
''Jika selir Gu tidak bersalah, lalu mengapa wanita pangeran Bai, juga bisa datang dan berbuat ricuh di sana?. Atau mungkin jejak tikus telah tercium.'' Lanjut Canzuo, dengan wajah datar yang masih sama.
''Aku pastikan kali ini, tidak akan terlewat, dan jendral tua itu juga harus menanggungnya.'' Lanjut pria itu kembali dalam diam.
Ada sebuah kilas senyuman, pada wajah itu. Sebuah bentuk ekspresi, yang membuat hampir semua orang disana, bergidik ngeri.
Bagi mereka yang mengenal pria tersebut dengan baik, pasti menyadari akan ada hal buruk, ketika senyum itu hadir.
Kaisar Canzuo, tidak menunggu jawaban dari kasim, ia bahkan tidak menyuruhnya untuk berdiri, dan berjalan pergi dari sana.
Seolah tak ada siapapun, ataupun apapun, yang membuatnya merasa perlu untuk dilakukan, atas tubuh pria pelayan yang kini tengah bersimpuh, serta bersujud di atas tanah.
Bahkan, setelah Kaisar muda itu berlalu dari tempatnya, sang pelayan pria tetap masih berada pada posisi yang sama.
Ia tidak berani untuk berdiri, dan berjalan mengikuti sang tuan.
Bahkan, tidak juga ia berani untuk mengangkat kepala, sekedar melihat langkah kaki kaisar menjauh.
Sementara itu, Canzuo yang telah berada di depan pintu paviliun, melarang penjaga dan para kasim, mengumumkan kedatangannya.
Seolah pria tersebut, tak ingin mengganggu perdebatan yang tengah berlangsung di dalam ruangan itu.
Hingga ia tak lagi bisa mentolerir lagi keributan yang terjadi, dan berkata. ''Apa yang kalian ributkan?, apakah istana dalam milikku adalah tempat bisa bebas, berbuat kericuhan?.''
Mendengar suara tersebut, baik selir Gu, kedua orang tersebut dan beberapa pelayan disana, terkejut, dan segera memberi hormat.
''Apa yang terjadi?, mengapa pangeran negri Bai, bisa berada di istana dalam?.'' Tanya Canzuo kembali.
Pria dengan mata jernih itu, tampak tengah menelisik tajam kearah semua orang yang berada disana.
''Dan siapa wanita ini?.'' Lanjut Canzuo kembali, dengan tatapan yang masih tajam, mengarah kepada wanita di samping pangeran Bai.
Dalam sekejap ruangan menjadi hening sejenak, seolah sebuah ruangan tanpa seorangpun disana.
Hingga wanita dengan pakaian penari itu, membuka mulut dan berkata. ''Yang Mulia...Yang Mulia....Mohon berikan keadilan pada wanita ini.''
Sebuah ucapan dengan diselingi isak tangisan, menarik perhatian Canzuo.
Ditatapnya tubuh wanita itu dengan datar. Tak ada ekspresi apapun pada wajah Canzuo, hingga sekarang.
''Angkat wajahmu!, dan bicara dengan benar.'' Perintah Canzuo lagi.
Canzuo berjalan dan mendudukkan tubuhnya, pada sebuah kursi di dalam ruang utama milik selir Gu.
Dan dengan sendirinya semua orang yang disana, memutar tubuh mereka, seraya menghadap kepada Kaisar Muda tersebut.
Pangeran Bai yang sedari tadi hanya diam, ikut berbalik kearah Kaisar Tang.
''Pangeran Bai..aku tidak menyangka, bahwa anda bisa berbuat hal yang cukup signifikan seperti sekarang.'' Lanjut Canzuo, sembari menoleh kearah pangeran ke-4 negri Bai.
Tatapan yang tampak tenang dengan sejuta makna miliknya, seolah tengah mengorek apapun, dari pria yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
Dengan wajah yang diusahakan setenang mungkin, pangeran yang di kenal berbudi pekerti luhur tersebut menjawab. ''In...ini hanya salah faham, kami tidak melakukan apapun.'' Jawab pangeran Bai yang memiliki nama lengkap Bai Tangyi tersebut.
Mendengar ucapan yang mengambang darinya, semua orang melirik kearahnya sejenak, dan berbalik melihat kepada selir Gu.
''Kami?.'' Ucap Canzuo dengan kernyittan pada kening, ketika menirukan ucapan pangeran Bai.
Sebuah penyebutan, untuk mewakili tidak hanya dirinya saja, melainkan menyertakan orang lain bersama dirinya.
Dan didalam keadaan sekarang, menyebut kata kami, berarti pangeran Bai juga membawa nama selir Gu bersamanya.
Sementara itu, bagi selir Gu sendiri, dengan perkataan pangeran negri tetangga tersebut, sebuah jawaban dengan keakuratan tinggi, tentang keabsahan, atas kemurnian dirinya telah di sangsikan.
Wanita itu menghela nafas panjang, dan menatap sang suami dengan sendu.
Ia menyadari segalanya, adalah permainan, serta campur tangan dari Kaisar Canzuo suaminya.
Bagaimana pangeran Bai bisa mengetahui letak paviliunnya, bagaimana dalam waktu yang hampir bersamaan, wanita kesayangan Bai membuat juga hadir disana, bahkan berbuat kericuhan serta mengambil perhatian semua orang.
Dan terlebih lagi, secepat itu pula sang suami sampai disana.
Selir keagungan Gu, tersenyum miris dalam tatapan itu. Baginya, apapun yang akan ia ucapkan, tak akan ada pembuktian, serta orang lain yang akan mendukungnya.
Baik itu pangeran Bai, wanita penari yang mengaku sebagai wanita tercinta dari pria Bai, ataupun Kaisar Canzuo sendiri, tak akan ada dari mereka yang akan menjadi pihak disisinya.
Wanita Gu juga yakin, sang suami Kaisar Canzuo pun, tak akan menjadi pihak putih di dalam permasalahan ini.
Gu qianxue tersenyum sejenak, dan menatap kepada pangeran Bai, yang berdiri tak jauh darinya seraya berucap lirih. ''Bahkan, jika Kaisar wanita ini begitu ingin menyingkirkan selir, mengapa pria dengan kehormatan tinggi seperti Anda, juga terlibat di dalamnya?.''
Wanita itu mengatakan apa yang kini berkecamuk didalam hati. Seakan tak ada lagi hal di dunia ini yang membuatnya takut.
Ada sebuah ketidak nyamanan didalam hati Tangyi, namun dengan segera ia membuangnya, dan ingin mengucapkan sesuatu kepada selir Gu.
Akan tetapi, belum sempat ia membuka mulut, sebuah suara pelan kembali ia dengar.
''Aku tak pernah bermimpi menjadi wanita kaisar, namun begitu tetap kulakukan yang terbaik untuk mencintai, dan mengabdikan diri kepada anda Yang Mulia.''
Selir Gu tampak rapuh dan tak berdaya, bahkan ia sekarang kembali menundukkan kepala, ketika mengatakan semua itu.
''Wanita ini juga mengerti dengan benar, bahwa dirinya hanyalah sebuah simbolik penutup ketakutan, atas kekuatan sang ayah.''
''Tapi....'' Wanita Gu berbicara dengan suara yang tak beraturan. Hal itu dikarenakan, sebuah isakan mulai terdengar sesekali menyelingi perkataanya.
''Tapi pada kenyataannya, selir tengah bersama pria lain.'' Sahut Canzuo sarkas.
Pria tersebut, tampak enggan menatap kearah Gu, bahkan ketika wanita itu tengah menunduk menatap lantai ruangan.
Mendengar keburukan dari bibir Canzuo, selir Gu mengangkat wajahnya.
Ia terkejut sejenak, atas kesangsian kepribadian dirinya dari pria tersebut. Selir Gu menatap kearah Canzuo sejenak, dan beralih menatap kepada Kaisar Bai.
Wanita itu terkekeh kecil. Seolah ia tengah mentertawakan ucapan Canzuo.
__ADS_1
Namun, pada kenyataannya ia justru mengejek kebodohan miliknya sendiri.
Melihat hal itu, ada sebuah ketidak nyamanan serta kesedihan pada wajah pria Bai. Seakan ia tengah melakukan kejahatan yang tak terampuni.
Akan tetapi, dibalik diamnya ia segera menepis perasaan tersebut dengan cepat.
''Jika ada karma dan budi, maka biarlah pria ini menebusnya nanti.'' Pikir Bai Tangyi.
''Apa yang lucu selir, disini yang patut ditertawakan adalah dirimu.'' Ucap Canzuo dengan nada yang mulai meninggi.
Selir Gu masih tetap menampilkan expresi sama seperti sebelumnya.
Dirinya tahu bahwa jika hari ini ia jatuh, maka seluruh marga Gu juga akan jatuh.
Sesungguhnya ada kejutan besar dalam hatinya kini. Namun ia tahu dengan benar, bahwa semuanya akan terjadi cepat ataupun lambat.
Jadi mengapa harus merasakan kekhawatiran, serta ketakutan lebih lama lagi?, bukankah jika hari ini ia tidak bersalah, dan tidak melakukan dosa, maka ia akan hidup di dunia lain dengan kejayaan.
Wanita Gu kembali tersenyum. Ada kekecewaan besar terpancar jelas, dalam sorot mata wanita cantik itu.
''Setidaknya, saya tulus mengabdikan diri kepada anda, jikapun anda mengatakan wanita ini bersalah, maka biarlah menjadi salah.''
Sebuah ucapan dengan penuh penyerahan, serta tanpa perlawanan sama sekali.
Ia merasa lelah, dengan semuanya yang telah ia alami selama ini.
Didalam penglihatan semua orang, Kaisar Canzuo selalu mendukungnya, dalam setiap masalah serta kejadian yang berhubungan dengan kesehariannya di dalam istana.
Namun pada kenyataannya, ia menyadari, bahwa dari sekian masalah yang datang kepadanya, sang suami yang ia kasihilah sumber dari segala kejadian itu.
Setiap ada sebuah kelicikan, kecurangan, bahkan tindakan keji para selir kekaisaran. Kaisar Canzuo mengetahui sebelum kejadian itu terjadi.
Akan tetapi, ia tidak melakukan tindakan pencegahan apapun, untuk melindunginya.
Namun, jika segala sesuatunya telah terbukti dan jelas, pria tersebut akan datang sebagai seorang suami yang melindungi dengan penuh kasih sayang, atas diri Gu qianxue, dan menghukum pelaku dengan kejam.
Seolah ia membenci siapapun yang ingin menyakiti selir Gu.
Padahal, itu ia lakukan karena kekesalan, serta kemarahan atas kebodohan sang pelaku, yang telah gagal mencelakai selir Gu.
''Jadi menurutmu, aku menyalahkanmu dengan sepihak.'' Ucap Canzuo lagi.
Namun kali ini, pria tersebut menunjukan kemarahan yang mulai tak terkontrol.
Bahkan, sebagai lapisan kekesalannya, Canzuo melemparkan cangkir teh di atas meja.
''Prang ...''
Melihat hal tersebut, semua pelayan yang disana semakin menunduk ketakutan.
''Apa kau pikir, aku memanjakanmu karena kekuatan jendral Gu.'' Lanjutnya kembali.
__ADS_1
Mendengar nama sang ayah di sebut, Qiaxue kembali mengangkat kepalanya dan menatap pria itu tajam.
''Bukankah demikian Yang Mulia?.'' Jawabnya tegas..