun, karena Anda telah menunda kepentingan wanita ini, sebagai ganti dari waktu yang terbuang Anda harus bersedia berjalan kembali sendirian, bagaimana apakah itu di setujui?.'' Sambungnya lagi.


Mendengar perkataan itu, pria yang di panggil master tampak sedikit berpikir, ia mulai merasa ada yang salah dengan sosok di depannya.


Gerak tubuh, gelagat dan ketenangan itu, jelas bukan milik Ruiyin.


Akan tetapi, ketika ia kembali melihat sosok perawakan, pakaian dan kuda yang di tunggangi, hatinya kembali mengukuhkan pemikiran bodohnya semula.


Master mengambil dua langkah maju, dan memperpendek jarak diantara keduanya.


Ada senyum menyeringai di bibir itu, sebelum kembali berucap. ''Dan jika pria ini benar, apakah Anda akan kembali ke mansion tanpa syarat, serta berjanji tidak akan melakukan hal konyol ini lagi?.''


Kali ini, Ziaruo-lah yang mengurangi jarak diantara mereka dengan maju 2 langkah ke depan. Sehingga jarak keduanya kini hanya tinggal 2-3 langkah saja.


''Tentu saja, untuk pihak yang salah akan memenuhi keinginan yang lain, bagaimana apa wanita ini masih harus membuka cadar?.'' Ziaruo.


Entah mengapa setelah mendengar ucapan itu, hati Master yang telah teguh kembali goyah.


Indra keenamnya selalu berbisik, bahwa ada yang berbeda dengan wanita itu saat ini.


''Apakah dirinya telah salah mengira orang lain?''


Melihat kebimbangan di mata sang master, kedua wanita di belakangnya ikut cemas.


Dan kali ini wanita Ruxing dengan yakin, kembali berucap. ''Master Adik hanya mengulur waktu, yakinlah dia memang sepupu Ruiyin.''


Mendengar ucapan tersebut, pria yang di panggil sebagai master kembali meneguhkan hati dan menjawab. ''Baik lakukan, buka Cadar Anda.''


Suara itu terdengar sangat berbobot dan dalam. Bahkan, seolah hutan Pinus disana ikut bergemericik takjub dengan aura sang pria.


Sementara Ziaruo yang berada di depannya diam mematung sejenak. Ia menghela nafas panjang dan bergumam lirih. ''Bagaimanapun menghindar, jika masalah yang mendatangi aku bisa berbuat apa?''


Ziaruo menoleh kearah kuda yang di tambatkan di sisi jalan, dan kembali berucap. ''Cangge tutup mata dan telinga, hitung hingga 50 sebelum kau buka kembali.''


''Baik kakak..'' Sebuah jawaban renyah, terdengar patuh dari bibir bocah disana.


Ia hanya melakukan apa yang di perintahkan Ziaruo, tanpa bantahan atau bertanya alasan tindakannya tersebut.


''1..2..3..4..''


Dan di detik itu Ziaruo membuka penutup wajahnya.

__ADS_1


Sebuah wajah putih berseri kini telah terpampang jelas di depan sang master. Wajah putih berseri, bibir ranum ceri, pipi merah muda samar alami, mata jernih berair yang berkilau.


Kecantikan itu adalah pahatan maha karya indah yang tak terbantahkan, bagi siapapun yang menatapnya.


Sosok keindahan yang bahkan, puisi terbaik pujangga pecinta akan lesu untuk disandingkan bersama, tengah berdiri berhadapan dengan dirinya. Sehingga, dalam hitungan detik tubuh sang master seolah membeku.


Bahkan, ketika Ziaruo bergerak cepat melesat kearah belakang tubuhnya, dan berpindah menukik kearah pepohonan di kanan dan kiri jalan, Master hanya terfokus mengikuti gerak tubuh itu, tanpa mampu mencerna tentang apa yang di lakukan oleh sang wanita.


Hingga, ketika sosok lembut rupawan tersebut kembali ke posisi semula di depannya, pria yang di panggil sebagai master masih tetap terfokus dan mematung.


Mata itu enggan beralih dari keberadaan Ziaruo.


Master yang membeku tak menyadari apapun di sekelilingnya, bahkan suara bergedebugkh di belakang, samping kiri dan kanan pepohonan, tak bisa mempengaruhi pikirannya yang terpusat untuk Ziaruo.


Ia masih tercengang dengan wajah itu, meski sebuah aroma amis darah menusuk penciumannya, ia tetap menatap lekat kearah Ziaruo.


''Bagaimana apakah anda telah menentukan jawaban, apakah wanita ini Ruiyin yang Anda cari?.''


Ziaruo mempertanyakan jawaban hasil dari penglihatan sang master, sembari membuang bilah ranting yang berlumuran darah di tangannya ke sisi jalan setapak.


Pria itu melihat gerakan tersebut, namun entah mengapa ia tak ambil pusing dengan ranting yang berdarah di sana.


Ia juga tidak penasaran dengan darah siapa yang melumuri ranting itu.


Seakan otak itu telah berhenti berkerja yang semestinya, dan hanya terpusat pada wanita itu saat ini.


Yang ia pedulikan hanya pendengarannya, telah menerima pertanyaan dari wanita di depannya.


Dalam sekejap master disadarkan dari lamunan.


Dan secara reflek ia menjawab. ''Tidak Anda bukan Ruiyin kami, maaf telah menggangu perjalanan Anda.''


''Tentu saja Anda bukan Ruiyin, wanita itu tidaklah seindah ini.'' Lanjutnya dalam diam.


Namun master juga tidak rela membuat wanita di depannya berpikir buruk tentang dirinya, oleh karena hal itu ia bergeser sedikit ke tepi jalan, dengan kesopanan.


''Biarkan dia lewat.'' Ucapnya lantang.


Ia bermaksud memberi perintah untuk semua penjaga yang di milikinya.


Ia sengaja sedikit menambah intonasi suara, agar orang-orang yang di tempatkan di atas pepohonan juga mendengar.


Master terus menatap setiap gerakan wanita di depannya saat ini, wajah itu merona tanpa di tutupi sama sekali.


Bahkan ia tetap tak menaruh rasa curiga atau ambil pusing, ketika para penjaga dan dua wanita di dekatnya tak merespon perintah yang ia berikan.


Mata itu, tubuh itu dan pikiran miliknya seolah tak ingin melihat kearah yang lain.


''47..48..49..50..kakak apa aku sudah boleh membuka mata lagi.'' Suara Cangge kembali terdengar.


Dengan keriangan suara itu, wajah Ziaruo berubah semakin melembut dengan senyum kecil tercetak sekilas.


''Cantik...sungguh cantik.'' Gumam lirih Master.


''Jika tak keberatan hitung lagi hingga 20, bersediakah Ge''er melakukannya?.'' Ziaruo.


Cangge terdiam sejenak, namun tak membutuhkan waktu lama ia kembali mulai menghitung. ''1..2..3..4.....''


Ketika Cangge mulai menghitung, Ziaruo kembali mengenakan cadar dan melompat naik ke punggung kuda.


Dengan lembut menarik tangan Cangge untuk berpegangan pada pinggangnya.


Maklum saja, bocah itu masih menutup mata dan kembali menghitung.

__ADS_1


''Karena wanita ini telah di nyatakan benar, maka bukan hal yang salah jika Anda harus berjalan kembali sendirian.'' Ziaruo.


Wanita itu menghentakkan kaki pada tubuh kudanya pelan, dan secara spontan kuda hitam tersebut mulai melesat membelah jalanan setapak.


Meninggalkan sesosok tubuh yang tak bergeming, menatap punggung mereka hingga menghilang di balik tikungan jalan setapak.


Setelah tubuh itu tak terlihat, barulah ia mulai berpikir untuk mengetahui nama dari sang wanita.


Ada juga terbesit sedikit penyesalan dari tindakan ceroboh dan kurang sopan terhadapnya beberapa saat tadi.


''Mengapa ia begitu bodoh dan tak mencari tahu apapun tentang dirinya.'' Ia menyayangkan akan kepergian Ziaruo dari sana, tanpa mengetahui apapun tentang identitas wanita tersebut.


Namun, ketika ia mulai tersadar dengan lingkungan di sekelilingnya, segera perasaan itu bertumpu dengan perasaahebat lainnya.


Mata tajam bak elang milik master membulat penuh, mulutnya menganga lebar dan secara frontal ia kembali mundur ke belakang beberapa jengkal.


''Ap..apa yang terjadi?, si..siapa...yang melakukan ini?.''


Master ingin mengatakan itu. Namun sedetik kemudian ia tersadar, sekilas bayangan ketika Ziaruo melesat cepat kebelakang dan ke sisi kanan dan kiri jalan setapak.


Wajahnya menghitam dalam sekejap, tangannya mengepal kuat.


Ekspresi kekaguman itu berkembang tumpang tindih, menjadi sesuatu yang sulit di mengerti olehnya.


Wajah itu masih tampak menghitam, namun bibir yang terbuka dengan keterkejutan berubah drastis, berbanding balik dengan sebelumnya, dan di gantikan dengan tawa yang menggelegar di tengah hutan.


Burung-burung yang bersantai, mengepakkan sayap mereka, dan terbang menjauh setelah tawa itu pecah.


Pria tersebut mengingat kembali perkataan terakhir dari Ziaruo.


Bahwa dirinya telah salah, dan wanita itu bukan sosok yang ia sangka. Maka sebagai balasan untuk dirinya yang telah menyita waktu wanita itu, ia harus kembali ke mansion sendirian.


Di Awal ia tak begitu memperhatikan perkataan dari Ziaruo, tentang makna arti kata pulang sendirian.


Namun, setelah sosoknya menghilang ia kini memahami. Bahwa, hanya dirinya saja yang memperoleh pengampunan atas kelqncangannya mengganggu, serta menghalangi jalan wanita itu.


''Tidak itu bukan sebuah pengampunan, melainkan sebuah peringatan untuk lebih berpikir di kemudian hari. Aku telah di cemo'oh terang-terangan olehnya.''


''Hahaha...hahaha..hahaha beraninya kau?.''


''Sungguh aku telah menganggap Anda remeh nona.'' Lanjutnya lagi.


Tangannya masih mengepal kuat, hatinya menahan sesuatu yang bergemuruh hebat.


Saat ini pria yang di panggil master, tidak memahami apa perasaan di hatinya.


Rasa malukah?, kecewa?, sedih?, atau marah?. Pria yang di panggil sebagai master tersebut, belum bisa menentukan.


''Baidu...'' Panggilnya tajam.


Dan dalam sekejap saja, sesosok bayangan muncul di depannya.


''Pelayan di sini tuan.'' Ucap sosok yang baru saja hadir di sana.


''Apa yang kau temukan?.'' Master.


Mendengar pertanyaan itu, Baidu tertegun sejenak, dan segera membungkuk di tanah.


''Maafkan pelayan tuan, pelayan gagal memahami.'' Baidu.


Mendengar jawaban itu, sang master mengernyit sejenak sebelum akhirnya kembali tertawa keras.


''Hahaha...hahaha...''

__ADS_1


''Bahkan penjaga yang berhati batu ini, juga terkesiap untukmu, bagus...bagus..hahaha.''


__ADS_2