
Di sebuah penginapan di tengah kota kekaisaran Xili, seorang pelayan tengah tertunduk dengan wajah ketakutan.
Kedua tangannya bertaut serta bergerak meremas tak beraturan, tampak jelas tubuh tambunnya seolah hendak tumbang kelantai.
"Apa kau selalu ceroboh seperti ini kepada semua tamu?." Tanya seorang Pria dengan wajah datar, ia tak mengindahkan ketakutan sang pelayan, serta dengan tenangnya, ia memainkan tangannya, memutar cangkir teh yang telah kosong.
"Dimana tuannmu, aku ingin bicara dengannya." Lanjut sang pria. Ia terlihat bertambah kesal, ketika pelayan itu hanya diam tak menjawab.
Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Pria pekerja kedai semakin memucat, dengan suara gemeter ia menjawab." Maafkan kacerobohan saya tuan, jangan mengadukannya kepada majikan saya."
Wajah pias serta ketakutannya, terlihat sangat jelas. Menyadari akan hal itu, senyum sekilas tampak di Wajah sang pelanggan, yang masih dengan tenang memainkan cangkir teh di atas mejanya.
Ia merasa senang dengan ketakutan sang pelayan, seolah menemukan sesuatu yang menarik serta menyenangkan hatinya.
" Lalu apakah aku harus membiarkan kekurang ajaranmu sekarang?, apakah kau tahu berapa harga bajuku ini?." Ucapnya dengan nada yang agak tinggi.
Seorang pelayan lain yang mendengar dan menyaksikan kejadian tersebut, segera bergegas masuk kedalam kedai.
Sementata itu, pelayan yang sedang ketakutan disana kembali berkata." Saya akan menggantinya tuan, tapi saya harap anda tidak mengadukan saya kepada majikan saya." Pintanya dengan wajah penuh permohonan.
Mendengar hal itu, wajah sang pelanggan semakin memerah, ia membanting cangkir teh yang dipegangnya." Praaaang..."
Sontak saja, semua tamu kedai menatap kearah mereka, seolah tengah menyaksikan sebuah tontonan yang menarik.
Sedangkan bagi sang pelayan, ia semakin ketakutan, bahkan wajahnya seolah tak memiliki aliran darah.
Dengan reflek ia memunguti pecahan cangkir yang menyebar dilantai, sembari berucap dengan tegas." Mengapa anda membantingnya tuan?, bagaimana ini?, tuan Wangde pasti marah."
Lagi lagi pelanggan itu, dibuat kesal oleh perkataan sang pelayan. Seolah cangkir tempat tehnya, jauh berharga dari pakaiannya yang mewah.
"Apa katamu?, apakah kau pikir cangkir itu jauh lebih berharga dari pakaian yang kukenakan hah." Bentak sang pelanggan yang kini telah berdiri, dan hendak memberikan tendangan kepada sang pelayan, yang tengah jongkok memunguti pecahan cangkir di lantai.
Akan tetapi, sebelum ia sempat melayangkan kakinya, suara bariton dari dalam kedai menghentikannya."Ada apa ini?, mengapa ada keributan?."
Suara khas Wangde memecah keramaian, tampak pula seorang Pria, ikut mendekat bersama sang pengelola penginapan kearah mereka( pelayan dan pelanggan), berjalan beriringan dengan langkah lugas dan tegap.
Dengan wajah tenang, pria disamping Wangde berjalan mendekati, dan membantu sang pelayan kedai berdiri.
Wajah tegas Pria tersebut tampak menakutkan bagi sang pekerja. Dengan suara terbata, ia berkata." Tuan...maafkan saya, jangan berhentikan saya Tuan...saya...saya."
Mendengar ucapan dengan nada gemetar, Pria yang tak lain adalah Yongyu, menepuk pelan pundak pekerjanya, sembari berucap dengan penuh ketenangan." Masuk... minumlah terlebih dahulu, dan kembali kemari."
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab sang pelayan tanpa menunggu perintah kedua kalinya.
Pria pekerja tersebut, menoleh sesaat kepada sang pelanggan, yang kini berdiri didepan majikannya, sebelum ia melangkah masuk melaksanankan perintah Yongyu.
"Jika boleh tahu, apakah kesalahan dari pekerja kedai saya tuan?, sehingga anda sampai semarah itu, dan.....Bahkan anda memecahkan cangkir kedai kami dengan sengaja."
Pertanyaan dengan nada tenang dari Yongyu, sungguh penuh wibawa, hal itu membuat sang pengunjung tersebut terhenyak sesaat, sebelum akhirnya ia menjawab." Dia telah menumpahkan minuman dibajuku, dan dia juga tak memiliki etika sama sekali."
Sang pengunjung tampak ragu ragu dengan ucapannya, ia terdiam sesaat sebelum kembali berkata."Bahkan ia berpikir untuk menggantinya, apakah dia akan mampu melakukannya?, apakah pakaianku terlihat murahan?." Lanjut pria pelanggan itu, dengan ucapan yang penuh kesombongan.
Melihat serta mendengar ucapan tersebut, Yongyu tersenyum sekilas, dan kembali berkata. "Lalu berapa harga pakaian anda tuan?, jika Pria pemilik kedai ini menggantinya, apakah tuan tidak akan merasa direndahkan?."
"Bagus...jika tuannya yang akan menggantikan kerugian saya, maka semuanya akan jauh lebih mahal, aku akan memperoleh uang dengan mudah, dan pakaianku ini hanya perlu di cuci saja." Pikir pria tersebut didalam hatinya.
"Jika memang tuan ingin melakukannya, maka saya pun tidak akan menolak lagi." jawab sang pelanggan, dengan wajah yang tengah menekan kegembiraan, sebuah pemikiran dikepalanya, membayangkan sejumlah uang yang akan ia terima.
"Baik ....silahkan anda menyebutkan jumlah." Jawab Yongyu dengan nada tetap tenang. Ada sebuah seringaian tipis di bibir Yongyu, sebuah senyum yang membuat dua pekerjanya merasa merinding ketakutan.
Mendengar hal tersebut, dengan cepat sang pria pengunjung kedai, berkata lantang serta ringan." Dua tael perak...harga bajuku ini seharga dua tael perak."
Jawaban dari Pria itu, membuat semua orang yang disana menatapnya dengan penuh pemikiran.
Akan tetapi, apakah pemikiran dari semua yang tengah berkunjung disana?, sang pria tidak dapat memahami, dan hal itu bukanlah hal penting baginya.
" Wangde...berikan uang 2 tael perak untuk mengganti bajunya, dan 2 tael perak lagi untuk ketidak nyamanan pelanggan kita ini." Ucap Yongyu kepada sang pengelola penginapan.
Wangde yang diperintahkan, merasa tidak puas dengan keputusan tersebut, ia segera mendekat dan berbisik lirih kepada Yongyu tuannya." Tuan...bahkan pakaiannya tidak sampai seharga satu tael perak tuan, apakah kita harus memberikan ia sebanyak itu?"
Mendengar ucapan Wangde, Yongyu tersenyum sebelum kembali berkata."Jika dia telah menerima uangnya, antarkan pelanggan kita ini, ke ruang utama penginapan di lantai atas, biarkan dia memilih set cangkir untuk mengganti yang telah ia pecahan."
Mendengar perkataan sang Tuan, Wangde yang sedari tadi kebingungan, kini ikut tersenyum, matanya berbinar cerah.
Bahkan, ia dengan tegas serta antusias menjawab perintah Yongyu."Saya mengerti tuan." Sembari membungkuk sesaat sebelum, mendekati Pria pengunjung kedai.
"Tuan... silahkan ikut saya ke lantai atas, untuk mengambil uang ganti rugi, sekaligus anda bisa memilih set cangkir, untuk mengganti yang pecah tadi tuan." Ajak Wangde kepada sang pelanggan.
" Mengganti?, maksudnya saya harus benar benar mengganti cangkir itu?." Jawabnya dengan nada tak percaya.
Mendengar pertanyaan tersebut, Wangde hanya tersenyum dan berjalan menuju lantai atas, dan sang pria pengunjung mengikutinya dari belakang.
" Baiklah....hanya sebuah cangkir teh saja, anggap saja ucapan terimakasih, atas uang yang diberikan dengan cuma cuma." Gumam dalam hati pria itu.
__ADS_1
Sementara itu di lantai bawah, nampak seorang Pria dengan sebilah pedang di tangan kananya, berjalan santai memasuki penginapan.
Melihat sang tamu, mata Yongyu menyipit sesaat, dengan senyum terpasang di wajahnya. Ia menyambut tamu tersebut, sembari berkata."Kau datang?, apakah kali ini anda akan ikut ke negri Tang juga?." Sembari merentangkan tangan dan mendekap tubuh kekar tamunya.
Pria yang tak lain adalah Rayyan tersebut, membalas pelukan sesaat dari Yongyu, layaknya saudara yang telah lama terpisah.
"Mungkin ikut, mungkin juga tidak." Jawab Rayyan sembari mencari tempat duduk dan meminta dilayani minum.
"Aku sedang lapar, apa kau tidak menawariku makan dan minum?, heeeehhhhh....coba ada Nona, dia pasti akan segera menjamuku dengan banyak hidangan lezat." Gerutu Rayyan, sambil meraih cangkir dan menuangkan air putih untuk dirinya sendiri.
"Ciih, kau ini...Apa kau akan menginap?, biar pelayan membersihkan kamarmu terlebih dahulu." Jawab Yongyu sembari melemparkan roti isi kearah Rayyan.
"Aku akan tinggal hingga Nona, maksudku Permaisuri tiba, ada yang ingin aku sampaikan kepadanya." Jawab Rayyan sembari memakan roti, yang tadi dilemparkan oleh Yongyu.
"Oh ya ...mengapa anda disini, apakah kebetulan anda sedang melakukan kunjungan rutin disini?." Rayyan.
" Kau salah...sama sepertimu, aku sengaja menunggu Ruoer disini. Menurut orang orang kita (pekerja toko) di negri Tang, ada seseorang yang sengaja disiapkan untuk menghadang perjalanan mereka(Ziaruo dan Kaisar Jing) diperbatasan kekaisaran Xili." Jawab Yongyu, dengan wajah yang tampak serius.
Mendengar penjelasan dari Yongyu, Rayyan membulatkan matanya, ia berhenti mengunyah kue dan berkata."Jadi kau juga sudah mendengarnya?, oh ya...setahuku mereka terdiri dari dua kelompok penyerang, dan..." Rayyan terdiam, ia menatap wajah Pria didepannya.
"Heeeeehhhhh..." Yongyu menghela nafas dalam, pandangan matanya berubah sendu.
Ia tahu, bahwa salah satu dari kelompok pe**unuh, yang akan menyerang Ziaruo adalah utusan dari sang ibu.
"Anda tahu...... kita tak pernah bisa memilih, dari siapa kita di lahirkan, dan aku merasa malu atas diriku dan ibuku di depannya." Ucap Yongyu dengan suara berat.
"Anda benar, akan tetapi... percayalah Nona tidak akan pernah menyalahkan anda untuk semuanya, namun..."
Ucapan Rayyan kembali terhenti, ia menunduk sesaat dan kembali berkata." Namun, jika tindakan Janda permaisuri Lexue, mengancam nyawa orang yang kulindungi, saya harap... anda juga tidak akan menyalahkan Pria pelayan ini."
Mendengar perkataan pria didepannya, Yongyu merasakan gemuruh didalam hati. Namun ia juga mengerti, karena sejak kemarin ia pun telah berpikir keras, tindakan apa yang harus ia lakukan jika sampai sang ibu, berhasil melukai adik tercitanya, Ziaruo.
Yongyu berdiri dari duduknya, ia menghela nafas sesaat, sebelum kembali berkata dengan suara berat. ''Lakukan yang menurut anda benar, dan aku akan melakukan, yang kuanggap benar juga."
Ada perasaan sedih, serta kecewa dari ucapannya sendiri, sebagai seorang putra ia bahkan tak melakukan apapun, ketika mendengar orang lain tengah mengancam keselamatan sang ibu.
Akan tetapi, ia juga tak akan bisa membiarkan orang lain, bahkan ibunya sendiri mencelakai sang adik.
Karena bagi Pria tersebut, Ziaruo adalah satu satunya keluarga baginya saat ini.
"Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar untukmu." Lanjut Yongyu, sembari melangkah meninggalkan penjaga kepercayaan Ziaruo.
__ADS_1
" Ibu..sampai kapan anda akan selalu membuat putra putra anda kecewa." Gumam dalam hati Yongyu.