Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 203 Bukan 7 bulan.


__ADS_3

''Aku kehilangan semua kemampuan yang kumiliki, jadi kedepannya anda harus melindungi wanita ini, dengan baik.'' Tambah Ziaruo lagi.


''Heeeemmmzzz....Aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu.''


Ia sedikit terkejut, dengan tanggapan ringan dari Jing, dan tidak menyangka, bahwa sang suami akan menerima keadaannya semudah itu.


Ziaruo menatap langit-langit tirai ranjang, dengan pola lily putih, dengan manik-manik yang menggantung di sisi kiri dan kanan.


Mata coklat itu, masih bening serta tajam seperti semula.


Akan tetapi, di sana telah kehilangan kemampuannya, untuk menembus sisi lain pikiran orang lain.


Haruskah ia menyesal ataukah bersyukur?.


Bagi Ziaruo ini adalah yang terbaik dari pilihannya.


Dan mungkin ini juga adalah jalan takdir, yang telah tertulis untuk tubuh itu.


Ziaruo mengikuti alur kisah takdir dari hidupnya sekarang, seperti sumpah(keinginan) yang pernah ia ucapkan.


Pada masa itu, ia tengah mengalami kepedihan hati serta rasa kecewa yang mendalam.


Dan berharap untuk menjalani hidup, sesuai apa yang digariskan nasib saja.


Tidak mencintai dengan dalam, tidak menderita, ataupun memiliki kebencian besar seperti saat itu.


Namun, dengan tindakannya dalam pertempuran beberapa hari lalu, yang tengah di lakukannya, bukankah bukti sebuah kasih sayang mendalamnya atas jiwa fana sendiri, untuk Jiang jing wei?.


Apakah tindakannya untuk melepas segalanya, bukan demi sesuatu yang paling ia sayangi serta inginkan(rasa cinta untuk sang putra)?.


Dan apakah merelakan keistimewaannya, bukan bagian dari penderitaan dan kehilangan besarnya?.


Ziaruo masih dalam suasana hati, untuk mencoba mencerna, serta memahami itu semua.


Dengan kelelahan tubuh, serta hal berat yang baru ia alami, mata Ziaruo dalam sekejap saja telah terpejam rapat.


Meninggalkan beberapa pelayan wanita, dan kasim di sana dalam kelegaan yang mendalam.


Sementara, dua tabib yang masih berada di sana, tak jauh berbeda.


Dengan ketenangan dari sang kaisar, nyawanya masih bisa di pertahankan saat ini.


Mereka bernafas lega sejenak, sebelum akhirnya berucap. ''Kasim, kami akan berada di luar, jika sesuatu terjadi panggil segera.''


Mendengar perkataan salah satu tabib istana, kasim senior diantara kasim yang lain menoleh, dan menjawab. '' Baik, kami juga akan menunggu di luar bersama.''


Dengan ucapan tersebut, semua pelayan, kasim, dan tabib keluar dari dalam kamar.


Meninggalkan dua tubuh yang saling memberikan kehangatan, di atas ranjang.


''Krriieeet...''


Suara pintu terbuka, dan tertutup kembali dengan lirih.


....................................

__ADS_1


Waktu bergulir, dari siang menuju senja, dan dari remangnya senja kini telah menembus pekatnya malam.


Dua tubuh diatas ranjang masih terlelap dalam tidur mereka, seolah tengah menebus kekurangan waktu kemarin saat mereka terjaga.


Jiang jing wei yang telah beberapa hari tidak tidur, untuk menjaga Ziaruo, kini terbuai dalam mimpi panjang di samping sang istri.


Bahkan, ketika Ziaruo masih berbicara dengannya tadi siang, dengan rasa kantuk yang tidak tertahankan, ia menjawab sekenanya.


Jing tak menyadari apa yang meluncur dari bibir itu, ia juga tidak memahami secara mendetil apa yang di ucapkan oleh permaisurinya.


''Anda harus menjaga wanita ini dengan baik.'' Hanya itu saja, penggalan kalimat yang di dengar oleh Jing.


Meskipun, ada sedikit perasaan agak aneh mendengar Ziaruo mengatakannya, namun Jing dengan tulus dan sungguh-sungguh menjawab. '' Tentu saja aku akan menjagamu dengan baik.''


Dan setelah mengucapkan perkataan itu, ia terlelap dalam buaian bawah sadarnya.


Memeluk tubuh sang istri erat, dan tidak melepasnya lagi.


Entah itu sesi posesifnya atau insting ketakutan hati yang besar.


Bahkan, hingga ia terbangun pagi ini, tangan itu masih melingkar di atas perut Ziaruo.


''Kau sudah bangun?.'' Ucapnya lembut, ketika melihat wajah cantik, serta mata jernih di depannya.


Ziaruo telah terbangun beberapa saat, sebelum pria itu membuka mata.


''Belum lama.'' Jawabnya singkat, sembari tersenyum kepada sang suami.


''Jika masih lelah, tidurlah lagi.''


''Aku akan tetap menemanimu, sampai kau terbangun.''


Sesekali ia akan mengecup kening, serta pucuk kepala wanita itu dengan lembut.


''Jangan khawatir, tak akan ada yang terjadi kepadanya.'' Lanjut Jing, dengan mengacu kepada bayi dalam perut Ziaruo.


Mendengar perkataan itu, wanita yang juga di panggil sebagai Janda Yun, atau permaisuri Yun tersebut, memiringkan tubuh menghadap kearah Jing.


Sedikit meringkuk kan tubuh, dan semakin masuk kedalam kungkungan gagah sang suami.


''Aku tahu.'' Jawabnya singkat.


Jing yang mendapati tindakan itu, merasa bahagia.


Ziaruo-nya mencari kenyamanan dan berlindung di dalam kehangatan tubuh miliknya.


Jiang jing wei terharu.


Dan ini kali pertama perasaan tersebut, tercipta.


Menjadi sosok yang paling di harapkan oleh wanita hebat, serta sangat ia sayangi, yang kini berada dalam dekapan.


Tubuh Ziaruo seperti sebuah kejayaan, kekayaan berharga, kemegahan, serta bentuk dari kasih hatinya, kini pasrah dan meringkuk seperti bayi kecil lemah di hadapan Jing.


Jiang jing wei menyukai perasaan ini.

__ADS_1


Namun yang tidak ia ketahui, bahwa tubuh yang ia anggap hebat dan ia agungkan di sana, sekarang ini memanglah sangat lemah.


Tak jauh berbeda dari tubuh wanita-wanita lain di dalam istana kekaisaran miliknya.


Akan tetapi, itu bukanlah suatu yang dapat memisahkan, atau menciptakan keengganan di antara keduanya.


Justru, jika pria Jing mengetahui kebenaran tersebut, mungkin ia akan membangun dinding kaca tebal, serta tak mengijinkan Ziaruo untuk berada jauh dari pandangan.


Bisa juga Jing akan semakin menggila, dengan posesifnya yang kental, atas rasa takut kehilangan untuk wanita tersebut.


Jiang jing wei berpikir, Ziaruo-nya masih wanita sama, seperti saat sebelum pertempuran berlangsung.


Dan itu mungkin sedikit kelegaan bagi Ziaruo, untuk tetap bisa bergerak bebas, dan menyelesaikan semua sebelum pergi ke Yincang.


Meninggalkan pria itu dalam 7 hari ke depan, yang kini mulai berkurang.


Ziaruo, seolah tengah menyimpan sebuah bom waktu, dengan ledakan dahsyat yang khusus di buat untuk Jing.


''Tidak, wanita ini hanya ingin bermanja sejenak.'' Sahut Ziaruo pelan.


''Baiklah, lakukan apapun sesukamu.'' Jawab Jing, sembari menggerakkan tangannya lebih erat, untuk tubuh wanita itu.


''Kau boleh bermanja selama yang kau inginkan.''


''Aku menikmati waktu ini.'' Sambung jing lagi.


Di dalam kebahagiaan Jing kali ini, ia mengingat batas waktu sang istri di dunia yang hanya tersisa 7 bulan ke depan.


Hati Jing kembali gusar dan bergetar, seolah ada yang tengah meremas gumpalan daging kecil dalam dada, dengan sangat kuat.


Jing kembali ketakutan, dengan mengingat itu.


Namun, yang tidak ia ketahui bahkan akan jauh lebih menyakitkan, serta menakutkan baginya telah siap menunggu dan mulai berjalan mendekat.


Bukan 7 bulan kegetiran, namun 7 hari. Dan Jiang jing wei akan menangis darah untuk hatinya.


Semakin kita menginginkan serta mempedulikan, semakin sakit ketika kita kehilangan.


Waktu Jing sekarang, tengah terhitung mundur untuk takdirnya yang pilu.


Takdir Zanglei yang singkat atas diri Ziayun, masihlah tetap sama.


Yang membedakan saat ini, ia telah dapat hidup berdua bersama wanita tersebut, dan juga akan memiliki buah kasih sayang.


Tentu saja, nasib yang tergaris saat ini, jauh lebih baik dari garis takdirnya di kehidupan terdahulu.


Akan tetapi, apakah kenyataan itu akan membuat Jiang jing wei bersyukur?.


Penderitaan sebuah perpisahan atas seseorang yang di kasihi melebihi diri sendiri, akan jauh lebih menyakitkan dari apapun.


Baik itu untuk kebaikan, ataupun demi alasan yang lain.


Rasa sakit tersebut, tetaplah akan nyata terasa.


Dan hal inilah yang membuat wanita Ziaruo, kesulitan untuk menyampaikan kenyataan itu.

__ADS_1


Dalam pertimbangannya, Ziaruo tengah memilih waktu yang tepat.


''Jika.... wanita ini menyakiti sekali lagi, apakah anda akan memaafkannya?.'',,


__ADS_2