Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 112. Dia dan aku.


__ADS_3

Masih di penginapan Nancang.


''Mengapa suami terkasihku, bahkan cemburu dengan sebuah gundukan tanah hutan, anda sungguh menggemaskan Yang Mulia.'' Ucap Ziaruo disela tawa riangnya.


Mendengar ucapan itu, hati Jing berbunga.


''Terkasih...'' Gumam Jing dalam hati, dengan kebahagiaan yang tercetak pada wajahnya


''Jangan mentertawakanku, bahkan semut yang melirikmu di ujung sanapun, nanti pasti akan aku babat..huuuuh..'' Ucap Jing dengan sedikit nada kekesalan.


Mendengar hal itu, Ziaruo berbalik menatap Jiang jingwei dan berkata. ''Hentikan, jangan selalu berpikir buruk tentang apapun, jangan takut akan sesuatu yang tak akan pernah terjadi.''


Ziaruo berusaha memangkas, kemarahan yang mulai menjalar dari hati Jing.


Dengan lembut menatap wajah sang suami, ia berusaha menjelaskan. ''Mereka (Gutingye dan Gutingyan) adalah saudara seperguruanku di negri Awan, mereka dikirim ke dunia karena telah membantu Murongxu.''


''Meskipun dia tidak menikah denganku, sebagai junior bukankah aku berkewajiban menyembahyangi( mendoakan) makamnya.'' lanjut Ziaruo lirih.


Tampak kesedihan dari sorot mata wanita tersebut, dan jing mengetahui itu.


Dengan suara lembut Jing menggenggam tangan Ziaruo, menciumnya beberapa kali.


''Aku tahu...karena kau pernah mengatakannya kepadaku....tapi hati bodohku selalu merasa khawatir dan cemas tanpa alasan, maafkan aku Yun...'' Ucap pria tersebut sembari memeluk wanita itu, menyalurkan kenyamanan alami tubuhnya, didalam kolam air panas.


Jiang jing wei menyadari, terkadang memang tidak dapat berpikir secara rasional. Marah dan bahagia tanpa dapat dikontrol, dalam waktu yang hampir bersamaan.


''Yuuun....'' Jing menyebut nama itu lirih.


''Jangan pernah lelah, dengan usahamu untuk menerima dan mencintaiku.'' Jing mengatakan segala apa yang ada didalam kepalanya.


''Aku tak ingin mencintai orang lain lagi, dan sepertinya aku juga tak akan bisa melakukannya, jadi bisa kah kau selalu bersamaku?.'' Lanjut pria tersebut, sembari meletakkan dagunya diatas kepala Ziaruo.


Ada banyak kecewa dalam hati wanita itu, bahkan sekarangpun, ia masih gagal meyakinkan sang suami, tentang segala penerimaan, serta ketulusannya berada disamping sang pria.


Namun, ia juga tak dapat mengatakan sikap, serta perasaannya sebagai cinta, ataukah lebih kearah pertanggung jawaban sebagai seorang istri.


Ziaruo menghela nafas sejenak, dan kembali berucap. ''Bukankah saya sudah menjadi milik anda Yang Mulia?, mengapa anda masih meragukan segalanya?, Apa lagi yang dapat ku lakukan untuk meyakinkan anda?.''


Pria tersebut memejamkan matanya sesaat.


''Kau benar, kau adalah milikku Yun...kau adalah wanita dan Permaisuriku.'' Gumam pelan Kaisar Jing, ada jelas keraguan dari ucapan pria tersebut.


Suara tenangnya seolah telah bercampur, dengan kecemasan serta rasa takut.


''Mungkin aku memang memiliki dalam segala hal tentang dirimu, namun ada yang belum dapat kuyakini...hatimu Yun...hatimu, apakah jelas telah menjadi milikku?.'' Lanjutnya dalam hati.


Dengan lembut Jing mengusap kepala Ziaruo, mengecup pucuk kepala wanita itu, ia ingin meredakan segala kekhawatirannya.


Pria tersebut, mengucapkan segala yang ada didalam benaknya, sembari mengusap tubuh sang istri dengan air hangat pemandian, bahkan entah telah berapa lama, waktu yang ia habiskan. Hingga...

__ADS_1


''Maafkan aku yang terlalu memaksamu Yun, apakah aku telah membuatmu tidak nyaman?, Yun..Yun..."


Kaisar Jing, melonggarkan pelukannya, menatap wajah wanita itu sejenak, ia ingin mengetahui mengapa ia tidak lagi menyahuti, atau menjawab pertanyaannya.


Dengan perlahan ia gerakan tubuh wanita itu, mengangkat dagunya dengan lembut.


Dan, sebuah senyum tersungging dibibirnya, ketika ia mendapati sang Permaisuri ternyata telah tertidur, disana didalam kolam air panas, tepat diatas pangkuannya.


Jing mengangkat tubuh sang permaisuri, membawanya keluar dari dalam kolam, dan dengan suara lirih ia bergumam. ''Apa yang membuatmu hingga kelelahan seperti ini?, bahkan tertidur disaat sedang mandi. Yun...kau memang selalu spesial serta unik dalam hal apapun."


*Flash baik off*


Sementara itu, di dalam istana kekaisaran Xili.


''Mengapa segalanya semakin menjauh dari apa yang aku inginkan?, setelah apa yang kulakukan bahkan dia tak berniat untuk bersamaku.'' Ucapnya lirih.


Seorang Pria tengah melampiaskan sebuah kegundahan hatinya, dengan deretan guci arak, tampak kesedihan pada wajah tampannya.


Hanwen sahabat sekaligus kakak seperguruan sang pria, menjaga serta menemani pria tersebut dengan sabar.


Ada kesedihan dibalik setiap ketenangannya saat ini, ia menyesalkan kejadian yang tengah dialami oleh sang pria.


''Jika perasaan hati semudah itu, mungkin aku juga tak akan memutuskan untuk membentengi diri ini Yang Mulia, segalanya selalu menjadi rumit, segalanya akan jauh lebih menyakitkan ketika rasa itu hanya sepihak saja.'' Gumam Hanwen dalam diamnya.


Pria dengan status misterius tersebut, tampak beberapa kali menghela nafas dalam, ada banyak kegetiran yang ingin ia hempaskan dari dalam dirinya.


''Jika segalanya akan indah tentang cinta, tak akan ada orang yang akan menderita hingga akhir, sungguh indahnya dunia.'' Ucap pria tersebut, sembari berjalan mendekati sang Kaisar Xili.


''Aku tak pernah menginginkan semua ini....aku tak ingin menjadi Kaisar, aku juga tak ingin bermusuhan dengan saudaraku.'' Lanjutnya kembali.


Hanwen tak ingin menghentikan setiap ucapan, serta keluh kesah adik seperguruannya tersebut.


''Aku melakukan segalanya untuk dia, untuk bersamanya.....Namun, disaat segalanya telah ku miliki, justru kabar pernikahan yang ku dengar. Apakah semuanya adil untukku?, bahkan sejak kecil aku selalu mengalah, aku selalu diam dan menghindar, mengapa?, mengapa segalanya sulit untukku?.''


Murongyu mengatakan apapun yang ingin ia ucapkan, pria tersebut telah kalah dibawah pengaruh arak yang ia habiskan.


Banyak hal yang ia simpan kini meluncur dengan mudah dari bibirnya, hingga hanya beberapa kata yang dapat ia sebut dan keluarkan dari bibir itu. ''Ruoer...Ruoer...''


Hanwen memapah tubuh sang kaisar, membawanya menuju ranjang, serta membaringkannya secara perlahan.


Pria tersebut memilih menemani sang kaisar, serta memutuskan untuk tinggal didekatnya.


Selang beberapa saat kemudian, seorang selir datang menghapiri, hendak meraih kejayaan di sela ketidak berdayaan sang kaisar.


Namun langkah kakinya terhenti, saat sebuah suara tegas menyapa. ''Apakah anda ingin berusaha, menjadi phoniex kekaisaran Xili selir Kang?.''


Sebuah suara yang sangat ia kenal, suara orang nomor dua di kekaisaran saat ini, bahkan di hadapan kaisarpun, pemilik suara itu tak memiliki ketakutan.


Wajah selir Kang menjadi pias, dengan langkah perlahan ia menarik kakinya kembali, membawa langkahnya mundur, sembari menjawab. ''Ti..tidak tuan Hanwen, saya hanya ingin melihat kondisi Yang Mulia saja.''

__ADS_1


Mendengar Jawaban itu, Hanwen mendekati wanita tersebut.


Dengan tatapan tajam, ia menatap lekat selir Kang, yang kini tengah menunduk serta gemetar.


Dengan tangan kanannya, pria tersebut menyentuh pundak sang selir dan berkata.''Jika kau begitu ingin bersamanya, maka...buat ayahmu itu menyerahkan plakat militer kamp barat.''


Mata selir Kang membulat, bahkan mata itu seolah hendak keluar dari rongganya.


Belum sempat keterkejutan sang selir menghilang, sebuah ucapan yang mengejutkan kembali didengarnya. ''Apa kau pikir aku akan percaya kau mencintai Yang Mulia?, hanya orang bodoh saja yang percaya, bahwa putri seekor ular yang merayap di lumpur, dapat terbang di langit sebagai Phoniex.''


Hanwen melangkah masuk kembali kedalam ruangan, setelah menyelesaikan ucapnnya. Meninggalkan wanita itu dengan tubuh gemetar, bahkan sejenak setelah pintu ruangan tertutup, tubuh selir Kang luruh diatas lantai.


Tak ada yang akan mengira bahwa perkataan kasar itu, akan keluar dari pria tersebut. Seorang Pria, dengan kenangan kisah cinta mendalam, di masa lalu dengan dirinya.


Wanita itu menangis didalam kebungkaman bibirnya, hanya air mata sajalah, pembukti rasa sakit hatinya saat ini.


Dengan di bantu oleh kedua dayangnya, selir Kang berlalu dari sana. Meninggalkan sesosok pilu di balik pintu.


Seorang Pria dengan perasaan kesedihan, menyandarkan tubuhnya pada daun pintu ruangan. Memejamkan mata sembari mendongak keatas. Ada sebuah luka yang tak dapat ia sembuhkan, ada kekecewaan besar dari wajahnya.


''Bagaimana, apakah itu menyakitkan?, huuuuh....kau itu memang pantas menjadi saudaraku...bahkan keb*d*han kita saja juga sama.'' Ucap Kaisar Murongyu.


Pria tersebut duduk memperhatikan sang sahabat, dari atas ranjangnya sejak awal Hanwen masuk.


Murongyu turun dari ranjang, dan berjalan mendekati Hanwen, sembari berkata. ''Aku tak pernah menyentuh wanita itu, apakah aku ingin bersamanya lagi?.''


Mendengar pertanyaan tiba tiba tersebut, Hanwen tersenyum masam. Ia hanya merasa lucu dengan kehidupan ini.


Disaat dulu ia ingin memperjuangkan wanita itu, hampir semua orang bahkan wanita itu sendiri memberikannya tembok tinggi.


Dan ketika sekarang, ia telah merelakannya, justru jalan lebar terpampang didepannya.


''Hahaha...hahaha..hahaha.''


Hanwen tertawa dengan penuh kekecewaan. Di balik semua yang terjadi, pria tersebut percaya, bahwa segalanya adalah ulah kejam para dewa, yang tengah mempermainkan takdirnya.


''Wanita yang tak dapat dipercaya, tak pantas untuk di perjuangan Yang Mulia, dan dia salah satunya.'' Jawab Hanwen pelan.


Kaisar Jing menepuk pundak Hanwen, ia berusaha memberikannya kekuatan, sebagai seorang saudara sekaligus juga seorang sahabat.


''Lalu...apakah Permaisuri Yun pantas diperjuangkan Yang Mulia?.'' Tanya balik Hanwen kepada Murongyu.


Murongyu menatap Hanwen dengan tak terbaca, sebuah senyum getir tercetak sejenak, sebelum jawaban keluar dari bibir itu. ''Jika dia memberikan izin, maka aku akan meletakkan semua untuknya.''


''Heeeeehhh....Namun sedari awal, dia selalu tegas dengan sikapnya.


Tak pernah memiliki apapun untukku, aku hanya sebagai seseorang yang singgah sesaat, untuk menerima kebaikannya saja, tanpa ada perasaan apapun yang lain.'' Lanjut Murongyu sembari menghela nafas panjang.


''Bahkan jika ia memiliki sedikit perhatian untukku, aku bersedia mengorbahkan segalanya. Sejak awal hanya ada dia didalam hatiku, dan tak pernah ada diriku didalam hatinya.'' Gumam Murongyu penuh kegetiran dalam diam.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan membaca.


Mohon tinggalkan like, saran dan komentarnya ya.... Agar Author semakin SEMANGAT.


__ADS_2