
Di kekaisaran Xili...
Seorang pemuda tengah memeluk erat, tubuh wanita paruh baya, dengan tangisan yang terdengar sangat jelas, bahkan dari bilik yang berjarak agak jauh dari tempat tersebut, masih dapat mendengar isak tangisnya.
''Ibunda,...Ibunda...'' ucap pemuda tersebut beberapa kali, tampak jelas pada wajah tampan itu, sebuah kesedihan atas kondisi sang ibu.
Sudah hampir 3 purnama, wanita yang ia sayangi tersebut menderita sakit, tubuhnya lemah, dan sering berkeringat dingin, bahkan didalam tidurnyapun, wanita paruh baya tersebut sering tidak tenang.
Banyak hal yang di gumamkanya, terkadang ia juga berteriak seolah tengah memanggil nama seseorang.
Namun, setiap kali ditanyakan, siapakah orang yang ia panggil, wanita yang tak lain adalah permaisuri yang telah dilengserkan tersebut, selalu hanya menjawab dengan senyumannya saja.
Akan tetapi sekalinya menjawab, ia justru membuat orang lain kebingungan atas jawabannya.
''Hormati dia, karena ia adalah seorang dewi dari istana bulan, permaisuri dari kekaisaran Awan, jaga dia untukku.'' itulah ucapan lirih yang keluar dari bibir sang ibu, namun begitu pangeran Muronghui ingin mengetahui lebih detil siapakah yang dibicarakan, sang ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanapun jahat dan kejam dirinya, bagi pangeran Muronghui wanita tersebut tetaplah ibunya, orang yang telah mebawanya datang kedunia ini.
Selang beberapa saat.
Kabar menyebar begitu cepat, bahwa wanita yang dinyatakan tanpa status tersebut telah meninggal.
Namun, meskipun demikian tidak tampak sanak saudara, atupun pihak kekaisaran yang datang untuk mengucapkan belasungkawa.
Bahkan, yang diterima dari sang kaisarpun adalah sebuah titah, yang menjelaskan akan larangan, terhadap tubuh sang ibu, yang tidak diizinkan untuk di kebumikan di lingkup makam keluarga kekaisaran, ia dianggap tak pernah ada dan bahkan namanya akan dihapus dari cacatan keluarga kekaisaran.
Sungguh ironis, ibarat sehari diatas dan ke esok harinya telah berada di dasar, hal ini membuat pangeran Muronghui begitu berduka, seolah ia ingin memberikan segalanya hanya untuk, memeberikan kelayakan atas tubuh tak bernyawa sang ibu.
Namun ia sadar, disini ia bukanlah kaisar yang memegang segalanya, setidaknya belum memegangnya saat ini.
Setelah beberapa saat, persiapan untuk membawa, Jenazah Sujin akhirnya telah selesai, kereta kuda membawa tubuh wanita itu menuju peristirahatannya yang terakhir.
Disana, di sebuah desa tempat kelahiran kakeknya, tanah leluhur keluarga Su, di perbatasan kota Nanyang tujuannya.
Sementara itu, di tempat lain...
Disebuah hutan barat kekaisaran Xili, tepatnya dibekas reruntuhan kampung merah milik pangeran Canzuo( King).
Sebuah bayangan melangkah perlahan, menikmati udara hutan yang sejuk, sesekali ia akan menghentikan langkahnya, melihat seauatu yang seolah itu berarti untuknya, menyentuh sejenak, dan kembali berjalan.
Tubuh ramping tersebut, seakan tengah bernostalgia, bersama orang orang yang berarti baginya, hingga sampailah ia pada sebuah tempat dimana disana tampak beberapa gundukan tanah.
Kaki kecilnya berhenti melangkah, ia menatap lekat kearah, gundukan tersebut.
__ADS_1
Ada sirat sedih, pada kelopak matanya yang kini tampak berkaca kaca.
''Apakah kalian mengingatku?.'' ucapnya lirih.
''Apakah sekarang kalian bahagia disana?.'' lanjutnya lagi, kali ini ia mengibaskan tangannya pelan.
Dalam sekejap mata, gundukan tersebut menjadi bersih dari rumput liar serta tertata rapi dan indah.
''Lihatlah, apapun sekarang yang kuinginkan akan terwujud. Namun, mengapa aku merasa kesepian, aku ingin kembali kemasa dimana kalian membohongiku dulu.'' ucapnya lagi.
Setidaknya aku memiliki kebahagiaan dan perasaan layaknya manusia pada umumnya.'' gumamnya lirih, sambil kembali menggerakan tangannya.
Dan secara perlahan bunga bunga berterbangan mengarah keatas gundukan tersebut, menutupi seluruh permukannya, hingga tempat itu tampak seperti tumpukan bunga, dan bukanlah sebuah makam.
Namun, tiba tiba saja ia berjalan dengan cepat meninggalkan tempat tersebut, seolah wanita itu menyadari, bahwa disana ada seseorang yang mengikutinya.
Sesungguhnya, ia dengan mudah menghindari orang tersebut, dan menghilang dengan cepat, namun ia melemahkan kekuatan serta penjagaanya, ia berjalan pelan kembali ke tepi sungai.
''Bukankah disini, pertama kalinya kita bertemu yang mulia?'' ucapnya pelan, namun masih dapat di dengar oleh seseorang di balik persembunyian.
Sementara itu, orang yang masih di dalam persembunyian, merasa terkejut, dari bibirnya tersungging sebuah senyuman, namun ia tetap berada disana, belum berniat untuk menunjukan dirinya.
''Bukankah anda disini, untuk menemui saya, lalu mengapa anda masih disana.'' ucap wanita bercadar tersebut kembali, namun kali ini ia melemparkan benda kecil yang melesat cepat.
Menyadari, suatu ancaman, bayangan di balik pohon segera bergerak, menghindari lemparan yang melesat cepat kearahanya, ia turun kearah wanita bercadar tersebut.
''Ce..tass...'' suara kerikil kecil membentur pohon dengan kekuatan yang tak dapat di ukur oleh sang bayangan.''
'' Apakah anda ingin membunuhku nona?.'' tanya sang bayangan sembari melakukan gerakan cepat, sebagai upaya menyerang wanita ditepi sungai tersebut.
Bayangan tersebut, menyerang dengan kekuatan yang tak ia tahan, karena dari serangan wanita itu tadi, setidaknya ia bukanlah wanita lemah pada umumnya.
Namun, ia kembali dibuat kagum dengan kekuatan dan kemampuan wanita tersebut, setiap serangannya, dapat dihindari dengan mudah olehnya.
'' Apakah anda ingin membunuh saya tuan?.'' tanya wanita itu dengan tatapan tajamnya, seolah ia tengah mengejek dan meremehkan pria bayangan dengan topeng merah tersebut.
''Bukankah, Anda yang terlebih dahulu melakukan penyerangan nyonya Gutingye.'' ucap bayangan tersebut, dengan nada mendesis di dekat telinga wanita itu, saat ia memeperoleh kesempatan mendekat disela sela serangannya.
Mendengar panggilan yang jarang baginya, hati wanita tersebut tersentak, ada perasaan hangat menyelimuti perasaannya.
Dan saat itulah, tiba tiba ia merasakan ada kekuatan mengunci tubuhnya.
''Akhirnya, aku bisa mengalahkan anda nona, ternyata Gutingye begitu hebat, bahkan hanya dengan namanya, seorang wanita jenius, seperti anda dapat melemah.'' ucap pria bertopeng tersebut, sambil memegang kuat tangan wanita itu.
__ADS_1
Dengan posisi, tubuh gadis itu berada didepan tubuhnya, seolah pria bertopeng itu memeluk wanita tersebut dari belakang.
'' Jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan?.'' tanyanya pelan, bahkan seperti sebuah bisikan didekat telinga wanita tersebut.
'' Anda boleh melakukan apapun yang mulia, bahkan mungkin ia akan menjadi seorang selir pertama di hutan ini.'' suara seorang wanita, yang terdengar tak jauh dari sana.
Mendengar suara yang familiar bagi telinganya, dengan cepat ia menoleh kearah belakangan.
Disana, seorang wanita dengan baju yang sama, cadar dan bentuk tubuh yang sama tengah menatap kearahnya, tampak pada mata coklat tersebut, sebuah pancaran cerah, seolah menampilkam sirat senyuman dari bibir yang tertutup cadar.
Dan benar saja, setelah beberapa saat ia juga mendengar kekehan kecil dari wanita tersebut.
''Yang mulia, bahkan ada saya disini, anda masih tertarik dengannya, ck..ck..ck..sungguh selera yang unik dan special yang mulia.'' ucap wanita tersebut di tengah tertawa kecilnya, sembari mengacungkan jempolnya kearah pangeran canzuo.
''Jika itu adalah anda, lalu...'' ucap pangeran Canzuo,sembari secepat kilat, menoleh kearah wanita yang kini dalam pelukannya.
''Aahhkkkk....'' teriaak pangeran Canzuo.
Disana, seekor ular besar yang tengah ia peluk dan ia perlakukan sebagai Ziaruo, dari bibir ular tersebut suara desisan keras terdengar, sontak saja ia terkejut dan serta merta melepaskan pelukannya.
Melihat hal tersebut, wanita bercadar yang tak jauh dari pangeran Canzuo, tertawa renyah dan nyaring, seolah ia baru saja melihat opera komedi, seperti saat dirinya masih di dunia moderen.
Sementara itu, bagi pangeran Canzuo, kejadian ini adalah sebuah rasa malu untuknya.
Dengan cepat, ia berjalan kearah Ziaruo dan manarik tangan gadis itu dengan sedikit kasar, namun tak ada niatan dihatinya, menyakiti gadis tersebut.
''Hentikan tertawamu.'' perintahnya dengan nada agak keras.
Ditekankan disini, pangeran Canzuo tidak ingin, berbuat kasar kepadanya, namun, karena rasa malunya sangat besar, lebih lebih gadis itu tetap tidak menghentikan tawanya, ia jadi sedikit kesal.
''Aku bilang hentikan,'' ucap pangeran mahkota tang itu kembali.
''Atau aku akan melakukan sesuatu untuk membungkam bibirmu itu.'' lanjutnya lagi dengan tatapan mata tajam, dan sebuah senyum sinis pada bibirnya, kearah wanita tersebut.
Mendengar hal itu, wanita itu seketika menghentikan tawanya, ia menatap tajam kearah pria di depannya tersebut, yang kini tengah memegang tanganya dengan erat.
''Sungguh, tidak menyenangkan, aku pikir kalian memiliki perbedaan, ternyata kalian semua tidak ada bedanya.'' ucap tajam Ziaruo, sambil menghempaskan tangannya, dari genggaman tanga pria itu.
''Menggelikan sekali pikiran kalian.'' ucap Ziaruo lagi, dengan nada datar, seolah ia kecewa akan sesuatu yang ia ketahui, dari pikiran serta niatan pria di depannya tersebut.
'' Anda tidak ada bedanya dengan mereka, ( berhenti sejenak) Kalau begitu saya undur diri yang mulia.'' lanjut Ziaruo sebelum tubuhnya menghilang, dan berubah menjadi setangkai bunga hutan, bunga serupa yang kini menghiasi diatas gundukan makam Gutingye dan Gutingyan putranya.
Angin hutan bertiup sepoi, membelai apapun yang ia lalui, bahkan sang angin tak melewatkan, belaiannya atas tubuh gagah, yang kini berdiri mematung, setelah kepergian dari wanita bercadar itu.
__ADS_1
''Bahkan setelah kau meninggalpun aku masih iri kepadamu jendral.'' ucap lirih pria tersebut, dengan tangan yang masih memegang setangkai bunga hutan.