
''Terimakasih, atas kesedian anda sekalian untuk datang, dan silahkan menikmati hidangannya.'' Ucap Canzuo, setelah ia duduk di atas singgahsana kebesaran.
Pria dengan usia yang masih Muda tersebut, tampak memiliki ketenangan, serta aura yang menunjukan suatu kewibawaan tinggi.
''Kau akhirnya datang Ruoer.'' Gumamnya pelan, setelah menatap sekilas, kearah tempat duduk disamping kirinya.
Sebuah tatapan yang seakan, ingin menghilangkan kehadiran setiap orang yang disana.
Tentu saja tidak terkecuali, Kaisar Jiang jingwei sang suami dari wanita itu (Ziaruo), yang kini tengah melekat erat, layaknya perekat super tersebut.
Kaisar Canzuo kembali mengisyaratkan, sebuah perintah kepada pelayannya.
Dengan gerakan tangan pelan, seorang kasim tak jauh darinya, memberikan instruksi kepada semua orang yang bersangkutan, untuk memulai rangkaian acara.
Dan tak membutuhkan waktu lama, sebuah perpaduan bebunyian dari beberapa alat musik, menciptakan irama melodi yang menggema indah, di pendengaran semua orang.
Kemerduan melodi yang mengalun, semakin semarak dan menarik perhatian semua mata, tatkala sekelompok penari wanita, menghambur ketengah ruangan.
Para pemberi jasa hiburan tersebut, dengan gerakan lemah gemulainya, menyihir hampir seluruh tamu yang hadir disana.
Tentu saja, khususnya para kaum adam, yang memiliki desir keinginan, dengan lawan jenis.
Dan hal itu, bukanlah sesuatu yang tak beralasan.
Para penari yang tengah bergeliat gemulai itu, khusus di pilih oleh kaisar Canzuo, dari deretan jajaran, penari terbaik di ibu kota kekaisaran.
Dan bukan hanya itu saja, selain mereka mahir di dalam tarian, mereka juga pandai melantunkan syair, serta nyanyian yang merdu.
Ibarat sebuah kembang gula yang manis, serta dilengkapi warna yang indah.
Serta dengan tampilan wajah yang cantik, dan di dukung kemolekan tubuh. Mereka mampu membuat jantung semua orang, bak genderang yang tengah ditabuh berulang kali.
Pakaian-pakaian mewah yang melekat, serta berwarna-warni, semakin memanjakan keinginan, serta hayalan liar, pasang-pasang mata disana.
Melihat tatapan, serta ekspresi semua orang itu penuh kekaguman, kaisar Canzuo kembali melihat kearah samping kirinya sekilas.
Tepat di sampingnya, selir kaisar Gu Qianxue ikut menikmati rangkaian acara, yang kini tengah berlangsung tersebut.
Mata kaisar Muda itu bergerak sedikit lebih jauh.
Dan tepat pada ujung matanya, tampilan yang jauh lebih menarik bagi pria itu, kini berada di sana.
Mungkin bagi selir Gu, kaisar Canzuo sedari tadi tengah mencuri-curi lihat kearahnya.
Hal itu, membuat wanita yang tengah hamil muda tersebut, tersenyum dengan rona malu.
__ADS_1
Akan tetapi, pada kenyataannya, ia adalah wanita yang saat ini, ingin di singkirkan oleh pria penguasa no satu itu.
Karena pada saat-saat tertentu baik dirinya, ataupun pelayan selir Gu, terkadang menghalangi pandangan sang kaisar, kearah Ziaruo pada titik sempurnanya.
Sementara bagi kaisar Jing, tak ada yang jauh lebih indah, dan menarik, dari semua wanita di dunia ini sekarang, selain Ziaruo sang permaisuri.
Dan tidak juga dengan wanita wanita di depan sana, yang tengah meliuk, melenggok gemulai, dengan pakaian kurang bahan mereka yang indah.
Akan tetapi, Jing justru sibuk mencermati makanan, serta buah-buahan, yang hendak ia letakkan di depan sang istri.
Pria tersebut, tidak memperdulikan siapun disana. Bahkan, ia mengacuhkan beberapa tatapan menggoda, dari penari di tengah ruangan, yang berusaha memikat kaisar tersebut.
''Jika kau menyukainya, aku akan menjadikannya menu utama cemilan, yang selalu di sediakan di istana kita Yun....'' Ucap Jing lembut.
Jiang jing wei mengatakan itu, ketika melihat sang Permaisuri, beberapa kali mengambil manisan buah di depannya.
Mendengar perkataan itu, Ziaruo menoleh kearah kaisar Jing, dan terkekeh kecil, sebelum akhirnya berkata. ''Jangan seperti itu, aku hanya mengingat sesuatu saja..''
Dan pada kenyataannya, Ziaruo memang tengah memikirkan suatu kejadian, yang telah lama berlalu dan hampir ia lupakan.
Oleh karena itu, ia menatap manisan tersebut, tersenyum sejenak, dan tanpa sadar, ia mengambil manisan, serta kemasukannya kedalam mulut beberapa kali.
''Jangan berfikir tentang apapun, aku disini...pikirkan saja dirimu, aku dan anak kita.'' Sahut Jing lagi.
Akan tetapi, kali ini suara itu terdengar agak keras.
Namun, karena suara alunan musik, serta nyanyian disana, hanya mereka yang benar-benar dekat saja, yang mampu mendengarnya.
''Yang Mulia...mengapa anda semakin menggemaskan begini?, apakah nantinya anda akan bersaing dengannya?.'' Lanjut Ziaruo, dengan memfokuskan mata, kearah perut ratanya.
''Tentu saja, bukankah aku yang jauh lebih berhak atas dirimu?, lagi pula, dia bisa di urus oleh pengasuh, sementara aku...Aku hanya ingin kau saja yang mengurusku.'' Sahut Jing menggoda Ziaruo.
''Heeemmmzzzz.....baik...baik, wanita ini akan mengurus anda dengan baik.'' Jawab Ziaruo kembali, sembari meraih tangan sang suami, menggenggamnya dengan penuh ketulusan.
Memperoleh balasan yang demikian, Jing menampilkan senyum bahagia.
Ada kehangatan yang kian menyeruak, serta memenuhi relung hatinya saat ini.
Membuatnya melupakan apapun, kejadian buruk yang telah membekukan, segumpal daging di dalam dadanya selama ini.
Pria tersebut membuka tangan, serta menautkan jari-jarinya, diantara pucuk-pucuk lentik jemari Ziaruo.
Dengan wajah penuh rona, ia kembali berucap. ''Aku tahu, kaulah yang terbaik, dan dapat di pastikan kalianlah yang terpenting untuk pria ini.''
Mendengar setiap ucapan yang penuh ketulusan dari Jing, Ziaruo tak dapat mengelak, bahwa ia bahagia.
__ADS_1
Namun, apakah segalanya akan selesai, dan menjadi sempurna, hanya dengan kebahagiaan mereka.
Sementara itu, tak jauh dari tempatnya berada.
Ada beberapa pasang mata, yang menatap dengan penuh makna.
''Sia*lan, bahkan kau sengaja melakukannya di depanku.'' Gerutu kaisar Canzuo, sembari menatap lekat tajam, kearah tempat duduk mereka.
Sementara, selir Gu yang merasa tatapan sang Kaisar mengarah kepadanya, tersenyum beberapa kali, dan menundukkan wajah dalam.
Wanita itu merasa tersipu dengan tatapan sang kaisar.
Hingga beberapa saat kemudian, ia merasa bahwa tatapan tersebut, berubah menjadi tajam, serta tak lagi memancarkan kelembutan, seperti biasanya.
Selir Gu kebingungan dan ingin mengetahui, apa yang membuat sang kaisar suaminya, memiliki kemarahan secara tiba-tiba.
Ia kembali menundukan wajahnya.
Akan tetapi, kali ini banyak pemikiran, kebingungan, serta pertanyaan berkecamuk disana.
Hingga sebuah suara yang sangat dikenalinya terdengar. ''Hormat hamba Yang Mulia kaisar, Yang Mulia permaisuri, Semoga anda selalu bahagia.''
Mendengar sapaan tersebut, kedua orang yang tengah asyik dengan dunia mereka, mengalihkan pandangan tepat kedepan.
''Heemz...'' Sahut kaisar Jing, malas.
Ia tahu, bahwa pria di depannya tersebut, cepat atau lambat akan datang kepada mereka. Atau lebih tepatnya, datang kepada sang Permaisuri.
Jing menjadi kesal dan hilang semangat.
Apapun dan siapapun, selama hal itu berhubungan dengan seorang pria yang dekat dengan Ziaruo, selalu dapat mengubah moodnya menjadi buruk.
Terlebih lagi, dirinya tak bisa menunjukan ketidak sukaan, atas kedatangan orang-orang yang dianggapnya menggangu tersebut.
Kaisar Jing hanya dapat, menampilkan kemalasan, serta ekspresi acuh saja di depan pria, yang tak lain adalah Jendral besar Gu, ayah dari suami pertama Ziaruo (Gutingye), yang telah meninggal di hutan barat kekaisaran Xili.
Namun, berbeda dengan sang kaisar, Ziaruo justru tampak tertarik serta tenang.
Wanita itu menatap pria di depannya, dengan tatapan hangat, serta lembut.
Melihat reaksi tersebut, pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu, tersenyum dan kembali berkata. ''Maaf atas kelancangan pria tua ini, hamba adalah pria tua dari keluarga Gu, ayah tidak beruntung dari pria kasar Gutingye.''
Mendengar ucapan sang jendral tua, Ziaruo membulatkan mata sejenak.
Wanita itu berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekat kearah pria tua, yang menyebut dirinya bermarga Gu.
__ADS_1