Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 186


__ADS_3

Sementara itu...


Di perbatasan wilayah negri Zing, tak jauh dari tepi hutan misteri, pertempuran tengah terjadi.


Dengan kemampuan strategi, dan kekuatan penyerangan, dari pasukan gabungan milik Jing, para pemberontak tak dapat melakukan perlawanan yang berarti.


Terlebih lagi, dengan serangan mendadak, ke kubu pemberontak semakin menciptakan sebuah peluang besar.


Pasukan Jiang Jingyun yang tidak menyadari kedatangan pasukan Jing, hingga di detik-detik terakhir menjadi kalang kabut.


Bahkan, tak sedikit dari mereka telah tersungkur ditanah bersimbah darah, tanpa sempat melakukan perlawanan.


Sebagaian dari mereka bahkan mulai terbuai dalam lelap tidurnya, dan tidak memiliki kesempatan untuk terbangun kembali.


Menyaksikan hal itu, para pejabat yang ikut dalam kolusi, serta bangsawan yang terlibat, hanya dapat melakukan perlawanan yang tidak berarti.


Bagi Jing, kali ini ia tidak menggunakan kode etik sebuah pertempuran pada umumnya.


Karena, ia menganggap tidak tengah berperang dengan kesatria pemberani, ataupun pejuang patriotik pembela negara, di medan perang.


Melainkan, dirinya tengah menangkap para tikus-tikus kotor, yang sedang menggali, serta berusaha melubangi dinding kekaisaran Zing.


Jiang jing wei langsung mencabut, dan mengibaskan pedang miliknya, ketika ia mulai memasuki tenda kamp musuh.


Dengan kengerian, serta kekuatan yang ia miliki, tak dapat di pungkiri oleh siapapun bahwa Jing yang kejam, hari ini telah terbangun kembali.


Hatinya, tangannya, serta mata itu tengah melampiaskan kekesalan yang besar, sebagai upaya melebur kekecewaan yang ia rasakan.


''Jangan ada yang lolos!. Upayakan mereka ditangkap hidup-hidup.'' Perintah Jing, di tengah kericuhan.


Ucapan tersebut, lebih mengacu untuk para pembesar, bangsawan, serta abdi kemiliteran, yang bergabung dalam kolusi.


Jing seolah tengah masuk kedalam hutan belantara, dengan senjata sebagai busur, serta amarahnya yang setajam anak panah untuk dibidikkan kearah mangsa.


Dan hal ini adalah, nasib buruk bagi semua orang dengan kesalahan sebagai pengkhianat kekaisaran.


Mereka adalah orang-orang dengan logo transparan, sebagai hewan buruan bagi Jing dan para prajuritnya.


Kaisar Jing mengatur strategi menggiring, menyatukan, serta menekan mereka terkumpul dalam satu titik tempat yang di tentukan, ibarat sebuah lubang maut jebakan.


Baginya, orang dengan ketidak setiaan, adalah ibarat binatang yang bahkan tidak pantas untuk di pelihara.


Mereka mungkin berjubah singa yang perkasa, ataupun berbulu rubah elegan nan cantik.


Namun, pada kenyataannya, hati mereka jauh lebih beracun, serta picik dari seekor ular yang licik.


Saat ini Jing dengan tangan, serta baju pelindung miliknya, yang bernoda percikan darah, semakin menambah kengerian raut wajah, sang penguasa tersebut.


Kemarahan menjadikan ia semakin cepat, serta terus melangkah dan mengayunkan pedang tanpa ampun, kepada para prajurit pemberontak.


Hingga sesosok tubuh gagah, berdiri tepat di depan tenda besar, di tengah kobaran api yang melahap ganas, apapun di depannya.


Mata Jing membulat, tubuh itu terdiam beberapa saat, dengan suara yang perlahan ia memanggil nama itu ''Jingyun...''


Sementara, sosok dihadapannya tersebut hanya memandangnya dengan tatapan tak terbaca.


Wajah itu datar, dingin, bahkan ada perasaan ngeri juga untuk kediamannya.


''Tidak...itu bukan Jingyun, kau bukan Jingyun.'' Ucap Jing wei lagi.

__ADS_1


Sebesar apapun ia membenci, ataupun tidak peduli dengan Jiang Jingyun, ia tetaplah kakak dari pria tersebut.


Oleh karena itu, ia jelas dapat membedakan, dan yakin, bahwa sosok didepannya sebagai orang lain.


Mendengar panyangkalan atas identitasnya, Jingyun tersenyum menyeringai.


''Apakah Anda yakin?, ataukah kebencian yang telah membuat hati paduka ingkar atas pertalian darah di tubuh kita ?.''


Jing yun mengatakan sesuatu dengan kelugasan, ia sengaja mengatakan apapun yang ia ketahui, untuk mancing emosi dari Jing wei.


Selama kemarahan membesar dihati pria tersebut, maka kemungkinan untuk menang melawannya, akan bertambah.


Jingyun berjalan mendekati Jing jing wei.


Dari sudut bibirnya menampilkan senyum sinis, seakan ia tengah mencemooh pria penguasa itu.


''Apa Anda merasa puas sekarang ini?.


Dengan mendudukan diri pria ini sebagai tiruan, apakah nurani Yang mulia tidak ragu?.''


Pria tersebut semakin mendekati sosok Jing wei, yang masih terpaku dan menatapnya tak percaya.


Dari setiap perkataan yang ia keluarkan, tak ada sedikitpun keraguan atas sosok jati diri sendiri.


Yang pada kenyataannya ia adalah sosok lain dari jelmaan serigala hutan, dalam balutan kulit manusia serupa Jiang Jingyun.


Kepercayaan dirinya yang tegas, serta tanpa ada perasaan ragu ataupun gugup, membuat semua orang memiliki pemikiran, bahwa dialah Jiang jing yun yang sebenarnya.


Keabsahan atas sebuah kepalsuan, sejenak telah menutup mata semua prajurit disana, dan mempercayai bahwa dialah pangeran kekaisaran ke-2, yang telah lama menghilang.


Bahkan, Wuhan yang baru saja tiba disisi Kaisar Jiang jing wei, serta-merta membulatkan mata.


Kaisar Jing tidak merespon pertanyaan Wuhan.


Bahkan, ia juga tidak memalingkan wajah untuk sekedar menoleh kearah pria tersebut.


Dalam diamnya, Jiang jing wei kembali mengingat perkataan Ziaruo.


Bahwa sebagai putra dari sebuah keluarga, saudara adalah belahan tubuh lain di balik punggung sendiri.


Namun, sebagai seorang Kaisar ia adalah ayah dari seluruh rakyat di negrinya.


Tak pernah ada seorang Ayah akan membahayakan seluruh putra mereka, untuk sebuah hubungan darah dengan keburukan diantaranya(penghianatan).


Jiang jing wei kembali memantapkan hati, ia mulai menampilkan wajah tenang miliknya kembali.


''Jika kau adalah putra dari negri Zing, tak akan pernah kejadian ini akan terjadi.


Bahkan jika pun kau adalah Jingyun pangeran kedua kekaisaran ini.


Akan tetapi, pikiran dan perbuatanmu tidaklah mencerminkan gelar yang kau miliki.


Jadi apa bedanya kau adalah dia ataupun bukan?, tetap saja dirimu hanyalah seorang pemberontak.''


Ucapan Jing menggema dengan lantang, ia tak memperdulikan jika pun nanti, dirinya akan dianggap kejam terhadap saudara sendiri.


Bagi Jing pria di depannya tersebut, tidak tampak seperti seorang saudara yang ia sesali atas kematian akibat ulahnya, di tahun-tahun sebelum ini.


Dalam hati, ia merasa yakin bahwa pria disana bukanlah Jing sang adik.

__ADS_1


''Hahahaha...hahaha..hahaha.''


Mendengar ucapan itu, Jingyun tertawa dengan sangat keras.


Ia tidak memperdulikan semua orang yang menatapnya, dengan berbagai pemikiran.


Bahkan, dirinya juga tidak merasakan kepedihan, ketika melihat para prajurit miliknya berjatuhan, dengan bersimbah darah meregang yawa.


Pria jing yun, seolah sosok tubuh mengerikan, tanpa jiwa dan perasaan.


Namun, tak jauh dari tempatnya berada. Tepatnya berada beberapa jengkal di belakang sosok jing wei.


Yongyu menatap kearah Jingyun dengan kebencian, dan amarah.


Dan beberapa saat setelah jing wei mengucapkan perkataan itu, Yongyu beralih melihat sang saudara ipar, yang tak lain adalah saudara kandungnya tersebut, dengan kesenduan.


Hatinya berkecamuk, pikiran Yongyu di penuhi dengan kekecewaan.


''Ternyata, siapapun tak akan pernah berharga dihadapnmu, selain kekuasaan itu.'' Yongyu.


''Jadi sudah tepat aku menjadi diriku yang sekarang, biarlah semuanya hanya menjadi abu dan menghilang, keluargaku hanya dia (Ziaruo) saja.'' Lanjut Yongyu lagi, dalam benaknya.


''Menyerahlah...!, mungkin aku tidak akan menjatuhi hukuman mati untukmu.'' Pekik Jing wei lagi.


Sebesar apa kemarahan dan kekecewaannya terhadap Jingyun, baik dia Jingyun asli ataupun palsu, wajah itu tetaplah sang adik, saudara sedarah yang pernah ia sayang sepenuh hati.


Meski ia tidak akan mengampuni kesalahannya kali ini.


Namun, mengingat sang ibu serta pertalian darah mereka, Jing juga tak akan membunuhnya dengan kejam.


Namun, adakah yang jauh lebih kejam dari memanfaatkan sang saudara, dengan ancaman kematian, serta kesakitan atas racun yang ia berikan?.


Setiap orang memiliki pemikiran, pendapat serta cara pembenaran mereka.


Bagi Jiang jing wei, memberikan racun untuk menjaga sang adik agar tidak melakukan pemberotakan, bahkan terbunuh di tangannya pada waktu itu, serta menjaga tahta adalah solusi yang terbaik menurut Jing.


Ia berpikir mengekang, atau membatasi pergerakan ibu dan sang adik dengan racun tersebut adalah sudah benar.


Karena dengan itu, ia tidak harus melumuri tangan dengan darah saudaranya sendiri dan juga tidak harus melihat sang ibu, bersediah atas kehilangan putranya.


Akan tetapi, bagi Jingyun (Yongyu) yang tidak sekalipun berpikiran tentang tahta dan kekuasaan, ia merasa terhianati atas kasih sayang tulusnya terhadap sang kakak.


Bagi Jingyun(Yongyu) perbuatan Jing adalah sebuah kekecewaan mendalam, serta penghianatan terhadap kepercayaan, serta kepeduliannya selama ini.


Dan ketika sekarang, Jing mengatakan kepada tiruannya. Bahwa tidaklah penting ia Jing yun asli, ataupun palsu, selama ia menginginkan tahta kekaisaran, tidak akan pernah diampuni.


Yongyu kembali teringat luka lamanya.


Hatinya sakit, kemarahan kembali menyelimuti pikiran.


Ingin rasanya dirinya datang dan mempertanyakan, bahkan tentang keburukan sang Kaisar tersebut terhadapnya.


Akan tetapi, ia menyadari di saat ini, bukanlah waktu yang tepat.


Yongyu mendongakan kepala kelangit, memejamkan mata sejenak.


Ia berusaha menenangkan pikiran, serta berdamai dengan gemuruh hati, seraya bergumam dalam diam. ''Dewa jika ada kehidupan lain nanti, biarkan aku tak memiliki saudara sedarah, jika itu seperti dirinya.


Lebih bijak saudara yang dipertemukan dalam kedekatan, dan saling menjaga, atas kesamaan hati yang menghargai pertalian meskipun, bukan dari rahim ibu yang sama.''

__ADS_1


__ADS_2