
Masih di hutan perbatasan kekaisaran Tang.
Oleh karena hal tersebut, Niang memilih melakukan segalanya sendiri, ia tak memerlukan bantuan, ataupun kerjasama dengan kaisar Canzuo, orang yang pernah menolongnya tersebut.
Dan disinilah, di hutan perbatasan antara kekaisaran Xili dan kekaisaran Tang, ia melancarkan aksinya.
Niang memerintahkan pasukan dari klan serigala miliknya, untuk menyerang rombongan dari kekaisaran Zing, dan kekaisaran Xili.
Dimana keduanya yang secara kebetulan( Versi Murongyu), tergabung selama perjalanan ke negri Tang.
Ia juga melingkupi kereta, serta para penjaga yang bertugas mengamamnkan kereta, dengan tabir pelindungnya.
Sebuah tabir pemisah, agar seseorang tidak menyadari, atau mendengar apapun yang terjadi di sekitarnya.
Dan hal itu berhasil ia lakukan, untuk mereka yang berdiam diri di dalam kereta.
Akan tetapi, bagi para pengawal yang memperketat penjagaan, mereka memang tidak mendengar apapun.
Namun, orang orang tersebut masih dapat melihat, setiap kejadian yang tengah berlangsung di sana.
*Flash back off.*
Menyadari ada suatu kejanggalan, Ziaruo turun dari kereta, begitu kedua kakinya sempurna menapaki tanah, matanya bergerilya melihat keseluruh area pertarungan.
Ada sebuah pemikiran didalam kepalanya, ketika ia menyaksikan kawanan serigala disana.
Bagaimanapun, ia jelas mengetahui bahwa makluk makluk itu, hanyalah pion terkecil, dari sebuah bidak siasat.
Dan benar saja, Ziaruo menajamkan matanya, tepat kearah balik pepohonan, yang berada di sisi kanan kereta.
Dengan suara khas miliknya Ziaruo berkata penuh penekanan. "Hentikan mereka, atau aku akan mmbuatmu hidup sendirian di dunia ini."
Sebuah ucapan, layaknya mata anak panah yang melesat menuju titik tujuan papan bidikan.
Ziaruo tetap fokus menatap Wuhan, yang tengah bergulat dengan beberapa serigala besar, yang memiliki aura kuat.
Sementara suaminya Jing, tampak kelelahan dengan tubuh penuh percikan darah, pria tersebut tak mengalami luka serius.
Akan tetapi, pria dengan kekuatan yang tidak dapat di pandang remeh, dalam olah kanuragan tersebut, juga belum mampu membunuh satu ekorpun serigala.
Sebenarnya, Jing mengetahui akan situasi yang tengah ia alami, dan ia berfikir harus menemukan sumber kekuatan yang sebenarnya, dari kawanan serigala itu.
Namun, belum sempat ia bertindak, pemikirannya telah di ketahui oleh Sang Niang.
Oleh karena hal tersebut, wanita itu mengirimkan sebagian dari kekuatannya kedalam tubuh serigala serigala, yang tengah bertarung dengan kaisar Jing.
Ia berpikir untuk menyibukkan pria tersebut, dan tidak sempat untuk menjalankan apa yang tengah di pikirkan.
Jing menjadi kewalahan, ia harus menghadapi puluhan serigala dengan kekuatan berkali lipat.
__ADS_1
Bahkan, setiap kali ia berhasil membunuh, ataupun melukai kawanan itu, dalam hitungkan kedipan mata saja, serigala serigala tersebut kembali berdiri.
Dan setiap mereka bangkit, serta sembuh dari lukanya, binatang yang terkenal dengan lengkingan lolongannya tersebut, memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Sementara itu, di sisi belakang kereta, kaisar Murongyu juga nampak kelelahan, bahkan dapat dikatakan kondisinya jauh lebih memprihatinkan dari suaminya.
"Jika aku tak menghentikan mereka, lalu apa yang dapat kau perbuat." Sahut sebuah suara dari balik pepohonan.
Sesosok tubuh, dengan tenang berjalan mendekat kearah pertarungan di tengah hutan itu.
Semakin lama sosok itu semakin mendekat, dan dari jarak yang semakin berkurang, perhatian para penjaga, dan prajurit bayangan kedua kekaisaran, menjadi terfokus kepadanya.
Seorang wanita cantik, dengan pakaian kurang bahan, melenggok serta meliukkan tubuhnya secara se*si, mendekati area pertempuran.
Menciptakan sebuah pandangan surga dunia, serta imaginasi horror diantara para pria di sana.
Bahkan, beberapa prajurit tanpa sadar, berjalan kearah wanita tersebut secara cepat.
Dan...
"Crash...craaakkk...crash..."
Bunyi sayatan kuku kuku tajam serta tulang tulang yang patah tak ayal terdengar.
Namun, seakan segalanya adalah lumrah, para prajurit serta penjaga elit dari kekaisaran Zing dan Xili, terus berdatangan ke arahnya.
Mengorbankan nyawanya, hanya untuk mendekat kearah wanita itu.
Layaknya serangga laron yang melihat nyala lentera. ia akan tetap mendekati cahaya, meskipun pada akhirnya, ia akan mati dan terbakar.
Bahkan, Wuhan di tengah kelemahannyapun ikut berjalan mendekati wanita tersebut.
Melihat hal itu, Ziaruo menghela nafas sejenak, dan kembali berucap. "Mengapa selalu ada pembuktian yang nyata, atas kekejaman dari makluk jelmaan, tidak bisakah kau meninggalkan kesan baik untuk kaummu "
Ziaruo mulai menggerakan tangannya, di sela rasa penyesalan atas kearoganan sang Niang.
Wanita itu dengan cepat memutar tangannya, dan melesat cepat kearah serigala, yang kini berdiri koko diatas tebing batu.
"Slaaahs..."
Suara pendar cahaya yang mengikuti kecepatan tubuh permaisuri Yun.
Wanita dengan nama lain Ziaruo tersebut, mencengkeram srigala abu abu keperakan, dan berdiri di sisi tebing dengan tatapan tak terbaca, kearah wanita di bawah sana.
"Apakah kau masih yakin tidak akan menghentikan semuanya?." Tanya Ziaruo dengan tatapan tajam kearah Niang.
Sementara itu, Niang yang tidak menyadari pergerakan Ziaruo, membulatkan matanya.
Dan tiba tiba saja, mulutnya memuntahkan darah segar.
__ADS_1
Dengan suara yang terbata, Niang berkata. "Ba...bagaimana kau..kau mengetahuinya?, siapa kau sebenarnya?."
Tangan, dengan penuh darah dari para prajurit itu, sekarang memegang, serta berusaha melepaskan sesuatu dari lehernya.
Seolah ada tali, atau benda yang kini, tengah melilit leher tersebut.
"Aahk...aakkh..kau...beraninya kau...bruughhhh.'' Pekik Niang di tengah kesakitan yang ia rasakan.
Wanita itu, tiba tiba saja terjatuh keatas tanah, dengan rintihan kesakitan yang nyata.
Dan seolah mengerti akan kejadian disana, para serigala tiba tiba menghentikan serangan mereka.
Hewan yang masih berkerabat dengan anjing itu, bergerak mengerubungi tubuh Niang yang sedang berjuang, melepaskan sesuatu yang tak terlihat dari lehernya.
Sementara itu, seekor serigala yang tadi tengah bertarung dengan Jing, menatap tajam kearah Ziaruo, seolah ia mengerti apa yang tengah terjadi di sana.
Dengan tanpa ragu serigala itu berjalan lebih mendekat kebawah gundukan batu dan berkata. ''Manusia...apa kau pikir, kau bisa menyelamatkan diri setelah membunuhnya?.''
Sebuah ucapan yang di paksakan dari sang serigala, dengan jelas tubuh binatang itu bergetar, saat menyebut kata membunuh untuk serigala perak, yang kini tengah tergantung di tangan Ziaruo.
Ada kegelisahan dari ucapannya, namun tampak jelas ia berusaha kuat untuk mengucapkan hal itu.
Ziaruo hanya tersenyum sekilas kearah sang serigala.
''Ruoer...itu benar, aku pernah mendengar bahwa siapapun yang membunuh serigala dari keturunan yang di utamakan(keturunan darah bangsawan), maka tubuhnya akan melebur menjadi debu.'' Sahut Murongyu, dengan perasaan penuh kecemasan.
Memang benar, Pria tersebut pernah mendengar kisah, dari legenda turun menurun di keluarganya.
Sebuah kisah yang mengatakan, untuk membunuh makluk jelmaan maka orang tersebut, juga harus siap melebur.
Dan hal itu, bukan tanpa alasan.
Di sela kemampuan klan serigala yang hebat, ada sebuah keajaiban yang di anugerahkan, oleh para dewa kepada keturunan penguasa ras ini.
Untuk membedakan tatanan pada pohon keluarga penguasa (darah biru), setiap anggota keluarga mereka memiliki, tanda atau simbol tertentu, yang merupakan kutukan bagi siapapun, pelaku pelenyapan kepadanya.
Dan hal tersebut sudah berada di dalam tubuh masing masing, sejak mereka di lahirkan.
Mengingat hal itu, seolah memperoleh angin sepoi di tengah kemarau, Niang tersenyum menyeringai dan kembali berkata. ''Apakah kau masih ingin membunuhku?.''
Niang berusaha keras, untuk bangkit, di sela rasa sakit yang kini menjalar keseluruh tubuhnya.
''S*al...mengapa ia tak percaya, apa aku harus kehilangan nyawaku dulu untuk membuktikannya.'' Gumam dalam hati Niang.
Mendengar hal itu, Jing merasakan kecemasan, ia tak ingin sesuatu terjadi kepada sang permaisuri.
''Yun... jangan lakukan apapun, lepaskan serigala itu.'' Pinta Jing dengan suara lantangnya.
Sebuah suara yang sengaja ia keraskan, mengingat sang istri yang kini berada agak jauh, dan di posisi ketinggian tebing.
__ADS_1