Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 89 Masih dengan konflik.


__ADS_3

Mendengar berita yang mengejutkan itu, Murongyu marah besar, tanpa mengganti pakaian Zirah perang lengkapnya, ia kembali menaiki kuda dan melesat menuju pinggiran kota.


Dengan pedang yang terhunus, ia masuk kedalam kediaman pangeran ke-3 Murongling.


''Braaakkk....'' Pintu kediaman pangeran Murongling terbuka kasar, akibat tendangan Pangeran ke-2, hingga daun pintu hampir terlepas dari penyanggahnya.


Semua penjaga, dan pelayan terkejut mendengar suara tersebut, mereka berusaha dan hendak menyerang sang penerobos.


Akan tetapi, setelah mengetahui siapa pemilik bayangan didepan pintu pagar halaman, semua diam dan mundur kembali.


''Kalian mundurlah, ini urusan diantara kami.'' Ucap lantang seseorang dari dalam kediaman, perintah tersebut semakin memantapkan mereka, untuk menyarungkan kembali senjata yang tadi sempat dihunus.


Namun, tidak dengan Murongyu yang tengah dipenuhi dengan kemarahan, ia menatap lekat sesosok tubuh yang berjalan semakin dekat kearahnya.


Seorang Pria dengan wajah yang mirip dirinya, keluar dari dalam ruangan. Sebuah senyuman tergambar pada wajahnya, sebagai sambutan untuk Murongyu, sembari berkata.''Kakak ke-2, anda sudah datang, aku tahu kau pasti menangani perampok bodoh itu dengan mudah.''


Wajah Murongyu terlihat gelap, seolah sebuah pertanda tak baik bagi semua orang yang disana, terlebih lagi ketika ia mula membuka mulutnya dan berkata dengan penuh ancaman.''Berikan dia kepadaku, atau akan kuhancurkan kediaman ini, termasuk pelayan pelayan rendahmu itu.''


Mendengar ucapan Murongyu, pangeran ke-3 Murongling menjadi marah, namun ia berusaha menahan diri, serta mencari celah cara menyakiti sang kakak dengan menggunakan Xioyu.


''Siapa yang kau maksud kak?, disini hanya ada aku, serta pelayan pelayanku.'' Jawab Murongling dengan senyum sinis diwajahnya.


''Oh...masih ada satu orang lagi, tapi dia bukan siapa siapa, hanya seorang wanita yang kujadikan teman berm**nku saat aku senggang, dan ternyata dia hebat juga kak, hanya dalam hitungan kurang dari sebulan, dia sudah bisa menyimpan benih keturunanku dirahimnya. Tidak mungkin dia yang anda carikan?.'' Ucap kembali Murongling, ia berusaha memancing kemarahan, yang telah berusaha ditahan oleh Murongyu.


Pangeran Murongyu tak lagi dapat menahan kemarahannya, dengan cepat ia menghantam tubuh pangeran ķe-3 tepat diwajahnya.


''Buuughhh..., gedebug...''


Pangeran tampan tersebut, terjatuh kebelakang, dan dari sudut bibirnya mengalir darah segar.


''Kau memang darah kotor ibumu, darah Suyao kakekmu yang hina, mengalir kuat pada tubuhnya yang juga sama kotor dengan dirimu. Bahkan darah naga Ayahanda tak dapat membersihkannya.'' Ucap Murongyu, sembari kembali memukul beberapa kali, tepat pada dada serta pelipis Murongling.


Pangeran ke-3 memang mampu menangkisnya untuk beberapa kali, akan tetapi ia hanya pangeran biasa, serta bukanlah masalah besar dihadapan sang dewa perang Murongyu.

__ADS_1


Pada akhirnya Murongling, tertelungkup dan jatuh dilantai, dengan lebam lebam serta darah di sudut bibirnya.


Murongyu melihatnya dengan tatapan merendahkan, sebelum ia mendekat dan berbisik lirih.'' Apa kau tahu, Xioyu memang kuperlakukan dengan baik, tapi bukan karena dia wanitaku, melainkan untuk amanah yang dititipkan kepadaku oleh seseorang yang kucintai.....dan Kau menyakitinya, bahkan juga membunuh suami yang baru dimilikinya sebulan yang lalu.''


''Sungguh aku malu atas keturunan kekaisaran, yang kau titipan disembarang tempat.'' Lanjut bisik sinis Murongyu, tepat di telinga Murongling, yang tersungkur di lantai ruangan, sebelum berjalan menuju sebuah ruangan yang tampak tertutup rapat.


Pangeran Murongling membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan, bahkan ia berharap segalanya adalah salah.''Tidak...ini tidak mungkin....''


Pangeran Murongling berdiri, dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki sang kakak, menuju ke kamar yang tak jauh dari tempatnya tadi.


Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang tengah menangis di kaki Murongyu, dengan suara terbata ditengah isak tangisnya, wanita tersebut berkali kali meminta kematian dari Murongyu, dan ingin menyusul suaminya.


Melihat serta mendengar kenyataan tersebut, Kaki pangeran Murongling yang sempat terkena pukulan, kini semakin terasa bergetar, dan tak memiliki tenaga menopang tubuhnya sama sekali.


Pria yang tadi begitu bangga atas perbuatan buruknya, kini jatuh terpuruk dengan tubuh lemah, ia berkata lirih untuk dirinya sendiri.


''Jadi benar dia hanyalah pelayanmu, dan aku telah membunuh suaminya...hahaha...sungguhkah itu...hahaha...'' Sebuah ucapan penyangkalan serta penyesalan, atas ke*od*han yang telah ia lakukan.


Mendengar ucapan tersebut, pangeran Murongyu yang tengah membopong tubuh lemah Xioyu, serta hendak membawanya pergi, kembali berhenti dan berkata dengan tajam.'' Kau benar darahmu kotor, pikiranmu kotor, bahkan mungkin leluhur keluarga Su adalah orang orang yang Kotor, maka memang baik keputusan Ayahanda waktu itu menghabisi mereka.''


Murongyu mlangkah keluar sambil membopong tubuh lemah Xioyu, membawanya pergi meninggalkan tempat, yang telah mengurung wanita tersebut beberapa pekan yang lalu.


Wanita itu memang dalam kondisi yang lemah, namun ia masih sadar serta memahami apa yang baru saja terjadi.


''Apakah kau bisa bertahan, nona Xioyu?.''Tanya Murongyu khawatir, serta tangan masih mengendalikan laju cepat kuda.


Xioyu mendengar jelas pertanyaan, dari Pria yang telah banyak menolongnya tersebut, akan tetapi ia masih enggan membuka mulutnya.


Entah apa yang tengah ia pikirkan, dan entah apa yang tubuhnya rasakan. Seolah segalanya tidaklah penting lagi untuk wanita malang tersebut.


Bahkan emosinyapun tak lagi memiliki kuasa, atas gerak dari bibirnya untuk menjawab pertanyaan sang Tuan.


''Mati...dan ingin mengakhiri segalanya.'' Adalah kalimat yang telah ia putusan, sejak ia disekap di kediaman pangeran Murongling.

__ADS_1


Akan tetapi, semua sulit ia lakukan saat itu, karena ketatnya pengawasan atas dirinya semenjak pencobaan mengakhiri hidupnya sendiri gagal ia lakukan.


Meskipun sekarang ia telah berhasil keluar, namun tetap saja ia tak bisa merasa senang, terlebih lagi ia mengetahui bahwa dirinya kini tengah hamil.


Xioyu hanya diam, ia tak mengindahkan apapun hingga tiba di gerbang kediaman Murongyu, pria tersebut membantunya turun dari kuda, sembari meminta pelayan untuk datang serta membawa wanita itu menuju bilik kamarnya.


Pria yang dikenal sebagai dewa perang bengis dan kejam tersebut, merasa iba kepada Xioyu, meskipun segalanya karena kebodohan sang Adik (Murongling), akan tetapi Murongling melakukan semua itu untuk membalas dirinya.


Murongyu menghela nafas dalam sebelum berkata.''Panggilkan tabib untuknya, dan layani sebaik mungkin.''


''Oh ya, dia sedang hamil, serta dalam kondisi yang kurang baik, tempatkan beberapa orang untuk menjaganya.'' Lanjut Pria tersebut sebelum beranjak pergi, memasuki kediaman.


''Baik tuan, segera saya lakukan.'' Jawab pelayan paruh baya, yang sedari awal sudah menyambut kedatangan sang pangeran.


''Satu anggota kekaisaran lagi yang terlahir tanpa sebuah dasar kasih sayang, siapakah yang bersalah?,...ehheeeehhhh....'' Gumam lirih Murongyu disela langkah kakinya, Jendral besar tersebut beberapa kali tampak menghela nafas panjang.


Langkahnya yang tegap serta lebar, tak membutuhkan waktu yang lama, untuk sampai di kamar pribadinya.


Tangannya membuka pintu ruangan, yang hampir 5 pekan tak ia sentuh, ada aroma kerinduan dari dalam ruangan tersebut untuk hatinya.


Sebuah ruangan dimana dulu, Ziaruo pernah berbaring disana, dan Murongyu merindukan wanita tersebut.


Dengan menyentuh ranjang, serta selimut yang masih tertata rapi.


Murongyu sedikit meredakan perasaan didalam dadanya, sambil berkata. ''Ini salahmu Ruoer........karena kau tak berada disini untuk menjaganya, apakah kau sedih jika kau mendengar Xioyu terluka kembali?.''


Sebuah ucapan yang tak menampakkan sisi kebenaran sama sekali. Bibir menimpakan kesalahan untuk wanita itu, akan tetapi dengan hati yang membuncah kerinduan.


Sebuah ucapan, untuk mengungkapkan kegundahan, atas ketidak hadiran seseorang yang sangat ia rindukan.


Murongyu berdiam disana beberapa saat, sebelum berdiri dan melepas semua pakainnya, ia melangkah masuk kedalam kolam pemandian di belakang ruangannya, untuk membersihkan diri.


Pria tersebut menenggelamkan kepala sejenak, lalu menyandarkannya pada pinggiran kolam, sembari menatap langit. Murongyu kembali melepaskan hembusan nafas panjang dan bergumam.''Apakah kau bahagia sekarang?.''

__ADS_1


__ADS_2