
''Pernahkan ada pria yang mengatakan tidak bahagia saat bersamamu?.'' tanya Jing kembali, sebagai upaya mengalihkan perhatian wanita didepannya.
Ziaruo tersenyum mendengar pertanyaan sang Kaisar, ia hanya diam serta menatap lembut kearah kaisar Jing.
''Mereka tidak pernah mengatakan apapun, namun aku tahu, selalu ada penderitaan dan kesedihan bagi mereka karena diriku.'' gumam Ziaruo dalam hatinya.
wajahnya yang cantik, membuatnya mudah menampilkan sosok lain dari dirinya, hanya dengan sebuah senyum indah, dan sebaris kata, ia sudah mampu mengalihkan perhatian sang suami.
''Bagaimana mungkin wanita ini tahuYang Mulia, selain anda dan kakak, saya jarang berunteraksi dengan orang lain.'' Jawab Ziaruo sembari memasang senyum manisnya.
Mendengar jawaban itu, Jing tak dapat menutupi perasaan bahagianya, dengan wajah yang merona, Ia meraih teko minuman diatas meja.
Perlahan ia tuang cairan dari benda tersebut, kedalam dua gelas keramik kecil, dengan ukiran indan berwarna merah.
Luapan kebahagian yang dimilikinya saat ini sangatlah nyata, hingga tanpa sadar ia rela melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh pelayan( menuangkan minuman ), wajah tampannya menyunggingkan senyuman beberapa kali sembari berkata. ''Minumlah dulu...agar upacara kita menjadi sempurna malam ini.''
Mendengar ucapan Jing suaminya, Ziaruo tersenyum, dan menerima gelas berisi minumam itu.
''Terimakasih.....'' jawabnya, sembari menerima gelas, dan langsung meminumnya dalam satu tegukan.
Nyonya Yun meminumnya, tanpa menunjukan sisi keanggunan serta rasa malu dihadapan Kaisar Zing, ia hanya kembali melepaskan sebuah senyuman, setelah menghabiskan isi gelasnya.
Dengan tindakan Ziaruo yang apa adanya tersebut, Kaisar Jing terkejut sejenak.
Akan tetapi, dengan segera ia kembali biasa. Justru sekarang ia merasa senang, karena wanita yang ia cintai, tidak menunjukan kepura puraan.
Oleh karena itu, ia segera mengambil gelas bagiannya, pasangan dari gelas milik Ziaruo yang kini telah kosong.
Ketika tangannya hendak mendekatkan gelas itu kebibirnya, Ziaruo menghentikan tangan itu dan berkata.'' Yang Mulia, sepertinya Minuman ini bera...cuun..hueek...'' ucap Ziaruo terbata, sebelum memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
Mata Kaisar Jing membulat, dan ia sangat terkejut, dengan cepat ia raih tubuh ramping itu, sambil meneriakan namanya.'' Yuuunn....''.
''Apa yang terjadi kepadamu?, pelayan....Wuhan.....panggil tabib...cepat panggil tabiiib!.'' pekik Jing dengan suara keras, serta penuh kecemasan.
''Braaaakk''...suara pintu terbuka dengan keras dari arah luar ruangan.
Tampak Wuhan masuk dengan cepat, 2 kasim dan 4 penjaga lainnya, ikut masuk menyeruak dengan pedang yang sudah siap terhunus.
''Panggil tabib... cepat panggil tabib...!.'' pekik Kaisar itu kembali, dengan wajah penuh kepanikan.
Suara lantangnya, menyadarkan semua orang yang memasuki ruangan.
__ADS_1
''Baik yang mulia.'' jawab Kasim dan para penjaga bersamaan, sebelum salah seorang dari mereka, melesat pergi dengan cepat.
Sementara itu yang lainnya, tetap berjaga dan bersiaga disana.
''Yun....bertahanlah....Yun...buka matamu, jangan tidur Yun, aku mohon.'' pinta Jiang jingwei dengan penuh kecemasan pada wajahnya.
''Huueeek...'' Ziaruo kembali memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
Membuat Pria itu, semakin pucat pasih karena ketakutan.
''Tidak...tidak Yun, jangan lagi...jangan...tidak boleh terjadi apapun kepadamu, jangan...jangan tutup matamu, aku mohon bertahanlah Yun.'' ucap Kaisar tersebut kembali, dengan nada yang menghiba penuh permintaan kepada sang wanita, yang kini terkulai lemah didalam dekapannya.
''Mengapa tabib lama sekali?, Wuhan.....kau pergi panggil tabib!.'' perintahnya kepada sang penjaga setia.
Kaisar Jing berdiri dengan membopong tubuh Ziaruo, ia mendekati tubuh wuhan yang kini tengah diam tak mengindahkan perintah sang majikan.
''Wuhan...aku memerintahkanmu untuk menjemput tabib, apa kau T*li hah!.'' Ucap pria tersebut kembali, tepat di depan wajah Wuhan.
Akan tetapi, sang penjaga bukannya bergegas pergi, ia malah menjatuhkan dirinya dengan kepala menunduk.
Gerakan spontan tersebut, diikuti oleh semua orang yang berada disana( kasim dan penjaga) sambil berkata. ''Setelah ini, jika Yang Mulia akan menjatuhkan hukuman, dengan senang hati pelayan ini akan menerimanya, namun izinkan sekarang, kami berjaga didekat anda Yang Mulia.''
Mendengar hal tersebut, Kaisar Jing menggerakan kakinya, dan menendang Wuhan dengan keras.
''Baik...jika terjadi sesuatu kepadanya, kalian dan seluruh keluarga kalian, akan ikut menanggungnya.'' bentak kaisar tersebut, dengan penuh ancaman serta amarah.
''Tabib..cepat periksa Permaisuri...ia telah terkena racun.'' ucap Kaisar itu kembali, ketika ia melihat sang tabib sudah berada diluar ruangan, sehingga Kaisar itu mengurungkan gerakan kakinya, yang ingin ia arahkan kepada Wuhan kembali.
''Baik Yang Mulia, tapi bisakah anda meletakan tubuh Yang Mulia Permaisuri, diatas ranjang terlebih dahulu?.'' jawab sang tabib dengan penuh hormat, meskipun ada ketakutan dalam hatinya.
Tanpa menunggu kedua kalinya, Jiang jingwei membaringkan tubuh Permaisuri Yun diatas ranjang, ada banyak keengganan dalam hati dan pikirannya ketika melepaskan tubuh sang istri, ia takut tak dapat lagi merasakan kehangatan dari tubuh itu.
Dan akan mendapati tubuh dingin beku ( mati) sang Permaisuri, ketika ia merengkuhnya kembali nanti.
Tabib itu gemetar tubuhnya, saat memeriksa kondisi Permaisuri Yun.
Ia menemukan bahwa, mustahil baginya dapat menyembuhkan tubuh wanita yang baru saja, beberapa saat yang lalu menjadi permaisuri di kekaisaran Zing tersebut.
Sebuah Racun yang ditujukan untuk membunuh seseorang dengan cepat, telah menyebar keseluruh tubuh wanita itu.
Tabib kekaisaran menghela nafas dalam, dengan wajah sendu, ia mundur menjauh dari ranjang dan bersujud dilantai.
__ADS_1
''Ampuni hamba Yang Mulia..Ampuni ketidak mampuan pelayan bodoh ini, Racun yang terdapat pada minuman adalah racun lembah 7 warna, dan.... dan telah menyebar keseluruh tubuh Yang Mulia permaisuri.'' Ucap sang tabib dengan tubuh gemetar, serta suara yang terbata.
Tabib itu menyadari ketidak mampuannya, bahkan ia menyesalkan atas nasib Permaisuri Yun, seorang Wanita yang ia kagumi dalam bidang pengobatan serta budi pekertinya.
Namun, apa daya kemampuan pengobatan miliknya, memang tak dapat berbuat banyak.
''Apa kau bilang?, kau tidak dapat menyembuhkannya?.'' tanya Kaisar Jing, kepada tabib paruh baya, yang telah melayani kekaisaran lebih dari 20 tahun tersebut.
Mendengar pertanyaan dari sang Junjungan, Tabib itu hanya dapat meminta pengampunan dengan posisi yang masih sama.
''Yun...apa yang harus aku lakukan...?, aku tidak percaya tidak ada yang dapat menyembuhkanmu, pasti ada seseorang yang bisa melakukannya.'' ratap sang Kaisar disamping tubuh wanita yang kini semakin lemah.
Kaisar Jing berkali kali memanggil namanya, dan memintanya agar tetap bertahan serta terjaga.
''Apakah kau akan meninggalkanku dimalam pernikahan kita Yun?.'' tanyanya kembali dengan menggenggam tangan Ziaruo, mata tajamnya mulai berkaca kaca.
Tubuh Ziaruo semakin lemah, bahkan untuk menggerakan tangannyapun ia tidak mampu, matanya sesekali terpejam, dan beberapa saat kemudian terbuka kembali, seolah ia tengah merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.
''Yang..Mu..lia....'' panggil Ziaruo lirih dengan nafas yang tersengal sengal.
Mendengar panggilan tersebut, Kaisar Jing reflek mendekatkan telinganya kearah bibir Ziaruo.
Semua menatap kearah keduanya, dengan pikiran cemas mereka masing masing.
Seolah saat ini, Ratu kekaisaran tengah mengatakan sesuatu, sebagai ucapan perpisahan kepada raja mereka.
Kesedihan dan kecemasan menyelimuti hati semua orang disana, bahkan para prajurit yang bersiaga di dekat pintu ruangan yang setengah rusak tersebut, ikut merasakan kesedihan.
''Semua tinggalkan ruangan, jangan ada yang tinggal disini.'' ucap lirih kaisar, setelah bangkit dari posisinya mendekatkan telinga diatas bibir Ziaruo.
''Yang Mu ..'' Ucap Wuhan, yang hendak membantah Pria tersebut.
Akan tetapi, ucapannya terpotong, karena sahutan kaisar sang majikan dengan wajah sendunya ia berkata ''Wuhan ... Aku ingin bersamanya.....berdua saja, bisakah?.''
Mendengar hal tersebut, semua orang yang disana merasakan kepedihan, seolah hati mereka terhubung dengan kepedihan hati Kaisar Jing.
Tanpa perintah kedua kalinya , semuanya perlahan berjalan keluar dari ruangan, serta menutup rapat rapat pintunya.
Mereka memang pergi dari dalam ruangan, namun tidak menjauh dari sana, justru berdiri didepan pintu, serta memperketat penjagaan.
Wajah penuh kesedihan, tak dapat ditutupi lagi, bahkan Wuhan dan bebrapa yang mengenal wanita itu, meneteskan air matanya, ikut merasakan kehilangan yang mendalam.
__ADS_1
Pavilliun yang telah di pilih sebagai tempat tinggal untuk sang Permaisuri, telah di penuhi para prajurit dengan persenjataan lengkap, mengantisipasi jika ada penyusup yang akan mencelaikai majikan mereka kembali.
''Mengapa orang baik selalu menemui akhir yang tragis?, dewa jika kau memang benar benar ada, maka selamatkanlah wanita baik itu, bahkan aku rela menukar nyawaku untuknya.'' Gumam Wuhan dalam hatinya penuh dengan pengharapan.