Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 107 Misteri cermin air Bulan.


__ADS_3

Masih di pondok hutan barat.


Murong ingin menggapai tubuh sang wanita, ia ingin memeluknya, serta ...menghapus air mata wanita itu, akan tetapi jangankan untuk datang padanya, bahkan untuk bergerak pun tubuh itu sudah kesulitan.


Mendengar ucapan itu, Ziaruo menoleh kearah sumber suara, menatapnya lekat.


Ada banyak penyesalan, dan juga rasa bersalah didalam hatinya untuk Murong yang tengah terluka parah.


Dan secara reflek bibirnya meloloskan sebuah nama, dengan nada pilu. ''Rongxu....''


Sebuah kata singkat, yang membuat pemilik sepasang mata, dibalik topeng bergemuruh hebat, hati yang seolah terbakar kemarahan, bahkan kini telah tumbuh duri kebencian.


Telapak tangannya mengepal kuat, bahkan mulai terselimuti asap hitam, ia kembali berkata. ''Ternyata, kau masih tidak mengerti, aku tidak mungkin membiarkannya lagi sekarang, bahkan tidak juga suamimu Jing.''


Pria itu, bergerak cepat menyerang Ziaruo. Akan tetapi, dengan pukulan serta gerakan mematikan terfokus kearah Murong.


Memahami hal itu, dengan kekuatan miliknya, Ziaruo berusaha keras menangkis setiap serangan dari pria tersebut.


Namun, semakin Ziaruo berusaha melindungi Murong, semakin menjadi kemarahan Murongxu.


Dan benar adanya, kebencian yang berbalut sebuah kecemburuan adalah awal dari petaka.


Syut.. Ceplar...sreeet...sreet...ceplar.


Buuum...sreet.


Suara hembusan angin kuat, hentakan pukulan pada dahan pepohonan, bahkan gelegar petir bersautan di atas hutan mistik barat.


Bahkan kini suara pertarungan mereka terdengar hingga sampai ke luar hutan.


Entah mengapa, Murongxu begitu gigih ingin membunuh Murong, Pria yang bahkan untuk berdiri pun kesulitan.


Semakin lama kekuatan serangan Murongxu, semakin bertambah, seolah tak pernah ada kata lelah dalam tubuhnya, dan membuat Ziaruo kian terdesak. Wanita itu mundur sesaat dan berkata. '' Ternyata anda benar benar ingin menghancurkan tubuh ini.''


Ada banyak kekecewaan terbias dari ucapan wanita itu, ia berhenti sejenak menatap Murong, yang tengah terbaring dengan kondisi mengenaskan.


Dan sesaat kemudian, Ziaruo kembali menatap pria dengan topeng itu, dan berucap. ''Baiklah... tubuh ini memang dari anda, namun ketika tubuh ini, dikatakan sebagai tubuh saya, maka wanita fana ini, akan menjaganya sebaik mungkin.''


Sesaat setelah Ziaruo menyelesaikan ucapannya, tiba tiba saja, dari tubuh wanita itu, mengeluarkan kabut keemasan yang pekat, dengan tangan kiri mengayun mengontrol gerak angin, serta tangan kanan menggenggam kilauan cahaya terang.


Ziaruo menggabungkan keduanya dalam balutan kabut tubuhnya.


Tanpa sebuah peringatan, cahaya itu melesat cepat, mengikuti gerakan kecil tangan Ziaruo, menyerang kearah Murongxu.


Ada seringaian tipis dibalik wajah cantik itu, hingga ketika tubuh Murong telat menghindari serangan, Ziaruo menghentakkan tangannya ringan, dan cahaya itu kembali menyerang sang pria.


''Buuum.'' Sebuah ledakan, tepat di tempat Murongxu berdiri.


Akan tetapi, pria dengan topeng itu mampu menghindarinya dengan mudah.


Tubuh gagahnya melayang di udara, serta berdiri tepat di atas ledakan tersebut.


Dengan tangan kanan yang telah menciptakan sinar kehitaman, pria itu bergerak cepat dan balik menyerang.


Melihat kabut hitam yang semakin pekat, Ziaruo tersenyum.


Ia dapat menebak arah pikiran Murongxu, bahwa kali ini Pria itu bersungguh-sungguh, ingin mengutuk tubuh fananya dengan sebuah keburukan.

__ADS_1


Hatinya semakin dipenuhi dengan banyak kegundahan. Dalam sejenak ia tak mampu berpikir dengan jernih.


Yang ia pikirkan adalah pria didepannya tersebut, ingin memberikan keburukan baru untuk kehidupannya sekarang.


Oleh karena hal itu, Ziaruo tak lagi menahan kekuatan yang ia keluarkan, ia melawan dengan kemampuan yang sebenarnya.


Ziaruo melingkupi tubuh Murong dengan kabut keemasan.


Membawa tubuh tersebut, menjauh dari sana dengan gerakan singkat tangannya.


Wanita itu juga memasang pagar pembatas, untuk seluruh hutan dengan medan pelindung.


Ia tak mengizinkan siapapun masuk, ataupun keluar dari area pertempuran mereka.


Hal ini bertujuan agar perkelahiannya dengan Murongxu, tidak berimbas untuk orang lain.


Sementara itu, kembali kedalam cermin air bulan.


Yongyu menangis dengan suara hingga serak disamping ranjang.


Di mana wanita dengan wajah mirip Ziaruo, tengah memeperoleh perlakuan kurang pantas, dari seorang pria dengan wajah yang sangat ia kenal. Pria itu yang tak lain adalah Murongxu.


Namun disini, ia menyebut dirinya sebagai Haoyan, seorang pangeran mahkota dari kekaisaran Phoenix yang melegenda.


Semenjak Yongyu memasuki dunia cermin air bulan, tubuhnya telah berpindah-pindah dimensi beberapa kali.


Akan tetapi, setiap perpindahan tempat yang ia alami, selalu menyuguhkan kisah seorang wanita, yang bernama Ziayun putri dari klan bulan yang dikenal sangat cantik, dengan kemampuan pengendalian angin serta ilmu pengobatan.


Ziayun bertunangan dengan pangeran dari negri kegelapan Zhanglei, dimana pangeran itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan sang kakak, Kaisar Jing.


Entah berapa kali ia telah berpindah dimensi, namun setiap perpindahan selalu mengisahkan sebuah deretan kisah, yang semakin lama membuatnya mengerti arah kisah tersebut.


Yongyu berada disebuah ruangan yang identik dengan bilik seorang wanita, akan tetapi belum sempat ia menelisik seluruh ruangan tersebut, pria itu mendengar sebuah permintaan tolong.


Dengan langkah cepatnya, ia berjalan mendekati sumber suara.


Di sana tepat di samping ruangan tempatnya berada, seorang pria tengah berusaha melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap Ziayun.


''Sejak lama aku menaruh perhatian kepadamu, tapi kau selalu mengabaikanku, kau justru bertunangan dengannya.'' Ucap Haoyan, dengan tangan meraih serta meng*yak pakaian sang gadis.


Menyaksikan hal itu, dengan kekuatan penuh Yongyu bergerak cepat dan memukul tubuh Haoyan. Ia ingin menghajar dan memb*n*h pria tersebut.


Namun, seolah ia bukan manusia.


Tendangan serta pukulannya, sama sekali tidak mengenai tubuh Haoyan.


Justru tubuhnya melesat cepat dan terjatuh dilantai, Yongyu kembali kebingungan.


Akan tetapi ia tidak berpikir lama, dan segera berdiri untuk melancarkan pukulannya kembali.


Lagi dan lagi seberapa kerasnya ia berusaha, pukulannya tak pernah menyentuh tubuh Haoyan.


Dengan tangisan serta teriakan dari Ziayun, teriakan serta tangisan Yongyu juga ikut terdengar.


Baru kali ini, ia merasa tidak berguna.


Keburukan dan kejadian tragisnya dimasa lalu, bukanlah apa-apa jika dibandingkan kejadian hari ini.

__ADS_1


Yongyu memukul kepala, dan dadanya sendiri.


Bahkan, menarik rambut dan bajunya dengan sangat keras, ia merasa frustasi dengan ketidak mampuannya.


Sebuah kejadian memilukan terjadi tepat dihadapannya, dan sebagai seorang pria ia tak dapat berbuat apapun.


Selama kejadian itu berlangsung, selama itu pula Yongyu meraung, dengan tangisan pilu di lantai samping ranjang.


Bahkan entah sejak kapan, ada tapak darah bekas kuku-kukunya pada baju yang ia kenakan.


Hingga beberapa saat telah berlalu, tubuh gagah Yongyu masih luruh disamping ranjang, dimana wanita itu tengah terbaring disana, disamping tubuh Haoyan.


Mata wanita itu terbuka, namun dengan tatapan kosong. Sementara itu, Haoyan memeluk serta membelainya dengan penuh kelembutan.


Ada kasih sayang besar, terpancar dari sorot mata Haoyan, yang beberapa saat lalu telah menghancurkan kebanggaan Ziayun.


Dengan suara lembut ia berusaha membujuk wanita itu dan berbicara. '' Ziayun...Aku akan mengambil tanggung jawabku untukmu. Maafkan aku, tapi percayalah kau akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku.''


"Aku akan memperlakukanmu lebih baik dari dia. Ziayun...Bisakah kau mencoba menerimaku." Lanjut pria itu kembali, sembari mengeratkan pelukan.


Pria itu terus mengucapkan kata-kata dengan janji kesetiaan.


Akan tetapi, Ziayun hanya diam membisu tak menanggapinya.


Ada kesedihan dan kehancuran, dalam sorot mata yang kini hanya terbuka tanpa fokus pandangan itu.


Yongyu kembali melelahkan air mata, saat ia memposisikan Ziaruo sebagai Ziayun.


Hatinya semakin hancur saat dilihatnya, lelehan air bening mengucur deras, tanpa suara dari bibir wanita itu.


Kembali suara Haoyan terdengar. "jika kita menikah... akan kupastikan kakek Kaisar tidak akan menyerang, serta merampas kekayaan klan Bulan.'' Haoyan masih dengan upaya bujuk rayunya.


Pria itu ingin memenangkan hati sang wanita, setelah kejadian sesaat yang lalu.


Haoyan telah memiliki wanita yang kini dalam pelukannya tersebut, memiliki izin keluarganya, memiliki tubuhnya, bahkan ia juga telah memiliki janji pernikahan bersamanya.


*Tradisi Negri Awan tertulis, bahwa ketika sepasang kekasih(Pria dan wanita), melewati malam bersama/melakukan hubungan layaknya suami istri, maka secara resmi mereka dinyatakan memiliki janji pernikahan, dan hal itu tak dapat dibatalkan.*


Akan tetapi, jika Ziayun tetap tak menerima dirinya, menghilang, atau bahkan bertindak nekat dengan menghabisi dirinya sendiri, bukankah segala rencana dan pengorbanannya untuk sekarang akan sia sia.


Pria itu, mengambil nafas dalam, serta menghembuskannya perlahan.


Entah apa yang kini bersemayam dalam benaknya, Haoyan memejamkan mata sejenak, dan kembali berkata dengan penuh kelembutan.


''Bahkan, aku akan memberikan kembali pusaka klan kalian, yang telah jatuh di tangan kami sebagai salah satu mas kawin pernikahan kita.''


Haoyan terus berusaha dengan keras membujuk Ziayun, serta sesekali mencium pucuk kepala wanita dalam pelukannya itu.


Hingga suara tendangan pintu dibuka dari luar dengan kasar.


''Braaak...''


Di sana, tubuh Pangeran kegelapan telah berdiri didepan pintu, dengan memegang pedang yang terhunus.


Terimakasih sudah mampir dan membaca,


Mohon tinggalkan like dan komentar...ya...agar Author jadi lebih semangat.

__ADS_1


__ADS_2