Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 136 Kehamilan Ziaruo


__ADS_3

Masih di kota Diwei.


Ditengah kecemasannya atas sang istri, Jing merasa gerah dengan sikap Yongyu, kakak iparnya.


Ia merasa seolah dirinya kini, adalah tertuduh, dalam kejadian yang tengah menimpa permaisuri Yun.


''Bagaimana mungkin aku akan melukainya?, segila dan sekejam apapun, aku tak akan pernah mampu melakukannya.'' Gerutu Jing, dalam hati.


"Jika ini karenamu kak...maka aku akan membawaya, menjauh dari hidupmu selamanya.'' Pikir Yongyu.


''Apa yang terjadi dengannya tabib?.'' Tanya Yongyu, setelah melihat sang penjaga selesai memeriksa kondisi dari Ziaruo.


Mendengar pertanyaan tersebut, prajurit elit ynag sekaligus tabib itu, menatap kearah Yongyu sejenak. Kemudian berganti kearah sang kaisar, tuannya.


Ada keragu-raguan pada sorot mata tersebut.


Dan hal itu membuat Jing menjadi kehilangan kesabaran.


''Apa kau tuli, dia bertanya kepadamu.'' Ucap Jing, dengan nada suara yang agak kasar.


Jing merasa gusar melihat ekspresi dari sang penjaga, ia menjadi cemas atas sebuah kemungkinan buruk, yang akan didengarnya.


''Ampun Yang Mulia, sepertinya Yang Mulia Permaisuri...''


Ucapan pria penjaga yang sekaligus tabib tersebut, seolah tercekat di tenggorokannya.


Ia kebingungan hendak menyampaikan, berita yang mana terlebih dahulu.


Lebih tepatnya prajurit elit itu, tengah menyusun sebuah kata, untuk menyampaikan sesuatu yang telah ia ketahui.


Namun, ia juga tengah mencari jalan selamat untuk dirinya.


Ia tahu dengan jelas, bahwa tidak akan ada hal baik yang akan ia dapatkan, dengan menyampaikan sesuatu yang buruk tentang sang Permaisuri.


Bahkan, meski itu semua tidak ada sangkut paut, dengan dirinya.


''Apa kau bodoh haah!, cepat katakan apa yang terjadi.'' Lanjut kaisar Jing, lagi.


Mendengar hal itu, sang prajurit penjaga elit menjatuhkan tubuhnya dengan cepat.


Ia merasa bahwa sebentar lagi, dirinya akan berkumpul dengan keluarganya di nirwana.


Melihat hal itu, Ziaruo berkata. ''Jangan salahkan dirinya, ia tidak melakukan apapun.''


Suara Ziaruo yang terdengar lemah itu, membuat hati Yongyu dan juga Jing sedikit melumer.


Dengan bergegas, keduanya mendekat kearah ranjang.


Jiang jing wei, duduk disamping ranjang dan meraih tangan Ziaruo.


''Yuun..''


Panggilnya lembut.


Menyaksikan hal itu, Yongyu kembali bertanya kepada sang prajurit penjaga. ''Sebenarnya ada apa dengan adikku?.''


Prajurit elit tersebut, mendongak sejenak menatap Yongyu, sebelum akhirnya ia menjawab. ''Yang Mulia Permaisuri, beliau tengah hamil.''


''Oh...Untunglah.''


Sahut Yonyu reflek.


Yongyu menjadi lega mengetahui hal itu, ternyata sang adik tidak mengalami hal yang serius.


Pemuda tersebut, berbalik menatap kearah sang adik, yang tengah berbaring di ranjang.


Akan tetapi, ketika ia melihat wajah Jing, keningnya mengernyit.


''Apa?, mengapa kau menatapku?, perhatikan dengan baik ia sedang hamil.'' Ucap Yongyu sarkas kepada Jing.


Yongyu kesal karena, kaisar itu menatapnya dengan tatapan yang aneh, serta mulut yang terbuka lebar.


Sementara sang adik, justru tersenyum dengan rona kebahagian.


''Apa!."


Pekik Yongyu lagi kepada kaisar Jing.


"Hamil, Yunku hamil..'' Tegas kaisar Jing, dengan mata menatap tajam kearah Yonyu.

__ADS_1


''Ia, aku tahu Ruoer hamil, lalu?.'' Sahut Yongyu masih dengan ekspresi biasa.


Akan tetapi, ketika ia hendak melangkah keluar ruangan. Tiba-tiba saja ia berhenti, dan kembali mengucapkan kalimat itu.


''Hamil...Ruoer hamil.''


Ucap Yongyu, dengan nada tak percaya.


Dengan cepat Yongyu berbalik dan menghampiri sang adik.


''Kau hamil Ruoer...kau...kau...aku akan menjadi seorang...haha..hahaha...''


''Aku akan menjadi seorang paa..man.'' Lanjut pria itu dalam hati.


Ada kebahagiaan atas kenyataan tersebut.


Namun, ada kekecewaan juga di sana.


Tepat di depannya kini, tampak sebuah gambaran akan kebahagiaan dari wanita itu, bersama sang kakak Jing.


Tepat di depannya, Jiang jing wei berkali kali mengecup kening, mata, pipi serta bibir Ziaruo.


Seolah dirinya di sana, ibarat pajangan ruangan yang tak memiliki nyawa, rasa dan jiwa.


Jing terus saja, mengusap lembut setiap bagian wajah Ziaruo.


Bahkan, sesaat kemudian ia juga melihat, pria tersebut ikut meringsekan tubuhnya, keatas ranjang.


Jing berbaring disamping sang adik, dan juga memeluknya penuh kasih sayang.


Di tengah kebahagiaan disana, Yongyu merasakan ribuan jarum, tengah menusuk hatinya kuat kuat.


''Mengapa itu bukan aku yang disana?.'' Gumamnya dalam diam.


Yongyu ingin mendekati ranjang kembali, ia ingin memastikan dan memgucapkan selamat kepada Ziaruo.


Namun, sebuah tarikan pada baju bawahnya, menghentikan langkah kaki pemuda tersebut.


Di tatapnya pria yang duduk di lantai ruangan itu tajam. Dan dengan suara yang datar, ia kembali bertanya. ''Ada apa?, mengapa kau masih disini?.''


Yongyu dan kaisar Jing, melupakan tentang kekhawatirannya, ketika mereka mengetahui kehamilan Ziaruo.


''Ampun tuan Yun, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan.'' Lanjut sang penjaga.


Mendengar ucapan itu, baik Jing, ziaruo, dan juga Yongyu menjadi terdiam, ruangan menjadi senyap sejenak.


Hingga suara lembut dari seorang wanita, memecah keheningan di sana.


''Sudahlah...itu kita bicarakan lain kali saja, kau boleh pergi.'' Ucap Ziaruo.


Wanita itu, dengan jelas tahu apa yang hendak di utarakan oleh sang penjaga bayangan.


Akan tetapi, ia tak ingin kebahagiaannya dan kedua orang disana, menghilang karena kondisi kesehatan tubuhnya.


Mendengar ucapan itu, prajurit penjaga semakin kebingungan, apakah ia harus pergi sekarang?, ataukah tetap berusaha menyampaikan hal lain yang belum ia katakan?.


Sementara, jika ia mengatakan hal lain tersebut, ia yakin bahwa nafasnya mungkin akan berhenti, disaat ia menyelesaikan ucapan itu.


Melihat, sang penjaga kebingungan, Yongyu dan Jing menjadi cemas kembali. Dan Ziaruo memahaminya.


''Apa kau tidak menghargai perintahku prajurit?.'' Tanya Ziaruo dengan nada yang masih sama.


Akan tetapi, bagi siapapun yang mendengar, mereka jelas tahu bahwa saat ini, sang Permaisuri terkasih dari kaisar Jing tersebut, tengah memberikan sebuah peringatan.


Sementara, melihat hal itu Jing segera menyahuti ucapan sang Permaisuri. ''Jangan marah, ingat kau sedang hamil, dan ini masih sangatlah rapuh.''


''Kau...pergilah, kita bicarakan lain waktu saja.'' Ucap Jing kembali, namun kali ini ia tujukan untuk sang prajurit penjaga elit miliknya.


Mendengar perintah Jing, sang prajurit menatap kaisar sejenak, beralih menatap kearah Yongyu. Ada kebimbangan jelas pada sorot matanya.


Dan Yongyu memiliki firasat kurang baik akan hal tetsebut.


''Baik Yang Mulia, hamba undur diri.'' Jawab sang penjaga, sebelum meninggalkan ruangan.


''Kalian beristirahatlah, jaga kesehatan, aku keluar dulu.'' Ucap Yongyu, sembari menatap sang adik sejenak.


Pria tersebut tidak menunggu jawaban dari keduanya, dan bergegas keluar ruangan dengan cepat.


Baik itu Jing, ataupun Yongyu, keduanya memiliki kecemasan yang sama.

__ADS_1


Namun bagi Jiang, berpura-pura tenang saat ini, adalah penting untuk sang Permaisuri.


Disamping itu, ia juga tahu bahwa Yongyu sang kakak ipar, bergegas keluar adalah untuk mengejar sang penjaga elit.


Diusapnya lembut, perut yang masih rata sang istri.


Ada kebahagiaan yang sangat besar, di dalam hati penguasa tersebut.


Ia tak menyangka, di tengah banyaknya kesedihan, atas perbuatan sang ibu, ia masih memiliki kesempatan memiliki keturunan.


Dia, Ziaruo adalah wanita yang telah menyembuhkan racun di tubuhnya, ternyata juga adalah seeorang yang di kirim dewa, untuk melahirkan keturunan kekaisaran Zing miliknya.


Bagi pria itu, wanita ini adalah hidup, serta kebahagian yang di kirim dewa, atas setiap penderitaan yang selama ini ia rasakan.


''Yuun...Terimakasih. Terimakasih karena telah bersedia hidup bersamaku. Terimakasih karena telah memberikan kebahagiaan hari ini.'' Ucap pria tersebut, masih mengusap perut sang istri.


Jing tak dapat mengungkapkan kebahgaiaan besar saat ini.


Seolah, dirinya telah mendapatkan seluruh dunia, di dalam genggaman tangan kokoh miliknya.


Dan tak jauh berbeda dengan pria itu, Ziaruo pun merasakan gelora yang sama.


Di tambah lagi, ketika ia mendengar ucapan sang suami.


Baginya pribadi, kehamilan ini adalah impian sepanjang kehidupan yang telah ia lalui.


Akan tetapi, mendengar ucapan tulus, serta kebahagian pria di sampingnya itu, hatinya semakin tersentuh.


''Saya juga merasa bahagia yang mulia.'' Jawab Ziaruo lembut.


''Bahkan didalam kehidupan wanita ini yang terdahulu, belum pernah saya mengalami kebahagiaan seperti sekarang (mengalami kehamilan).'' Lanjut Ziaruo kembali.


Mendengar ucapan yang meluncur jujur dari bibir sang permaisuri, Jing tak mampu menahan emosi hatinya lagi.


Hingga, tanpa sadar ada bulir bening di ujung pelupuk mata tajam miliknya.


''Kau tahu, aku hampir menyerah untuk memiliki putra...Sampai aku bertemu denganmu saat itu.'' Ucap Jing dengan lembut, sembari mengingat kembali kejadian di hutan barat, disaat pertemuan pertama mereka.


Ziaruo mendengar setiap ucapan sang suami dengan rona bahagia.


Dan ia tahu dengan jelas, perasaan itu nyata tulus, dari hati sang kaisar.


''Jika saat itu aku tahu, kaulah ibu dari anakku. Mungkin, aku tak perlu menunggu selama ini untuk bersamamu.'' Lanjut pria itu kembali.


Mendengar ucapan sang suami, Ziaruo terkekeh kecil, ada sedikit kelucuan dari ucapan itu menurutnya.


''Aku jujur Yun...Seandainya dulu aku lebih berani dan tegas. Mungkin anak kita, sudah besar sekarang.'' Sahut pria itu lagi, setelah mendengar Permaisuri terkekeh.


Jing berpikir, sang permaisuri tidak mempercayai ucapannya.


''Padahal, saat itu hatiku sudah jelas menginginkanmu Yun.'' Tambahnya lagi.


Pria dengan karoganan tinggi itu, mengatakan apapun yang tengah ia pikirkan sekarang.


Sejak ia tahu, bahwa Ziaruo mengetahui segala tentang dirinya.


Kaisar yang terkenal arogan itu, kini selalu tebuka, serta tidak menutupi apapun dari sang istri.


''Apakah anda menyesal?.'' Tanya Ziaruo pelan.


Wanita itu, menatap wajah sang suami, menyeka lembut bulir bening diujung mata Jing.


''Tidak akan pernah!.'' Jawab Jing Yakin.''


''Lalu..apa kau menyesalinya Yun?.'' Tanya balik Jing.


Entah mengapa, ketika mengucapka pertanyaan itu, Jing mendudukan dirinya. Namun, dengan posisi tetap berada diatas ranjang, disamping Ziaruo.


Ia juga tidak menunggu jawaban dari wanita tersebut. Dan kembali berkata. ''Meskipun kau menyesalinya, aku tidak keberatan. Asalkan, kau selalu disampingku dan menjaganya bersamaku, itu sudah cukup.''


Mendengar ucapan sang suami, hati Ziaruo merasakan sebuah kesenduan dari sana.


Dengan lembut ia meletakan jari di bibir sang suami.


''Mengapa anda mengatakan hal yang menyedihkan Yang Mulia?.'' Tanya Ziaruo, sembari berusaha ikut mendudukan tubuhnya.


Melihat hal itu, Jing bergegas membantu sang istri untuk bangun, sembari berkata. ''Aku tidak mengatakan sebuah kesedihan.


Aku hanya ingin kau tahu, bahwa semuanya bisa kau lalukan, dan biarkan aku saja yang mencintai, serta menjagamu Yun.''

__ADS_1


__ADS_2