Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 27 Bertahan untuk menang


__ADS_3

"Hamba Ziaruo yang mulia kaisar, dan suatu keberuntungan bagi wanita ini, memiliki kesempatan dapat membantu pangeran kekaisaran Xili.''


Ucapan tersebut terus terngiang ditelinganya, hingga ia kembali kedalam kamar.


"Apakah kita saling mengenal?, siapa dirimu sesungguhnya?, mengapa ketika mereka memuja dan mengagumi dirimu, tiba tiba saja dadaku terasa tak nyaman.''


"Mengapa seolah begitu mengenalku, bahkan tubuh ini juga bereaksi tanpa fikiranku didepanmu?.''


Pikiran kaisar Murong terus berkelana, dibalik kelelahan dan kenyamanan tempat tidur miliknya, kebingungan serta ilusi kian menyatu.


Hingga selang beberapa saat kemudian, sebuah suara menyadarkan dirinya.


"Yang Mulia ...ha..ha.Yang Mulia...ha..ha.., mengapa anda begitu lambat, cepat kejar saya...yang mulia ..yang mulia...'' Ucap seorang wanita cantik dengan gerakan berlarian, yang diiringi dengan tawa riang.


Di sana Murongxu seolah sangat akrab serta memahami apa keinginan wanita itu.


Dengan tanpa ragy Murong mengimbangi dengan senang hati, dan berupaya sekuat tenaga mengejarnya.


"Jangan terlalu kencang, kau bisa terjatuh.'' Ucap Murongxu, mengkhawatirkan sang gadis.


Ia merasa khawatir atas diri dari wanita di depannya.


Seolah Muronglah yang akan terluka dan merasa sakit, untuk sang wanita jika terjadi apa-apa terhadap tubuh itu.


Namun tiba tiba saja, gadis itu berhenti dan berbalik ke arah, ia berjalan semakin cepat dan kian cepat mendekat kearahnya.


Kejadian Yang tadi berlari menjauh, kini ia berjalan sangat cepat mendekati Murongxu.


Kali ini tampak diwajah itu sebuah kesedihan yang mendalam.


Dengan nada sendu serta pilu, ia berkata.''


"Mengapa Anda menghianatiku yang mulia, mengapa harus memiliki mereka?, aku menunggumu.... selalu setia kepadamu...mengapa Anda lakukan ini kepadaku?.''


Mendengar pertanyaan itu, Kaisar Murong kebingungan, ia menangkup pipi putih gadis tersebut dengan erat.


"Jangan menangis, ..jangan menangis, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau seperti ini, hatiku sakit melihatmu seperti ini.'' Bujuk Murongxu dengan raut kebingungan.


Ia bertindak sebagai seorang kekasih dan juga suami yang tengah berusaha membujuk orang terkasih untuk sebuah kesalahan besar yang telah ia lakukan.


Hatinya terasa pilu dan sesak, ketika melihat gadis di depannya menangis.


"Mengapa kau melukaiku Rongxu?, ...mengapa kau menyakitiku?.'' Ucapan itu lagi dan lagi, masih terdengar dengan kepiluan yang kental.


Tangan cantiknya berulangkali memukul-mukul dada Murongxu dengab kuat.


Melihat hal tersebut, Murongxu berusaha menghentikan tangan gadis tersebut, tanpa menghiraukan pukulan dari sang wanita.


Seolah tak pernah ada rasa sakit akibat dari tindakan tersebut, dengan gerakan yang masih lembut, ia memegang tangan itu sebelum akhirnya meraih tubuh sang wanita dan memeluknya erat.


Dengan posisi yabg berpelukan, perlahan namun pasti, Murong mendengar suara lirih ditelinganya.


"Kau ...berhianat, kau menyakitiku, dan sekarang kau juga membunuhku ...Morongxu.''


Sebuah ucapan yang bahkan, jauh lebih tajam dari bilah pisau tajam.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut hati Murongxu hancur, dia merasa seolah telah kehilangan dunianya.


Tuba-tiba saja ia merasa sangat takut kehilangan gadis itu. Perlahan ia lepas pelukan, ditatapnya wajah cantik yang tepat di hadapannya tersebut.


Tangan kokoh itu ingin merengkuhnya kembali, akan tetapi entah mengapa kedua tangannya bergerak melepas tubuh Ziaruo.


Murong membulatkan mata tak percaya, kedua tangan serta tubuhnya bergerak sendiri, tak mau menuruti perintah pikiran serta hatinya.


''Tidak....tidak..tidak..'' Pekiknya dengan mata yang terus nenatap kearah wanita dibdepannya.


Bukan hanya itu saja, entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja dibalik tubuh gadis tersebut, tercipta sebuah lubang gelap yang sangat dalam.


Di saat tangan Murongxu melepas pelukan dan mendorong tubub itu, sebuah perkataan kembali terucap dari bibir sang wanita. "Kau selalu seperti ini, bibirmu berkata tentang cinta, namun tangan dan tubuhmu mendorongku kedalam jurang, kau kejam!.''


Sesaat setelah ia menyelesaikan ucapannya, tubuh wanita tersebut terjatuh kedalam jurang yang baru saja terbentuk.


Dan sekeras apapun usaha Murongxu menggapainya, tetap saja, tubuh sang wanita meluncur ke bawah dengan cepat.


"Tiiidaaakkk....tiiidaaakk....!.'' Teriak Murongxu kencang, sembari berusaha meraih tubuhdi depannya dari pinggiran lubang.


Melihat tubuh yang kian menjauh dan semakin masuk kedalam lubang, tangis Murong tak lagi dapat ia tahan, ia meratap, serta meraung pilu ditepi jurang gelap.


''Apa ..apa salahku?, mengapa aku tidak mengerti apapun?.''


"Yang mulia ...yang mulia...yang mulia ..." Panggil kasim Di, dengan cemas manakala melihat sang kaisar junjungan, berteriak teriak diatas ranjang.


"Syukurlah anda sudah bangun yang mulia, hamba sangat cemas.'' Ucap sang kasim lagi, ketika Kaisar Murongxu membuka mata.


Pria diatas ranjang tersebut terdiam sejenak.


dengan perlahan ia meraba sudut mata dab pipi miliknya.


"Apa aku barusan bermimpi kasim Di?.'' Tanya Murongxu kebingungan.


"Benar yang mulia, anda bermimpi, dan sepertinya itu sangat buruk.''


''Maafkan pelayan bodoh ini, karena telah lancang mengganggu istirahat anda.'' Jawab sang kasim kembali.


"Tidak...''


'' Aku baik-baik saja, kembalilah aku akan tidur lagi.'' Jawabnya pelan, sebelum kembali merebahkan tubuh.


"Ziaruo....'' Gumamnya kembali, sembari membaringkan tubuh itu lagi.


* flash back on *


"Ampuni hamba Yang Mulia permaisuri, dengan senang hati serta tanpa paksaan Ziaruo akan memeperlihatkan wajahnya, untuk semua yang berada di sini.'' Jawab Ziaruo dengan suara tenang.


Perlahan namun pasti, cadar yang menutup wajah gadis itu, mulai terbuka.


Dan disaat kain penutup tak lagi berada pada tempatnya, pandangan kaisar, permaisuri, bahkan para dayang yang berada didekat singgahsana kaisar membelalak tak percaya.


Bahwa ada kecantikan yang sedemikian indah, hadir didunia ini.


Kaisar Murongxu tak dapat menjelaskan perasaan apa dihatinya tersebut. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar keterkejutan, serta kekaguman.

__ADS_1


Sontak saja tubuh gagahnya berdiri tegap. Entah apa yang terjadi, tubuh Murongxu seolah hendak berlari, dan memeluk wanita di depannya.


Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, di dengarnya lagi suara lembut itu. "Sekarang izinkan wanita rendah ini, untuk menyapa semua orang yang mulia permaisuri, yang mulia kaisar.''


Perlahan Ziaruo berbalik arah membelakangi orang-orang yang berada diatas singgahsana.


Ruangan tersebut tampak hening tak ada sepatah kata terucap, yang ada hanya mata- mata terpana, serta mulut yang berdecak kagum untuk wanita itu.


Bahkan meski terdiampun, mereka semua tak dapat menutupi pemujaan dalam pikiran mereka.


Ziaruo merasa risih, mendengar setiap ucapan, pujian bahkan pikiran semua yang hadir.


Wanita itu berusaha menampilkan ketenangan hati, meski sorot mata miliknya memperlihatkan kesedihan, kecewa, bahkan juga ada kemarahan disana.


Memang benar banyak decak kagum serta pujian-pujian, tapi apakah itu berharga untuknya?.


Bagi Ziaruo, itu bukanlah hal yang penting, karena disana juga ada kebencian dan iri hati dari para tamu wanita.


Semakin baik dirimu didalam jenismu, maka semakin besar kebencian mereka atas dirimu.


Terlebih lagi, ketika hampir semua tamu pria yang berada disana, memiliki imajinasi horror ( kurang pantas )tentang dirinya.


Lagi dan lagi, Ziaruo dihadapkan pada kenyataan yang sangat berbading balik dari teori yang sering dia dengar, bahwa kebaikan akan sesuatu akan selalu memperoleh kebaikan juga.


Namun pada kenyataannya, kebaikan atau keistimewaan yang ada pada dirinya, menuai sebuah kebencian, iri serta pikiran kotor dari orang lain.


Zoaruo mengingat kembali masa lalunya, dimana suami terkasih Murongxu bahkan akan membunuh siapapun yang berani menatap dirinya, dengan pikiran kot*r meskipun hanya sekilas saja.


Akan tetapi, sekarang ia justru harus menunjukan wajah itu kepada semua orang disana, dan memperoleh kekecewaan seperti ini.


Ruangan masih tetap hening beberapa saat, hingga seorang pemuda datang dengan membawa secarik kain yang tadi ia jatuhkan.


"Pakailah, tutupi wajah anda lagi nona.'' Ucapnya lembut, setelah berdiri di dekat sang wanita.


Namun tentu saja didalam fikiran pemuda tersebut, masih terukir sebuah kekaguman, serta keegoisan yang tidak pada tempatnya.


Mengetahui hal tersebut, Ziaruo hanya tersenyum tipis, seolah ia menyesalkan atas setiap pikiran-pikiran yang tidak pada tempatnya tersebut.


Dengan suara yang masih tenang, ia berkata. "Maafkan wanita rendah ini yang mulia putra mahkota.''


Namun, jika hanya untuk sebuah cadar penutup wajah, saya bisa menghadirkan lebih dari cukup untuk menutupinya.''


Ziaruo mengatakan segalanya tanpa rasa takut, baginya jika ia mau dan menghendaki kehancuran, bagi semua orang yang disana bukanlah hal yang sulit.


Akan tetapi ia tak ingin mengotori tangannya hanya karena perasaan kecewa, serta merasa direndahkan.


Dengan masih menatap Putra Mahkota, Ziaruo kembali berkata. ''Namun diseluruh kekaisar Xili ini, apakah ada cukup cadar, untuk menutup rasa malu, dan terhinanya seorang wanita, yang telah di permalukan yang mulia?.''


''Jika hanya sebuah cadar, maka wanita ini memiliki jauh lebih dari cukup, untuk menutup wajahnya.'' Lanjut Ziaruo kembali, sembari menggerakan tanganya perlahan.


''Sret...sreet..sret''


Didepan semua orang gadis itu, menciptakan sebuah cadar dari kehampaan udara, dan dengan tepat menutup wajah cantiknya kembali.


Sesaat kemudian semua orang gemetar, dan mulai menampilkan pias pada wajah mereka.

__ADS_1


Bahkan, kaisar Murong yang berada di atas sana, terduduk pada singgasananya dengan kasar.


''Bruuughk...''


__ADS_2