
Sementara itu di kekaisaran Xili.
Seorang Pria dengan wajah penuh ketenangngan, melakangkah menuju sebuah ruangan yang cukup terpencil diantara bangunan megah istana.
Dengan langkah tegas dan tenangnya ia membuka pintu, berjalan masuk serta menyapa penghuni baru ruangan tersebut.
''Bagaimana istirahat anda tuan Wangde?, maaf baru bisa menyapa anda sekarang.''
Mendengar ucapan tersebut, pria yang tak lain adalah Wangde itu, berdiri dari duduknya dan memberi hormat. ''Hormat hamba Yang Mulia, semoga anda panjang umur dan selalu bermurah hati.''
''Mendengar perkataan itu, Murongyu tertawa, dan berkata. '' haha...haha..haha, anda menyindirku tuan Wangde, haha..hahaha.''
''Bagaimana pelayan rendahan seperti hamba, berani melakukannya Yang Mulia, bahkan jika nyawa hamba lebih dari satu, akan jauh bijak untuk menyimpannya baik baik.'' Jawab pria itu berkelit, yang pada dasarnya memang telah sengaja, memberikan sebuah sindiran dengan ucapannya.
''Apa yang tidak bisa anda lakukan?, bahkan kalian berani melucuti keluarga kekaisaran, dan memakaikan pakaian pelayan kepadanya, bagaimana apakah itu menyenangkan?.'' Tanya Murongyu kembali.
Pria pengusa Xili itu, mendudukan tubuhnya pada sebuah kursi disana, ia tampak biasa dan tenang, sesaat setelah tubuh itu nyaman dengan posisinya, ia meminta sang pria untuk ikut duduk.
''Jangan hanya berdiri duduklah, ada yang ingin kutanyakan.'' Murongyu.
Mendengar perintah itu, Wangde memilih kursi tepat didepan sang Kaisar, tubuh tegaknya tampak gagah, namun dengan mata yang menunduk menatap kearah lain.
Bagaimanapun pria di depannya adalah kaisar negri ini, sebuah negri dimana sang majikan melakukan perdagangan, dan tentu saja ia tak boleh membuat masalah, dengan pria didepannya tersebut, demi kelancaran dan keamanan bersama.
Wangde adalah seorang Pria dengan integritas serta kemampuan beladiri tinggi, pria itu menjadi kepercayaan Ziaruo, sejak ia pertama bergabung dengannya.
Wangde yang memiliki masa lalu kelam, serta sejarah kekejaman dalam hidupnya, memang tak pernah menaruh rasa takut sama sekali dengan siapapun, bahkan terkadang ia juga sering menentang perintah Yongyu, jika pendapat mereka bertentangan.
Akan tetapi, ia selalu menurut dan menjalankan perintah Ziaruo tanpa bantahan, meskipun masih ada, pertanyaan serta kebingungan dalam perintah tersebut.
Karena baginya majikannya itu tak pernah melakukan kesalahan. Dan dengan bahasa lain, hingga sekarang Wangde tidak benar benar menganggap Yongyu sebagai majikan, melainkan hanya menghormatinya sebagai saudara dari tuannya, dan bila perlu ia akan berpikir bahwa Yongyu adalah amanah dari sang tuan untuk dijaga.
Di dalam kesetian Wangde, Yongyu hanya tuan dalam silsilah hubungan dengan majikannya ( Ziaruo), tetap dihormati oleh Wangde, bahkan pria tersebut akan mengutamakan keselamatan Yongyu diatas keselamatannya, namun dalam kajian sebagai bukti kesetiaannya, menjaga saudara dari Ziaruo tuannya, dan tidak akan dipatuhi dalam hal prioritas kerja.
Kaisar Murongyu tersenyum kearah Pria yang kini duduk didepannya, dengan tenang ia mulai berkata. ''Aku tak menyangka pria hebat seperti anda, akan bersedia menjadi pengurus penginapan di Nancang?.''
__ADS_1
Mendengar ucapan tersebut, Wangde mengangkat kepala, menatap pria didepannya tepat pada manik mata, dengan pelan namun tegas ia menjawab. ''Oh..ternyata anda telah menyelidiki orang rendahan ini Yang mulai?.''
''Lalu, apakah harus ada sebuah alasan bagi pelayan ini, untuk menjadi seorang pelayan, atau bahkan seorang penjaga penginapan?.'' Lanjut Wangde dengan sebuah senyum tipis di wajahny,a.
Kaisar Murong tersenyum mendengar ucapan pria didepannya itu, ia mengambil cangkir, membaliknya perlahan. Wangde yang melihat hal itu meraih teko dan bermaksud menuangkan teh ke dalamnya.
Akan tetapi, setiap ia hendak menuangakan teh, Kaisar Murongyu menggerakan perlahan cangkir menjauh dari arah jatuhnya aliran air dari teko.
Mendapat hal itu, Wangde tersenyum tipis kembali, dalam hati ia bergumam. '' Oh...Anda ingin menguji saya yang Mulia?, baik kita lihat seberapa hebat pria penguasa kekaisaran negri ini.''
Dan di mulailah sebuah pergumulan diantara tangan dengan cangkir, dan tangan pemegang teko diatas meja.
Bukan hanya itu saja, bahkan kaki dan tubuh keduanya sesekali juga terlihat terlibat.
Memukul, menendang serta gerakan menghindar berpadu sempurna disana. Tak ada yang kalah dan tak ada yang mengalah, seakan mereka berupaya sebisa mungkin, untuk mengungguli satu sama lainnya.
Namun, ketika mata Murongyu melihat sebuah benda dibalik lengan baju sang pria, penjagaannya lengah, sebuah benda yang jelas ia ketahui dari mana asalnya. cangkir Murongyu memeperoleh tuangan air dari teko Wangde.
Wajahnya berubah menjadi datar, karena ketidak fokusannya sesaat tadi, menjadi penyebab ia dikalahkan oleh pria itu.
Wangde yang menyadari hal tersbut, dengan cepat ikut memegang cangkir dengan tangan kanannya.
Mendapati hal itu, Murongyu menatap mata pria tersebut intens, dengan tenang ia mnghentakan tangannya lembut pada cangkir diatas meja, sembari berkata. ''Sekarang kau bahkan, berani berebut teh denganku Wangde?.''
Mengetahui gerakan sang kaisar, pria itu juga mengimbanginga dengan gerakan yang sama, dengan nada yang juga masih tenang ia menjawab. ''Hamba hanya takut yang mulia kelelahan, mohon Izinkan pria pelayan ini, membantu meminumkan teh anda yang Mulia.''
Di tengah percakapan yang tampak bersahabat itu, teh di dalam cangkir berputar dengan cepat, berputar terus berputar semakin lama semakin cepat, dan pada akhirnya.
''Kletaaaakkk..pyur.'' Cangkir pecah dengan keras. Meskipun keduanya, segera melompat menghindar dengan cepat, namun air teh tetap memercik di baju keduanya.
''Heeeh...sungguh tidak menyenangkan, aku jadi kehilangan selera.'' Ucap Kaisar Murongyu sembari menebah baju dengan tangannya.
''Baiklah, aku pergi dulu dan harus bersiap siap untuk kedatangan tuanmu.'' Lanjut Jing sembari melirik petal bunga hutan, yang kini terselip di balik lengan baju Wangde. sebuah petal yang selalu digunakan Ziaruo untuk menyampaikan pesan kepada orang orang yang ia kehendaki.
Wangde menatap sekilas, arah tatapan sang kaisar, ia menunduk dan merasa malu untuk pertama kalinya, kepada pria tersebut.
__ADS_1
Kaisar Murongyu, kembali tersenyum dan berkata. ''Bahkan lumpurpun mendamba kelopak bunga. Apakah pantas?.''
Murongyu beranjak pergi, setelah mengatakan semuanya. Meninggalkan Wangde dengan segala guratan hati yang selalu ia simpan dalam dalam.
''Bahkan jikapun tak pantas, lumpur ini masih dapat menyuburkan pijakan sang bunga, serta menjaganya tumbuh kokoh.'' Gumam Wangde dalam kebisuan.
Meninggalkan Wangde dengan perasaan tak terbacanya, beralih ke sebuah kekaisaran dengan jarak tempuh dua hari perjalanan, dari Kekaisaran Xili.
Sesosok bayangan melesat dengan cepat, memasuki ruangan ditengah bangunan istana kekaisaran Tang, tampak jelas seorang Pria dengan 2 penjaga disampingnya menunggu disana.
''Hormat hamba Yang Mulia.'' Ucap sang bayangan.
''Apa yang ingin kau sampaikan?. Kaisar Canzuo berdiri menghampiri sang penjaga bayangan, mengambil sebuah gulungan kecil yang diserahkan oleh sang bayangan.
Canzuo, Kaisar dari negri Tang tersebut, membuka serta membacanya sejenak, berjalan pada sebuah lilin penerangan ruangan, dan tanpa berpikir lagi membakar gulungan kecil kertas tersebut hingga tak bersisa.
Dengan langkah pasti, ia kembali mendekati sang penjaga dan berkata. ''Kau boleh pergi, sampaikan kepada tuanmu, dia tak perlu repot repot, aku akan melakukan sesuai dengan caraku sendiri.''
Mendengar perintah itu, sang penjaga menunduk sesaat, sebelum kembali melesat meninggalkan ruangan tanpa jejak.
Canzuo kembali duduk pada kursi didepan meja kerjanya, ia diam sejenak dan bergumam. ''Apakah aku harus mengundur jadwal pestanya?, mengapa Kaisar Jing baru berangkat kemarin sore, bukankah itu akan sangat terlambat untuk mengikuti acara pesta 5 hari lagi.''
''Kasim, apakah mungkin untuk mengundur jadwal pestanya?.'' Tanya Canzuo kepada kasim kepercayaannya.
Mendengar pertanyaan itu, sang kasim maju, membungkuk sesaat dan menjawab. ''Ampuni hamba Yang Mulia, pelayan ini rasa itu tidaklah mungkin, mengingat undangan telah tersebar ke seluruh sahabat kekaisaran, dengan waktu Yang telah ditetapkan, takutnya...'' Ucapan sang kasim belum sempat terselesaikan, ia kembali diam dan menunduk, mana kala sebuah suara menyahut ucapannya.
''Haah ...Sudahlah aku mengerti, kau boleh kembali.'' Ucap Canzuo.
''Ini semua karena ketidak becusan Kaisar Jing d**gu itu, bagaimana ia mengatur jadwal perjalanannya?.'' Gerutu Canzuo dengan menimpakan atas kekecewaannya kepada Jiang jing wei.
''Apa kelebihannya dibanding dengan diriku Ziaruo?, sampai kau memilih pria yang bahkan gagal mengurus hal sepele?.'' Gumam dalam hati Kaisar Tang tersebut.
Terimakasih sudah mampir dan membaca.
Mohon dukungannya dengan meninggalkan like dan komen, agar Author menjadi lebih SEMANGAT.
__ADS_1