
Didalam ruangan sebuah kamar penginapan.
''Bahkan hanya dengan terpejampun, mampu kulukis wajah indah, diantara ingatan yang mengembara bersamamu.
Apa dayaku?, harus bagaimana lagi caraku?
Diantara hamparan luas tanpa tepi.
Hati dan rinduku, tak menuruti pikiran ini.
Aku hanya ingin kau melihatku sekali lagi,
menatap tanpa ada salah dan keburukan.
Hanya melihat cintaku, serta memanggil namaku dengan lembut seperti dulu.'' Gumam lirih seorang pria, sembari membingkai sendu, atas sepenggal lukisan cakrawala dari jendela.
Pria itu merasakan kegelisahan yang menekan hati. Sebuah ekspresi kegundahan yang menyiksa, bahkan merenggut ketenangannya sejak kemarin sore.
''Kasim Di, mengapa aku begitu tidak tenang dan gugup sejak kemarin?.'' Ucapnya lagi, dengan tatapan yang masih fokus kearah luar jendela kamarnya.
''Ampuni pria tua ini Yang mulia....'' Jawab sang pelayan setianya. Ia memang tidak mampu meredakan kegelisahan sang majikan.
Namun, secara garis besar Kasim Di memiliki pemikiran dan pendapatnya sendiri.
Pria tua tersebut, mengerti apa yang tengah dialami Murongxu. Namun tetap saja, dirinya tak dapat berbuat apapun untuk membantunya.
''Anda pasti sedang memikirkannya.'' ucap dalam hati Kasim Di.
Tentu saja, ucapan itu tidak akan pernah ia loloskan, dari dua katup bibirnya.
''Seolah akan ada yang mengambil hal berharga milikku Di.'' Lanjut Murong kembali.
Pria tersebut masih terlihat muram serta tidak tenang. Dengan kondisi dan pemikiran seperti itu, wajahnya semakin tampak kaku dan dingin, seakan disana tak pernah singgah, sebuah keceriaan, serta kebahagiaan atas kejayaannya selama ini.
''Pelayan ini berfikir, mungkin jika beristirahat dengan cukup, dapat mengembalikan ketenangan hati dan perasaan Anda Yang mulia.'' Jawab Kasim Di lagi. Pria tua itu mencoba menenangkan kekhawatiran Murongxu.
Karena hanya dialah yang mengetahui dengan pasti, bahwa dalam beberapa hari terakhir, majikannya tersebut jarang beristirahat.
Pri yang pernah berjaya sebagai kaisar Xili itu, hanya fokus menatap pintu masuk penginapan, dan berharap Ziaruo muncul dari sana.
Bahkan, ia juga sudah beberapa kali, berkunjung kekediaman Yun, dan pavilliun putih.
Akan tetapi, tetap saja Murongxu tidak dapat bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
"Bukankah setiap hari, aku hanya duduk diam di sini dan tak melakukan apapun?.'' Jawab Murong lirih.
Sebuah perkataan pelan, yang meluncur datar layaknya sebuah pertanyaan. Akan tetapi, dengan intonasi serta raut wajah miliknya, Kasim Di tahu dengan jelas, bahwa pria di depannya tersebut, tidak memerlukan jawaban.
''Sepertinya dia memang sengaja menghindar. Bahkan, setelah kujelaskan semua, ia masih saja marah, dan tak ingin menemuiku heeeh....'' Murong menghrla nafas, dan diam sejenak.
Mata Murong menatap lurus kearah cakrawala senja, yang kian meredup di kejauhan.
Membayangkan sesosok indah yang kini memenuhi relung hati, serta sebagian besar ruang pikirannya. ''Ataukah, dewa memang sangat membenci kebersamaan kami?.'' Sambung Murong kembali, dengan aura yang mulai menpilkan ekpresi sendu.
__ADS_1
Dan tentu saja, lagi-lagi ia tak menginginkan sebuah jawaban atas ucapannya itu.
Namun, tiba tiba terdengar suara lembut dari luar ruangan kamar.
''Memiliki pemikiran dan pandangan sendiri, adalah hak setiap orang Yang mulia. Namun, jika itu bersangkutan dengan orang lain, saya harap anda akan memiliki penyangkaan yang baik dan bagus saja.''
Suara khas seorang wanita cantik, dengan kain putih pada wajahnya, tengah berjalan mendekat kearah mereka.
Wanita itu seolah seperti sebuah keindahan yang hadir diantara deretan kelusushan yang memberikan nuansa immortal di dunia mortal, yang berdebu.
Namun, bukan hal itu yang membuat kedua pria disana, bahagia atas kehadirannya saat ini.
Dan tentu saja, apapun di dalam pikiran, serta tanggapan keduanya, tak dapat membuat wanita itu, menghentikan langkahnya memasuki ruangan.
Sementara itu, mendengar suara yang sangat ia rindukan, Murong yang berada disana, menampilkan kecerahan pada wajah berumurnya, yang masih menunjukan kharisma serta ketampanan tersebut.
''Akhirnya anda datang nona, semoga hal ini menjadi hari terbaik anda berdua.'' Pikir kasim tua dalam hati.
''Apakah wanita ini, diizinkan untuk masuk yang mulia?.'' Tanya Ziaruo, atau Nyonya Yun, dengan suara lembut serta tenang.
Tak menunjukan keraguan, bahkan setitik kecanggungan pada wajah cantik itu.
Meskipun, ia mengetahui serta memahami, setiap norma kesopanan diantara pria dan wanita di era ini yang, begitu pelik.
''Apa maksudmu?, tentu saja di izinkan.'' Jawab Murongxu dengan cepat.
Dengan penuh antusias, pria tersebut segera berdiri, dan mendekat kearah Ziaruo.
Jika saja saat ini, ia berada dikekaisaran Awan, seperti dalam kilas ingatan miliknya, mungkin Murong akan merengkuh tubuh ramping itu, dalam dekapan, serta menci*minya, sebagai luapan kerinduan yang telah membuncah saat ini.
Oleh karena itu, Ia hanya berjalan mendekat kearah Ziaruo, dan menatapnya lekat.
Sebesar apapun gemuruh di dada sekarang, bukanlah sesuatu yang dapat ia expresikan, melalui tindakan kontak fisik nyata.
Melihat wanita itu dalam keadaan baik baik saja, serta berada didekatanya, adalah satu satunya cara, untuk meredakan kerinduan yang menggebu saat ini.
Bahkan ia sengaja membiarkan perasaan kerinduan, cinta, serta imajinasi liarnya, mengembara tanpa batasan.
Agar wanita yang sangat ia cintai tersebut, mengerti bahwa hanya dirinya( Nyonya Yun atau Ziaruo)satu-satunya bagi murong meletakkan pengharapan, serta pemilik seluruh relung hati.
Hanya wanita itu saja, yang mengisi ruang pikiran miliknya.
''Ayo..masuk dan duduklah, apa kau ingin makan sesuatu, atau kau ingin memesan cemilan.'' Ucap Murongxu sambil menarik kursi, dan berharap wanita itu duduk disana.
Murong lupa bahwa wanita cantik ini, adalah pemilik penginapan tempatnya menginap sekarang.
Nyonya Yun terdiam beberapa saat, ia melihat Murong dengan tatapan sendu.
Bahkan, kegetiran dalam hatinya, tergambar jelas pada sorot mata coklat itu.
Ruangan menjadi hening.....
Sang kasim setia, juga merasakan aura kecanggungan disana.
__ADS_1
Oleh karena itu, kasim Di memutuskan, bahwa ia harus segera beranjak pergi dari lingkup sang Murong, atau setidaknya menjaga jarak, agar mereka berdua lebih leluasa berbicara.
''Jika demikian, izinkan pelayan tua ini untuk undur diri Yang mulia,.....Nyonya Yun.'' Ucap pria kasim dengan sopan, ia membungkuk dua kali memberi hormat kepada Murongxu dan Nyonya Yun.
Kebahagiaan yang tercipta, pada raut wajah sang kasim tidak dapat ia tutupi, bukti ketulusan atas hati dan pengabdiannya selama ini.
Ketika ia melihat, sang tuan berbahagia atas kedatangan Zoaruo, hatinya juga ikut bersenandung riang.
Bukan untuk dirinya sendiri, akan tetapi bahagia untuk sang tuan tercintanya.
Kasim Di segera beranjak keluar dari sana, meskipun ucapannya belum memeperoleh jawaban.
''Semoga segalanya akan seperti yang anda harapkan Yang Mulia.'' ucapnya dalam hati, disela senyuman serta langkahnya keluar dari kamar tersebut.
Sepeninggal sang kasim, ruangan kembali hening. Mereka hanya saling tatap, dengan jarak yang masih beberapa langkah, berada diantara mereka berdua.
Hingga sesaat kemudian, sebuah suara lembut memecah keheningan ruangan itu.
''Apakah anda baik baik saja?, eemmhh...maaf seharusnya saya bertanya, bagaimana dengan kabar anda Yang Mulia?.''
Ziaruo membuka suaranya, ia menyapa Pria tersebut, dengan menekan kuat perasaan dihati.
Sebuah perasaan yang bercampur aduk, dan bahkan ia sendiri masih sulit untuk mendekripsikan sebutan apa yang tepat untuk itu.
Cintakah?, marah?, kasihan, ataukah benci?.
Namun, yang jelas disini dalam kehidupan ini sekarang, apapun yang ia miliki didalam hatinya, ia tak diizinkan untuk bersama dengan Pria didepannya tersebut.
Baginya, Murongxu dikehidupan ini, adalah sebuah kartu panjang untuk pederitaan, dan begitupun sebaliknya.
Ziaruo adalah kutukan, serta sebuah nasib buruk di kehidupan Murongxu untuk saat ini, sebuah perwujutan penyiksaan hati serta pikiranya.
Mendengar pertanyan dari bibir Ziaruo, Murong tersenyum getir.
''Apakah aku terlihat baik baik saja?.'' Jawabnya pelan.
Murong berjalan mendekati wanita itu, tangan kekarnya menarik ujung baju pada lengan Ziaruo.
''Duduklah dulu, aku tak ingin kaki kecilmu itu kelelahan karena pembicaraan kita.'' Sambung Murong kembali, dengan sorot mata lembut dan berkaca kaca, sebagai ungkapan perasaannya saat ini.
''Apakah kau masih suka manisan buah?.'' Tanya pria itu lagi.
Namun kali ini, ia dengan cepat membuka sebuah kotak kecil dari kayu diatas meja.
Disana, didalam kotak itu sebuah bungkusan dari daun kering, membungkus rapat beberapa manisan buah.
''Lihatlah...manisan ini meskipun sudah beberapa hari, tapi masih terlihat baik, jadi kau bisa memakannya.'' Ucapnya lagi, dengan tangan terjulur kedepan, menyerahkan manisan diatas daun kering.
Murong terus mengatakan apapun, yang ada didalam benaknnya.
Seolah hanya sekarang saja kesempatanya, untuk berbicara kepada wanita itu.
Dan entah mengapa, Murongxu merasa semakin gelisah, ketika ia melihat Ziaruo hari ini.
__ADS_1
''Seharusnya sekarang aku bahagia, karena kau sudah bersedia menemuiku, mengapa aku justru seperti orang yang bod*h, gugup dan cemas tanpa alasan.'' Lagi-lagi Murong berbicara, namun kali ini jelas terdengar ditelinga Ziaruo, layaknya sebuah keluh kesah.