Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 45 Hanya mampu berencana dan berusaha


__ADS_3

 


Disebuah tempat, diujung timur kekaisaran Xili, serta berbatasan dengan negri Tang.


 


Disebuah kedai, tampak sepasang muda mudi memasuki ruangan khusus, yang sudah dipesan oleh seorang pria muda, dengan topeng berwarna merah pada wajahnya, meskipun wajahnya tertutup, pria tersebut tampak elegan dan berwibawa. Dengan kipas ditangannya yang sesekali ia buka, serta gerakan pelan kearah yang sama beberapa kali.


"Hormat saya tuan.'' Ucap sepasang muda mudi, tersebut dengan penuh hormat secara bersamaan.


"Hentikan jangan terlalu formal, kita sedang diluar sekarang.'' Jawab pria bertopeng dengan nada datar.


"Apa yang kau ketahui?.'' Lanjut pria bertopeng kepada keduanya.


''Maaf tuan, seperti dugaan anda, tuan besar Gutingye, memanfaatkan keadaan nona Ziaruo dan akan menikahinya dalam waktu dekat ini, namun....'' Terhenti sejenak


''Namun, tidak terdapat tanda apapun, dilengan nona Ziaruo tuan, mungkinkah kita salah orang tuan?.'' Lanjut wanita dengan cadar, pada wajahnya tersebut, masih dengan nada penuh hormatnya, seolah memposisikan diri, sebagai seorang yang rendah dan tak pantas, bahkan untuk menatap kearah pria bertopeng di depannya tersebut.


"Kau tak perlu memikirkan yang lainnya, lakukan saja tugasmu dengan baik." Ucap pria bertopeng itu, sembari menyesap teh didepannya dengan elegan.


Menikmati setiap teguk serta aroma dari dalam cangkir tersebut.


"Bagaimana, dengan obat untuk racun di tubuh Ziaruo?.'' Tanyanya lagi.


"Kami sudah mengatur orang, untuk memberikannya kepada nona Ziaruo tuan, mungkin efek racun pelumpuhnya akan menghilang sebentar lagi.'' Jawab pria disamping wanita bercadar, dengan sikap yang hampir tak jauh berbeda dari wanita tersebut.


"Jadi, jika dihitung dari reaksi obat, akan berkerja satu hari sebelum hari pernikahan Gutingye, dan penyerangan dari kekaisaran Xili.'' Gumam pria bertopeng tersebut, dengan senyum sinis dibalik topengnya.


"Tuan ... apa kita tidak memperingatkan tuan besar Gutingye, tentang penyerang dari pasukan istana?.'' Tanya wanita bercadar tersebut, dengan nada ragu ragu.


Mendengar pertanyaan tersebut, pria disampingnya menatapnya lekat, begitupun dengan pria bertopeng merah didepanya.


Memperoleh tatapan dari keduanya, ia menjatuhkan tubuhnya dan bersujud dengan kepala menunduk menyentuh lantai.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba pantas mati, hamba tidak akan mempertanyakan otoritas keputusan anda lagi.'' Ucapnya dengan terbata. tampak jelas wanita tersebut tengah cemas serta ketakutan.

__ADS_1


"Gutingye, maafkan aku bahkan aku sendiri tak bisa membantu diriku, semoga dewa melihat kebaikan dan pengorbananmu untuk negri kita.'' Ucap wanita tersebut didalam hatinya.


"Itu adalah hukuman, karena menginginkan wanita yang bahkan, dalam mimpipun ia tak pantas untuknya.'' Dalam pikiran pria dengan topeng merah.


"Si*l ternyata wanita ini, masih mencintai Gutingye, maka jangan salahkan aku, jika aku yang akan mengh*bisinya sendiri, dan bahkan aku bisa mendapatkan nona Ziaruo, dia jauh lebih baik dari dirimu diberbagai sisi, wanita b*d*h.''


Gumam pria di samping wanita bercadar merah tersebut.


Keadaan ruangan kembali hening, lebih lebih dengan adanya seseorang yang bersujud di lantai ruangan, meminta belas kasihan atas sebuah pengampunan untuk dirinya, sementara itu, sang empunya kuasa atas pengampunan tersebut, seolah menganggapnya tak keberatan dengan posisi wanita itu, yang ia anggap layak dan pantas baginya.


Pria bertopeng tersebut justru kembali menikmati harumnya teh dari cangkir miliknya.


"Mungkinkah ini yang kau rasakan saat menikmati teh malam itu Ziaruo?, kapan kita akan menikmatinya bersama sama?.'' Gumamnya lirih, sembari menyeruput kembali tehnya.


Tampak senyum diwajah itu, sebuah senyuman yang hanya dirinya saja mampu mengartikannya.


 


Sementara itu, di tempat yang tak jauh dari perkampungan merah milik King.


 


"Baiklah, kau boleh kembali,''


Ucap pangeran Muronghui dengan tegas.


"Baik yang mulia, hamba undur diri.'' Jawab prajurit tersebut, sembari memberi hormat kepada pangeran Muronghui.


"Wangze persiapkan semuanya, setelah mereka tiba, malamnya, kita akan langsung melakukan penyerangan.'' Perintah pangeran Muronghui, kepada penjaga bayangan miliknya.


"Baik yang mulia.'' Jawab Wangze singkat dan tegas,serta penuh hormat.


"Ziaruo jangan khawatir aku akan membebaskanmu, dan mencari tabib terbaik untuk membersihkan semua racun di tubuhmu, bersabarlah sebentar lagi .'' Gumam pangeran Muronghui dalam hatinya.


Lain lagi, dengan keadaan di dalam perkampungan Merah milik King.

__ADS_1


Seorang wanita tengah menikmati secangkir teh, ditemani oleh pria yang ia anggap sebagai tunangannya, serta bocah kecil cuby yang sebentar lagi resmi menjadi putranya tersebut.


Meskipun, ia masih ragu dan merasa ada banyak kejanggalan, dari cerita cerita yang di sampaikan oleh Gutingye.


Namun, ia kembali teguh saat melihat senyuman dari bocah kecil, yang kini duduk disampingnya tersebut.


Perasaan tenang


ketika melihat bocah itu, mampu menghilangkan keraguan, serta perasaan kosong didalam hatinya.


"Apa kau bahagia?.'' Tanya Gutingye, sembari memegang tangan Ziaruo, menciumnya sejenak, dengan rona bahagia miliknya.


Ia ..Gutingye benar benar merasakan kebahagiaan didalam hatinya, mungkin baru sekarang ia merasakan bahagia seperti ini.


Dulu ia menikah dengan istri pertamanya, karena suatu kecerobohan yang ia lakukan terhadap sang istri, ketika ia sedang mabuk, namun setelah putranya berusia 1 tahun, istrinya tersebut, pergi dengan pria yang lebih kaya darinya.


Oleh karena itu, mungkin sekaranglah pernikahan yang sebenarnya untuk dirinya.


Dalam artian pernikahan dengan perasaan kasih sayang tulus, tanpa adanya suatu paksaan ataupun keharusan sebuah pertanggung jawaban.


''Akan tetapi, bagi Ziaruo hal ini adalah jalan takdir penderitaan yang lainnya lagi, yang harus dia hadapi.(author)


Meskipun pernikahan ini, ia lakukan dibawah kondisi ketidaksadarannya, serta dengan tipu muslihat ( kebohongan), namun ia tulus menyayangi Yanyan, dan berfikir akan membaktikan dirinya kepada Gutingye, yang ia ketahui, sebagai seseorang yang ia cintai sebelum dirinya kehilangan ingatannya.


( versi Gutingye )


"Entahlah, tapi aku senang melihat kalian senang dengan keadan kita sekarang, apakah itu berarti aku bahagia?.'' Ucapnya lembut, ia menatap kearah Gutingye sejenak kemudian melihat kearah Yanyan, yang sedang menikmati kue kue kering diatas meja.


"Maafkan aku, tapi aku akan pastikan kebahagianmu diatas segalanya, seluruh hidupku untuk kalian, nanti jika kita sudah memiliki anak kita sendiri, aku akan meminta maaf dan pengampunanmu, aku percaya sebesar apapun kemarahanmu, demi anak kita , kau tidak akan meninggalkan kami.'' Ucap Gutingye dalam hatinya.


"Jangan khawatir, dan merasa bersalah, aku akan selalu sabar menunggu kau mengatakan, bahwa kau bahagia bersamaku.'' Ucap lembut Gutingye, sembari kembali mencium lembut tangan Ziaruo.


"Terimakasih, semoga apa yang kau katakan benar adanya, serta berakhir kebahagian untuk kita semua.'' Jawab Ziaruo dengan lembut, sembari menatap lekat kearah mata pria di depannya tersebut.


Tampak disana, sebuah kejujuran akan perasaan hati, serta ketulusan kasih sayang yang besar untuk dirinya.

__ADS_1


"Semoga saja, benar kau adalah orang yang kucintai.'' Gumam Ziaruo dalam hatinya.


"Aku akan membawamu pergi dari sini, setelah pernikahan, kita akan hidup bersama sebagai keluarga, tanpa ada orang lain yang yang akan menganggu lagi.'' Rencana Gutingye dalam pikiranya.


__ADS_2