Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 31 Pergolakan 3


__ADS_3

''Ternyata hari ini datang juga perdana mentri, aku sudah menunggumu lama.'' Ucap kaisar Murong, dengan penekanan pada setiap kata-katanya, ia berdiri dari singgahsana, dan menatap lekat, kearah seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya.


Pria tersebut adalah ayah mertua, yang sekaligus kakek dari putra mahkota Muronghui.


Kaisar Murongxu, berdiri didepan pria tersebut, dengan jarak yang lumayan dekat (1-2 langkah) dari singgahsana.


Kaisar Murong juga mengetahui, bahwa pria didepannya tidaklah sendirian.


Bahkan ia juga tahu, serta memiliki daftar nama, dari orang-orang yang tergabung, dalam pergolakan hari ini.


Namun, satu yang tidak ia ketahui, dan benar-benar salah perhitungan.


Dari informasi yang ia peroleh, mereka akan mulai bergerak setelah para tamu kerajaan, kembali kekekaisaran mereka masing masing, dan itu sekitar 3 hari lagi.


Dari segi perlengkapan, dan rencana, kaisar Murong sudah memepersiapkan semuanya. Hanya tinggal, menunggu satu suara perintah darinya saja, segalanya akan dapat ia selesaikan.


Bahkan untuk melancarkan renacana tersebut.


Kaisar Murong, sengaja mempercepat kepulangan, para tamu kekaisaran 2 hari lebih awal, dari jadwal yang semestinya, yaitu besok pagi.


Karena untuk kesokan harinya, sehari sebelum oranv-orang dari menteri Suyao melakukan penyerangan, kaisar Murong akan mengamankan mereka terlebih dahulu, secara diam diam.


Hal ini ia lakukan, agar tidak menyebabkah pertumpahan darah, diantara para prajurit serta, untuk menjaga nama baik putra mahkota Muronghui.


Sebab dari bukti yang ia miliki, otak dari peegolakan kali ini adalah, mentri Suyao, ayah mertuanya.


Perencana dan pemimpin pergolakan, adalah kakek dari putra mahkota, atau ayah dari permaisuri Sujin, sang mentri pertahanan.


Kaisar Murong takut, ini akan mempengaruhi status putra mahkota, dan situasi ini akan menguntungkan, atau dimanfaatkan, oleh pihak yang kurang suka, kepada pangeran pertama Muronghui, sebagai putra mahkota, penerus kerajaan XILI dimasa depan.


Namun, entah mengapa mentri pertahan merubah jadwal mereka, dan memajukan rencana pergolakan pada hari ini.


"Ha..ha..ha..lalu apakah ada perbedaannya, jika kau menunggu untuk hari ini?.


Dan apakah saat ini anda tidak merasakan, sesuatu yang berbeda pada tubuh anda, yang mulia kaisar?'' Ucap menteri Suyao lantang, sembari menatap lurus langsung kearah tampuk singgahsana didepannya, dengan tatapan tajam, serta dengan sunggingan senyum sinis pada wajah tegasnya.


"Oh ya, aku lupa memberikan sesuatu kepada anda yang mulia, atau anda bisa mengartikannya, sebagai hadiah tambahan, untuk ulang tahun 2 hari yang lalu.


Suyao mengatakan hal itu, sembari berbalik kearah semua tamu disana, pria itu mengangkat tangan dan menunjuk kearah para pejabat, sembari berkata. ''Bahkan, mereka yang setia kepada andapun, saya juga sudah memberikan minuman spesial, sebagai hadiah atas pengabdian, serta kerja keras mereka, kepada anda.''


Dan benar saja, selang beberapa saat setelah ia mengucapkan hal tersebut, tiba tiba saja, beberapa orang mengeluh pusing, dan tubuh mereka lemas.


"Menteri kau sudah gila, beraninya kau.'' Ucap salah satu pejabat, dengan suara terbata-bata.


"Dasar kau manusia h*na.'' Ucap yang lainnya, dengan kondisi tubuh yang tidak jauh berbeda. Mereka memegang kepala, menahan rasa sakit yang mulai menyiksa.


"Kakek, apa yang telah anda lakukan? kumohon hentikan, jangan lakukan hal ini kek.'' Ucap putra mahkota, yang ternyata, juga sudah terkena racun.


Namun, seolah hati dan fikiran Suyao tertutup, menteri pertahan tersebut, tidak menghiraukan perkataan semua orang


Bahkan, dari bibirnya tersembul, sebuah senyum yang menyiratkan kepuasan.


"Amankan, semua orang-orang itu." Perintah sang Menteri pertahanan, dengan penuh arogan.


Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, mereka mengamankan ( menyandera ), setiap orang disana.


Ada kurang lebih 60 orang yang mereka amankan, dengan keadaan tubuh lemas para pejabat setia, tamu undangan serta keluarga kerajaan yang hadir disana, tidak dapat berbuat banyak.

__ADS_1


Sementara itu, orang-orang, dan para pejabat lain, yang ikut terlibat dalam pergolakan hari ini, berdiri dari duduknya.


Mereka, ikut mengangkat pedang, yang secara diam-diam mereka bawa, untuk bergabung dengan temannya.


Meskipun terdapat peraturan, yang melarang semua orang, untuk membawa senjata ketika mengikuti pertemuan diistana, mereka tetap bisa lolos, dari pemeriksaan.


Hal ini dikarenakan, hampir semua penjaga didalam dan diluar aula pertemuan, sudah diganti dengan orang orang mereka.(pelaku pemb*ront*kan).


Sementara itu diluar istana, tepatnya disamping barat tembok kerajaan.


Dua bayangan hitam, tengah mengawasi dari atas pohon. Kedua orang tersebut, adalah Ziaruo dan Yongyu.


 


"Baiklah kak, sepertinya sudah dimulai, kakak harus bertindak sebagai pemimpin kami nanti, ketika memasuki ruang pertemuan. Untuk bagian istana yang lain, serahkan padaku.'' Ucap Ziaruo pelan, dengan mata tetap fokus mengawasi, situasi disana.


"Memimpin?, apa maksudmu Ruoer, bukankah kita hanya berdua?.'' Tanya Yongyu, dengan penuh heran.


Namun, seolah pertanyaan sang kakak tidak memepengaruhinya, gadis itu hanya membalas pertanyaan Yonyu, dengan sebuah senyuman.


"Sebentar lagi kau akan mengatahuinya kak.'' Jawabnya singkat, dengan senyum dibalik penutup wajahnya.


Ziaruo menggerakan tangan pelan, sebuah kilatan cahaya putih, masuk kedalam kening Yongyu.


Pemuda tersebut tersentak kaget sesaat, namun selang beberapa detik, sebuah senyum tersungging tipis dibibirnya.


"Heeemmmzzz....aku mengerti, ayo kita bergerak sekarang.'' Ajak Yongyu, dengan nada datar, sebelum mereka berdua melesat turun, dari atas pohon memasuki istana.


Setiap langkah kaki mereka menginjak tanah di dalam istana. Maka, sejauh apa jarak mereka dari tembok istana, barisan bayangan lain muncul, berjajar dibelakang mereka.


Bayangan itu berjalan dua langkah, barisan muncul kembali, hingga yang tampak disana adalah, barisan-barisan prajurit berpakaian hitam, dengan jumlah yang


Kurang lebih 300 prajurit, bayangan laki laki, dan perempuan tercipta dari bayangan keduanya.


Setiap pasukan tersebut, memiliki kemampuan hampir sama, seperti tubuh asli pemiliknya, yaitu Yongyu dan Ziaruo.


Karena saat ini, hampir seluruh pasukan / prajurit kaisar murong, sudah ditawan oleh para pember*tak.


Karena semua prajurit yang berada diistana, dan diluar istana, telah digantikan oleh orang-orang dari Suyao, maka mereka semua harus dilumpuhkan.


Oleh karena itu, dua pasang mata diantara barisan tersebut, saling menatap dan menggagukan kepala, sebelum akhirnya mereka melesat, menyebar keseluruh bagian istana, menjadi beberapa bagian kelompok prajurit.


Menuju tempat-tempat yang menjadi titik titik pusat penyerangan, serta penyekapan prajurit Xili, untuk melumpuhkan para prajurit pember*tak, dan membebaskan prajurit-prajurit yang ditawan.


....................................


 


Sementara itu diruang pertemuan.


 


Tangkap kaisar Murongxu, dan seluruh keluarga kerajaan hidup-hidup. Satukan dengan semua orang dan kurung mereka.'' Perintah menteri pertahanan, dengan suara lantang.


Pria itu, sudah merasa yakin, bahwa segalanya telah terkendali.


Setelah mendengar hal tersebut, para prajurit di ruangan itu, bergerak dengan cepat hendak menangkap semua orang, sesuai perintah Suyao.

__ADS_1


Namun, belum sempat mereka menangkap orang-orang tersebut, tiba tiba saja, dari atas pilar penyanggah, keluar cahaya putih terang kearah dimana kaisar Murong dan para pejabat berada.


Bahkan sinar terang itu juga melesat kearah para tamu kekaisaran, serta keluarga kerajaan yang lain.


Sebelum para pemberontak sempat menyentuh mereka, cahaya tersebut membentuk sebuah barikade, atau sebuah tabir pelindung, yang menutupi tubuh semua orang.


Kaisar Murong, dan semua orang terkejut.


Mereka merasa heran, sekaligus takjub, dengan keadaan yang tidak terduga tersebut.


Kaisar Murong, kasim Di, serta beberapa orang, mulai memahami keadaan.


Mereka ingat, tentang bunga yang terletak pada pilar tiang penyanggah istana.


Dan benar saja, bunga itu kini mekar sempurna dan tampak indah.


Dari balik kelopak- kelopak indah tersebut, mengeluarkan kabut tipis yang hampir tak dapat di lihat, oleh orang dengan kemampuan biasa.


Namun, bagi Murongxu dan beberapa orang disana, menyadari segala sesuatunya dengan baik, tidak terkecuali menteri Suyao, yang memiliki tingkat kultivasi serta beladiri tinggi.


Semua prajurit berusaha menerobos masuk, dan ingin menangkap orang di balik tabir pelindung.


Namun, semua usaha mereka gagal. Seolah itu adalah sebuah tembok tembus pandang, yang terbuat dari besi baja.


Bahkan, beberapa prajurit mencoba membelah pelindung tersebut dengan senjata mereka, akan tetapi semua tetap sia-sia.


"Ternyata ini hadiah yang kau maksudkan.'' Gumam lirih kaisar Murongxu.


Kasim Di, dan beberapa orang dengan tingkat kekuatan yang hampir sama, berfikiran tak jauh berbeda dari sang Kaisar.


"Mengapa aku tidak memprekdiksi akan hal ini, dan melupakan bunga itu, kau selalu saja mengejutkanku, dan semakin membuatku ingin mendapatkanmu.'' Ucap kaisar Jiangjingwei dalam hati.


Ada senyum terkembang pada wajah itu. Sebuah senyuman, yang tak dapat ditebak maknanya.


Jiang jing wei juga termasuk salah satu orang, yang berada didalam tabir pelindung tersebut. Dan dirinya juga mengetahui, akan pelindung dari bunga di atas sana.


"Prajurit, bawa 20 orang tangkap wanita hutan Ziaruo dan saudaranya, diperbatasan kota Wey, bawa kemari.'' Perintah menteri pertahanan, dengan nada suara kesal, serta keras.


Suyao adalah salah satu orang, yang juga mengingat kejadian di hari itu.


''Si*lan!, kenapa aku melupakan hal ini, seharusnya aku tidak meremehkannya, dan seharusnya kau tidak ikut campur. Mengapa harus kau lakukan?.'' Pikir sang mentri, dengan nada kesal dan kecewa.


Dalam benak Suyao, sejak kejadian di acara beberapa hari lalu, ia melihat kecantikan Ziaruo.


Dirinya telah memutuskan, akan menjadikan wanita itu, sebagai Permaisurinya setelah pergolakan hari ini.


Bahkan, ia telah merubah pikiran untuk tetap memberikan posisi sebagai putra mahkota, penerusnya.


Dia telah berpikir, bahwa dengan menikah Ziaruo, dirinya akan memiliki keturunannya sendiri, bersama wanita itu, dan tentu saja putranya bersama Ziaruo yang akan menggantikannya.


"Baik.'' Jawab seorang perajurit, sambil menunduk sesaat, sebelum ia melangkah keluar.


Namun, baru saja ia hendak keluar dari ruangan tersebut, tiba tiba saja. ''Sret...sret ...cling ..clang ...creng ..criiing ..brugh..clang.''


''Suara sabetan pedang yang saling beradu, serta suara orang terjatuh /roboh kelantai selama pertempuran. Pertempuran antara para pasukan hitam, dan prajurit mentri pertahanan.


Tak berselang lama, puluhan orang berbaju hitam, dengan penutup wajah, masuk dan menyerang para prajurit mentri pertahanan.

__ADS_1


Dan tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka dapat melumpuhkan semua orang diruangan tersebut.


"Ampuni kami yang mulia karena telah terlambat.'' Ucap salah satu pria berpakaian hitam tersebut.


__ADS_2