Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 111 Terkasih.


__ADS_3

Di penginapan Nancang.


Aku dengan keegoisanku....


Tak ingin menjadi layaknya buih diantara air samudra, berjalan bersama dan menghilang tanpa jejak.


Aku akan rasaku....


Enggan menjadi deburan ombak, yang berdebur hebat, namun kalah dan pecah di tepi pantai.


Aku dengan kecemburuanku....Menutup mata, Saat banyak rasa karam, serta menghilang kedalam hatimu.


Aku dengan curigaku....membalik badan atas buih mengambang, yang berlagu cepat bersamamu, menunggu hingga ia lenyap tak berbekas.


Aku....dengan keegoisanku..


Dapat mengabaikan, karang yang menyambut deburan ombakmu, memecah gelombang di tepi lautan.


Aku dengan cintaku...


Hanya ingin menjadi air, dan angin bagi samudra hatimu, selalu setia bersama, melukis pantulan biru langit, serta deburan ombak dibawah merahnya senja.


Meniupkan aroma rasa dari kedalaman relung hati yang tersembunyi.


Namun...mengapa dengan kekukuhan itu, hati ku masih gelisah serta ragu, atas kedalaman relung sanubarimu?.


*Jiang jing wei*


Seorang Pria dengan gagah, mengangkat tubuh seorang wanita, dari dalam sebuah pemandian kolam air panas.


Tampak jelas kelelahan dari tubuh sang wanita tersebut.


Namun, sebuah kebahagian tergambar jelas, pada wajah cantiknya yang kini tengah terlelap.


Wanita yang tak lain adalah Ziaruo itu, tertidur saat menikmati kolam pemandian, diatas pangkuan sang suami.


Jing membawa tubuh sang Permaisuri, dengan sangat hati hati. Seolah kini dirinya tengah membawa sesuatu yang teramat berharga.


Pria tersebut hanya meraih selimut lebar untuk menutup tubuh keduanya, sebelum membawa sang Permaisuri menuju ranjang, membaringkannya disana, dan ikut merebahkan tubuh gagahnya juga.


Kaisar Jing, masih merasakan kecemasan serta ketidak nyamanan, saat memejamkan matanya, ia mengingat permintaan sang Permaisuri beberapa saat yang lalu.


Dengan helaan nafas, Pria tersebut memiringkan tubuhnya. Perlahan tanganya memeluk tubuh Ziaruo, dan bergumam lirih. ''Yun...haruskah itu kau lakukan?.''


Kaisar Jing semakin mengeratkan pelukan, ada perasaan tidak nyaman yang semakin menghimpit hatinya, dengan suara yang masih lirih, ia kembali berucap.''Sepertinya...aku tidak rela jika kau melakukannya.''


''Apakah aku terlalu picik?, apakah aku kelewat pencemburu?. Yun....bahkan jika itu orang lain, aku tetap tidak menyukainya, terlebih ini adalah dia, jadi....bisakah kau tidak melakukannya.'' Lanjut Jing, sembari memeluk tubuh Ziaruo erat, ada gelisah serta ketakutan pada setiap penggalan kata kata itu.


Dan, Ziaruo mengerti serta memahami semuanya. Wanita itu hanya diam saja, ketika mendengar sang suami, mulai membuka mulutnya sejak awal tadi.


Ziaruo ingin mendengar sendiri, tentang tanggapan, serta keluh kesah dalam hatinya.


Tepat saat Jing, menyelesaikan ucapannya, wanita itu ikut memiringkan tubuh, tepat menghadap kepada sang suami.


Sebuah senyum terukir pada bibir wanita cantik itu, dengan lembut membelai wajah sang kaisar, dan mulai berucap. ''Katakan apapun yang anda pikirkan, katakan apapun itu...''

__ADS_1


Ziaruo mengecup lembut kedua mata Kaisar Jing sesaat. Bagi wanita tersebut, mata itu terlalu indah, untuk sebuah kecurigaan kepada dirinya, Ziaruo juga menyayangkan, ketika manik teduh sang suami, menatapnya dengan ragu ragu.


''Apakah anda masih belum yakin, dengan saya Yang Mulia?.'' Lanjutnya.


Wanita tersebut beralih meletakkan kepala Kaisar Jing pada dadanya, manakala sang pria semakin meringsekan tubuhnya rendah, serta memeluknya erat.


''Aku mempercayaimu...'' Jawab Jing lirih.


''Justru aku tidak memepecayai diriku sendiri Yun..., aku takut tak bisa mengontrol emosiku, aku takut membuatmu kecewa, dan.... Dan aku takut kau lelah serta menyerah dengan kasih sayangku.'' Lanjut Jing, masih dengan nada lirihnya.


''Aku hanya tidak ingin kau menyerah, dan menghilang dari hidupku, Aku sangat mencintaimu.... membayangkan kau bersama orang lain, dadaku terasa sesak.'' Lanjut Jing kembali.


Mendengar ucapan Jujur kaisar Jing, Ziaruo semakin memeluknya erat, mencium aroma rambut Kaisar tersebut beberapa kali.


Pria dengan arogansi tinggi serta dikenal sebagai pria dingin dan kejam itu, bahkan sudah tak terhitung lagi, berapa kali ia mengucapkan kata Cinta untuk dirinya.


Dan wajar bagi Jing merasa ketakutan, karena sejak pernikahan hingga sekarang, Ziaruo tak pernah sekalipun mengatakan, bahwa ia mencintai pria tersebut.


Sementara Kaisar itupun, takut untuk menanyakan kepada sang Permaisuri, tentang perasaannya.


Bagaimanapun, Jing masih jelas mengingat bahwa pernikahan itu, memang tanpa landasan cinta dari kedua belah pihak.


''Heeeeeeh...'' Permaisuri Yun menghela nafas sejenak.


Ada sebuah pemikiran yang tak dapat disangkalnya, bahwa segalanya adalah sah bagi pria itu, mengizinkan atau tidak, atas setiap tindakan yang akan ia lakukan.


''Lalu apa yang dapat aku lakukan, Jika terjadi sesuatu kepadanya, maka tubuh ini juga tidak dapat bertahan.'' Ucap Ziaruo kembali.


Mendengar hal itu, Jing juga serba salah.


Kaisar Jing terdiam....


''Aku sangat mencintaimu Yun, bahkan membayangkan kau bersamanya saja, seolah mencekik leherku, aku lebih memilih berperang dengan ribuan prajurit, dibanding harus bergulat dengan kegelisahan, serta ketakutan seperti ini... ...'' Gumam dalam hatinya.


Mendengar pemikiran tersebut, ada gejolak didalam hati Ziaruo. Dengan perlahan ia mengangkat dagu Kaisar Jing, membawa wajah itu mendongak keatas, menatap wajahnya lekat.


Sebuah senyum tersungging lembut pada wajah sang Permaisuri.


''Aku tahu...anda menyayangi wanita ini. Bahkan jika semua udara disini, dapat berkata, mereka hanya akan menggumamkan debaran hati anda untuk saya, Terimakasih....'' Ucap Ziaruo lembut, sembari mengusap bibir Jing perlahan, mata coklatnya, ikut fokus kearah bibir tersebut.


Mendapat perlakuan demikian, Jing yang sejak tadi menahan keinginannya, kembali merasakan gejolak. Nafasnya mulai tak beraturan, tatapan matanya menjadi lebih tajam serta liar, bahkan hembusan nafasnya terasa lebih hangat dari biasanya.


Ziaruo memahami apa yang ada didalam hati serta pikiran sang suami. Dengan penuh kelembutan ia men*ium lembut bibir jing, Mel*m*tnya perlahan, serta melakukan gerakan gerakan sen*ual nan ajaib dengan tangannya.


Dalam benak Ziaruo berharap, segalanya akan jauh lebih baik setelah ini. Jing suaminya akan lebih memahami, bahwa ia adalah wanitanya, tak perlu ada rasa takut atas pria lain, yang pernah ada didalam kehidupnya terdahulu.


*Flash back on*


Di balik gelora hati Jing yang tengah meletup letup, serta nuansa jingga gair*hnya, Penguasa tersebut kembali terhenyak.


"Jika kau tidak ke istana, lalu kemana kau pergi tadi Yun?, jawab aku Yun...Yuuuuun..." Tanya Jing, dengan suara yang agak keras, karena melihat Ziaruo, yang mulai menghilang dibalik pintu ruangan.


Pria tersebut berjalan cepat, menyusul sang permaisuri menuju kepemandian.


''Yuuun....''

__ADS_1


Mendengar teriakan sang suami, Ziaruo hanya diam, ia melepaskan setiap helaian baju yang melekat seharian ditubuh rampingnya.


Bahkan, Ziaruo tetap melangkah masuk kedalam kolam ari panas, meski dilihatnya Kaisar itu, tengah berjalan cepat kearahnya.


''Berhenti disana... Aku ingin bicara!." Pekik Jing sembari berjalan mendekat.


Ziaruo menoleh sejenak kepada pria itu, dengan suara setengah bercanda ia menjawab. "Ia setelah saya masuk kedalam air, pasti berhenti( berendam).''


Mendengar jawaban itu, Kaisar jing menjadi kehilangan akal, dan berseru dengan suara agak keras. ''Aku bilang berhenti...!, cepat berbalik...!, ada yang ingin kutanyakan..cepat kemari!.''


''Braaak...'' Suara pintu ruangan dibuka.


Mendengar Kaisar Jing dengan suara agak keras, Wuhan yang berada di luar ruangan membuka pintu dengan cepat, ia hendak masuk kedalam, memastikan keselamatan sang tuan dan Permaisuri.


Akan tetapi, sebuah suara menghentikan langkahnya. ''Tidak apa apa Wuhan, kau jangan masuk.''


Sebuah suara dari seseorang yang sangat ia kenal. Dan merupakan perintah yang harus di patuhi oleh pria tersebut.


''Baik Yang Mulia...hamba berada di luar ruangan.'' Ucap Wuhan, dengan maksud menunjukan posisi keberadaannya.


Wuhan kembali keluar dan menutup pintu, ada sedikit gurat tak terbaca pada wajahnya.


Sementara itu, melihat sang Permaisuri semakin berjalan ke tengah kolam, Kaisar Jing melepas semua pakaiannya, pria tersebut ikut masuk kedalam kolam air panas, yang berada di balik ruang tidurnya.


Ziaruo tersenyum, saat melihat sang suami ikut masuk, ada raut kemenangan pada wajah cantik wanita itu.


''Katakan!, kemana kau pergi?, dan dengan siapa?.'' Tanya Jiang jing wei, sembari meraih tangan Ziaruo.


Mendapat tarikan tangan dari suaminya, Ziaruo justru merebahkan tubuh, kearah tubuh sang suami, sembari menjawab. ''Saya pergi kehutan barat bersama kakak.''


Mendengar jawaban itu, Jing terdiam sejenak, ia tidak mungkin akan terkejut, dengan perjalan singkat sang istri ketempat tempat jauh, dengan jarak tempuh berhari hari dalam waktu singkat.


Bahkan tempo hari, ia juga sudah ikut mengalaminya.


Jing mengerutkan kening, dan kembali bertanya. ''Apa kau mengunjungi makamnya?.''


Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo menempelkan kepalanya didada sang Kaisar, dan menjawab dengan lirih. '' Eeemmm.''


Kaisar Jing membawa tubuh permaiauri Yun, keatas pangkuannya, membasuh tubuh putih itu dengan air hanggat, mengusapnya lembut, serta beberapa kali juga mencuri ciuman pada pundak wanita tersebut.


Dengan suara pelan Jing kembali bertanya.''Apakah kau masih memikirkan dia (Gutingye)?.''


Ziaruo mendongak, menatap wajah itu lekat, dengan sebuah senyuman ia menjawab. ''Apakah anda juga cemburu, dengan sebuah pusara Yang Mulia?.''


''Huuuuh..'' Jing mendengus kasar.


''Kau benar...Aku cemburu, bahkan kau selalu mengunjunginya.'' Jawab Jing dengan raut wajah kesal.


''Hahaha...hahaha..''


''Mengapa suami terkasihku, bahkan cemburu dengan sebuah gundukan tanah hutan, anda sungguh menggemaskan Yang Mulia.'' Ucap Ziaruo disela tawa riangnya.


Mendengar ucapan itu, hati Jing berbunga.


''Terkasih...'' Gumam Jing dalam hati, dengan kebahagiaan yang tercetak pada wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2