
Ziaruo meraih pakaian yang berserakan di lantai, memakainya dan merapikan diri sendiri.
Wanita itu berdiri mematung, memandang ranjang dengan sosok tubuh di atasnya sejenak, sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu ruangan.
Seberat apa penderitaan wanita Yun melangkah keluar, seberat itu pula yang dirasakan oleh hati pada tubuh, yang kini berbaring di atas ranjang.
Tubuh itu hanya bergerak perlahan, mengalungkan kedua tangan untuk memeluk diri sendiri.
Dari kedua ujung mata, mengalir bulir-bulir bening dengan deras.
Jing menagis dengan suara yang di tahan.
Sesungguhnya ia terjaga bahkan ketika kelelahan, dengan pergulatan kebahagiaan mereka.
Ia melarang, dan berusaha keras untuk dirinya, agar tidak tertidur.
Ia mengerti, memahami, merasakan, mendengar, dan melihat kepergian Ziaruo dengan kebungkaman.
Ia juga ingin memeluk, menangis, dan merengkuh tubuh sang istri, serta berkeinginan besar mencegahnya pergi.
Akan tetapi, jika itu ia lakukan maka, Ziaruo akan semakin kesulitan untuk memutuskan melangkah, dan menjalani hari kedepan.
Jing tak ingin membebani sang istri, dengan kepedihan hatinya.
Biarlah dia hancur sekarang, demi untuk meringankan langkah wanita tercinta, serta berharap dewa tergugah melihat ketulusan cinta dan pengorbanannya.
Jing masih meringkuk di atas ranjang, dengan mulut yang ia tutup selimut.
Sehingga tangisan kepedihan hatinya, tak mewarnai langkah kepergian Ziaruo.
Di atas ranjang, tepatnya di samping tubuhnya, ia melihat benda seukuran dua kali besar telapak tangan, dengan kilau bening di permukaan.
''Cermin air bulan.'' Sebut Jing, dengan isak tangis yang kian menjadi.
Ia meraih benda tersebut, dan kembali bergumam. ''Bagaimana aku akan puas dengan ini Yun, bagaimana aku melalui hari-hari tanpamu?.'' Masih dengan di selingi tangisan.
Kebahagiaan Jing beberapa tahun ini, ibarat mimpi panjang yang indah.
Obat ajaib, yang menyapu luka atas pengkhianatan orang terdekat, serta membangkitkan kepercayaan, atas sebuah kemurnian hati yang saling mengasihi, tanpa pamrih dan keegoisan.
Namun, mengapa ia harus terbangun dan merintih sakit dengan kepedihan sebuah perpisahan.
Sebagai seorang pria dengan hati tulus mengasihi, Jing hancur hingga hampir kebatas yang tak dapat ia tanggung.
Kisahnya ibarat Angin musim semi menyapa sejuk bulan lalu, yang bersiap menunggu datangnya musim dingin panjang di hari mendatang.
Begitu cepat berlalu, tanpa meninggalkan debu musim gugur hari ini.
Kilasan kisah cinta yang menghampiri, merajut mimpi dengan berbunga melodi bahagia.
Kasih sayang tulus yang mengukuhkan atas rasa keduanya, menautkan tujuan bersama, serta membesarkan hati dengan kerinduan.
Dan ketika asa tak bersua, janji tak lagi terpatri, hatinya terukir luka serta hancur tak tersisa.
Meski demikian, dibalik tangisan yang ia tahan, Jing masih menyisakan sebuah harapan.
Bahwa saat usia masih terjaga, dengan hati dalam tubuh bersabar, menunggu waktu yang akan menjembatani asa, rasa, dan membesarkan kuncup harapan, atas indahnya musim semi di tahun-tahun mendatang, untuk sebuah perjumpaan.
__ADS_1
Jiang jing wei masih meringkuk dengan kesedihannya, hingga di hari kedua sejak kepergian Yun-nya.
Di saat itulah, sebuah suara lembut memanggil nama pria itu samar.
''Jing...''
Cermin air bulan yang ia dekap, menampilkan cahaya kemilau yang sangat terang.
..............
Hari merambat, pagi bergulir kesenja, dan siang berubah menjadi malam.
Tanpa terasa 7 hari telah berlalu.
Meninggalkan kekaisaran Zing yang masih membisu, dengan kekokohan dindingnya yang tinggi, serta kisah kesedihan Jiang jing wei.
Di perbatasan istana kota kekaisaran Tang, rombongan Ziaruo(Wanita Gu) telah tiba di depan pintu gerbang, yang menjulang tinggi.
Seorang jendral muda, yang memimpin rombongan turun dari kuda, mendekat kearah kereta.
''Yang mulia.'' Panggilnya sopan.
''Sebentar lagi, kita akan memasuki istana kekaisaran, apakah paduka membutuhkan sesuatu?.'' Lanjut sang jendral, masih dengan nada sopan.
Ia tak memiliki maksud apapun. Hanya ingin mengetahui, jika saja sang calon permaisuri dari kaisar tersebut, memerlukan waktu untuk berbenah diri.
Maklum saja bagi seorang wanita, penampilan adalah yang di utamakan. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh sang jendral.
Terlebih lagi, dengan kelelahan perjalanan panjang, yang memakan waktu hingga 7 hari ini.
*(Mandi serta bersiap-siap untuk tampil sebaik mungkin).*
Akan tetapi, ia tidak menyadari tampilan gelap dari wanita di dalam kereta.
Wajah dengan kelelahan selama perjalanan, semakin menggelap ketika mendengar apa yang ia sampaikan.
Bagaimana mungkin, wanita Gu akan berintuisi untuk tampil sebaik mungkin, demi untu hadir di depan Canzuo.
Seorang pria yang sangat ia benci hingga ketulang sumsumnya.
Dengan kebencian itu, bahkan dapat di gambarkan, ia ingin datang ke hadapan pria tersebut, sebagai binatang pemburu kejam, yang akan menelan Canzuo hidup-hidup dalam satu lahapan, serta tak akan memuntahkan tulangnya barang sepotongpun.
Akan tetapi, ia hanya wanita biasa dan bukan sebuah naga raksasa, yang dapat mewujudkan keinginan konyol tersebut.
Dengan identitas sebagai Ziaruo, ia datang kesana maka dengan kecantikan itulah, ia harus menghancurkan Canzuo hingga kebatas yang terburuk.
Wanita Gu menghela nafas pangjang sejenak. ia berusaha menenangkan hati yang membara dengan kebencian, sebelum menyahuti. ''Aku akan bersiap nanti, ketika sudah tiba di istana.''
Mendengar jawaban dari dalam kereta, yang seolah menampilkan keengganan, ia menjawab dengan singkat, meski ada sedikit pemikiran. ''Baik..''
Setelah mengatakan hal tersebut, jendral muda itu kembali menaiki tunggangannya, serta memacunya perlahan.
Ia mendatangi penjaga pintu gerbang, dan menunjukan sebuah plakat.
Tak membutuhkan waktu yang lama, dari kejauhan para prajurit pengawal rombongan, melihat sang jendral melambaikan tangan.
Dan secara otomatis, penjaga dalam baris depan kereta berseru. ''Jaalan!.''
__ADS_1
Setelah seruan tersebut, Ziaruo merasakan gerbong keretanya mulai bergerak.
Perlahan tangannya mulai meraba perut yang sedikit mulai membesar. Hatinya memiliki sedikit kegetiran, dan matanya berkaca-kaca.
''Aku kembali, bahkan sebelum lukaku mengering.''
''Canzuo, dengan obat apapun luka ini tidak akan pernah dapat di sembuhkan, kecuali ....''
Dari bibirnya tersungging sebuah senyum tipis.
Namun, dengan bulir bening yang menetes di pipi. wajah itu tampak kontras.
Tak ada yang dapat menebak tentang arti senyum dan tangisan itu.
Tidak juga, kedua pelayan di sampingnya, yang sedikit banyak telah mengetahui tentang apa, dan mengapa ia datang kesana.
Namun, dengan apa yang di perintahkan oleh Jing jing wei, serta pemahaman keduanya yang mengetahui bahwa, wanita itu bukan ratu mereka.
Kedua pelayan yang tak lain adalah Hanrui dan Xiobai tersebut, diam tak bergeming.
Mereka hanya akan memastikan keselamatan Gu, hingga sampai di istana saja.
Tak ada sangkut paut, atas kesedihan serta polemik, dari wanita dengan wajah sang tuan di depannya saat ini.
Jika saja, ia tidak menimbang dalam misi pengamanan, serta posisi wanita itu yang terkait oleh rencana kaisar Jing.
Mungkin kedua penjaga pribadi Ziaruo tersebut, akan dengan senang hati menguliti wajah peniru ratu mereka, dengan segera.
Karena, dalam hati Hanrui dan Xiobai, keduanya membenci wajah itu sekarang dan tak ingin berkompromi, jika ada wanita manapun mengenakan wajah sang majikan.
Tidak juga wanita Gu, yang secara tak langsung telah menjadi ipar dari Ziaruo, melalui pernikahan terdahulu dengan Gutingye.
Namun, keduanya harus bersabar untuk etika tugas, dan menghentikan kemarahan, serta keinginan dihati mereka.
Sementara itu, Ziaruo di hadapan mereka yang tak mengetahui kebencian di sekitarnya, masih berkutat dengan pikiran sendiri.
Dan jikapun, ia mengetahui segalanya adalah sepadan baginya.
Hanya dengan kemarahan pelayan-pelayan itu, ia dapat sampai di tempat tujuan yang ia inginkan, bukan sebuah hal besar baginya.
Lebih-lebih, gagasan itu berasal dari sang pemilik wajah sendiri, selama ia mematuhi persyaratan dari Ziaruo dan kaisar Jing, wanita Gu tak memiliki rasa bersalah sama sekali.
Dan poin pentingnya, meski wajah itu sama.
Gu tak memiliki penglihatan tajam untuk membaca pikiran orang lain, jadi secara otomatis ia tak memahami kegeraman kedua pelayan di sampingnya.
''Putraku...kita sudah kembali.''
''Dan segalanya akan menjadi milikmu, bukan orang lain, bukan juga dirinya (Canzuo)."
.................
Sementara itu.
Di istana kekaisaran, Canzuo yang telah menerima kabar tentang kedatangan dari Ziaruo, menampilkan senyuman berulang-ulang kali.
''Akhirnya kau datang Ruoer.''
__ADS_1