Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Epiaode 150. Rencana Canzuo


__ADS_3

Masih di aula pesta perjamuan.


Namun, berbeda dengan pemikiran pria itu. Ketika mendengar perkataan sempurna dari Permaisuri.


Salah satu wanita pelayan tersebut, tersenyum sekilas, dan bergumam dalam diamnya.


''Sempurna....Dan pada akhirnya nanti, aku akan menggantikan mu."


''Cough...cough..'' Ziaruo terbatuk-batuk kecil, ketika ia mendengar pemikiran dari salah satu wanita di depannya.


Melihat hal tersebut, Jing segera menepuk lembut punggung sang Permaisuri, sembari berkata. ''Jangan melakukan kecerobohan, atau kau ingin melihat pria ini, mengacaukan tempat pesta sekarang.''


Perkataan sang suami, Ziaruo jelas memahami apa maksudnya.


Dan tentu saja, pria itu akan mengacaukan bahkan, menghancurkan semua jika terjadi sesuatu kepadanya.


Wanita itu tersenyum dan menjawab. ''Aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit geli dengan beberapa hal saja.''


Dengan gerakan tenang serta elegan, Jing menyesap tehnya kembali, setelah menyelesaikan perkataan dan menarik tangan, dari punggung sang Permaisuri.


Ia ingin mendinginkan pikiran dan memenangkan hati, kedalam larutan teh hangat yang kini masuk melewati tenggorokan.


Sungguh, untuk sang istri pria dengan kearogansian tinggi tersebut, bahkan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Bahkan, untuk menjadi pembasuh kaki Yun-ku pun tidak pantas, bagaimana mungkin kalian berpikir, untuk bersaing dengannya.'' Pikir Jiang jing wei, dengan penuh kekesalan.


Sementara, melihat cangkir teh milik Kaisar jing yang hampir kosong. Salah satu dari pelayan di depannya bergerak cepat, menuangkan kembali teh kedalam cangkir itu.


Namun bukannya apresiasi yang di dapat, justru Jing merasa risih atas perlakuan wanita tersebut.


Jika bisa Jing ingin melempar sang wanita, keluar dari aula tempat pesta berlangsung, detik itu juga.


Akan tetapi, sesaat kemudian pria tersebut mengernyitkan kening dan berkata dengan nada lirih.


Karena terlalu lirih, hingga perkataan pria tersebut seperti sebuah bisikan di telinga Ziaruo. ''Apakah ini sudah dimulai?.''


Jing menatap mata Ziaruo lekat, seakan ia tengah menunggu sesuatu tentang balasan reaksi sang istri.


Sementara, Ziaruo yang berada di sampingnya, hanya mengganggukkan kepala pelan.


''Tidakkah Baginda mencium sesuatu?. Tanya wanita itu lirih, serta ikut mendekatkan tubuhnya kepada Jiang jing wei.


Mendengar pertanyaan balik dari Ziaruo Jing terdiam sejenak, dan menajamkan indra penciuman.


''Kau benar, aroma lily Yun...'' Jawabnya lirih, dengan sedikit dengan keterkejutan.

__ADS_1


Jing kembali menatap Ziaruo lekat, ia memiliki pemikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.


Bagaimana dan dari mana Ziaruo bisa tahu?, apakah ia memiliki sumber orang terdekat di kekaisaran ini?, ataukah sang istri memiliki kemampuan membaca masa depan?.


Dan tentu saja masih banyak hal yang berkutat, di balik isi pikiran sang Kaisar tersebut.


Akan tetapi, yang jelas tidak ada dari semua pemikirannya saat ini, yang benar.


Sesungguhnya, Ziaruo mengetahui semuanya, disaat Kaisar Canzuo tengah merasakan kamarahan, atas kedekatan di antara mereka(Ziaruo dan Kaisar Jing).


Tanpa sadar ia tengah mengutukki Kaisar Jing suaminya, serta menyingkap rahasia rencana melalui pemikiran yang tengah ia bayangkan, tentang penghianatan Jiang jing wei, atas hasil dari upaya yang telah ia susun.


Bahwa nanti di akhir acara pesta(penutupan), ia akan menghadirkan wanita-wanita cantik, serta obat peningkat keinginan terhadap lawan jenis, untuk semua tamu yang hadir.


Dan itu tidak terkecuali untuk Jing, karena selain tujuan utama Canzuo yang masih abu-abu, pria tersebut juga ingin melihat Ziaruo jijik, serta muak terhadap Jing suaminya.


Karena menurut yang ia ketahui, Wanita dari hutan barat itu, sangat membenci penghianatan.


Dan Canzuo telah memberikan persiapan ruangan-ruangan khusus, untuk mendukung rencananya.


Meskipun, Ziaruo tidak sepenuhnya mengetahui secara menyeluruh atas rencana itu, ia sudah dibuat sangat geram.


Sehingga disaat itu juga, Ziaruo ingin menggunakan kekuatannya, untuk memberi pelajaran kepada Canzuo.


Akan tetapi, entah mengapa kekuatan yang ia kerahkan, tidak dapat mencapai singgasana keagungan milik kaisar muda tersebut.


Oleh karena itu, Ziaruo hanya dapat menjaga jarak, serta menjauhkan sang suami dari tipu muslihat yang akan terjadi.


''Jangan menghirup aroma tersebut dalam-dalam, atau anda akan kehilangan pemikiran rasional.'' Ucap Ziaruo lagi


Mendengar penuturan wanita itu, Jiang jing wei memusatkan pikiran sejenak, dan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, sebelum akhirnya ia mengalihkan tenaga itu, pada telapak tangan kanannya.


Sebuah perasaan hangat tiba-tiba saja, masuk menyeruak kedalam tubuh Ziaruo, manakala tangannya di genggam oleh sang suami.


Permaisuri Yun menyadari bahwa Jing saat ini, tidak hanya sedang berusaha membentengi tubuh sendiri. Akan tetapi, ia juga memusatkan tenaga, untuk menjaga dirinya.


Meskipun, tampilan pada wajah Jing, terlihat masih tenang seperti sebelumnya. Namun, ia merasakan jelas, kekhawatiran pria tersebut.


''Aku baik baik saja, bahkan sebelum anda mengetahuinya, wanita ini telah melakukan pencegahan.'' Ucapnya lembut, sembari menatap penuh makna kepada Jing.


''Heemm...'' Jing mengangguk pelan, namun ia tetap tidak melepaskan, genggaman tangan kokoh miliknya.


''Aku tahu, kau jauh lebih faham atas situasi sekarang, tapi izinkan aku menenangkan hati ini dengan melakukan penjagaan atas diri kalian.'' Jawab Jing dengan serius.


''Bahkan dalam sebuah keburukan, masih ada celah untuk kebahagiaan.'' Ucap Wanita itu lagi.

__ADS_1


Ia merasa bahwa tipu muslihat yang di lakukan oleh Canzuo sekarang, tidaklah sepenuhnya buruk.


Di saat ini, ia bahkan dapat menikmati kebahagiaan, dengan memperoleh perhatian tulus dari sang suami.


''Apa kau memiliki rencana Yun?, sepertinya mereka mulai terpengaruh dengan keadaan saat ini.'' Tanya Jing, dengan ekspresi masih sama.


''Aku bisa saja membantu mereka, namun hal itu dapat membawa peperangan diantara kekaisaran. Dan aku belum siap untuk merelakan ketenangan negri kita saat ini.'' Lanjut Jing.


''Terlebih lagi, jika itu untuk mereka (para tamu undangan) yang tidak berharga untukku.'' Sambungnya kembali, di dalam pikirannya.


Dan benar saja, jika ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Canzuo saat ini, mungkin hal itu akan menjadi pemicu peperangan diantara kedua kekaisaran.


Bahkan mungkin akan berimbas, hingga ke negeri tetangga yang berdekatan.


Terlebih lagi disaat sekarang, Kaisar Canzuo memang sedang santer mencari sebuah awal, atau sumber masalah untuk menimbulkan pergolakan, diantara kelima kekaisaran.


Ziaruo menggangguk pelan, sebagai tanda bahwa ia memahami kecemasan, dan pertimbangan Jiang jing wei.


Lagi-lagi wanita itu menghela nafas panjang sejenak. ''Heeeeeh...''


''Anda benar, dan sepertinya ada rencana lain dibalik semua ini. Namun, saya belum bisa mengetahui apa itu?.'' Jawab Ziaruo lirih.


Wanita itu, tak ingin kedua pelayan cantik di samping sang suami, mengetahui ataupun memahami, apa yang mereka bicarakan.


Pada kenyataannya, keduanya memang mendengar apa yang tengah di bicarakan oleh Jing dan Ziaruo.


Akan tetapi, pelayan itu tidak memahami apa yang menjadi titik penting dari percakapan diantara keduanya.


Disana, di dalam aula tempat perjamuan pesta, tampak sebuah pemandangan yang mulai memanas.


Banyak diantara para tamu kekaisaran, seolah telah kehilangan akal serta pikiran mereka.


Ada yang mulai mengabaikan tata krama, dengan bersenandung penuh bahagia.


Ada yang bergelayut dengan para wanita pelayan, dan bahkan ada yang mulai meminta, suatu tempat pribadi untuk mereka gunakan sendiri.


Sementara itu, di sana di atas singgasana, ada beberapa pasang mata menatap kegilaan semua orang, dengan senyuman menyeringai tipis.


''Setelah hari ini, segalanya akan menjadi milik kekaisaran Tang yang agung, kami akan menguasai serta mengendalikan semua.'' Ucapnya lirih.


Kaisar Muda tersebut, berbisik kepada kasim di sampingnya.


Dengan beberapa kali anggukan, seolah telah memahami perkataan sang tuan, pelayan pria tersebut berlalu dari sana.


Namun, belum sempat kaki kasim tersebut menjauh dari aula pesta, seorang kasim lain dengan tergopoh-gopoh datang menghadap.

__ADS_1


''Ampun Yang Mulia kaisar, hamba pelayan dari paviliun selir keagungan.'' Ucap sang kasim yang baru saja masuk, setelah menunduk, dan memberi hormat kepada Canzuo.


__ADS_2