Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 81 Kecurangan Permaisuri Yun.


__ADS_3

Malam bergulir tanpa mengindahkan gulaian lemah di atas kenyamanan, berjalan merambat menapaki waktu, keranah singgahsana siang tuk menerangi seluruh bumi, dengan peluh peluh perjuangan.


Meinggalkan sosok tak berdaya tanpa keibaan yang nyata. Itulah sang mentari yang bergerak menempati alur dengan rapi serta teratur.


Berbanding dengan makhluk fana (manusia) dalam hitungan detik berubah, dalam detik berikutnya menyesali.


Hati yang memperoleh ketulusan, serta perhatian dari seseorang, secara terus menerus, ibarat batu keras yang akan tergoyahkan, dan perlahan melebur oleh tetesan air.


Ziaruo merenung dalam diamnya, hatinya bimbang, memikirkan serta mengingat segala perhatian Kaisar Jing yang begitu sabar dan tulus untuknya.


Hari ini tepat 2 bulan, semenjak ia menikah dengan Kaisar Jiang yang tersohor.


Akibat kejadian dimalam pernikahan waktu itu, hubungan keduanya masih berada ditahapan yang sama, layaknya sepasang kekasih yang baru saling mengikrarkan cinta mereka. Stagnan di tempat belum mengalami kemajuan sama sekali.


Dengan alasan kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, Nyonya Yun hingga sekarang belum menyempurnakan pernikahan mereka.


Bahkan ketika Kaisar Jing suaminya, datang berkunjung, ia akan memasang wajah pucat, serta kurang bersemangat, layak nya seseorang yang tengah sakit parah.


Curang... mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk Ziaruo saat ini.


Entah mengapa ia selalu ragu, dan gugup ketika Pria tersebut datang kepavilliunnya.


Haruskah ia melayaninya layaknya sepasang suami istri?.


Namun, ia merasa belum bisa melakukannya sekarang.


Apakah ia masih memikirkan Murongxu?.


Benar, dia masih memikirkan pria itu, akan tetapi ia sudah menikah dengan Kaisar Jing, dan wajar bagi Jing untuk meminta haknya kepada Ziaruo.


Wanita itu kebingungan dengan keadaannya sendiri.


Apakah ia harus melayani Jing suaminya sekarang?, lalu bagaimana caranya menghadapi Murongxu kelak, ketika ia kembali kedunia Awan?, apakah ia masih bisa menerima Murongxu yang pernah bersama wanita lain?, lalu apakah Pria itu, juga akan menerima dirinya yang telah menikah dengan orang lain juga? banyak hal yang bergulat didalam fikirannya.


Bahkan sempat terfikir juga, bahwa seharusnya ia tetap pingsan dan tak terbangun lagi, ketika terkena racun disaat malam pernikahannya saat itu. Agar ia tak kebingungan dengan permasalahan sekarang.


Ziaruo juga berharap tak diberikan ingatan tentang masa lalunya di kehidupan terdahulu, serta terlahir seperti yang lain, agar semuanya jauh lebih mudah untuk melewati ujiannya kali ini.


*flash back on*


Tubuh Ziaruo semakin lemah, bahkan untuk menggerakan tangannyapun ia tidak mampu, matanya sesekali terpejam, dan beberapa saat kemudian terbuka kembali, seolah ia tengah merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.


''Yang..Mu..lia....'' panggil Ziaruo lirih dengan nafas yang tersengal sengal.


Mendengar panggilan tersebut, Kaisar Jing reflek mendekatkan telinganya kearah bibir Ziaruo.

__ADS_1


Dengan nafas yang tidak teratur, Ziaruo berkata pelan, bahkan seolah hanya sebuah bisikan saja.'' Yang..Mulia...tolong letakan..ta..ngan kanan sa..ya, di..atas..rajah, pa..da..tangan..kiri..dan..dan..apa..pun yang..mun..cul disana..bantu..saya..me..minumnya.''


Semua menatap kearah keduanya, dengan pikiran cemas mereka masing masing.


Seolah saat ini, Ratu kekaisaran tengah mengatakan sesuatu, sebagai ucapan perpisahan kepada raja mereka.


Setelah beberapa saat, Kaisar Jiang Jingwei, menegakan tubuhnya dan berkata dengan suara pelan. ''Semua tinggalkan ruangan, jangan ada yang tinggal disini.''


''Yang Mu ..'' Ucap Wuhan, yang hendak membantah Pria tersebut.


Akan tetapi, perkataannya terpotong, karena sahutan Kaisar, dengan wajah sendunya ia berkata lagi ''Wuhan ... Aku ingin bersamanya.....berdua saja, bisakah?.''


Mendengar hal tersebut, semua orang yang disana merasakan kepedihan, seolah hati mereka terhubung dengan kepedihan hati Kaisar Jing.


Tanpa perintah kedua kalinya, semuanya perlahan berjalan keluar dari ruangan, serta menutup rapat rapat pintunya.


Mereka memang pergi dari dalam ruangan, namun tidak menjauh dari sana, justru berdiri didepan pintu, serta memperketat penjagaan.


Sementara itu didalam ruangan Kasat Jing, kembali mendekati Ziaruo.


Dengan penuh kelembutan ia menyingkap lengan baju kiri sang Permaisuri, disana tampak sebuah lukisan burung phonix cantik dengan warna keemasan.


Hatinya bergemuruh, matanya menatap penuh takjub, benar ia telah mendengar dan mengetahui bahwa Wanita yang telah ia nikahi tersebut adalah pemilik takdir phonix.


''Bahkan sebelumnya aku tak pernah meragukan tentang dirimu, entah budi apa yang telah ku lakukan di kehidupan terdahuluku, hingga dewa menghasilkan anda pada kehidupan Pria ini?.'' Gumamnya dalam hati.


Jang jiwang wes tersenyum, menatap ke arah mata coklat jernih di depannya, tangannya kembali bergerak meraih tangan kanan Ziaruo , dan meletakannya tepat diatas tanda Phonix, pada pergelangan tangan kiri wanita itu.


''Sret....sreet....'' Secara ajaib 3 butir benda kecil berwarna coklat pekat, terjatuh diatas ranjang tepat dibawah lengan kiri yang disentuh tangan kanan Ziaruo.


Kaisar Jing, terkejut dan membulatkan matanya, namun ia buru buru memenangkan kembali hatinya.


Diambilnya butiran butiran kecil itu, dan masukan secara lembut ke mulut Nyonya Yun.


Akan tetapi dengan kondisi Permaisuri yang sekarang, jangankan untuk menelan butiran butiran tersebut, bahkan untuk memimpin air ia kesulitan.


Jing kembali kebingungan dan cemas, ia berjalan mengambil air dari atas meja, dan meminumkannya, namun kecemasan kembali mengisi pikiran juga hatinya.


Air yang sudah masuk kedalam mulut Ziaruo kembali mengalir keluar, butiran obatan masih tetap disana, didalam mulut sang Permasuri.


Bahkan, kini Wanita yang sangat ia cintai tersebut, mulai memejamkan matanya, nafasnya semakin pelan.


''Bertahanlah dan telan obat itu Yun.'' Pintanya lirih dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Akan tetapi, seakan tak lagi ada respon dari tubuh itu, Ziaruo hanya membisu dengan mata yang tertutup.

__ADS_1


KaisarJing tak lagi dapat membendung air matanya, sesenggukan mulai terdengar dari bibir itu, serta gerakan pundak yang bergetar ikut mengikuti irama tangisnya.


Setiap orang diluar ruangan yang mendengar hal itu, semuanya duduk bersujud dan berseru bersamaan.'' Yang Mulia Permaisuri.'' dengan airmata yang mengalir, menunjukan kesedihan atas kehilangan mereka.


Sementara itu, didalam ruangan kamar pengantin, Kaisar Jing dengan kesedihan yang tak dapat ia tahan lagi, dengan paksa membuka mulut Ziaruo, mengambil butiran obat dan mengunyahnya, dengan bantuan air yang ia masukan kemulutnya, Pria itu memaksa masuk campuran obat dan air ke mulut Ziaruo.


Air mata Jing, jatuh diatas pipi wanita cantik yang mulai memucat wajahnya.


Banyak rasa sakit dalam kehidupan Kaisar Jing, akan tetapi kesedihan hatinya saat ini, seolah tak dapat ia gambaran.


Pria penguasa itu, merasa seluruh dunia dan kehidupannya lebur tak bersisa.


Bahkan, hingga semua campuran air didalam mulutnya telah habis, ia masih menyatukan b*bir Ziaruo dengan b*birnya, isak tangis atas kepedihannya saat ini, tak terkontrol lagi.


Setelah beberapa saat, ia mulai menggerakan tubuhnya, dan ikut berbaring disamping tubuh Ziaruo yang diam terbujur, seolah tidur lelap.


''Apa kau akan bangun dan menghukumku, jika sekarang aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?, Yun bangunlah....bangunlah Yun..aku mohon bangunan.'' Pinta Kaisar itu dengan penuh kelembutan di sela tangisannya.


Tangannya merengkuh penuh kasih sayang, atas tubuh yang terdiam diatas ranjang.


Memeluknya erat erat, dan enggan melepaskan, banyak hal yang ia gumamkan, seolah ia tengah memeluk sang istri, di tengah istirahat mereka, serta saling bercerita tentang harapannya ke depan.


Namun, sang Permaisuri tercinta tetap diam, dan tak memberikan jawaban ataupun membalas setiap ucapannya.


Hatinya hancur, ia semakin merasakan kepedihan yang mendalam.


Dengan isak tangis, ia meletakkan kepalanya didada Nyonya Yun, sambil berkata lirih.'' Yun...bolehkah aku pergi bersamamu sekarang?, jika kau tak bisa kembali, bisakah aku yang datang kepadamu?.''


Namun, tanpa disadari sang Kaisar, pemilik tubuh itu membuka matanya perlahan, dan tersenyum, wanita itu ingin mengusap kepala pria tersebut, dan menenangkan hatinya, akan tetapi tangannya masih sulit digerakan.


''Jika... saya masih...'' Ucap Ziaruo lirih dan belum terselesaikan, langsung terhenti saat memperoleh sambutan teriakan yang keras dari Kaisar Jiang. ''Yuuuuun...'' Pria itu reflek mendudukan tubuhnya dengan cepat.


Jing tidak percaya sekaligus bahagia melihat wanita itu kembali siuman, dan membuka matanya, ia meraih tangan Ziaruo lalu menggenggamnya erat.


''Apakah kau benar benar sudah sadar Yun?, apa ini bukan hayalanku saja?, benarkah kau tidak meninggalkanku?.'' Tanyanya dengan sorot mata tak percaya.


Mendengar hal itu, Nyonya Yun, tersenyum dan menjawab. ''Ja..waban.. apa yang anda ingin..kan Yanng..Mulia?, apa..kah...''


''Tidak, aku tidak ingin jawaban apapun, cukup kau disini dan tidak meninggalkanku, jawaban apapun tidak penting, beristirahatlah agar kau kembali pulih.'' Sahut Kaisar Jiang, memotong ucapan Ziaruo, serta kembali membaringkan tubuhnya di samping sang Permaisuri.


Pria itu, ikut tersenyum saat melihat Nyonya Yun tersenyum, air matanya kembali mengalir, namun kali ini kekalutan, serta kesedihan di wajahnya telah menghilang, dengan suara pelan ia kembali bertanya'' Apakah perlu memanggil Tabib bod*h itu kemari, dan memeriksamu?, atau ada yang kau inginkan?, katakan apapun kepadaku Yun....'' Sambil sesekali melihat wajah cantik Ziaruo.


''Tidak perlu, saya hanya butuh istirahat sejenak saja, dan bisakah anda disini menemani?.'' Jawab Nyonya Yun dengan lirih, serta perasaan malu malu.


Namun, bagi Kaisar Jiang, ucapan Ziaruo tersebut ibarat sebuah syair indah di pendengarannya, dengan tanpa basa basi ia memiringkan tubuhnya serta memeluk tubuh Ziaruo secepat kilat dan berucap.'' Dengan senang hati Yang Mulia permaisuri terkasihku.'' Serta senyum berkali kali terpasang pada wajah tegasnya yang rupawan.

__ADS_1


__ADS_2