Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 16 Karma dan budi *1


__ADS_3

Di negri Awan...


"Guru izinkan aku meminjam pangkuanmu sebentar saja."


''Guru mengapa begitu sakit hati ini?.''


''Guru bisakah hari ini aku tidak berlatih dulu?.''


Itulah ucapan-ucapan yang terngiang di telinga guru Xio.


Ia memandangi gadis yang kini tertidur, dengan kepala di atas pangkuannya tersebut.


''Selama kau memiliki perasaan kasih sayang, selama itu pula rasa sakit akan memiliki kesempatan datang padamu.''


''Mengapa kau berfikir, bahwa memiliki kasih sayang menjadi jaminan kebahagiaan?, apa kau tahu.... tidak akan ada penderitaan yang datang tiba-tiba."


"Bukankah dendam dan kebencian, berasal dari kegagalan sebuah pengendalian atas perasaan?.''


"Dan sebanyak apa sebuah harapan, sebesar itu pula kemungkinan kekecewaan mendatangimu.


Seharusnya kau tahu akan hal itu Ruoer.'' Ucap guru Xio pelan, dengan tangan mengusap bulir air mata Ziaruo, yang kini tengah tertidur.


*¤ flash back on ¤*


Rasya, memeluk tubuh Yolan erat, ia mencoba berbicara kepada gadis itu, untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak menutup mata.


Dari tubuh wanita tersebut banyak mengeluarkan darah, Terutama pada kaki.


Namun bukan itu yang di khawatirkan oleh Rasya. Justru darah yang tadi di muntahkan oleh Yolanlah, yang


menjadi kepanikan pemuda tersebut.


"Mengapa ambulance lama sekali?.'' Ucap Rasya geram dan panik.


Padahal, memang selalu membutuhkan waktu untuk mobil tersebut datang. Mengingat baru 5 menit mereka menelpon, untuk dikirim mobil ambulance.


"Mengapa kau begitu bodoh, dan membiarkan dirimu tertabrak mobil?, tadi biarkan aku saja.'' Ucap Rasya menyayangkan Yolan, yang menggantikan dirinya ketika hendak tertabrak mobil.


Rasya menyebrang jalan hendak menuju rumah makan, dimana ia telah membuat janji dengan kliennya.


Dan kebetulan, sang klien meminta janji temu disebuah rumah makan, yang terletak di seberang jalan gedung WJ ( kantor Rasya ).


Oleh karena itu, Rasya dan Yolan hanya berjalan kaki menuju rumah makan tersebut.


Siang itu Rasya di temani wanita tersebut, karena Yolanlah yang memperkenalkan sang investor. Sebab investor itu adalah sahabat Yolan, ketika ia kuliah di inggris dulu.


Namun naas, saat menyeberang jalan hendak menuju rumah makan di sisi lain jalan, sebuah mobil melaju kencang dan hendak menabrak Rasya.


Yolan yang menyadari akan hal itu dan kebetulan berjalan di belakang Rasya, dengan cepat mendorong tubuh pemuda tersebut.


Alhasil Yola Lah yang tertabrak mobil, serta terpental beberapa meter dari tempat kejadian.


...................


Wanita itu tersenyum, dengan bibir penuh darah saat melihat Rasya mencemaskan dirinya.


"Kau begitu bodoh.'' Ucap Rasya lagi, ditengah kepanikannya.


"Tidak, aku tidak ..bo..doh..aku melakukannya demimu.'' Jawab Yolan terbata.


"Sya...bisakah, demi untuk hari ini, kauseka..li ..saja ..menga..takan ..kau..mencin..taiku?."


"Bisakah ..kau sekali ..sa ja hanya melihatku, dan melu..pakan dia hari,..in..ni.'' Pinta Yolan, dengan penuh harap.


Pemuda itu bukannya tidak mendengar hal tersebut. Namun, entah mengapa ia hanya diam, dan mencoba mengalihkan perhatiannya saja.


Ia lebih terfokus untuk membuat gadis tersebut, agar tidak kehilangan kesadaran.


Selang beberapa saat kemudian, mobil ambulance pun datang.

__ADS_1


Para petugas medis bertindak cepat, melakukan pertolongan pertama, serta mengangkat tubuh tersebut dengan brangkar, dan membawanya masuk kedalam mobil.


Karena tangan Yolan terus menggenggam tangan Rasya, maka ia terpaksa ikut masuk kedalam mobil ambulance.


"Sya...bisakah nanti jika memang ada kehidupan kedua, kau memberiku kesempatan menjadi istrimu?.'' Pintanya lagi, serta dengan suara lirih serta terbata.


Akan tetapi, suara itu masih dapat di dengar olehnya.


Nafas Yolan tersengal-sengal, namun ia tetap keras kepala melanjutkan ucapan- ucapan tersebut.


Bahkan, wanita itu tidak menghiraukan permintaan petugas medis di sana, yang menyuruhnya tetap tenang, serta menyimpan tenaganya.


"Sya..aku mohon ..berjanjilah, meskipun kau tidak mencintaiku, aku akan puas asal bisa melihatmu setiap hari.'' Lanjut wanita itu lagi, dengan nafas yang semakin sulit ia atur.


Mendengar hal tersebut, petugas medis yang berada di sana melihat kearah Rasya, sembari berkata. ''Tuan mohon bantuannya."


Dengan kata lain sang petugas medis, ingin Rasya menyanggupi permintaan pasien sementara waktu.


Hal ini bertujuan, agar Yolan berhenti membuang-buang energi, dan bisa bertahan sampai di rumah sakit.


Mendengar ucapan petugas media disana, Rasya memejamkan mata sejenak dan menghela nafas panjang.


Pemuda itu berfikir dalam diamnya. ''ini hanya untuk menyelamatkannya.., serta membalas pertolongannya tidak ada tujuan apapun, nanti ketika ia sembuh semua akan aku jelaskan, bahwa hanya Rahartika wanita di hatiku.''.


"Baiklah ...aku berjanji padamu.'' Ucapnya singkat.


Namum takdir berkata lain. Begitu Rasya selesai berucap, wajah Yolan tampak tersenyum lembut.


Dan disaat itulah nafasnya tidak lagi terdeteksi pada layar monitor (elektrokardiogram).


Wanita cantik tersebut, menghembuskan nafas terakhir, disamping pria yang ia cintai. Dengan sebuah senyum kebahagiaan, akan harapan sebuah janji.


Namun apapun itu, hanya sang Pencipta yang tahu, serta pemilik segala misteri takdir, bagi seluruh ciptaannya di dunia.


Dan di sinilah, bermula dari kisah kehidupan kedua mereka.


.............................''


Di Suatu negri yang jauh dari era moderen.


Sebuah pesta pernikahan kerajaan dilaksanakan dengan meriah.


Pesta pernikahan antara putra mahkota Murongxu( Rasya), dan permaisuri Sujin (Yolan ).


Pesta tersebut, di gelar selama sepekan berturut-turut. Hampir seluruh rakyat, menyambut gembira pernikahan keduanya


Banyak doa diucapkan, untuk kebahagian kedua mempelai.


Karena bagi rakyat Xili, kebahagiaan putra mahkota mereka, adalah keharmonisan kerajaan, serta keberkahan untuk seluruh rakyat.


Meskipun pernikahan ini sebuah pernikahan politik, dan tanpa landasan cinta.


Namun, tetap saja adalah pernikahan resmi putra mahkota Murongxu, calon kaisar masa depan.


Jadi permaisuri Sujin lah, istri sah, serta calon permaisuri mendatang.


Dan putra darinya, juga yang akan otomatis menjadi putra mahkota, kerajaan Xili di kemudian hari nanti.


Pernikahan ini, adalah salah satu budi baik, sebagai balasan untuk yolan di kehidupan sebelumnya, atas usaha serta ketulusan cinta serta pengorbanan wanita tersebut.


*Namun, bagi Murongxu hal ini adalah ujian karma sebuah janji yang ia ucapkan.


Pernikahan ini, juga dapat di katakan sebagai balas budi, atas setiap kebaikan sujin kepadanya di kehidupan terdahulu*.


*Sementara itu untuk Ziaruo, ini adalah sebuah ujian penghianatan, dari orang terkasihnya.


Meskipun, suaminya melakukan hal tersebut sebagai sosok lain, ( manusia fana ) dan dalam keadaan yang tidak mengingat apapun, tentang kehidupan di dunia Awan, serta kehidupan di dunia moderen*.


..............................

__ADS_1


Sementara itu.


Berbeda dengan kebahagiaan mereka di negri Xili.


Seorang wanita cantik, atau bisa juga di sebut sebagai seorang dewi yang memiliki wajah cantik, tengah meratap pilu didalam sebuah ruangan, yang menyerupai sebuah gua, dengan aura keabadian yang lekat.


Wanita cantik yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, beberapa kali mencengkeram dan menepuk-nepuk dada kirinya.


Seolah, ia tengah berusaha meredakan sesak, yang kini menekan hati, serta mencekik rongga pernafasannya..


Wanita itu masih tetap terisak, meskipun cermin air bulan, tidak lagi menampilkan gambaran disana.


Bahkan, setelah cermin itu telah ia tutup, ia masih mengucurkan bulir bening dari sudut mata itu.


Sebuah gambaran ingatan kebahagiaan sang suami, dalam prosesi pernikahan di dunia fana, begitu lekat di ingatan dan hatinya.


Sang suami, kaisar Murongxu kini tengah melakukan perjalanan kehidupan kedua, dalam ujian untuk menebus kesalahan yang sudah ia lalukan( hukuman langit).


Rasa sakit hati Ziaruo, seolah menghentikan seluruh alam bergerak, meninggalkan dia seorang diri dengan kepiluan yang mendalam.


Ada perasaan kecewa, serta amarah di dalam hati wanita itu.


Dirinya merasa, penderitaan ini terlalu berat baginya.


Ia hanya meratapi kepedihan disana. Bahkan, ia tidak menyadari sang guru besar, yang datang menemuinya.


Hingga, saat tangan hangat itu menyentuh, serta membelai lembut pucuk kepalanya.


Wanita itu, baru menyadari keberadaan sang guru di sana.


Melihat kehadiran Pria tersebut, ia berkata di tengah isak tangisan. "Guru lihatlah, dia menikahi wanita lain, dia menghianatiku guru.''


"Guru apa gunanya Rajah pasangan takdir dewa dewi milik kami?, jika dia semudah itu menyentuh wanita lain?.'' Ucapnya, masih dengan tangisan yang semakin pilu.


Sebuah rajah Phoenix pada lengan kiri Ziaruo, untuk sang permaisuri, dan Rajah naga pada punggung Murongxu, untuk kaisar.


"Guru ..rasanya sakit, hatiku seperti tercabik-cabik, aku membencinya...aku ingin membencinya Guru."


Wanita itu, mengatakan semuanya di sela isak tangis yang tidak ia tahan. Seolah kini ia tengah mengadu dan berkeluh kesah kepada orang tuanya.


Ziaruo tidak memperdulikan tanggapan apapun, yang nantinya akan di berikan oleh sang Guru. Wanita itu masih terus saja berbicara, dengan diiringi tangisannya.


''Guru .... pinjamkan aku pangkuan mu, aku merindukan ayah dan ibuku," Lanjutnya lagi, dengan ucapan yang semakin lirih.


"Guru...hixs..hixs..bisakah anda tidak menyuruhku berlatih hari ini?.'' Tambahnya lagi, sembari meletakan kepala, di atas pangkuan sang guru.


Wanita itu terus berkata-kata, dengan isak tangisan di sela sela ucapannya.


Namun, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemah, matanya terasa berat, hingga akhirnya ia tertidur, dengan kepala berada di atas pangkuan guru besar Xio.


*Sebenarnya, Ziaruo tertidur karena gurunya lah yang membuatnya tertidur. Baixio tidak mampu melihat kepedihan wanita itu.


Oleh karenanya, Baixio melepas sebuah kabut tipis, untuk membuat dia terlelap, dan melupakan sejenak kejadian yang baru di alami.


Dan bukan hanya itu saja, tindakan itu dilakukan olehnya, karena Baixio ingin mengantarkan sang murid tercintanya, menuju perjalan keduanya.


Ziaruo dikirim kehidupan kedua, untuk menjalani hukuman, di dunia manusia. Serta bersiap untuk menghadapi ujian kedewian*.


*¤ flash back off ¤*


"Ini baru awal Ruoer.... Bahkan, setelah semuanya kau juga harus berada di sana.


Dengan semua ingatan yang kau miliki, kau harus bisa mengendalikan rasa sakitmu, dan kau tidak boleh bersamanya di dunia itu, Tenanglah, ia juga akan menerima karmanya sendiri, jadi jangan terlalu bersedih.''


Baixio mengusap lembut kepala, serta rambut Ziaruo. Seolah, tengah menenangkan seseorang, yang paling berharga bagi hidupnya.


"Dengan keistimewaan, serta kesempurnaan yang ada padamu, kau akan menjadi dewi sesungguhnya, yang akan membawa kemakmuran untuk mereka.


Jadi pergilah dengan tenang, dan ingat sebuah luka bukanlah penghalang untuk berbuat kebaikan.''

__ADS_1


__ADS_2