Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 64 Ibu dan saudara


__ADS_3

''Tuaaaannn....'' pekik seorang pria lain, yang berada agak jauh dari tempat mereka berbicara, dengan penuh kecemasan


Mendengar teriakan tersebut, Ziaruo menghentikan langkah kakinya, ia menghela nafas panjang sejenak, menengadah kearah langit senja saat itu.


''Ya dewa...apa rencanamu sebenarnya kepadaku?.'' Ucap Nyonya Yun, dengan mata menatap kearah langit, sebelum membalikan tubuhnya kembali.


Disana ia melihat, tubuh seorang pria yang sedari tadi mengikutinya, tergeletak ditanah taksadarkan diri. Seorang pria paruh baya tampak berusaha menyadarkannya, dengan raut wajah penuh kecemasan.


Nyonya...tolong majikan saya nyonya, saya akan memberikan apapun sebagai imbalannya.'' Ucap pria yang tak lain adalah pelayan dari kediaman Meng, dengan wajah penuh permohonan.


Melihat ketulusan pelayan pria itu, hati Ziaruo luluh, tampak jelas pada wajah pria disana tersebut, perasaan hangat dan penuh kesetiaan kepada pria yang ingin sekali dihindari olehnya.


Nyonya Yun menghela nafas panjang.


''Mungkin ini adalah takdir, dan bagaimanapun aku mencoba untuk menjauh, kami tetap akan bertemu juga.'' Ucap lirih nyonya Yun, sebelum pergi dari tempat tersebut.


Nyonya Yun, mendekat kearah tubuh yang kini tergeletak, dangan kibasan tangan lembut melesat pergi dari sana, membawa tubuh Mengshuo bersamanya.


Akan tetapi, sebelum ia menggerakan tangannya, dengan suara pelan ia berkata kepada sang pelayan.''Berjalanlah kearah selatan(tengah hutan), tuanmu akan menunggumu di dalam sebuah pondok.''


Entah seperti apa, cara wanita tersebut membawa tubuh sang majikan, yang bahkan besar tubuhnya hampir dua kali lipat dari tubuh nyonya Yun.


Namun, ia tak ambil pusing, yang ia ingat hanyalah, bahwa ada harapan bagi majikannya, dan dia harus segera berjalan, menuju sebuah pondok, di sisi selatan area pemakaman itu.


Sementara untuk kedua pria penunggang kuda, kini merasa sangat kebingungan, tiba tiba saja tubuh ketiga orang didepan mereka, menghilang tanpa jejak dari pandangan mata. Padahal mereka selalu mengawasi dengan teliti, bahkan kereta kuda yang cukup besar itupun, juga tak ia ketahui keberadaannya.


Namun, belum sempat kebingungan dan keterkejutan mereka terjawab, sebuah suara yang sangat dikenal, kembali mengejutkan keduanya.


''Apa yang kalian lakukan?, dan dimana Nyonya Yun serta kedua orang itu?.'' Tanya seorang pria dengan nada tinggi, yang berada diatas kuda bersama seorang pria lainnya.


Sorang pemuda, dengan garis tegas dan tampan, namun memiliki sorot mata yang tajam dan dingin, tengah menatap kerah keduanya dengan sorot mata yang penuh penekanan.


''Ampuni kami tuan.'' Jawab keduanya serentak, sembari turun dari kudanya dan bersujud ditanah.

__ADS_1


''Sungguh kami, telah melaksanakan perintah anda. Namun....tiba tiba saja guru besar Meng pinsan, dan mereka menghilang tanpa jejak.'' Ucap salah satu penunggang kuda, dengan suara dan tubuh yang gemetar.


Mereka tahu, bahwa kesalahannya kali ini fatal, bagaimana mungkin ia, dan rekannya bisa ceroboh, serta kehilangan orang yang jelas jelas berada dihadapannya.


''Sudahlah, aku tahu kemana mereka sekarang, bangunlah!.'' Sahut pria yang tak lain adalah Murongyu, jendral besar kekaisaran Xili, dengan suara khasnya.


Murongyu tersenyum sekilas.


''Ternyata kau masih mengingat tempat ini Ruoer, atau apakah kau memang sering kemari.''Gumam dalam hati pangeran kedua tersebut.


''Shengyu, ingatkan aku ditahun tahun mendatang, tentang hutan barat ini, pada setiap hari ke sembilan, di bulan ketujuh.'' lanjut Murongyu dengan wajah tenang, kepada penunggang kuda yang berada disampingnya( penunggang kuda pertama).


''Baik tuan.'' Jawab singkat sang penunggang kuda pertama.


''Bukankah sekarang hari ke duabelas, mengapa anda ingin diingatkan jauh lebih awal.'' Pikiran Shengyu berkutat dalam diamnya, sebelum kembali menarik tali kekang kuda, mengikuti kuda Murongyu.


Melihat sang majikan pergi tanpa menghukum mereka, kedua penunggang kuda yang tadi bersujud ditanah, dengan cepat menaiki kuda mereka, dan mengikuti langkah kaki kuda pangeran kedua negri Xili majikannya, membelah lebatnya hutan, meninggalkan area pemakaman bekas perkampungan merah milik Gutingye.


''Apakah nyonya kalian, sudah kembali?.'' tanya kaisar Jing, dengan wajah yang menampilkan sebuah perasaan kecewa disana.


Karena kedatangannya kali ini, adalah yang ke dua kalinya dihari itu, terlebih lagi sekarang hari sudah menjelang malang, dan wanita yang ia perhatikan tersebut, pergi tanpa ditemani oleh penjaga dan sang kakak.


Ada perasaan rindu dalam hatinya, setelah beberapa hari, ia tak dapat melihat wajah wanita cantik tersebut, karena kesibukan mengurusi beberapa kericuhan dalam urusan pemerintahan.


Namun, saat ini rasa kekhawatiran jauh lebih mendominasi pikiran serta hatinya.


''Apakah nyonyamu sering seperti ini?.'' Tanyanya lagi, dengan nada yang ia buat setenang mungkin.


Ia sadar bahwa saat ini, dirinya tengah berada didalam pavilliun putih, dan masih ada beberapa bocah kecil yang masih belum tidur, mondar mandir disekitarnya.


Bagaimanapun juga kaisar jing, tak ingin ucapan kasarnya akan ditiru dan di contoh oleh semua bocah kecil yang disana.


''Apakah yang mulia kaisar Jing ingin bermalam di tempat sederhana kami ini?, mengingat waktu sudah malam dan anda belum pergi.'' Ucap seorang pria dari arah luar pavilliun dengan nada kasar.

__ADS_1


Namun hal itu, sudah terdengar biasa bagi sang kaisar.


''Jika memang diperlukan, boleh juga.... bukankan disini ruanganku juga cukup nyaman.'' Jawab sang kaisar, mengimbangi ucapan kasar, dari kakak wanita yang ia cintai, yang sebenarnya dia adalah saudara sekandungnya sendiri, adik satu ibu dan berbeda ayah.


Mendengar hal tersebut Yongyu kesal, namun dipavilliun tersebut, memang ada sebuah ruangan yang khusus di sediakan untuk pria itu oleh sang adik.


Sebuah ruangan dengan ukuran 7×9, bernuansa elegan dan indah, tentu saja ruangan tersebut dibangun oleh kaisar Jing sendiri, dengan kreasi dan seleranya.


*Sebagai biaya pembayaran lahan, Ziaruo tidak mengeluarkan sepeserpun, melainkan ia harus menyisakan sebuah ruangan khusus, untuk sang kaisar, sebagai pembayarn atas lahan atas nama Nyonya Yun, yang kini didirikan sebuah pavilliun milik keluarganya tersebut.*


''Terserah anda yang mulia, selamat menikmati waktu menunggu anda dengan nyaman.'' Ucap pemuda itu kembali, dengan di selingi tarikan nafas dalam, sebelum melangkah pergi dari sana.


''Silahkan tunggu sampai anda puas, Ziaruo akan pulang Dua hari lagi.'' Ucap Yongyu dalam hatinya, dengan senyum penuh kepuasan, disela langkah kakinya menuju ke ruanga lantai atas.


Yongyu tahu bahwa nyonya Yun akan pulang dua hari lagi, namun sengaja kaisar Jing tersebut ia biarkan menunggu.


''Bibi jang, dua hari ini aku akan tinggal disini, siapkan kamar dan suruh orang menyiapkan air mandiku.'' Ucapnya lagi dengan suara agak keras, karena posisinya, yang telah berada dilantai atas, sementara bibi Jang, masih dibawah menemani kaisar Jing.


''Baik tuan.'' jawab wanita tua itu, sambil membungkuk memberi hormat, kepada kaisar Jing, untuk meminta izin meninggalkan pria tersebut, sebelum melaksanakan perintah Yongyu, majikannya.


''Mengapa, aku tak pernah bisa marah, dengan kekurang ajaran Yongyu, seolah...dia adalah.....''Ucap kaisar Jing dalam hatinya, ia kembali mengingat saudarannya Jingyun yang telah meninggal di hutan barat kekaisaran Xili.


''Seandainya kita adalah rakyat biasa, mungkin kau tak perlu mati secapat ini, dan aku tak akan menjadi seorang kakak yang kejam, Ibunda....semua karenamu, bahkan anda tak pernah memberikan kasih sayang yang adil bagi putra putramu.'' Gumam pelan kaisar Jing dalam kesendiriannya.


Pria tersebut menerawang, entah kemana. Sembari menikmati teh dan kue kue kecil. Ia kembali bergumam ditengah kesendiriannya.


''Hanya wanita sepertinyalah( Ziaruo) yang pantas menjadi istriku, agar sebanyak apapun putra yang kumiliki, mereka akan diperlakukan dengan adil, serta penuh ketulusan, bukan sebuah kepalsuan untuk tahta dan kedudukan, seperti ibunda.''Lanjutnya lagi.


Namun, tanpa ia sadari ada sepasang telinga, yang ikut mendengar gumamannya tersebut.


Dengan mata berkaca kaca, orang dibalik bayangan itu berseru lirih. ''Kakak......''


''Bagaimanapun ia adalah ibu kita, apakah sebesar itu kebencianmu kepadanya?.'' Pikir bayangan itu lagi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2