Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 62 Kebencian dan kebenaran.


__ADS_3

Sebuah kereta melaju dengan kencang, pada jalanan yang banyak di tumbuhi pepohonan dikanan dan kirinya, seolah enggan melambatkan laju, serta kecepatannya saat ini.


Gerbong dengan dua kuda sebagai penariknya tersebut, membelah kesunyian hutan barat, yang banyak dirumorkan di huni oleh hewan buas, serta perampok yang kejam.


Laju cepat kereta tersebut, bukanlah tanpa alasan, namun karena disebabkan oleh tuan besar Mengshuo, yang ingin menghindari kejaran dari 3 orang penunggang kuda dibelakang kereta mereka.


''Bagaimana tuan, mereka semakin mendekat?, dan sepertinya anda juga terkena racun.'' Tanya kusir kereta, kepada sang tuan didalam gerbong.


''Percepat saja keretanya, jika memang sudah tidak mungkin untuk lolos, cari cara agar kau bisa pergi, dan mengabarkan kejadian ini kepada kaisar.'' Jawab Mengshuo dengan nada suara pelan.


Mendengar jawaban itu, sang pelayan semakin mengencangkan laju kuda keretanya, bahkan ia sesekali melepaskan c*mbuk*n kearah kuda penarik kereta, ia berharap dengan melakukan hal tersebut, kereta mereka akan berjalan jauh lebih cepat lagi.


Namun, bagaimanapun ia berusaha, untuk memacu kuda kuda tersebut, langkah dan gerakan kuda dengan seorang penunggang terlatih, bukanlah hal yang dapat di imbangi oleh kereta mereka.


Hanya selang beberapa saat saja, kereta yang di tumpangi oleh Mengshuo, dan pelayannya telah terkepung, tiga orang penunggang kuda, dengan wajah yang tertutup, menghalangi laju kereta Mengshuo, seolah mereka adalah per*mpok yang memaksa, untuk mendapatkan sesuatu, dari kereta dengan lambang kekaisaran Zing tersebut.


''Hentikan tindakan anda yang sia sia tuan Meng, silahkan anda berbalik, dan kembali bersama kami.'' Ucap penunggang kuda1, dengan masih duduk diatas kudanya.


Pria tersebut memiliki tubuh tegap, serta suara berat namun, terdengar sangat tenang dalam setiap kata katanya.


Seolah ia memiliki kepercayaan diri yang besar, layaknya orang orang berkemapuan kultivasi dan beladiri tinggi.


Mendengar ucapan tersebut, Mengshuo keluar dari dalam kereta dengan wajah yang masih tampak tenang.


''Aku akan ikut kalian, tapi bisakah dia pergi dan biarkan dia kembali dengan selamat?.'' Ucap Mengshuo dengan nada tegasnya, seakan ia masih memiliki kesempatan untuk bernegoisasi.


Akan tetapi, entah mengapa, ketiga penunggang kuda tersebut justru tertawa.


''Semoga saja, mereka memakan umpanku nanti.'' Pikir Mengshuo dalam hatinya.


''Mengapa kalian justru tertawa, apakah kalian pikir aku tidak tahu, bahwa bukan kaisar Muronghui yang memerintahkan kalian.'' Lanjut Mengshuo lagi, dengan wajah yang ia buat seolah ia kini, telah mengetahui segalanya.

__ADS_1


Yang sebenarnya, ucapnnya kali ini adalah upayanya untuk mencari kesempatan, mengulur waktu, serta mencari tahu pembenaran atas semua praduga yang ada di dalam pikirannya, tentang siapa orang yang berada dibalik penyerangannya kali ini.


Mendengar perkataan Mengshuo, mereka bertiga terdiam dan saling pandang.


dan hal tersebut, membuat sang guru besar( Mengshuo) semakin yakin akan tebakannya.


'' Bukahkan tuan kalian, ingin membuat jarak dan kesalah fahaman, diantara kekaisaran Xili dan Zing?.'' Lanjut pria tersebut, dengan nada percaya dirinya yang mulai terbentuk kembali, setelah beberapa saat yang lalu ia diliputi dengan kecemasan.


''Jadi lepaskan pelayanku, biarkan dia melaporkan hal ini, dan aku akan ikut kembali bersama kalian.'' Ujar Mengshuo kembali.


Pria muda, dengan usia 26 tahun tersebut berfikir, jikapun rencana untuk meminta bantuan gagal, setidaknya hanya dirinya yang akan celaka, itu bukanlah hal penting, karena keluarga besar Meng masih memiliki 3 orang putra lainya lagi.


Namun, berbeda dengan sang pelayan, yang masih memiliki keluarga, dan sangat membutuhkan kehadirannya serta sokongan nafkah darinya.


Guru besar Mengshuo, menghela nafas pelan, serta memejamkan matanya sejenak, tiba tiba saja didalam pikirannya ia mengingat sesosok bayangan.


''Mengapa disaat seperti ini, aku justru mengingat wanita itu, mengingat seseorang yang kubenci selama ini.'' Gumamnya dalam hati.


Apakah anda seseorang dengan kekurangan dalam langkah kaki( pinc*ng) tuan?.'' Ucap wanita dalam ingatan Mengshuo.


Yang mengingatkannya, bahwa untuk menghakimi dan menentukan orang lain itu bersalah ataupun, seseorang itu baik dan buruk, diperlukan keterangan dari kedua belah pihak yang bersangkutan, bukan hanya satu sisi cerita milik orang terdekat saja.*


''Mengapa, bahkan sebelum aku bisa melihat wajah anda, hanya dengan sekali pertemuan, aku memiliki banyak kegoyahan atas kebencian, sikap kasar dan burukku terhadap anda, jika tuhan masih memberikan kesempatan aku akan......'' Pikirnya lagi dalam diamnya.


''Mengapa kami harus membiarkan dia terbebas, apakah anda mengira bahwa tuan kami belum melakukan apapun, untuk kejadian hari ini.'' Sahut penunggang kuda kedua dengan sorot mata tajam, mengarah tepat kearah Mengshuo.


Mendengar ucapan itu, Mengshuo tersenyum miris.


''Ternyata, mereka memang sudah mpersiapakan segalanya, sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan lagi.'' Pikir pria tersebut lagi dalam tatap matanya yang tampak sendu kearah sang pelayan.


''Tuan, saya senang bisa melayani anda.'' Ucap sang pelayan, seolah ia mengerti arti tatapan sang majikan kearahnya, dengan sebuah senyum terpasang pada wajah polosnya, saat seorang penunggang kuda lainnya mendekati kereta, dengan sebilah benda tajam panjang yang terhunus.

__ADS_1


Namun saat mereka semua sudah menduga apa yang akan terjadi disana.


''Ceetiiing....''( bunyi sebuah batu menghantam benda logam dengan kekuatan yang besar).


Sontak saja semua orang terkejut, dan menatap kearah benda tajam yang kini tegeletak ditanah, terlepas dari tangan sang pemilik.


''Kur*ng*jar...!, siapa yang ikut campur urusan kami?, tunjukan dirimu!.'' Ucap lantang sang penunggang kuda, sambil menyapu pandangan fokus, kearah asal benda yang menghantam senjatanya.


Dan hal tersebut, juga dilakukan oleh semua orang yang disana saat itu, kecuali sang pelayan yang masih gemetaran, akibat rasa takut yang mengira, ia akan segera m*ti.


Tampak dari arah balik pepohonan hutan, seorang gadis melangkah tenang kearah mereka.


''Nyonya Yun.'' Pekik Mengshuo reflek, bersamaan degan penunggang kuda pertama, yang juga terkejut, atas kehadiran wanita itu disana.


Dan spontan saja, penunggang kuda tersebut turun dari kuda dan diikuti oleh kedua rekannya, sebagai tanda hormat untuk sosok seorang penyelamat sekaligus, wanita yang menempati posisi penting dihati sang majikan.


Namun, sosok wanita bercadar yang tak lain adalah Ziaruo, atau yang sekarang dikenal sebagai nyonya Yun tersebut, tak menghiraukan ucapan, ataupun merespon salam hormat mereka.


Hal itu ia lakukan bukan karena kesombongannya, akan tetapi lebih karena, ia tak menginginkan penghormatan tersebut, dia bukanlah siapa siapa bagi mereka dan majikannya.


''Bukankah, aku sudah pernah mengatakan kepada tuanmu, bahwa disekitar makam suamiku, jangan ada lagi pertumpahan darah, apakah tuan kalian sudah melupakan semuanya?.'' Ucap nyonya Yun, dengan nada datar, sembari menatap penunggang kuda yang kini sudah turun, dan memberi hormat kepadanya.


''Maafkan kami nyonya Yun, tanpa sadar telah memasuki wilayah anda.'' Jawab pria tersebut dengan penuh hormat.


Semntara itu, Mengshuo yang mengetahui kejadian tersebut, hanya menatap kearah wanita itu, tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.


''Kalau begitu, kami undur diri dulu nyonya, dan akan kami sampaikan salam anda kepada tuan.'' Lanjut penunggang kuda tersebut sembari membungkuk, memberi hormat. Tindakannya itu diikuti oleh kedua rekannya, meskipun mereka tidak mengetahui dan mengenal nyonya Yun.


''Kalian berdua tetap disini, biar aku saja yang akan melapor kepada tuan, jangan lakukan apapun selama mereka masih disini, tunggu sampai aku kembali.'' Ucap lagi sang penunggang kuda pertama, kepada kedua rekannya, sebelum melesat pergi dengan kuda.


Sementara itu, kedua penunggang kuda yang lain, tetap berjaga disana namun kali ini, mereka tidak melakukan apapun, selama kedua target mereka masih di dalam lingkup area pemakam.

__ADS_1


Banyak pertanyaan didalam pikiran kedua orang itu, namun cukuplah mereka simpan didalam diam, karena didalam etiket dan aturan profesi mereka, tidak di izinkan untuk ikut campur, dalam hal yang tidak di perlukan.


__ADS_2