
Disebuah pavilliun istana kekaisaran Zing.
" Benarkah ada kejadian seperti itu Wuhan?.'' tanya kaisar Jiang jingwei dengan senyum sinisnya.
''Benar yang mulia, bahkan sekarang nyonyaYun, sudah memasuki halaman akademi yang mulia.'' lanjut Wuhan dengan laporannya.
''Putra tuan Wushu, sungguh memiliki mata yang tajam.( berhenti sejenak, kaisar jing tersebut berdiri dari duduknya)
''Ikut aku berjalan jalan sebentar.'' lanjut kaisar Jing kembali, sembari melangkah keluar dari pavilliunnya.
Sementara itu di aula akademi kekaisaran.
"Tidak ibunda, kau adalah orang tua terbaik untuk kami."ucap pemilik sepasang tangan dari balik tubuhnya.
Mendengar ucapan tersebut, nyoya Yun menghentikan langkahnya.
Dan disaat itulah ada 2pasang tangan lain ikut memuluk kaki dan tubuhnya dari belakang dan samping.
"Maafkan kami ibunda, kami akan mengatakan semuanya." ucap pria muda lainnya, melanjutkan ucapan pemuda beberapa saat yang lalu.
''Kami bersalah, karena sebuah gurauan saja, kami telah memukuli Wuling, jadi kami akan menerima hukuman dari guru, jadi jangan bersedih lagi.'' ucap Yusang dengan mata yang mulai berkaca kaca.
''Tidak ibunda, Adhik tidak bersalah, ia tidak ikut memukuli Wuling, hanya kami berdua yang melakukannya.'' ucap Ruzuo menimpali ucapan Yunsang, adhik terkecil mereka.
''Mereka berdua berbohong ibunda, hanya aku yang memukuli tuan muda Wuling, ini tidak ada kaitannya dengan mereka berdua.'' ucap Yanzuo dengan tatapan mata penuh kejujuran.
Ia memang benar, hanyaYanzuo sajalah, yang telah memukuli putra kedua, dari wakil jendral Wushu tersebut.
Melihat pemandangan tersebut, ketiga pria lain diruangan itu, tampak terpaku.
Mereka berkutat dengan pikiran mereka masing masing. Hingga, ruangan aula pertemuan akademi tersebut, sejenak menjadi hening, hanya terdengar helaan nafas panjang dari nyonyaYun.
''Mengapa kau begitu cepat terbawa amarah Yanzuo?.'' ucap nyonya Yun lirih, setelah menghela nafas.
''Apakah candaanya, memang pantas kau balas dengan pemukulan, dan menyebabkannya babak belur seperti itu?'' lanjut nyonya Yun, sembari menatap kearah Yanzuo, dan beralih menatap tuan muda keluarga Wu yang tak jauh dari mereka.
Mendengar pertanyaan sang ibu, Yanzuo kembali diam, ia menunduk dan tak mengatakan apapapun, begitupun dengan kedua saudaranya, juga melakukan hal yang sama.
''Maafkan aku ibu, aku bersalah.'' jawab Yanzuo lirih, dengan posisi masih menundukan kepalanya.
''Tidak nyonya Yun, mereka tidak bersalah, akulah satu satunya orang yang bersalah disini.'' ucap seorang pemuda yang tak lain, adalah Wuling, pria yang menjadi korban pemukulan.
Mendengar hal tersebut, Wushu dan guru besar Meng terkejut.
Namun, bagi nyonya Yun, itu adalah sebuah hal yang sedari tadi ia tunggu, ia tahu bahwa untuk membebaskan putra putranya dari hukuman, dan untuk menyelesaikan masalah kali ini, ada ditangan putra tuan Wu yang menempati posisi sebagai korban, ada senyum tipis di bibir kecil yang tertutup cadar pada wajah wanita itu.
__ADS_1
'' Tuan muda yang babak belur karena dipukuli, dan sekarang juga menjadi yang bersalah, bisakah kau jelaskan tuan muda Wu.'' ucap guru besar Meng, dengan penuh pertanyaan dalam hatinya.
''Jangan membuat semua orang kebingungan Wuling, bisakah kau jelaskan kepada kami.'' sahut wakil jendral Wushu dengan pikiran yang penuh rasa penasaran.
''Aku telah memaksa mereka'' (ucapannya berhenti sesaat)
''Memaksa mereka untuk memanggilku ayah.'' lanjut pemuda tersebut dengan nada jauh lebih pelan, dari ucapannya diawal sebelumnya.
Namun, semua orang yang disana, mendengar dengan jelas ucapannya tersebut.
Mendengar apa yang keluar dari bibir pemuda itu, kening kedua pria dewasa itu ( Wushu dan Mengshuo)mengernyit.
''Apa maksud dari ucapanmu itu Wuling?.'' tanya tuan Wushu dengan nada agak keras.
''Ayah, aku ....aku menyukai nyonya Yun, dan aku juga bersedia menjadi ayah mereka.'' ucap reflek Wuling dengan nada agak gugup.
''Ayah, aku tahu kau terkejut, tapi nyonya Yun itu masih muda, ia hanya beberapa tahun saja lebih tua dariku, dan aku ingin menikahinya.'' lanjut pemuda tersebut dengan suara yang tegas.
Seketika saja mata tuan Wu dan guru Mengshuo membulat, mereka tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari pemuda tersebut.
Dan bagi tuan Wushu, sekarang ia mengerti, mengapa putranya tersebut bisa babak belur, dan tak ada luka sama sekali di tubuh sang lawan( putra nyonya Yun, Yanzuo), ternyata sang putra memang sengaja tidak membalas, serangan dari Yanzuo.
Karena ia tahu dengan jelas, meskipun putranya tersebut, masih terbilang sangat muda, namun sejak kecil ia sudah di latih, beladiri dan ketrampilan berperang.
''Hahaha...hahaha..ternyata tuan muda Wushu sudah masuki usia pernikahan, sungguh aku sebagai kaisar kurang memperhatikan kesejahteraan kalian.'' terdengar suara lantang dari luar ruangan.
''Hormat kami yang mulia, semoga anda panjang umur dan selalu sejahtera.'' ucap semua orang di dalam ruangan aula tersebut, secara bersamaan, setelah mereka bangun dari duduk dan menunduk, merendahkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada sang penguasa junjungan mereka.
''Bangunlah.'' ucapnya lagi, sembari melangkah dan mendudukan tubuhnya, pada sebuah kursi diruangan tersebut.
''Apakah putramu sudah memiliki pasangan pernikahan wakil jendral Wu?.'' tanya kaisar dengan nada tenangnya yang khas.
Namun, didalam hatinya ia sedang menahan kesal, dan ingin sekali ia melempar pria muda itu, dengan kedua tangannya sendiri.
Bagaimana mungkin, ia sekarang memiliki saingan seorang pemuda yang masih ing*san, di tengah kesabarannya, yang telah beberapa tahun belakangan ini menunggu, kerelaan Ziaruo untuk menerimanya sebagai pasangan.
''Maafkan kelancangan putra hamba yang mulia, karena telah membuat anda menyaksikan kekonyolan ini.'' jawab Wushu dengan perasaan takutnya.
Ia tahu dengan jelas, seberapa kejam tuan didepannya tersebut, ketika hatinya sedang dalam kondisi buruk.
''Yunsang kemari, mendekatlah, aku ingin melihatmu.'' ucap kaisar Jing kepada pemuda yang paling kecil disana.
Mendengar hal itu, reflek Yunsang berdiri dan mendekat kearah kaisar Jing.
''Apakah kau ikut berkelahi dengan mereka?.'' tanya kaisar Jing, sembari membolak balik tubuh bocah 8 tahun tersebut.
__ADS_1
''Tidak yang mulia, hamba baik baik saja, hanya kakak Yanzuo saja yang berkelahi.'' jawab Yunsang dengan jujur.
''Mengapa yang mulia kaisar begitu dekat dengan bocah itu?.'' tanya Mengshuo dalam hatinya.
''Siapa mereka sebenarnya, mengapa kaisar begitu perhatian kepada mereka?.'' gulat pikiran Wushu, dalam diamnya.
''Apakah kau merindukanku Yunsang?.'' tanya kaisar lagi, sambil melirik sekilas kearah nyonya Yun, seolah ia ingin menunjukan, kedekatannya dengan pemuda kecil tersebut, ia juga berharap semua orang yang di sana berfikiran, bahwa dirinya memiliki hubungan dengan keluarga itu, lebih tepatnya dengan nyonya Yun.
Bahkan, ia benar benar berharap, dirinyalah yang di rumorkan sebagai suami dari wanita cantik disampingnya itu, bukan pria tanpa nama yang disebut, sebagai pembesar kekaisaran Jing yang lainnya.
Namun, ia sadar sepenuhnya, bahwa tidak akan ada seorangpun yang akan berani, untuk menggunjingkan serta merumorkan namanya.
''Kau boleh memanggilku seperti bisanya, kita tidak sedang berada di aula pertemuan pemerintahan.'' ucap kaisar itu lagi, masih dengan nada tenangnya.
Mendengar ucapan kaisar Jing, Yunsang melirik kearah sang ibu, namun ia tak memeperoleh tanggapan apapun, wanita yang ia panggil ibu tersebut, hanya diam menatap kearah yang lain, seolah ia tidak tahu bahwa putranya itu, sedang meminta persetujuannya.
''Mengapa kau melihat kearah ibumu?, apakah dia melarangmu memanggilku ayah sekarang?.'' tanya kaisar itu lagi.
Kali ini pria tersebut menambahkan volume suaranya.
Agar, wanita yang berada tak jauh darinya tersebut, memberikan reaksinya.
Namun, ia tahu betul seberapapun tekanan yang ia berikan, tak akan ada yang mampu memaksa wanita tersebut.
Justru, mungkin dirinya yang akan kesulitan, untuk bertemu dengan wanita itu lagi dimasa mendatang.
''Tidak Ayahanda kaisar, ibunda tidak pernah melarang Yunsang.'' jawab pemuda kecil tersebut dengan perasaan canggung.
Ia ingat ucapan sang ibu, bahwa selain di kediaman mereka, ia tidak diizinkan untuk memanggil kaisar tersebut sebagai ayahnya.
Akan tetapi, hari ini adalah pengecualian, Yunsang harus melakukannya, karena ia takut pria yang dipanggilnya ayahanda tersebut, akan marah dan menghukum sang ibu.
Mendengar bocah kecil itu, memanggil kaisar sebagai ayahnya, ruangan kembali hening.
''Apakah pendengaranku salah?.'' pekik Mengshuo dalam hatinya.
''Apakah, pembesar kekaisaran yang dirumorkan sebagai pria masa lalu nyonya Yun, adalah yang mulia kaisar?.''gumam wakil jendral Wushu dalam hati.
Sementara itu, Wuling semakin mengeratkan cengkraman tangan diatas pahanya.
''Aku tidak peduli siapapun mantan suami anda, asalkan nyonya Yun memilihku, aku siap meninggalkan semuanya.'' ucap tegas Wuling dalam hatinya.
Dan tentu saja, lagi lagi hanya helaan nafas panjang saja, yang dapat Ziaruo lakukan, ditengah banyaknya pikiran orang orang di dalam ruangan tersebut.
''Seandainya, kalian fokus untuk melihat isi hati dan bukan paras semata, maka kalian akan menemukan, kami tidaklah jauh berbeda satu sama lainnya, hanya akan ada satu hati untuk pasangan kami.'' pikir Ziaruo disela helaan nafasnya.
__ADS_1