Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
241. Pewaris Xia.1


__ADS_3

Namun sedetik kemudian, sebuah bayangan muncul entah dari mana, dan dengan ketenangan menyahuti pertanyaan tersebut. ''Itu bisa menjelaskan segalanya pewaris."


"Kau benar. Jika itu dia, segalanya pasti mungkin.


Sosok dengan keindahan yang seperti itu, hanya bisa menjadi sosoknya saja.'' Sambung pewaris Xia.


Ada sorot kekaguman di mata tersebut, ketika menyebut seseorang yang kini melintas dalam benak.


Bahkan, pria yang di panggil sebagai pewaris itu menghentikan gerakan tangan, ketika mengingat sesosok wajah yang telah membuatnya tercengang kemarin.


Namun, itu tak berlangsung lama.


Dalam satu tarikan nafas, ia telah bisa mengembalikan ekspresi tenang di wajah tampannya.


"Menurutmu, perlukah kita melanjutkan kunjungan ke Tang?, seperti yang telah di sampaikan kemarin, pria itu pasti masih disana."


Pewaris Xia berdiri dari duduk, dan berjalan menuju jendela kamar.


Matanya yang tajam menatap kosong, kearah pohon hias taman di samping ruangannya.


Ada sedikit rasa sendu dalam tatapan itu. Dan sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum tipis, yang tak dapat di pahami maknanya.


Baidu menunduk, ia tak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan sang tuan.


Bagaimanapun, ia menyadari suatu rencana ataupun keputusan akan hanya dapat di tentukan oleh pria tersebut, bukan dirinya.


Dan tentang pertanyaan barusan, ia berpura-pura untuk tidak mendengar.


Hanya dengan begitu, pria Baidu tak perlu repot untuk memberi jawaban, ataupun takut salah bicara.


''Jika Dia masih disana, sebaik apapun rencana kita semua akan sia-sia." Lanjutnya lagi.


Ada nada sedikit kecewa, dalam pendengaran Baidu, dan Ia memahami situasi serta kesulitan, yang kini di hadapi oleh tuanya tersebut.


''Tapi jika kita menunggu lebih lama lagi, aku yakin Ruiyin bodoh itu, akan merusak segalanya."


"Apakah belum ada jejaknya sama sekali?."


Mendengar pertanyaan tersebut, Baidu merasa bersalah dan tidak kompeten. Dengan posisi masih menunduk ia menjawab. " Pelayan tidak kompeten tuan, hanya dapat menemukan jejak terakhir bahwa selir telah menjual kudanya di pusat perdagangan ternak, dan secara kebetulan di beli oleh wanita itu.''


Suara Baidu terjeda sejenak, ia bergulat dengan pikiran serta hatinya.


Apa ia harus mengatakan suatu berita lain yang ia ketahui atau tidak, kepada pria di depannya tersebut.


Namun tanpa ia sadari, mimik wajah gelisah miliknya telah tertangkap penglihatan tajam sang pewaris.


''Apa ada sesuatu yang lain?."


Mata Xia yang seperti elang pemburu, kini terfokus pada tubuh Baidu, dan hal tersebut semakin membuat penjaga paruh baya di sana, kelimpungan dengan sikap yang tak biasa.

__ADS_1


"Jika itu tak dapat di ungkapkan, jangan membuatku mengetahuinya hingga akhir. Atau kau akan menyesal."


Pewaris Xia menunjukan sedikit rasa ketidaksenangan, untuk sikap bimbang Baidu.


Dan dalam sekejap saja, penilaian Xia tentang kesetiaan sosok di depannya, telah goyah.


Pikiran memang demikian, sesuatu yang mengabdi puluhan tahun, bahkan jika itu sejak dilahirkan telah menjadi setia, sekalinya mata menangkap kebimbangan serta keragu-raguan, semuanya akan memicu keterasingan.


Terlebih lagi, sosok seorang pewaris dalam era kuno yang memiliki banyak pesaing. Di mana sebuah loyalitas orang terdekat, akan menentukan titik akhir keberhasilan, serta berpengaruh besar untuk keselamatan hidupnya.


Mendapat perkataan yang demikian Baidu menyadari, bahwa ia telah menimbulkan pikiran salah paham untuk sang tuan.


Dengan cepat, Ia menjatuhkan diri dan berkata dengan cepat. "Maafkan pelayan, selama penyelidikan juga telah di ketahui, bahwa Nyonya muda Ruiyin, memperoleh bantuan dari seseorang."


Baidu mengambil jeda sejenak, ia menoleh ke kiri dan ke kanan sekilas sebelum bangkit, dan mendekat kearah sang tuan.


Setelah tubuh itu memperoleh jarak yang di inginkan, Baidu membungkuk kesamping Xia, dan membisikan sesuatu.


Dalam sepersekian detik, wajah pria di sana berubah pekat, mata tajamnya membulat kilatan sekilas.


Namun, dalam sekejap kembali terlihat biasa.


''Ternyata itu yang membuatmu ragu. Lain kali jangan menguji kesabaran pria ini dengan bersikap bodoh." Ucap Xia, setelah Baidu memundurkan tubuh beberapa langkah.


Pikiran pewaris Xia kembali merasa lega untuk Baidu, namun itu bukan untuk sesuatu yang baru di dengarnya barusan.


''Sepertinya Dia telah enggan berkerja sama dengan saudara Xia ini. Bahkan, telah berani menyentuh wanita yang berada di sampingku.


''Pelayan menerima perintah." Jawab Baidu dengan tegas, sebelum melesat pergi dari sana.


Setelah kepergian penjaga terpercayanya, pewaris Xia kembali memutar cangkir di tangan.


''Cketak...cletak..cletak." Entah mengapa suara berderak dari putaran cangkir di atas meja, menjadi semakin menajamkan keheningan ruangan tersebut.


Sorot mata itu terkubur dengan dindingnya yang tertutup. Sedetik...dua detik...bahkan hingga puluhan detik mata itu masih tertutup rapat.


Seolah, sosok disana menampilkan seorang fanatik gila, yang tengah menikmati buaian keindahan terbaik yang menjadi minatnya.


Namun itu tak menghabiskan banyak waktu lama. Kurang lebih seperempat batang dupa, mata itu mulai terbuka.


Wajah pewaris yang tampan, kini telah jauh lebih tenang.


Bahkan, sebuah tarikan bibir kecil juga menghiasi wajah tersebut.


''Ayah...sudah saatnya aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Apa Anda akan senang?."


''Dan....Racun di tubuh ini, sepertinya juga tak membutuhkan waktu lama untuk di bersihkan, putramu telah melihat sedikit harapan."


Wajah pewaris Xia semakin melembut, ketika melanjutkan bait kalimat terakhir.

__ADS_1


Dalam kilas ingatan tentang pertemuan dirinya dan Ziaruo kemarin, pewaris Xia semakin menampilkan sosok diri sendiri, yang tak jauh berbeda dengan pria pada umumnya.


''Aku percaya, bahwa kabar tentang kehebatannya dalam penyembuhan seperti yang di rumorkan. Dan racun di tubuhku bukanlah hal sulit untuk wanita itu. Jadi Anda tak perlu merasa cemas lagi.'' Lanjut pewaris Xia dalam diam.


..................


Pewaris Xia adalah putra dari pangeran ke 6, kekaisaran Tang terdahulu, kaisar generasi kedua di atas Canzuo.


Sebagai keturunan dari seorang selir, kehidupan pangeran ke 6 di istana bukanlah suatu kemudahan dan keagungan, seperti apa yang di gambarkan untuk statusnya oleh orang banyak.


Meski ia telah bersikap diam dan menjauh dari politik pemerintahan, tetap saja darah yang mengalir di tubuh itu memicu pertikaian diantara setiap saudara kekaisaran miliknya.


Terlebih lagi, dengan rasa sayang kaisar yang berkuasa di masa itu, yang sangat menyayangi ibunda selirnya, tatapan serta rencana buruk mengalir tiada henti.


Meski dengan perlindungan dari kaisar sang ayah, dengan banyaknya mata yang membidik, pada akhirnya sang ibunda kandung meninggal akibat keracunan.


Namun, itu bukan akhir segalanya.


Menyaksikan wanita yang di kasihi meninggalkan sosok putra dengan usia masih muda, kaisar dimasa itu sedikit memberikan perhatian lebih untuk pangeran ke 6, yang di rasa cukup memprihatinkan.


Ia akan membawa putra ke 6 nya tersebut sesekali untuk berkuda, membawanya berburu, mengajarinya secara pribadi di ruang kerjanya, dan bahkan beberapa kali membawanya untuk tidur di ranjang tidur kaisar miliknya.


Kaisar di masa itu berpikir, bahwa apapun tindakan yang ia lakukan adalah, untuk mengganti kasih sayang sang ibu yang telah pergi.


Di lain pemikiran, ia juga melampiaskan kerinduannya untuk wanita yang dicintainya, dengan menghabiskan waktu bersama putra mereka.


Namun, apapun yang ia anggap baik belum tentu sama untuk orang lain.


Dengan perlakuan yang demikian, baik kaisar di masa itu berniat untuk menjadikan pangeran ke 6 sebagai penerus, atau sekedar mencurahkan kasih sayang, dalam pandangan orang di sekitarnya hal tersebut memancing kecemburuan yang hebat.


Kebencian untuk selir ibu kandung pangeran ke 6, memang telah rampung. Namun, ketakutan serta kebencian atas kasih sayang pangeran ke 6 dari kaisar, semakin banyak bermunculan.


Kehidupan pangeran ke 6 mulai mendapat banyak masalah, dari rencana pembunuhan, jebakan keburukan, jebakan ranjang, bahkan pengaruh perilaku asusila telah ia peroleh sejak usia masih muda.


Hingga berbuntut pada kemarahan kaisar atas tindakan pangeran ke 6, setelah mengetahui bahwa pelayan kecil yang dulu menemani ibundanya, dan di tempatkan sebagai pengasuh di sisinya, telah hamil atas darah daging dari sang pangeran ke 6.


Namun, mengingat itu adalah darah keturunan dari diri sendiri, kaisar tidak menjatuhkan hukuman berat kepada pangeran ke 6, ia hanya menerima kurungan rumah saja.


Setelah kejadian itu, sejenak kemalangan pangeran ke 6 terjeda.


Akan tetapi, hal itu kembali terjadi ketika rumor mengatakan bahwa Kaisar ingin menjadikan pangeran ke 6, sebagai seorang putra mahkota pewaris tahta miliknya.


Lagi-lagi sebuah kejadian buruk menimpa sang pangeran. Di usianya yang ke tujuh belas, ia telah di culik dan di jatuhkan ke dasar jurang oleh orang asing, selama festival perburuan istana yang diadakan 1 tahun sekali.


Dengan upaya keras, pada akhirnya ia di temukan dan nyawanya tertolong.


Namun, dari kejadian tersebut sosoknya yang gagah, dan mulai bertumbuh dewasa menjadi tubuh lumpuh dan tak berguna.


Meski kaisar telah menghukum penjahat terkait yang di curigai, dan berusaha sekuat tenaga menyembuhkan pangeran ke 6, sosok sang putra tidak dapat di pulihkan lagi.

__ADS_1


Kaisar pada akhirnya, kehilangan kasih sayangnya sejak hal itu terjadi.


Bahkan, ia juga mengirim pangeran ke 6 keluar dari istana, untuk tinggal bersama keluarga sang ibu di wilayah selatan batas kekaisaran.


__ADS_2