
Kembali ke Nancang.
Sayup sayup terdengar langkah kaki mendekati sebuah ranjang, dimana sepasang tubuh tengah terlelap disana, menikmati keteduhan dekapan malam.
Selimut yang terbilang cukup aneh penghangat bagi tubuh keduanya, bukanlah fokus bagi sebuah bayangan, yang kini tengah menatap kearah mereka lekat.
Keduanya seolah tak merasakan tubuh asing lain disana. Mereka tetap saling menghangatkan dengan pelukan kebahagiaan yang terasa amat kental.
Bayangan itu menampilkan sebuah tatapan sendu sekilas, ragu sejenak, dan segera berubah menjadi tegas secepat kilat.
''Sebelum aku merubah keputusanku, aku harus segera melakukannya.'' Gumam lirih sang bayangan.
Sosok misterus tersebut, dengan cepat menentukan titik pusat siluet cahaya putihnya, pada kening sang wanita.
Dan tanpa mengucapkan apapun, ia beranjak dari sana setelah melakukan sesuatu atas tubuh orang lain.
''Jika angin malam ini berhembus menyapa, maka ia akan membawa segalanya pada tujuan akhir kita.'' Ucap lirih sang pria bayangan, disela hembusan angin sepoi yang menyapu tubuhnya, ia menghilang diantara ruang dimensi cermin air bulan.
Sementara itu...
Disebuah kejauhan yang tampak remang, sesosok tubuh berjalan dengan gontai, serta wajahnya yang tampan seolah kini menjadi suram.
Tak ada rona kehidupan pada kharismanya.
Bibirnya bergetar lembut seirama suara isakan lirih, dengan rasa kepedihan yang tengah memenuhi hatinya.
''Jika segalanya harus seperti ini, mengapa harus kau pertemukan?.'' Ucapnya lirih.
Sosok itu terus berjalan tanpa menyadari, ada sesosok lain mengikuti dirinya dengan penuh kebingungan.
Pria bayangan itu, membawa tubuhnya masuk semakin dalam kehutan, ia juga tetap tak dapat menyadari kehadiran bayangan wanita di belakangnya.
Hingga, tepat di sebuah tepi rawa, dengan hamparan terai yang hampir menutupi seluruh permukaan airnya. Sosok pria tersebut berhenti, dan bersimpuh disana.
Dengan wajah suram bak kegelapan di malam itu, ia kembali bergumam. ''Mengapa kami harus di pertemukan?.''
Isak tangisnya kembali terdengar, seolah nyanyian kepedihan dengan penuh penghayatan.
Bahkan sesosok tubuh yang berdiri tak jauh satunya, ikut melelahkan air matanya.
''Aku hanya ingin bersamanya, tapi mengapa segalanya begitu menyakitkan, mengapa segalanya harus seperti ini?.'' Ucap sang pria kembali.
Mendengar gumaman tersebut, bayangan wanita di sana merasakan sesak di dada, ada kepiluan yang kini tengah menghujam jantung serta hatinya.
__ADS_1
Sehingga membuat wanita tersebut, semakin melelehkan air mata, seolah ia mengenal baik sang pria di tepi rawa.
Akan tetapi, sebesar apapun kepedihan yang ia rasakan, entah mengapa sosok wanita itu enggan mendekat, dan hanya menatap tanpa melakukan apapun.
''Jika segalanya akan seperti ini, maka aku tak menginginkan rasaku lagi, aku tak akan menjaga jantung dan hati ini lagi.'' Lanjut sang pria dengan peluh kristal bening dari kedua matanya.
Dan wanita disana masih tetap diam tak bergeming.
Hanya lelehan air mata saja, yang menjadi bukti kehadirannya.
Sementara pria di tepi rawa itu, mulai menggerakan tangan, ia meremas dada bidangnnya, mencengkeram, serta menusukan jari jarinya masuk dengan cepat, sembari berucap. '' Aku tak lagi membutuhkan jantung ini, yang berdetak atas rasa pemberianmu, aku tak ingin mengingatnya ahhhkkk...''
Sebuah teriakan keras, dengan tempo singkat, terdengar nyaring di tepi telaga.
Sebuah telaga yang dianggap sebagai tempat sakral, serta di kenal menjadi tempat awal perjalanan kedunia lain.
Wajah sang pria tampak berubah, menjadi lebih datar dan dingin.
Sebuah lubang terbentuk pada dada bidangnya, tepat ketika tangan itu di tarik berlawanan arah dari sebelumnya.
Cairan merah menyembur deras dari dalam lubang, dan diatas tangan itu, sebuah gumpalan seperti daging di cengkramnya kuat, seolah ia tengah menggenggam sebuah benda yang teramat ia benci.
''Degup..degup...degup..degup.''
Sementara itu menyaksikan hal tersebut, tubuh wanita dibelakangnya luruh, bersimpuh di tanah tak jauh dari tubuh pria ditepi rawa.
Ada kesedihan tengah menekan kuat dadanya, bahkan didalam kebingungan yang tak ia mengerti, air matanya terus mengalir.
''Mengapa aku sesedih ini?, siapa dia bagiku?.'' Gumam wanita itu dalam diamnya.
Entah mengapa, Ia tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Di tengah banyaknya pertanyaan di benaknya saat ini, hanya kesedihan serta penderitaan yang mendominasi.
Akan tetapi, belum sempat wanita itu memahami segalanya, lagi lagi ia di buat terkejut, manakala sebuah suara kembali terdengar.
''Byuur...''
Sosok pria itu, dengan tanpa berpikir dua kali, melemparkan benda berdegup di tangannya, kedalam rawa kolam kehidupan.
Ia berdiri koko di tempat yang sama, sembari berucap dengan nada pelan, namun terkesan datar. ''Pergilah....''
Pria tersebut memandang kembali kearah rawa dengan datar, tak ada yang tersirat dari wajah itu ketika melakukannya.
Hingga sebuah ucap lirih kembali terdengar. ''Perjuangkan dirinya jika kau mampu, dan aku akan menunggunya di sini hingga nanti ia kembali, untuk menghukumku atas kematian seluruh klannya.''
__ADS_1
Sementara itu, sesosok wanita yang kini tengah bersimpuh dibelakangnya, nampak lebih memprihatinkan, semakin ia menatap punggung pria di depannya, semakin sakit dadanya dan...
''Aahhhkkk...''
Teriak seorang wanita disebuah ruangan, dengan diselingi nafas tengah terengah, bahkan keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.
Semakin lama tubuh itu semakin mengeliat.
Sementara, pria di sampingnya mulai terusik dan membuka mata. Pria tersebut menyadari ada yang aneh, pada tidur Permaisurinya.
Dengan wajah penuh kecemasan, ia berusaha membangunkan sang istri. ''Yun..yuun...bangun sayang, bagun...'' Dengan suara yang agak keras.
Mendengar panggilan seseorang, wanita itu perlahan membuka mata dan reflek berucap. ''Mengapa ia begitu menyedihkan?.''
''Apa yang kau bicarakan Permaisuri, siapa yang menyedihkan?, dan apa yang telah membuatmu seperti ini?.'' Sahut cepat pria tersebut yang tak lain, adalah kaisar Jing dengan lembut sembari mengangkat tubuh wanita yang tak lain, adalah Ziaruo kedalam dekapan tubuh gagahnya.
Kaisar Jing memeluk erat tubuh sang istri akan tetapi, ia tetap tak dapat menyembunyikan perasaan takut, serta pancaran mata kecemasan miliknya.
''Kau tahu, kau telah membuat ku takut Yun, jangan seperti ini lagi di masa depan.'' Lanjut Jing, dengan masih memeluk tubuh Ziaruo.
''Aku tidak mengenalnya, sumiaku...bahkan aku hanya melihat punggungnya.'' Jawab lirih Ziaruo, sembari mempercayakan tubuhnya didalam dekapan sang Kaisar.
Ziaruo berkata apa adanya, ia memang tak berhadapan langsung dengan pria tersebut.
Namun, dengan jelas ia mempu menebak siapa pria itu.
Seorang pemuda dengan wajah mirip sang suami, namun memiliki aura, serta wibawa yang berbeda jauh.
''Siapa dia?, bahkan aku dapat mengerti segala kegundahannya, seolah segalanya terpaut dengan diriku.'' Pikir Ziaruo.
Dan seperti biasanya, Jing akan selalu mendengarkan apapun itu, yang terucap dari bibir Ziaruo. Karena bagi sang Kaisar, apapun tentang Permaisuri adalah penting serta benar.
''Tapi.... Entah mengapa seolah aku mengerti, serta memahami apa yang ia alami.'' Lanjut wanita itu kembali, masih dengan suara yang pelan.
Ia menundukan kepala namun, masih bersandar pada dada sang suami.
Mendengar perkataannya, Kaisar Jing semakin tak dapat menutupi kecemasannya.
Namun, kali ini bukan kecemasan yang sama, dengan beberapa saat yang lalu, lebih tepatnya ia kini tengah cemburu.
Dan tentu saja, ia tak ingin Ziaruo mengetahui perasaan tidak rasionalnya tersebut, dengan suara yang ia tekan setenang mungkin, ia krmbali bertanya. ''Apakah kau mengenalnya?.''
Kaisar Jing sesungguhnya merasa ragu, menanyakan hal itu. Namun, entah mengapa bibirnya seolah tidak merespon perintah sang pikiran.
__ADS_1
''Bahkan sekarang aku juga cemburu, dengan pria dalam mimpimu Yun, jika bisa...hanya aku saja yang ada didalam mimpimu.'' Gumam dalam hati Jing.