Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 225 Memakan rumput muda.


__ADS_3

Langit berarak dengan barisan warna putih dan biru, mengalir perlahan seirama lembutnya angin hangat, di atas sebuah lembah kecil.


Seolah tengah ikut menyambangi kesejukan ngarai lembah, untuk mengahapus embun pagi di pucuk dedaunan.


Seorang wanita yang mengenakan cadar di wajah, menelusuri jalanan setapak dengan langkah ringan.


Tak ada ketakutan, ataupun enggan atas sepinya ngarai di balik punggungnya.


Melangkah...dan terus menapakan kaki, diatas jalur kecil yang berkelok melintasi gunung yang kokoh.


Hingga sebuah gapura penanda perbatasan desa terlihat, wanita itu masih terus melangkah dan tak berbalik arah.


Bahkan sekedar untuk menoleh kebelakang sekalipun, tak ia lakukan.


''Anda kembali nyonya?.'' Tanya seorang warga, dengan sopan.


Tampak jelas bahwa dari sapaan tersebut, sang pria penduduk desa itu, telah mengenal sosok sang wanita.


''Ia... ingin turun gunung sejenak.'' Jawabnya, dengan sedikit melambatkan kaki, serta menggangguk pelan.


''Apakah akan menetap sebentar kali ini?.'' Tanya pria itu lagi.


Mendengar perkataan tersebut, wanita yang tak lain adalah Ziaruo itu, menghentikan langkah kaki, dan menoleh kearah sang pria paruh baya, hendak menjawab. Namun, sebuah seruan didengarnya.


''Nyonya...Anda datang?.''


Dari kejauhan beberapa pria, dan wanita desa yang hendak pergi keladang berseru dengan antusias, ketika berjalan mendekat kearahanya.


Melihat kedatangan mereka, Ziaruo tersenyum di balik cadar.


''Ia..mampir sejenak, sbelum turun gunung Nyonya Yin.'' Jawabnya.


''Baguslah...mampir juga di pondok kami Nyonya.'' Nyonya Yin.


Nyonya Yin adalah wanita 40 tahunan, penduduk asli desa tersebut.


Ia memiliki dua orang putri remaja, dan satu putra yang telah menginjak usia 17 tahun.


Mereka adalah keluarga sederhana, dengan 5 anggota didalamnya, suami, istri,1putra dan 2 putri.


Dan seperti hari ini. Sekeluarga hendak pergi keladang, untuk meneruskan perkerjaan keseharian mereka.


Begitu juga Ziaruo, setiap kali ia keluar dari Yincang, dirinya akan muncul di jalanan setapak di bawah kaki bukit gunung batu.


Sebuah jalan setapak, yang menuju desa kecil dengan hamparan hijau ladang penduduk, yang baru saja mulai bercocok tanam.


Sebuah desa subur, yang terisolali dari perkampungan lain, serta berada di bawah lingkup kaki gunung batu.


Entah apa kaitan tempat tersebut, dengan dimensi Yincang.


Yang jelas, Ziaruo akan selalu berada di sana, setiap kali keluar dari Yincang.


Sebuah kaki gunung, sebagai perbatasan antara kekaisaran Ming dan kekaisaran Liang.

__ADS_1


Meskipun desa batu, berada di bawah kekuasan kekaisaran Liang.


Namun, dengan lokasi yang terisolir dari perkampungan lain, serta medan yang sulit di lalui, desa tersebut lebih sering melakukan transaksi jual beli hasil panen mereka, ke kota-kota di bawah kekaisaran Ming.


Selain menghemat waktu dan tenaga pergi ke kota Ming, harga jual yang di terima relatif lebih tinggi, dari kota terdekat di wilayah Liang.


Dan jika sedang beruntung. Mereka bahkan dapat bertemu secara langsung, dengan para pedagang dari kekaisaran Zing, untuk memperoleh yang harga jauh lebih tinggi lagi.


Karena tidak seperti kota perdagangan di kekaisaran Liang yang terletak di garis pesisir pantai, serta lebih mendominasi pedagang dalam negri.


Kota kekaisaran Ming lebih terbuka, untuk menerima perniagaan dari kekaisaran lain.


Dan itu termasuk dari kekaisaran di sekitar mereka kekaisaran Liang, Zing serta kekaisaran Tao.


Jadi dapat dikatakan, bahwa desa batu adalah bagian terujung kekaisaran Liang di sisi utara, yang berbatasan langsung dengan wilayah kekaisaran Ming, sebuah wilayah di sisi selatan kota kekaisaran Zing.


Meskipun kekaisaran tersebut tidak terhitung dalam 5 besar kekaisaran di benua itu, akan tetapi keberadaan mereka telah diakui disana.


Di dalam benua tersebut, setiap kebijakan yang di keluarkan suatu wilayah kekaisaran, akan dipatuhi oleh siapapun yang datang berkunjung disana.


Tidak terkecuali 5 kekaisaran besar yang lain.


................


Mendengar sapaan dari mereka, dalam hati Ziaruo merasa hangat.


"Terimakasih untuk undangannya, mungkin lain kali."


Ia tahu dengan jelas dibalik kebaikan Nyonya Yin, ada sosok di belakan sang suami yang tengah berbinar, dengan harapan besar untuk kedatangan wanita itu ⁰di rumah mereka.


Meski Ziaruo tak lagi dapat membaca pikiran orang lain. Namun, dengan panjangannya waktu kehidupan yang telah ia lalui, dirinya bukanlah rumput hijau yang baru bersemi.


Bagaimana mungkin ia tidak memahami gelagat pria muda disana, dan keinginan dari nyonya Yin bersama sang suami.


Bagi orang-orang sederhana, serta majemuk seperti mereka, wanita baik dan berbudi adalah pilihan bijak untuk menjadi menantu dalam keluarga.


Ketenangan hidup, keturunan yang baik dan berbudi pekerti, adalah doa serta idaman hampir semua para penduduk pedesaan.


Pikiran mereka masih simpel dan belum terkontaminasi dengan ambisi harta dan kedudukan.


Bagaimana mungkin akan melewatkan kesempatan yang baik ini, ketika melihat wanita muda cantik, berbudi pekerti, baik, dan seorang penyembuh.


Ziaruo di kenal di desa batu, setelah kedatangannya yang secara kebetulan beberapa bulan lalu. Secara kebetulan memberikan pertolongan untuk penduduk disana, akibat serangan binatang buas.


Wanita itu semakin di kenal, ketika pada bulan berikutnya ia juga singgah disana, dan menyelamatkan seorang bocah kecil yatim piatu, yang hampir mati tenggelam di sungai.


Dan sejak saat itu juga Ziaruo selalu berusaha menyempatkan diri, serta memberikan sedikit waktunya untuk menyambangi sang bocah.


Dengan kelembutan kasih sayang, ketulusan hati tersebut, Ziaruo semakin di minati oleh banyak pemuda lajang di desa batu.


Meskipun, tak pernah ada satu diantara mereka, yang pernah melihat wajahnya.


Hanya dengan kebaikan, kelembutan, ilmu beladiri, serta kemampuan penyembuhan yang dimiliki, dirinya telah menjadi sosok tampilan sempurna di mata mereka.

__ADS_1


Bahkan tak sedikit dari pemuda serta penduduk telah yakin, bahwa Ziaruo adalah wanita hebat yang pantas di perjuangkan.


Dan alhasil, meskipun telah beberapa kali menegaskan bahwa dirinya telah bersuami dan memiliki putra, para pengagum tetap saja terus berdatangan.


Khususnya para pemuda di sana. Mereka hanya menggangguk mendengar penjelasan tersebut.


Akan tetapi, tak satupun diantara mereka mengambil serius, maksud penyampaian disana.


Bagaimana mungkin ia memiliki suami dan putra?, bukankah selama ini ia selalu sendirian?.


Bagaimana mungkin dengan usia yang relatif muda ia telah memiliki seorang suami?, terlebih lagi seorang putra, bukankah itu hanya alasan menghindari pinangan mereka saja?.


Jikapun ia telah memiliki suami, mengapa ia tak pernah hadir bersamanya?, ataukah ia seorang janda?.


Dan masih banyak anggapan lain, sebagai panyangkalan dibalik otak simpel mereka.


Seandainya mereka tahu identitas dari sang wanita, mungkin mereka akan jatuh pingsan seketika itu juga.


Keinginan hati mereka untuk wanita itu, nyatanya ibarat seekor katak di telaga, yang ingin menggapai rembulan di langit malam.


Sungguh kesederhanaan mereka, tak pernah mampu menembus inti bait perkataan Ziaruo.


Karena saat ini Ziaruo di hadapan mereka, ibarat pantulan bulan di permukaan telaga, yang sulit di selami dengan baik. Lalu bagaimana mungkin sempat berpikir, untuk menatap keatas langit.


Ziaruo hanya mampu tersenyum kecut, pada saat mengetahui itu.


Hatinya telah hambar, serta jenuh dengan semuanya.


"Saya ingin melihat Cangge sebentar sebelum ke kota. Silahkan lanjutkan aktifitas nyonya Yin dan keluarga lagi.''


Ziaruo sedikit membungkukan tubuh, ketika ia mengatakan itu. Sebuah gerakan kecil dan lembut, sebagai bentuk lain permintaan untuk pamit pergi dari sana.


Jalanan setapak sejenak kembali sepi. Hanya ada mereka yang saling tatap dengan mulut terbuka tanpa suara, serta tangan yang bergerak hendak menghentikan Ziaruo.


Mereka tertegun dan tak dapat berbuat apapun, hanya menatap punggung Ziaruo, yang perlahan samakin menjauh.


Hingga, beberapa saat kemudian sebuah suara dengan nada agak kesal terdengar. "Kalian...menggangu percakapanku dengan Nyonya Yun saja heh..."


Pria paruhbaya bermarga Meng yang pertama kali menyapa Ziaruo itu, merasa kesal dengan keluarga Yin.


Karena, kedatangan mereka telah mengganggu tegur sapanya dengan Ziaruo.


"Haha...lihat siapa yang bicara ini?, ingat usia!, apakah kau ingin memakan rumput muda tuan Meng?" Sahut nyonya Yin, dengan bahasa sarkas.


Ia merasa geli, dengan antusias dari pria paruh baya tetangganya tersebut.


"Memangnya mengapa jika rumput muda, bukankah akan sia-sia jika ada yang lembut di depan mata, di biarkan.''


''Siapa tahu dewa sedang bermurah hati, dan sedang menatap keberuntungan pria ini.'' Ucap pria Meng, dengan mata cerah.


''Coba tanyakan suamimu, apakah ia juga akan menolak jika di beri kesempatan?, hahaha..hahaha"


Tambahnya lagi, sembari melangkah pergi meninggalkan nyonya Yin, yang sedang menggulung kening, serta menatap kearah sang suami dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2