Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 26 Siapakah ???,


__ADS_3

Menghindar tak akan menyelesaikan masalah.


Ada dia disana dengan singgahsana kebesaran miliknya.


Meskipun ia penguasa yang ditakuti, namun bagi wanita di seluruh pelosok negri, kasih sayang serta perhatiannya adalah sebuah kemuliaan.


Di sini akhirnya kakiku berdiri, berpijak pada akar kekuasaan miliknya, tanpa penyanggah seperti ratusan orang yang hadir sekarang.


Aku di dunia Awan adalah wanita tercinta untuknya, yang bahkan untuk melihat mata ini sendu, dirinya tak akan mampu.


Akan tetapi, disini aku hanya Ziaruo gadis dari hutan yang tak ia kenal.


Dengan berjalan diantara pangeran ke-2 Murongyu, dan Yongyu sang kakak, nyatanya pikiran Ziaruo mengembara di antara kenangan kehidupan terdahulu....sedih, pilu namun harus tetap tampil tenang.


Angin yang berhenbus dari pintu masuk di balik punggung, menyapa tubuh ketiganya lembut, dan menyeruakan aroma keharuman khas Ziaruo ke seluruh ruangan.


"Pangeran ke-2 murongyu memasuki aula perjamuan.''


''Tuan Yongyu dan nona Ziaruo memasuki perjamuan.''


Kasim mengumumkan kedatangan pangeran ke-2 Murongyu, Yongyu dan Ziaruo.


Para tamu undangan berdiri, membungkukkan tubuh serta memberi hormat, hingga Murongyu sampai ditempat duduknya.


Meski nama ketuganya tidak tergabung dalam satu kali penyeruan oleh sang kasim.


Akan tetapi, karena tempat duduk mereka bersandingan dngan Murongyu, smua irang yang hadir seolah juga menyematkan penghormatan untuk kakak beradik tersebut.


Dan entah itu kebetulan, ataukah kesengajaan, Yang jelas saat ini Ziaruo duduk bersama pangeran Murongyu dan juga Yongyu, pada baris meja ke-2 didekat singgahsana.


Setelah meja selir keagungan ( ibunda pangeran ke 2)


Ibarat setali tiga uang, Murongyu mengambil inisiatif untu mengajak Ziaruo memberi salam kepada selir jianyue, dan hal tersebut memperoleh sambutan baik dari sang ibunda.


Dihadapan mereka ( seberang meja ) keluarga kekaisaran yang lain juga ikut menikmati momen yang mereka anggap langka.


Pasalnya, melihat pangetan ke dua Murongyu membawa seorang wanita, terlebih lagi memeperkenalkannya kepada selir keagungan adalah hal yang langka.


Tak terkecuali para pemilik meja yang verada tepat di samping kursi kaisar, yaitu meja putra mahkota Muronghui, dan pangeran ke-3 Murongling.


Hingga......


"Yang mulia kaisar, putra yang di berkati langit memasuki aula perjamuan."


''Yang mulia permaisuri kekaisaran Xili memasuki perjamuan.''


Kasim mengumumkan kedatangan kaisar Murongxu, dan permaisuri Sujin, dengan suara yang keras serta nyaring.


Semua orang berdiri mendengar seruan itu.


Mereka membungkuk dan memberi hormat.


"Semoga yang mulia kaisar, dan yang mulia permaisuri, selalu sejahtera dan hidup 100 tahun.'' Ucap semua orang bersamaan.


Sebelum akhirnya kaisar Murongxu mengangkat tangan, dengan maksud bahwa ia mengijinkan semua orang untuk bangun, dan duduk kembali ditempat masing-masing.


Dengan masuknya sang kaisar kedalam ruang perjamuan, maka sederetan acara berurutan di tampilkan.


Baik itu penyerahan hadiah dari semua orang, persembahan, ajang unjuk kebolehan, atau lebih tepatnya ajang unjuk bakat dan pesona para putra-putri bangsawan, serta pejabat kerajaan.


Dan tentu saja, juga untuk para putri dari kekaisaran Xili yang hadir didalam acara perjamuan.


Hal ini bertujuan menarik perhatian, dari orang yang ingin mereka dapatkan/mereka sukai, untuk sebuah hubungan pernikahan.


Oleh karena itu, dalam acara acara seperti ini, selalu dijadikan sebagai sebuah kesempatan besar, bagi muda-mudi kalangan atas.


Di sela acara perjamuan, entah berapa kali mata Ziaruo bersitatap dengan manik pekat sang kaisar.


Namun, ia tetap tenang, dan seolah ia tidak memiliki perasaan lain serta ketakutan.

__ADS_1


Ziaruo menunduk pelan setiap kali hal itu terjadi, sebagai bentuk penghormatan untuk sang penguasa.


Dan ia akan segera mengalihkan pandangan ketempat lain.


Ziaruo tidak pernah merasa takut, akan sangsi hukuman bagi mereka yang berani bertindak langcang, atau kurang ajar terhadap kaisar.


Namun, seolah mengerti pemikiran dari gadis tersebut, kaisar juga segera mengalihkan pandangan kearah lain, atau lebih tepatnya pria asing disampingnya.


"Siapa dia, mengapa aku merasa seolah mengenalnya?, dan bahkan aku membiarkan saja ketika melihat tatapan mata tak bersahabat kearahku.'' Gumam kaisar dalam hati.


Murongxu merasa tidak nyaman atas tatapan Ziaruo, ia beranggapan bahwa wanita yang di bawa oleh sang putra seolah membencinya.


''Eheemm..'' Kaisar berdehem pendek.


"Pangeran Murongyu, apakah kau tidak akan memperkenalkan siapa wanita cantik, yang berada disampingmu?.''


Tanya kaisar tiba-tiba.


Sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang mendadak. Namun, lebih tepatnya ia ingin mengetahui, orang yang telah menyelamatkan putra ke-2nya, dan sekaligus mencari penjelasan, atas ketidaknyamanan hatinya saat ini.


Ada deskripsi tersendiri dihati kaisar Murongxu ketika melihat Ziaruo.


Dan itu apa, ia tidak dapat menentukannya.


Kaisar Murongxu hanya merasa bahwa, gadis itu memiliki kebencian untuknya.


Akan tetapi, ia juga tidak dapat mengabaikan tatapan mata gadis tersebut, yang seolah mengusik sesuatu yang telah lama tertidur, di dalam dirinya.


Memperoleh perhatian secara langsung dari kaisar, bukanlah hal kecil untuk diabaikan. Karena hal itulah, Ziaruo menjadi pusat perhatian dari hampir semua orang.


Bagi mereka seakan mendapatkan hal baru, untuk di ulas dan diselidiki.


Sementara itu, pangeran ke-2 Murongyu yang merasa namanya dipanggil, dia meminta Ziaruo untuk menemaninya maju kedepan.


Hal tersebut, bukan tanpa alasan.


Namun, karena perintah dari kaisar meminta untuk memperkenalkan wanita itu.


''Bangunlah.'' Kaisar.


''Siapa namamu?, apakah benar kau yang menyelamatkan putraku?.'' Sambung kaisar kembali, yang ditujukan untuk Ziaruo.


"Jika aku menyebut namaku apa kau akan mengingatnya?.''


Ziaruo terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata. "Hamba Ziaruo yang mulia.


''Dan suatu keberuntungan bagi wanita ini, memiliki kesempatan dapat membantu seorang putra keturunan dari kekaisaran Xili.''


Mendengar nama Ziaruo dan sura itu, kaisar Murongxu merasa seolah ada gemuruh hebat didalam dada bidangnya.


Pria penguasa Xili tersebut diam, dan tak berucap apa-apa.


Hanya mata saja yang lekat menatap tepat kearah Ziaruo.


"Bahkan setelah menyebut namapun, anda tetap tak mengenaliku yang mulia.


Maka aku memutuskan akan menjauh.'' Pikir Ziaruo dalam hati.


"Mengapa anda memakai cadar nona Ziaruo?.'' Tanya kaisar. Dngan maksud mencari tahu lebih detil identitas gadis remaja di depannya.


Hati miliknya berkata, bahwa ia mengenal wanita dibawah sana, tapi siapa?, kaisar Murong tidak bisa mengingatnya apapun.


"Ampuni hamba yang mulia, tidak ada maksud untuk melakukan ketidak sopanan kepada yang mulia, hanya saja....''


Jawaban Ziaruo, tidak terselesaikan, katena sebuah suara yang memotong ucapan gadis tersebut.


"Apakah kau menolak membuka cadarmu nona Ziaruo?.'' Permaisuri Sujin ikut membaur diantara perkataan itu.


''Meskipun kau penyelamat dari pangeran ke-2, bukan berarti kau di izinkan untuk menolak permintaan kaisar.''

__ADS_1


Permaisuri Sujin yang sejak awal tengah gelisah, dan merasa kurang senang atas kehadiran, serta keberhasilan Murongyu, bermaksud melempar satu batu dengan dua bidikan untuk pangeran ke-2 dan Ziaruo.


Ia ingin menjatuhkan pangeran ke -2 yang ia benci, sekaligus juga merendahkan penolongnya, yaitu Ziaruo.


Menyaksikan tindakan itu, hampir semua orang memahami, maksud dan tujuan dari wanita di samping kaisar.


Ada tiga pasang mata di balik meja tamu undangan mengepalkan tangan mereka, namun yang lebih mengherankan, bahkan kaisarpun yang tak mengenal Ziaruo, juga reflek mengepalkan tangannya erat, melihat gadis didepannya itu hanya diam menunduk.


Pangeran kedua merasa geram dengan sikap wanita No.1 di kekaisaran Xili tersebut, namun ia masih menahan diri dan hendak berucap. "Yang mul...'' Akan tetapi ucapan pangeran ke-2, terpotong oleh sahutan sang Permaisuri kembali.


"Pangeran kedua, apakah kamu akan menyalahkan Ayahandamu, yang sebagai seorang kaisar, atas sebuah permintaan kecil dihari pentingnya ini?.''


Laigi-lagi Permaisuri Sujin ingin pangeran Murongyu tidak memiliki suara untuk menyampaiakan maksud hatinya.


Dan Ziaruo memahami trik itu, ia adalah wanita penguasa lain di dataran tinggi Awan, dengan pengalaman yang bahkan orang Awam tidak mampu mengukurnya.


"Ampuni kebodohan wanita hina ini yang mulia permaisuri, mohon sekiranya yang mulia berbaik hati, serta memaafkan ketidak tahuan hamba....'' Ucap Ziaruo berusaha menghentikan perkataan kasar Sujin untuk pangeran Murongyu.


''Hamba akan melepaskan cadar penutup wajah ini.'' Lanjut Ziaruo tenang, dan masih dengan penuh kelembutan.


Akan tetapi, seolah hal itu belum memuaskan hati serta pikiran Sujin, wanita penguasa tersebut kembali berkata.


''Tunggu dulu nona Ziaruo, aku tidak bermaksud memaksamu untuk melepasnya, karena kami tidak pernah memaksakan, kehendak kami dengan kekuasaan sebagai dasar.''


''Apalagi anda adalah seorang penyelamat bagi pangeran negri Xili kami.''


Ucapan itu, seolah meluncur dengan kebijakan serta rasa tulus.


Meski demikian, jelas Ziaruo tahu itu hanyalah sebuah pembersihan atas tangan yang telah melempar batu.


''Namun, jika kau ingin membuka cadarmu, bisakah kami yang diruangan ini dapat melihat, mengapa anda begitu ingin menutup kecantikan wajah anda nona.'' Lanjut sang Permaisuri kembali.


Ada kepuasan pada setiap decak yang terdengar dari gerak bibir ranum permaisuri.


Ia berpikir bahwa wanita Ziaruo memiliki wajah yang tak pantas untuk dilihat oleh orang lain, atau memiliki luka dan noda yang tak patut untuk dilihat.


Oleh karenanya, Suji begitu penasaran dan ingin membuat wanita itu merasa malu, agar Murongyu menderita.


''Aku mendengar, bahwa anda sangat cantik, bahkan sampai sampai anda tidak ingin dilihat oleh orang lain.'' Lanjutnya kembali.


Permaisuri Sujin masih tetap dengan kekasaran yang ia samarkan dalam balutan kelembutan, serta kemulyaan atas sanjungan beracun miliknya.


Hampir semua orang faham, bahwa ucapan tersebut kasar ataupun berupa sindiran.


Meskipun itu kenyataan, akan tetapi tetap tak bisa disangkal.


"Nona Ziaruo ternyata kebaikan anda berbuah hinaan dan rasa malu.'' Gumam Wuhan dalam diam, dengan tatapan dingin kearah singgahsana.


''Sungguh permaisuri yang hebat, wajah cantik dan bibir juga cantik dalam berucap.'' Pikir kaisar Jingwei, yang tengah mencengkram cangkir teh kuat.


"Aku akan mengirimimu sebuah hadiah indah permaisuri, aku harap anda akan menyuakainya.'' Geram Yongyu dalam sorot mata tajam.


Yongyu merasa kesal, hingga ke ubun-ubun, jika saja tadi Ziaruo tidak memeberinya isarat agar dia tetap bersabar, mungkin sekarang permaisuri sudah terkena jarum beracun milik Yongyu.


"Ampuni hamba yang bodoh ini yang mulia permaisuri, dengan senang hati dan tanpa paksaan, Ziaruo akan memeperlihatkan wajahnya untuk semua.'' Jaab Ziaruo, dengan suara masih tenang seperti semula.


''Aku yakin pasti ada masalah dengan wajahmu itu, makanya kau memakai cadar, dan maaf saja, ini karena nasib burukmu, telah menyelamatkan Yuer( pangeran ke 2 ).'' Pikir permaisuri, dengan tatapan sinis untuk Ziaruo.


"Ini semua salahku nona, maafkan aku yang tak bisa menjagamu.''


Murongyu seolah ingin meremas sesuatu hingga lebur, gigi-giginya rapat tertutup, matanya menatap tajam kebawah, rahangnya mengeras, dan dengan tubuh kekarnya yang tampak seolah gemetar, menahan amarah.


Sementara itu kaisar benar benar seperti seorang yang t*li dengan ucapan ucapan permaisuri, dia memang tidak mendengar apa perkataan dari istri sahnya tersebut.


Murongxu begitu gelisah mendengar nama Ziaruo, ia menggumamkan nama tersebut beberapa kali, ia yakin ia mengenal nama itu tapi dimana?, dan siapa dia?, hingga ia hanya fokus pada gadis bercadar itu saja.


''Lihatlah tanpa kekuasaan, kau bahkan tidak dapat menlindungi penyelamat, sekaligus wanita yang kau cintai, apakah kau masih akan menolak, kekuasaan yang bisa kau miliki putraku.'' Ucap selir keagungan Jianyue dalam kebisuan.


Selir tersebut merasa sedih untuk putranya, yang sedari dulu memang tidak tahu, dan tak mau tahu apapun, tentang perebutan kekuasaan.

__ADS_1


Namun, karena ia terlahir sebagai salah satu putra naga ( seorang pangeran ), mau tidak mau semua plot-plot, serta intrik tetap datang padanya.


__ADS_2