
Masih di dalam salah satu ruangan balai pengobatan.
''Dasar Selir b*doh, ia bisa merusak rencanaku.'' pekiknya dalam hati, ia kesal kepada sang selir yang tiba tiba saja datang tanpa pemberitahuan.
''Bagus, semuanya akan segera dimulai, ternyata dewa masih mengingatku, dan memberikan kesempatan ini.'' gumam ziaruo lirih, dengan wajah yang dia buat seolah kebingungan, akan tempat dirinya berada saat ini, serta mengapa pria itu diatas ranjang bersama dengannya.
''Yang Mulia, hamba menganggap anda telah memberikan izin, kepada wanita ini untuk masuk.'' ucap lagi wanita diluar ruangan, sebelum ia masuk kedalam kamar tersebut.
''Krieet...''suara pintu terbuka.
Seorang wanita cantik, anggun dengan balutan pakaian serta perhiasan mewah, masuk kedalam ruangan.
Wanita itu mematung menatap lekat kearah ranjang didepannya.
Dua tubuh dalam satu balutan selimut tebal berada disana, tubuh wanita itu tiba tiba saja bergetar, sebagai exspresi menahan suatu luapan emosi dihatinya.
''Selir ini memberi hormat kepada Yang mulia.'' ucap selir Feng, dengan sedikit membungkukan tubuh, serta punggung tegap, tampak anggun dan elegan.
Tatapan matanya memandang kebawah, menghadap kearah lantai, ia enggan menatap pria didepannya, yang kini telah duduk dan sibuk membetulkan selimut untuk sang wanita.
''Apa kau sudah bangun?.''Tanyanya lirih serta lembut kepada Nyonya Yun, kaisar Jing seolah tidak memperdulikan sang selir yang berada disana.
''Yang mulia, bahkan sekarang anda mengabaikanku, si*lan dasar kau wanita rend*han, lihat saja aku akan menghancurkanmu.'' Pikir selir Feng dalam hatinya.
Namun tanpa ia sadari Nyonya Yun tersenyum dan bergumam dalam hati. ''Oh...ternyata, anda ingin memberi pelajaran kepada wanita ini selir Feng?.''
''Mengapa anda berada disini, dan apa yang telah terjadi?.'' Tanya Ziaruo kepada Kaisar Jing, dengan nada agak tinggi, seolah ia terkejut dan merasa telah teraniaya oleh kaisar tersebut.
''Permainan dan hukuman, akan segera dimulai yang mulia.'' Pikir dalam hati Ziaruo.
''Ampuni wanita ini yang mulia selir, hamba benar benar tidak mengetahui apapun yang terjadi, wanita ini tidak bersalah.'' Ucap Ziaruo tiba tiba, sembari bergerak turun dari atas ranjang.
Ia menunduk dan bersujud kepada selir Feng, tampak tubuh putih ramping miliknya begitu indah, dengan balutan kain tipis dan rambut yang terurai panjang menyentuh lantai ruangan.
Melihat hal tersebut, kaisar Jing hendak mengucapkan sesuatu dan ingin mengangkat tubuh Ziaruo, namun entah mengapa ia tidak bisa berbicara, dan tubuhnya tidak dapat ia gerakan.
''Pantas saja yang mulia bersedia menginap diruangan seperti ini demi untuk bersamamu.'' Gumam dalam hati selir Feng, dengan menahan amarah, serta kecemburuannya.
__ADS_1
''Apa maksudmu?, apakah anda bermaksud mengatakan bahwa, Kaisarlah yang bersalah dan menjebak anda?.'' Tanya selir itu dengan wajah yang menunjukan keanggunannya.
Mendengar itu, kaisar Jing merasa kesal dan geram kepada sang selir, bagaimanapun apa yang diucapkan oleh Ziaruo, adalah kebenaran.
''Mengapa tubuh ini tak bisa bergerak, bahkan suaraku juga tidak bisa keluar.'' Pikir kaisar Jing dalam hatinya.
''Sepertinya Yang mulia tidak terlalu sayang kepadamu, buktinya paduka tidak membelamu, maka jangan salahkan aku jika hari ini kau harus menderita, salahkan saja nasib burukmu karena telah menyinggungku.'' pikir dalam hati selir Feng, ada rasa kepuasan *pa*da wajah cantik nya
''Apakah kau seberharga itu, sampai sampai yang mulia harus membodohi dan menipumu?, bahkan kau masih beruntung, bahwa yang mulia kaisar mau meluangkan waktunya untuk bersamamu.'' Lanjut sang selir lagi, dengan nada tajamnya.
Selir tersebut, merasa lebih bebas mengatakan apapun, ketika tak ada reaksi pembelaan untuk wanita itu dari sang kaisar.
''Sungguh malangnya nasibmu, bahkan kau hanya sebuah mainan semalam saja.'' Pikir sang selir dalam hatinya kembali.
Mendengar ucapan kasar Feng, Kaisar Jing geram dan ingin membela Ziaruo, akan tetapi ia masih tetap tak bisa bergerak serta berkata apapun.
"Apa yang dikatakan selir bodoh itu?, beraninya dia menghinamu, beraninya dia berteriak didepanmu, haaaaahhhh....tubuh ini, mengapa tidak dapat digerakan, Ziaruo mengapa kau hanya diam, ro*bek saja mulut wanita itu.'' gumam gumam kekesalan dalam hati sang kaisar, tentu saja Ziaruo memgetahui akan hal tersebut, dan Ia tersenyum sekilas.
''Yang mulia selir, hamba tidak berani menyalahkan yang Mulia, namun wanita ini benar benar tidak bersalah yang mulia selir.'' Jawab Ziaruo lagi, sembari mengulurkan tangannya menggapai kaki sang selir, memohon pengampunan.
''Jikapun anda menginjaknya, maka itu adalah sebuah hukuman bagi tangan bod*hku, karena membiarkan dan tidak menepis pelukannya semalam, penyebab dari kejadian ini sekarang, dan rasa sakitnya adalah hukumanku.''pikir Ziaruo dalam hatinya.
''Kau rasakan ini, asal kau tahu, rasa sakitmu ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit dihatiku.'' pikir selir Feng lagi dalam hatinya, sembari menekan kembali sepatu kayunya, untuk memastikan wanita itu merasakan rasa sakit.
Mendapati perlakuan tersebut ziaruo menahan rasa sakitnya, dan tidak mengeluarkan suara apapun, ia hanya menatap lekat kearah pria yang diatas ranjang sekilas.
''Lepaskan.... Lepaskan dia selir bodoh, lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu nanti.'' ucap kaisar Jing dalam hatinya, ia menatap lekat kearah sang selir, dengan tatapan yang tajam, seolah hendak menembus langsung kedalam jantung wanita tersebut.
'' Kau melihat kemana huh, yang mulia sudah membuangmu, apa kau masih belum sadar juga.'' ucap selir Feng kembali, setela melihat Nyonya Yun, sempat beberapa saat menoleh kearah kaisar.
Selir Feng begitu bersemangat dengan pembalasannya, bahkan ia tak menyadari bahwa tatapan Kaisar itu, siap menembus jatung dan mencabik cabik tububnya.
''Si*l...si*al....mengapa bahkan aku tak mampu berbuat apapun untuknya s*aaal.'' pekik sang kaisar dalam hatinya, penuh dengan kemarahan yang membuncah.
''Lepaskan, apa yang kau lakukan terhadap ibundaku?, kau wanita jahat...kau penyihir, pergi kau.'' ucap seorang bocah kecil yang yang berlari masuk, sambil memukuli selir Feng dengan keras serta mengutuki wanita itu.
Pria kecil itu, tak lain adalah Yunsang yang telah bangun dan mencari keberadaan sang ibu, dan ia mendapati ibunya tersebut sedang mengalami tindakan kasar di depannya.
__ADS_1
Yunsang merasakan kemarahan didalam hatinya, ia tidak memperdulikan apapun dan membabi buta memukuli sang selir.
''Aduh...aku lupa dengan Yunsang, baiklah...ini akan berhenti sampai disini, selir Feng maaf aku tidak bisa lagi menjagamu.'' ucap Ziaruo dalam hatinya, sebelum ia menggerakan tangannya pelan, membebaskan kaisar Jing dari belenggu kabut miliknya.
Dan benar saja, seketika itu juga kaisar Jing dapat bergerak dan berbicara lagi, hal pertama yang ia lakukan adalah bergerak kearah Ziaruo.
''Apa yang kau lakukan hah!.'' pekik kaisar Jing sembari mendorong keras tubuh sang selir, dan meraih tubuh Nyonya Yun kedalam pangkuannya.
Kaisar Jing meraih selimut yang berada disamping ranjang, ia menggunakan selimut tersebut untuk menutupi tubuh ramping wanita itu, pria tersebut begitu geram kepada sang selir, ketika ia melihat tangan wanita yang kini berada didalam kungkungan tangannya tersebut terluka.
Disana, pada punggung tangan putih itu, tampak sebuah luka lecet, serta beberapa kulit yang terkelupas dan terpisah dari tangan Nyonya Yun.
''Apa kau b*doh huh, beraninya kau melakukan kekasaran kepadanya?, dasar kau ....lihat saja kau...awas saja.'' ucap Kaisar Jing dengan penuh emosi, serta berusaha meraih apapun yang berada di dekatnya, dan melemparkan kearah sang selir dengan tatapan penuh kemarahan.
Beruntung bagi selir Feng, bahwa yang terlempar adalah sebuah bantal, benda yang ikut terjatuh saat pria itu bergerak cepat, ketika turun dari ranjang tadi.
''Yang mulia....'' ucap selir Feng dengan posisi yang masih terjerembah dilantai, akibat dorongan dari sang suami beberapa saat lalu.
''Mengapa, tadi anda diam saja, dan sekarang seolah dia adalah wanita yang sangat anda lindungi, ada apa ini sebenarnya.'' ucap kebingungan dalam pikiran selir Feng.
''Aku membenci Ayahanda, bahkan anda hanya diam saja, ketika ibunda di perlakukan buruk tadi, cepat berikan ibundaku, berikan... aku bilang berikan ibundaku...''ucap Yunsang dengan kasar, dan berusaha melepaskan tangan kaisar Jing dari tubuh sang ibu.
''Yun...aku...aku tidak sengaja melakukannya, percayalah Yun.'' ucap kaisar, berusaha menjelaskan duduk permasalahannya.
Namun, ia mengerti pasti akan sulit menjelaskan semuanya.
''Tidak, aku melihatnya sendiri, Ayahanda hanya diam, melihat saat ibunda diperlakukan buruk, berikan ibundaku, berikan kepadaku.'' ucap Yunsang kembali, dengan tangan yang masih melakukan kekasaran kepada kaisar tersebut.
Bocah kecil itu memperoleh keberanian entah dari mana?, ia begitu keras memukuli pria yang ia panggil sebagai ayahanda sekenanya.
Sementara itu, didalam hati Ziaruo merasa kebingungan, ia tidak menyangka bahwa akan terjadi diluar kendalinya, ia lupa memprediksi kehadiran Yunsang putranya.
Namun, ada perasaan lucu saat ia melihat pria no 1 itu, dipukuli bocah 9 tahun, yang dulu hampir dib*nuhnya, juga perasaan hangat saat ia melihat, betapa putra kecilnya tersebut sangat mencintai dirinya, bahkan ia sampai berani memukul pria yang paling ditakutinya sejak dulu.
''Yunsang... hentikan, ibunda baik baik saja, kau tunggulah diluar sebentar, biar ayahanda dan ibunda menyelesaikan permasalahan kami dulu.'' ucap Ziaruo pelan, dengan tatapan lembut kearah sang putra.
''Percayalah, ibunda akan baik baik saja.'' ucapnya lagi, ketika melihat sang putra tampak ragu ragu, keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
''Benar ya...ibunda akan baik baik saja.'' ucap Yunsang sebelum berjalan keluar dari ruangan.
''Bahkan anda telah memiliki putra bersamanya, bagaimana mungkin?, habislah aku sekarang...aku pasti mati kali ini.'' gumam dalam hati selir Feng dengan ketidak percayan serta ketakutan.