Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 105 Pertemuan kembali


__ADS_3

Masih di kekaisaran Xili.


Ibarat sebuah ikan diatas daratan, mengelepar berusaha menemukan air, seperti itulah perumpamaan yang pantas, sebagai gambaran bagi perasaan milik Murongyu, tentang ketertarikannya terhadap Ziaruo saat ini.


Sebuah kemarahan tumbuh dihatinya, ketika mengetahui bahwa Ziaruo, telah sampai di kota kekaisaran Xili.


Akan tetapi, ia tak memperoleh laporan dari orang suruhannya.


Dengan langkah cepat ia berjalan meninggalkan ruangan, dimana Wangde kini tengah di kurung.


Matanya berkilat tajam, seolah hendak menembus siapapun yang datang menghalangi.


''Braaaakkk...'' Suara pintu dibuka kasar.


''Sengyu...'' Murongyu.


''Hamba yang mulia..'' Jawab sang empunya nama, dengan cepat dan sigap.


''Apakah tidak ada kabar dari Nancang?.'' Tanyanya kepada sang penjaga bayangan.


''Hamba rasa belum Yang Mulia.'' Jawab Sengyu kembali. Masih dengan posisi menunduk.


''Heeeh...'' Kaisar itu menghela nafas panjang, dan mendudukan tubuhnya dengan kasar pada kursi, beberapa kali ia menghirup udara dalam, serta melepasnya dengan perlahan. Ia ingin menenangkan hati serta pikirannya.


Selang beberapa saat kemudian, ia kembali membuka bibir dan berkata. '' Dia.... sudah tiba, namun orang yang kita kirim tak memberikan kabar.''


Mendengar ucapan tersebut, Sengyu hanya diam mendengarkan, bagi orang orang seperti mereka, hanya ada dua kemungkinan ketika tak dapat menyelesaikan tugas(berkirim pesan), berkhianat atau tertangkap(m*ti).


"Mulailah mempersiapan taman pavilliun kediaman lamaku, aku ingin menunjukan sesuatu kepadanya nanti.'' Perintah pria itu kembali.


''Serahkan semuanya kepada Shengyu, jangan terlalu banyak berpikir, segalanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan.'' Sebuah suara menyahut dari arah luar ruangan.


Seorang Pria dengan wajah tegas, berjalan masuk mendekat kearah mereka.


Pria yang tak lain adalah Hanwen itu, meminta Shenyu untuk pergi terlebih dahulu.


''Kau boleh memulai persiapannya sekarang.''


Mendengar hal tersebut, Shengyu memberi hormat sejenak, sebelum akhirnya melesat pergi, menuju pavilliun lama kediaman pangeran Murongyu.


Sebuah pavilliun besar dengan pemandangan taman, yang hampir menyerupai lingkungan pondok Ziaruo di hutan barat.


Hal itu, bukanlah sebuah kebetulan. Akan tetapi, pangeran Murongyu memang sengaja mengubah pavilliun lamanya menyerupai pondok Ziaruo.


Bahkan, ia sengaja menempatkan pelayan khusus, untuk merawat tanaman disana.


''Apakah kau harus seperti ini, jangan selalu menuruti amarah, itu bisa memperpendek umurmu.'' Ucap Hanwen dengan nada menasehati.


''Braaak..'' Suara benda jatuh.


''Kau sudah berani menyumpahiku sekarang?.'' Ucap Murongyu kesal, sembari melemparkan gulungan laporan kepada sang sahabat.

__ADS_1


Bagi Hanwen, itu bukan pertama kalinya ia mendapat perlakuan yang demikian, oleh karenanya, ia dengan mudah menghindari, lemparan benda dari kulit binatang, dengan pinggiran dari kayu tersebut.


Hanwen memungut gulungan itu, membawanya mendekat kearah Murongyu, meletakkan benda tersebut kembali ke atas meja, sembari berkata. '' Mana berani orang seperti aku, menyumpahi putra langit. Aku masih ingin hidup dan menikah, punya anak banyak dan cucu.''


Pria tersebut, dengan santai mendudukan tubuhnya pada kursi disana, menghela nafas panjang sejenak dan kembali berkata. ''Aku tidak sama seperti seseorang(menyindir Murongyu), yang begitu berharap bersama wanita cantik bak dewi itu, cukup bisa mengh*ng*tkan tubuh ini saat kedinginan, dan bersedia menemaniku merawat anak anak, sudah bisa ku panggil sebagai wanita."


''Lalu mengapa sampai sekarang kau belum menikah?, jika hanya itu yang kau butuhkan, dengan kemampuan dan kekayaan yang kau miliki, apakah kau masih akan kekurangan wanita?.'' Balas Murongyu dengan tatapan mengejek.


Mendengar hal itu, Hanwen berdiri dari duduknya, ia bersiap untuk mengambil langkah seribu dan berkata, ''Karena aku tak ingin hidup bahagia, dan meninggalkan adik bodohku yang sedang merana sendirian...hahaha...hahaha.''


''Si*lan kau, ...Bruuuaaakkkk.'' Pekik Murongyu sembari melempar gulungannya kembali. Benda itu melayang mengenai pintu ruangan, yang sengaja di tutup oleh Hanwen ketika keluar dari sana.


''Anda benar, aku mungkin memang bodoh, dan lebih buruknya lagi, aku tak ingin mengubahnya.''


Murongyu berdiri dari duduknya, berjalan keluar melalui pintu diantara rak rak buku disana, menuju sebuah taman dibalik ruang kerjanya.


Ada gelisah, ada gundah, ada keyakinan dan bahkan ada kekecewaan serta keputusasaan, Akan tetapi perasan apapun itu, selalu mewakili setiap ingatannya.


Dalam setiap kesendirian yang ia lalui, akan selalu ada kenangan tentang wanita itu menemani, layaknya sebuah kesetian diantara pasangan yang saling melengkapi.


Akan tetapi, apakah segalanya akan cukup baginya, hanya menyapa, berbincang bahkan berc*m*u dengan bayang bayang?. Hatinya merindukan wanita itu, keinginan untuk memiliki teramat besar disana.


Hingga tak ada hal yang akan bisa menjadikan dirinya mundur, ataupun menyerah dengan mudah. ''Tak ada jalan untukku kembali, apapun itu dari awal hingga akhir kau adalah milikiku.'' Murongyu.


...........................................


Sore menjelang, ketika kereta seorang wanita, memasuki taman kediaman lama Kaisar Murongyu, di sana sebuah perubahan tampak jelas.


Kediaman yang biasanya hanya ada pelayan dan beberapa penjaga, kini tampak meriah, seolah tempat tersebut tak pernah ditinggalkan oleh sang tuan.


''Hormat hamba Yang Mulia, sebuah kereta dari penginapan Nan...'' Ucap sang penjaga melaporkan, akan tetapi belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, Pria tersebut menyahutnya dengan cepat.


''Cepat...cepat..suruh mereka masuk, cepat!."


Murongyu gelisah, atau lebih tepatnya ia merasa gugup.


''Apakah pakaianku sudah rapi.'' Tanyanya dengan gusar kepada kasim disana.


Mendengar hal itu, sang kasim melihatnya sekilas, ia kembali menunduk dan menjawab. ''Anda sangat tampan hari ini Yang Mulia.''


Seolah jawaban dari abdi setianya itu adalah sebuah penentu akhir, Murongyu tersenyum dan kembali berkata. '' Heem..Baiklah, ayo..... kita keluar.''


Murongyu berjalan dengan gagah, dibalik rasa gugup yang mendera hatinya, ia berusaha keras menampilkan kharisma wibawa, serta ketampanan miliknya.


''Akhirnya kita berjumpa lagi Ruoer, dan akan aku buat ini menjadi awal untuk segalanya.'' Gumaman dalam hati sang Kaisar, disela langkah kakinya menuju taman kediaman.


Pikirannya menekankan bahwa, ia harus tetap bisa mengontrol emosinya, bersikap layaknya pria bangsawan, bagaimanapun ia ingin terlihat gagah serta berwibawa dihadapan sang pujaan.


Akan tetapi, langkah kakinya bergerak cepat tanpa mengindahkan pemikiran tersebut. Bahkan, hatinya tak berhenti berdegup kecang, saat melihat sesosok tubuh yang kini tengah duduk, pada sebuah kursi di tengah taman membelakanginya.


''Eehheem...'' Batuk dadakan sang Kaisar.

__ADS_1


''Maaf membuat anda, menunggu Nona Ziaruo, maaf...maksud saya, Yang Mulia Permaisuri Yun.'' Sapa Kaisar Murongyu dengan suara yang dibuatnya setenang mungkin.''


Mendengar sapaan tersebut, sosok tubuh itu, berdiri dan berbalik.


Wanita dengan wajah yang tertutup hampir separuh itu, sedikit merendahkan postur tubuhnya sesaat, dan menjawab. ''Sudah lama tidak berjumpa.''


(Tubuh memberi hormat, dan bibir menyapa)


.........................................


Sementara itu, di saat dan waktu yang bersamaan ditengah hutan barat kekaisaran Xili.


Dua bayangan muncul tiba tiba di tepi hutan. dan dalam sesaat saja keduanya kembali melesat dengan cepat membelah lebatnya pepohonan hutan. Tampak jelas salah satu bayangan beberapa kali tertinggal.


''Kau memang hebat, bahkan aku kesulitan mengejar langkahmu.'' Ucap salah satu bayangan dalam hatinya.


Kedua bayangan tersebut, akhirnya berhenti pada sebuah area pemakaman. Akan tetapi begitu mereka sampai di tempat tujuan, bayangan yang tak lain adalah Ziaruo dan Yongyu tersebut mebelalakan mata.


Tampak pemandangan yang membuat hati wanita itu menjadi marah, dengan suara lirih ia bergumam.''Siapa yang melakukannya?, siap yang menghancurkan makam makam itu?.''


Menyaksikan mulai ada kemarahan dalam nada suara sang adik, Yongyu yang tertinggal beberapa langkah di belakang mendekat, dan berkata. ''Siapapun dia, pastilah seseorang dengan kemampuan tinggi, lihatlah....bahkan nisan dari batu ini, hancur lebur tak bersisa.''


Ziaruo diam sejenak, memejamkan mata beberaoa saat. Suasana menjadi hening....


Selang beberapa waktu kemudian, Ziaruo mbuka matanya dan menjawab ucapan sang kakak. ''Anda benar kak, dan sepertinya dia datang untuk menghukumku.''


Mendengar Jawaban dari sang adik, Yongyu menjadi cemas, ia bertanya kembali sembari menarik tangan sang adik. ''Siapa Ruoer?.''


Mata Ziaruo menatap lekat kearah Yongyu, tampak jelas disana sebuah kegelisahan yang besar.


Wanita itu menunduk sesaat sebelum menjawab. ''Suami dari masa laluku, Murongxu, Kaisar negri Awan.''


Mendengar hal itu, Yongyu membulatkan matanya, menatap dalam dalam wajah sang adik, seolah tengah mencari suatu pernyataan tentang kebohongan disana.


Akan tetapi, tentu saja ia tak akan menemukan apapun, selain kebenaran dan kejujuran atas setiap ucapan Ziaruo.


''Apakah dia Murongxu yang sama dari kekaisaran Xili?.'' Tanya pria itu lagi.


''Entahlah, aku juga bingung kak, namun yang menghancurkan makam Gutingye, jelas Dia... ia itu adalah dia, suami dari Permaisuri Ziaruo negri Awan.'' Jawab wanita itu lagi, sembari menyebutkan namanya datar, seakan tengah membicarakan seorang Ziaruo yang lain.


Wanita itu dengan cepat mengeluarkan cermin ari bulan miliknya. Dengan wajah yang penuh kebingungan serta cemas, Yongyu mendekat dan ikut melihat tampilan di dalam cermin.


Lagi lagi wajah pria tersebut, menampilkan keterkejutan yang tak dapat ia ucapkan, tampak disana sebuah pemandangan yang aneh, namun jelas terjadi.


''Itu...didalam pondok kita Ruoer.'' Pekik Yongyu dengan keras.


Namun, tiba tiba saja tubuh Ziaruo melesat masuk, dan menghilang kedalam cermin air bulan. Melihat kejadian itu, tanpa pikir panjang ataupun mengetahui arah tujuan, Yongyu ikut masuk kesana untuk mengikuti sang adik.


Baginya, segalanya dapat diurus dan dipikirkan nanti.


Yang jelas, sekarang ia harus bersama wanita itu, menjaga dan melindunginya dimanapun ia berada.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan membaca.


Mohon bantuan like dan komentarnya, agar Author menjadi lebih baik lagi dan tambah SEMANGAT. 😍😍


__ADS_2