
Masih didalam pavilliun kediaman selir Gu xianque.
''Tapi, bayi ini nyata Bing, ia bukanlah kepalsuan.'' Sambung selir Gu lagi.
Mendengar ucapan tersebut, Bingbing mendekat, dan memeluk selir Gu erat, ada kepedihan menyeruak masuk kedalam hatinya.
''Apakah kasih sayang, serta perhatian yang menghadirkan janin di rahim ini, juga palsu saat itu Bing?.'' Lanjut sang selir lagi.
Akan tetapi, kali ini wanita itu tampak menyedihkan, ada jelas kegundahan yang tersirat, pada setiap penggalan perkataannya.
Hal itu, semakin membuat Bingbing mengeratkan pelukan, karena ia menyadari bahwa hanya hal itu saja, yang dapat ia lakukan untuk sang nona, yang kini telah menjadi seorang selir kekaisaran.
Dirinya hanyalah wanita berkasta rendah, yang tak dapat berbuat banyak, untuk sang majikan.
Sesungguhnya dalam hati, Bingbing menyalahkan, dan membenci kaisar Canzuo, yang selalu menyia-nyiakan Gu xianque.
Bahkan, ia telah menanamkan ketidak sukaan sejak awal, ketika pria itu meminta majikannya tersebut, untuk masuk ke istana dalam, sebagai seorang selir.
Wanita itu beranggapan, seorang pria dengan banyak wanita, meskipun dengan status tinggi yang dimilikinya ia tetap berasumsi, pria itu tetap tak pantas mendapatkan gadis Gu, yang baik hati.
Dalam harapannya, Bingbing menginginkan sang majikan, mendapatkan seorang suami yang memperdulikan, serta menyayanginya dengan tulus.
Akan tetapi, apa hendak dikata jika takdir telah memilih, dan memggariskan nasib sang nonanya tersebut.
Dirinya hanya mampu berharap, bahwa Kaisar Canzuo, akan menghargai, serta menyayangi Gu Xianque sebagai mana mestinya seorang suami, kepada istrinya.
Dibalik statusnya, yang hanya seorang gadis pelayan, Bingbing di beli oleh keluarga Gu, dari sebuah pasar budak, yang berada di tengah kota Diwei, adalah sebuah keberuntungan.
Di tengah kemalangannya sejak kecil, dibawah garis kemiskinan, serta ketiadaan kasih sayang dari orang tuanya.
Bertemu dan di bawa masuk kekeluarga Gu, adalah sebuah keberuntungan baginya. Meskipun, hanya sebagai seorang pelayan di keluarga sang Jendral.
Bukan hanya ia tidak di rendahkan, bahkan Bingbing di tempatkan sebagai pelayan pribadi, putri satu satunya yang tergolong masih seusia dengan dirinya.
Wanita tersebut, hanya di tugaskan untuk melayani, serta menemani Gu xianque bermain. Ia tidak di haruskan, untuk melakukan pekerjaan apapun, di luar keperluan sang nonanya.
Oleh karena itu, ia sangat berterimakasih kepada keluarga sang jendral, bahkan ia telah memutuskan untuk melayani kelurga tersebut, seumur hidupnya.
''Tenang saja Yang Mulia. Pelayan ini yakin, segalanya akan berubah, ketika putra anda lahir kelak.'' Hibur wanita pelayan itu lagi.
Ia ingin menenangkan majikannya, meskipun dengan jelas, itu tidak membuahkan hasil apapun.
Selir Gu meringkukan tubuh diatas tempat tidur, dengan bulir bening pada sudut mata jernihnya, yang mulai membasahi selimut diatas ranjang.
__ADS_1
Menyaksikan hal tersebut, dengan penuh kelembutan Bingbing menyelimuti tubuh itu, seraya berucap pelan. ''Anda beristirahatlah, percayalah semuanya akan kembali seperti sediakala.''
Sementara itu, di aula perjamuan.
Setelah kepergian selir Gu, suasana menjadi agak canggung.
Ada banyak hal yang di gumamkan setiap orang disana.
Karena tidak biasanya, seseorang akan meninggalkan sebuah perjamuan, sebelum Kaisar pergi dari sana.
Jendral besar Gu menunduk diam, ia mengacuhkan setiap tatapan yang seolah tengah menimbun tubuh tuannya, dengan banyaknya pertanyaan.
Bagi pria tersebut, kecemasannya terhadap sang putri jauh mendominasi, ketimbang tatapan-tatapan ingin tahu, semua orang yang hadir saat ini.
''Eheeeeem...''
Kaisar Canzuo memecah keheningan, dengan suara deheman khas.
''Mohon pengertiannya, selir keagungan sedang diawal masa kehamilan, jadi saya harap tidak menyinggung anda sekalian.'' Ucap Canzuo, dengan wajah tenang.
Kaisar muda tersebut, berusaha menjelaskan alasan sang selir, yang meninggalkan perjamuan, terlebih dahulu.
Canzuo berusaha tampil setenang mungkin, dengan tetap menunjukan keagungan serta wibawanya tinggi seperti biasanya.
Ziaruo mendesah pelan.
Ada kegelisahan yang kini tengah menyelimuti hatinya.
Ditengah kebahagiaan atas kehamilannya, ia merasakan ketakutan yang besar.
Dengan gerak gerak lembut ia mengusap perut yang masih rata miliknya.
''Apakah aku dapat melihatnya kelak?.'' Pikirnya dalam kediaman.
Ziaruo menyadari, dengan apa yang tengah berkutat, pada dirinya.
Dengan kehamilan yang belum genap sepekan ini, ia semakin dirundung kecemasan, manakala wanita itu mengingat, bahwa waktunya hanya tinggal tak lebih dari 7 bulan saja di dunia ini.
Sementara, untuk melahirkan pada umumnya, memerlukan sang buah hati, ia membutuhkan waktu 9 bulan lamanya.
Hati Ziaruo menjadi resah seketika, tangan itu sedikit bergetar diatas perutnya.
''Kau harus lahir dengan sehat, aku akan melakukan apapun untukmu.'' Ucapnya lirih.
__ADS_1
Mendengar apa yang di ucapkan sang Permaisuri, kaisar Jing tersenyum kearah wanita itu, dan menyahutinya lembut. ''Tentu saja ia akan lahir dengan sehat, bahkan kau juga harus baik-baik saja.''
''Aku akan pastikan itu Yun.'' Lanjut Jing dalam pikirannya.
Pria tersebut, tengah diliputi kebahagiaan yang besar saat ini.
Hingga, ia melupakan kenyataan bahwa tak cukup banyak lagi, waktu yang akan mereka lewati dalam kebersamaan, seperti sekarang.
Kaisar Jing, hanya fokus tentang kebahagiaan miliknya, serta menjaga sang permaisuri dengan baik.
Bahkan, jika bisa ia ingin membawa tubuh itu, serta menguncinya di dalam sebuah ruangan, yang tak tertembus oleh siapapun.
Sehingga, hanya dirinya yang dapat melihat, serta mendekati wanita tersebut.
Dan tidak akan ada orang lain, yang dapat menyakiti keduanya.
Kaisar Jing, meletakkan tangan kokohnya diatas tangan Ziaruo, serta ikut bergerak pelan sejenak, diatas perut sang permaisuri.
Pria itu menegaskan pada dirinya sendiri, bahwa di dunia ini tidak ada yang jauh lebih berharga, dibanding dengan wanita itu, dan sang buah hati didalam kandungannya.
Bahkan, ia juga tak lagi menomor satukan, tahta yang selama ini sangat ia jaga sebaik mungkin.
Sepanjang perjalanan hidupannya hingga sekarang, ia telah menyadari, bahwa kehidupannya terasa hampa, meskipun telah memiliki kekuasaan, tahta, dan dalam gelimangan harta.
Selama ini, ia hanya diliputi kecemasan, serta memiliki kebahagiaan yang semu, sebuah kesuksesan, yang hanya tergambar di dalam mata, serta benak orang lain saja.
Akan tetapi, pada kenyataannya ia tidak memiliki apapun di dalam kesendirian.
Dengan kekuasaan yang besar, ia justru dihantui ketakutan yang besar pula atas sebuah perebutan serta pengkhianatan.
Sehingga hal tersebut, menjadikannya seseorang dengan pribadi yang kejam, serta penuh curiga kepada siapapun.
Dan bahkan, karena tahta itu pula, ia menderita atas kecurangan orang terdekatnya sendiri (ibunya).
Demi menjaga tahta itu pula, kaisar Jing telah berubah menjadi seorang monster, yang tega melukai, dan memaksa saudaranya meminum racun secara langsung.
Mengingat segalanya, Jing menghela nafas panjang, dengan suara yang berat ia kembali berucap. ''Aku menjaga kalian untuk diriku sendiri.''
''Karena jika terjadi sesuatu kepada kalian berdua, tentunya Jing ini akan menghilang, dan digantikan oleh pria yang lama.'' Lanjut pria tersebut dalam pikiran.
Mendengar hal itu, Ziaruo menatap sang suami lekat.
Ditengah riuhnya bebunyian, serta tepuk tangan semua orang, atas sebuah tampilan memukau, dari keluarga kekaisaran, keduanya seolah berada di dimensi berbeda.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan semua orang yang disana, Ziaruo mengusap lembut wajah Jing, seraya berkata. ''Jangan lagi menjadi seperti hewan buas Yang mulia. Meskipun, nantinya kita tak lagi bersama.''