Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 151 Pengaruh dan kesadaran.


__ADS_3

Namun, belum sempat kaki sang kasim menjauh, seorang kasim lain dengan tergopoh-gopoh datang menghadap.


''Ampun Yang Mulia kaisar, hamba pelayan dari paviliun selir keagungan.'' Ucap sang kasim, setelah menunduk dan memberi hormat kepada Canzuo.


Tak banyak mata yang menyaksikan hal itu, maklum saja, hampir semua orang tengah menikmati kesenangan masing-masing.


Akan tetapi, tak jauh dari tempat mereka berada, beberapa pasang mata masih dengan kesadaran sempurna, melihat kejanggalan yang terjadi.


Di Atas sana, tampak Canzuo mengernyitkan kening beberapa saat, sebelum akhirnya ia menyunggingkan senyuman.


''Bahkan dewa memudahkan jalanku.'' Gumam Canzuo pelan.


Dengan wajah tenangnya, kaisar muda tang itu, berdiri dari singgasana.


Dengan tatapan tajam, ia menyapu keseluruhan ruang aula tempat pesta berlangsung.


Hingga mata itu tepat tertuju kerah sebuah meja, dimana sepasang suami istri duduk berdampingan, dengan beberapa pelayan tak jauh dari mereka.


Wajah tenang Canzuo, sedikit menunjukan perubahan. Dalam hati, ia merasakan kekesalan kearah tatapan mata miliknya kini berada.


Seolah, dirinya sedang melihat sosok gambaran kebencian disana.


Akan tetapi, dengan segera ia kembali menampilkan ketenangan, seraya berucap lantang.


''Saya harap anda sekalian menikmati pestanya dengan baik, kekaisaran kami telah menyiapkan, hidangan, minuman, serta tempat peristirahatan untuk anda sekalian.''


Sebuah suara dengan intonasi ketenangan, serta penuh wibawa milik Kaisar Canzuo membuat semua orang menatap serta menghormatinya.


Kaisar Muda tersebut berhenti sejenak, ia kembali menyapu seluruh ruangan, dengan tatapan miliknya.


Kaisar Canzuo kembali melanjutkan ucapannya.


''Silahkan melanjutkan perjamuan, saya undur diri sejenak.'' Lanjut Kaisar Muda tersebut, sebelum beranjak keluar dari aula tempat pesta berlangsung.


Selang beberapa saat setelah kepergian Canzuo, tak jauh dari singgasana berada. Tampak seorang penjaga bayangan, mendekat kearah Jendral besar Gu, dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Terlihat jelas, perubahan raut wajah Jendral Gu, setelah pria penjaga selesai mengatakan sesuatu kepadanya.


Jendral tua tersebut berdiri dari duduk, dengan penuh kegeraman.


Tampak jelas, pria dengan jasa pengabdian besar atas negri Tang itu, tengah di penuhi amarah yang besar.


Dengan langkah tegas dan lebar, Jendral Gu beranjak pergi keluar ruangan, bersama sang penjaga bayangan.


''Heeehh...''


Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, setelah menyaksikan semua. Ada kesedihan yang menyusup kedalam relung hatinya.


''Ada apa?, mengapa tiba-tiba permaisuri gelisah?.'' Tanya Jing, disaat ia melihat perubahan sang istri.


Ziaruo menggeleng sejenak, sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya. ''Mengapa harus kehilangan lebih dulu, sebelum menyadari sebuah kesalahan?.''

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Jing mengerutkan kening, dan kembali bertanya. ''kehilangan?, siapa yang kehilangan?.''


''Sudahlah jangan dipikirkan..mereka pasti akan segera menuai apa yang ditanam sebelumnya.'' Jawab wanita itu lagi.


Jing semakin keheranan dengan apa yang di ucapkan oleh Permaisuri Yun.


Akan tetapi, ketika ia hendak menanyakan sesuatu, seorang penjaga miliknya datang mendekat, dan menyampaikan berita.


Dengan sedikit membungkuk, dang penjaga bayangan menyampaikan sebuah informasi, Jing membulatkan mata lebar sejenak, sebelum kembali berkata lirih. ''Aku mengerti, kau boleh pergi.''


Setelah kepergian dari penjaga bayangan, Jing kembali menatap Ziaruo lekat dan bertanya. ''Bagaimana kau bisa mengetahuinya?, bahkan kau tidak memiliki orang orang sendiri?, dan kau juga tidak beranjak dari sampingku, Yun...apakah kau...''


Ucapan Jiang jing wei tak terselesaikan, seolah tercekat di tenggorokan, ketika ia mengingat kedua pelayan wanita disampingnya.


Pria tersebut menoleh kearah pelayan cantik itu. Dan dengan wajah datar yang terpasang, ia berkata. ''Kalian pergilah, aku tidak ingin dilayani saat ini.''


''Yang Mulia...'' Salah satu pelayan wanita, berusaha untuk menolak.


''Aku tidak ingin mengulangi perkataanku.'' Lanjut pria itu kembali, dengan intonasi suara agak tinggi.


Mendengar perintah tersebut, keduanya tampak pucat. Namun, dengan sisa keberanian yang ada, salah satu dari keduanya menjawab. ''Hamba akan menunggu, anda mengingat wanita ini kembali Yang Mulia, kami mohon undur diri.''


Kaisar Jing tidak lagi menghiraukan mereka, tidak juga menjawab penghormatan mereka.


Jing segera kembali menoleh kepada Ziaruo, dan bertanya. ''Apa yang kau ketahui lagi Yun?.''


Mendengar pertanyaan Jing, Ziaruo menunduk sejenak, dan menghela nafas dalam.


''Apa katamu?, mengapa?.'' Tanya jing lagi.


Pria itu, seolah memperoleh sebuah kabar yang bahkan, tak seorang pun akan berani untuk memikirkan, terlebih lagi mengatakannya.


Meskipun itu dirinya, ia tidak berpikir bahwa dengan hati, dan kebaikan yang dimiliki Ziaruo, ia yakin tidaklah mungkin permaisurinya tersebut, akan mengutuk sebuah keburukan untuk otang lain.


Terlebih lagi keluarga itu, adalah salah satu keluarga dengan marga yang sama, atau bagian dari suaminya terdahulu(Gutingye).


Jiang jing wei menatap Permaisuri Yun semakin intens. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya.


''Heeeh...semua adalah bagian dari takdir kami, karma dan budi sedang menghukum kami Yang Mulia.'' Lanjut wanita itu lagi, dengan helaan nafas, serta tatapan sendu.


Jing merasakan kesedihan pada sorot mata sang permaisuri, dengan pikirannya yang berkecamuk, ia kembali bertanya. ''Yun...apakah...apakah jendral Gu juga bagian dari mereka?, bagian dari orang-orang di negeri asalmu?.''


Mendengar hal itu, Ziaruo menggelengkan kepala pelan, dan menjawab lirih. ''Bukan Yang mulia, dia bukan salah satu dari kami.''


''Lalu...siapa, siapa dia?.'' Tanya Jing dengan rasa penasaran, yang sudah mencapai ubun-ubunya.


Ia seakan tengah kepanasan di tempat teduh, dalam sebuah ruangan dengan atap-atap kokoh sebuah istana.


Pria Jing, merasakan kekhawatiran, jika orang yang dimaksud sang istri adalah Kaisar Canzuo.


Dimana seperti yang telah lama ia ketahui, bahwa pria itu juga memiliki keinginan atas istrinya.

__ADS_1


Namun, ketika Ziaruo menyebut nama seorang marga Gu lainnya, ia kembali sedikit tenang.


''Selir keagungan Gu xianque.'' Jawab Ziaruo lirih.


Wanita tercintanya tersebut, seolah tengah nyebut sebuah nama, yang membuatnya melukai hatinya sendiri.


Jing merasakan kesedihan, atas perasaan yang kini tengah di rasakan Permaisuri Yun.


Meskipun, pada kenyataannya ia tidak mengetahui apapun, bahkan tidak juga mengenal baik wanita Gu tersebut.


Namun, dengan hanya melihat kesenduan Ziaruo, kaisar Jing mendadak ikut merasakan sebuah kepedihan yang mendalam.


Seakan, dirinya telah mengenal wanita itu, dan ia merupakan dari bagian keluarga tersebut.


Jing meraih tangan sang permaisuri, dan kembali berucap. ''Apa yang bisa ku lakukan untukmu?, apakah Permaisuri ingin menyelamatkannya?.''


Mendengar ucapan Jiang jing wei, wanita itu menoleh dan menatapnya lekat.


''Apakah anda tidak keberatan, sedikit mengotori tangan dan pikiran beberapa bulan kedepannya?.'' Tanya wanita itu, dengan ekspresi tak terbaca.


''Asalkan itu keinginamu, aku akan melakukannya, apakah kau senang sekarang.'' Jawab Jing dengan tegas.


Ziaruo tersenyum, ia mencondongkan tubuhnya kearah Jing, dan membisikan beberapa kalimat.


Mendengar ucapan yang terkesan rahasia itu, kening Jiang jing wei mengernyit beberapa kali.


''Apakah itu sudah membuatmu puas?, aku juga bisa mengganti semua orang marga Gu, dan membawa mereka kembali Zing, menjadikan mereka semua rakyat kita.'' Ucap pria tersebut, serius.


Mendengar, kesanggupan sang suami, Ziaruo merasa senang.


Akan tetapi, dengan ia mengetahui sebuah konsekuensi dari tindakan itu, Ziaruo menggelengkan kepala pelan.


Jing melihat jelas, dari sorot mata sang Permaisuri, sebuah ketidakberdayaan serta kesedihan yang nyata.


''Tidak, bahkan menyelamatkan keduanyapun, telah menyalahi takdir yang seharusnya, dan aku tak ingin anda memperoleh beban yang lebih berat lagi.'' Ziaruo menjelaskan.


''Baiklah...baiklah, akan ku lakukan sesuai dengan apa yang kau rencanakan.'' Jawab Jing.


Pria tersebut meraih tubuh sang istri, dan memeluknya sejenak.


Di sana, didalam aula pesta yang tengah memanas, tindakan Jing seolah menjadi lumrah.


Padahal, bagi orang-orang di kehidupan kuno jangankan berpelukan di depan banyak orang, saling menyentuh tangan pun sudah dianggap tabu.


Namun, karena di antara banyak tamu yang lain, melakukan kegiatan yang jauh lebih ekstrim sekarang ini, sehingga tindakan mereka seolah bukanlah apa-apa.


''Kalau begitu, permaisuri kembalilah terlebih dahulu bersama mereka, serahkan urusan wanita Gu itu untukku.'' Bisik pelan Jiang jing wei kepada Ziaruo.


Sementara itu, menyaksikan hal tersebut, mereka(mata-mata) yang sengaja di tempatkan oleh Kaisar Canzuo, berpikir bahwa Kaisar Jing dan permaisurinya, juga tengah dalam pengaruh racun mereka.


''Laporkan kepada Yang Mulia, bahwa Kaisar Zing, dan Permaisurinya, telah dalam kendali.'' Perintah salah satu kasim senior, kepada kasim muda disampingnya.

__ADS_1


''Baik tuan.'' Jawab kasim muda tersebut singkat, sebelum membungkuk dan berjalan meninggalkan aula perjamuan.


__ADS_2