
Mendengar pertanyaan itu, Murong tersadar dari lamunan dan tersenyum kearah Ziaruo.
''Sebenarnya pria ini telah menyelesaikan sarapannya sejak tadi, kalian lanjutkan saja. Jangan merasa sungkan.''
''Aku kesini, karena melihatmu dari jauh, bukan untuk sarapan.'' Sambungnya dalam pikiran.
Dan tentu saja, itu tetap terkubur dalam kebisuan, tak akan lolos dari bibir Murongyu.
Mendengar jawaban dengan nada santai itu, Ziaruo menoleh kearahnya sejenak dan kembali berucap. ''Terimakasih.''
Wanita itu memang demikian, ia akan jauh lebih nyaman ketika orang di sekitarnya memberikan kenyamanan untuk diri mereka sendiri.
Dan ia akan cenderung mengesampingkan segalanya, jika lawan bicaranya memberikan keengganan atas tindakan mereka.
Di sini Murongyu hanya memesan secangkir teh panas, dan duduk diam disana bersama cemilan kecil yang disediakan oleh kedai.
Sesekali pria tersebut akan melirik, serta memperhatikan kedua orang, yang kini sebangku dengannya tersebut.
Ia tak lagi mengindahkan, tatapan syarat makna dari para penjaga yang sejak tadi terfokus diantara mereka. Pria itu masih asyik dengan tindakan dan lamunan di benaknya.
Murong benar-benar tak ambil pusing sama sekali. Hingga setelah beberapa saat berlalu, sebuah suara renyah membuyarkan fokusnya.
''Kak...apakah kita akan langsung berangkat lagi setelah ini?.'' Tanya Cangge, sembari mengusap ujung bibir, membersihkan sisa-sisa makanan yang ia lahap dengan cepat.
Wanita itu menghentikan makan, dan meletakan sumpit diatas mangkuk.
''Tentu saja, apa Ge'er masih capek?.''
Mendengar pertanyaan itu, Cangge menunduk dan tersipu. Dan di bawah meja, kedua tangannya saling bertautan.
''Tapi...sebelum kita berangkat, kita akan membeli beberapa baju untukmu.'' Lanjut Ziaruo lagi.
''Bagaiamana aku bisa lelah?, kakaklah yang mungkin kelelahan karena menggendongku.'' Gumam bocah itu lirih.
Ia merasa malu untuk mengakui, apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Namun, dengan kemampuan serta tubuh ringkihnya, Cangge tak dapat berbuat apa-apa.
Jika ia menolak untuk di gendong, Cangge takut akan semakin menyusahkan Ziaruo dengan menunggunya yang lemah serta lamban.
Bocah Cangge masih menunduk, sebelum kembali berucap. ''Maaf nanti masih harus merepotkan kakak.''
__ADS_1
Menyaksikan sikap dan keengganan Cangge di depannya, Ziaruo merasa bahwa bocah tersebut imut serta menggemaskan.
Dalam sekilas ia merindukan Weiyun di Yincang dan kembali berkata dalam hati. ''Ku rasa kalian akan saling melengkapi nantinya.''
Cangge yang pemalu serta pemikir, akan bertemu dengan Weiyun yang cerdik dan ceria. Sungguh sebuah kolaborasi sifat yang akan saling melengkapi, pikirnya.
Ziaruo mengukir senyum di balik cadar, hanya dengan membayangkan hal tersebut. Mata coklatnya tampak berbinar, ketika mengingat sang putra.
Dan perubahan tersebut, secara pasti tertangkap di mata Murongyu yang selalu menelusuri setiap detil tindakannya.
''Apa yang kau pikirkan, sehingga begitu senang?.'' Gumamnya dalam diam.
......................
Waktu tak pernah memahami perasaan hati, ia juga tak pernah menunggu orang lain siap untuk berlalu.
Sebahagia apapun hati Murongyu dalam kebersamaan tersebut, tetap saja ia harus mengucapkan perpisahan dengan Ziaruo dan Cangge.
Wanita itu beranjak dari sana, setelah menyelesaikan makanan dan memberikan sejumlah koin kepada pelayan kedai.
Ia tak memberi kesempatan kepada pria agung disana, untuk memberikan tawaran membayar sarapan yang ia nikmati barusan.
Bahkan, Ziaruo hanya memberikan anggukan kecil kepada Murongyu, sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.
Sementara itu, Murong yang masih berdiri tak bergeming di tempatnya, tampak menyiratkan tatapan sendu untuk punggung yang kian menjauh di antara jalanan kota.
Menyaksikan kesedihan sang tuan, salah seorang penjaga maju mendekat dan bertanya. ''Tuan..apakah kita perlu mengejarnya?, bukankah kita searah?.''
Murongyu masih diam dan tak langsung menyahuti pertanyaan tersebut, ia menengadahkan wajah ke arah langit, dan memejamkan mata sejenak.
Dalam hati ia ingin mengejar dan berjalan berdampingan dengan wanita itu.
Namun ia memahami satu hal, meski ia bersamanya sekarang, pada kenyataan Ziaruo tetaplah bukan miliknya, dan tak pernah menganggapnya penting.
Bahkan secuil arti kata pentingpun tidak. Dirinya hanya sebatas kenalan saja, atau sebagai salah satu sosok yang sepintas lalu dalam hidupnya.
''Tak ada yang akan berubah dengan mengejarnya sekarang. Karena waktu dan takdir di tangan kami, bagaimanapun tak pernah akan menemukan titik yang sama.'' Murong.
''Dan jika aku tetap memaksa berdekatan dengannya, itu hanya akan semakin membuatku sulit untuk berpikir jernih.'' Lanjutnya lagi dalam hati.
Ia Murongyu menyadari dengan benar, bahwa semakin lama ia menghabiskan waktu bersama wanita tersebut, ia akan lupa bahwa Ziaruo bukanlah untuknya.
__ADS_1
Dan ketika ia lupa tentang kenyataan tersebut, keegoisan untuk memeluk serta menjadikan wanita itu miliknya, akan mengakar kembali.
Murongyu menghela nafas panjang. Menatap keatas meja di sampingnya, dan bergerak perlahan membawa tubuhnya duduk kembali.
Akan tetapi, kali ini ia tidak kembali pada kursi yang ia tempati diawal, pria tersebut mengambil kursi yang tadi di tempati oleh Ziaruo.
Tak ada sisa kehangatan suhu tubuh wanita itu disana, seperti kisah cinta Murongyu yang kian dingin bagi Ziaruo.
Wajah Murong yang tergolong tampan tampak muram, dengan beberapa kali helaan nafas panjang.
Mata itu menatap cangkir yang sempat di gunakan Ziaruo, menggerakkan tangannya perlahan dan meraih cangkir, serta menyentuh tepian bibir cangkir dengan lembut.
Murong tersenyum sinis untuk diri sendiri, seolah memperolok dan mencibir untuk hati dalam dada yang bergetar untuk sosoknya.
Tangan itu membawa cangkir keatas, dan menempelkan benda kecil tersebut pada ujung bibir.
Murongyu menyeruput sisa air putih yang tidak memiliki rasa, dengan sejuta hayal yang tak di mengerti akal sehatnya.
Pikiran Murongyu hening, tak terdengar suara apapun di telinganya, tidak juga suara pejalan kaki, kuda yang melintas, serta beberapa kereta yang hilir mudik di jalan tersebut.
Bahkan, beberapa penjaga ikut menghayati keheningan, ketika memahami apa yang kini tengah di pikirkan oleh sang kaisar.
''Masih terasa sakit di hati, bahkan hingga sekarang tak pernah berubah.'' Gumamnya pelan, sembari menyentuh dada atas sebelah kiri.
''Merelakan memang hanya sepenggal kata yang mudah di ucapkan. Namun, untuk melakukannya mungkin membutuhkan waktu sepanjang hidupku.'' Sambungnya lagi.
Murongyu kembali menuangkan air kedalam cangkir yang telah kosong, menikmati air jernih tak manis di sana, dengan ke khusukan.
''Jika dia bukan dirinya sendiri, melainkan pria itu apakah dewa akan menyatukan kami?.''
''Bukankah segalanya tentang hati dan jiwa, lalu apa kesalahan rasa yang ia miliki hingga harus menjadi yang kalah?.''
''Apakah rasaku jauh lebih rendah dari cintanya, sehingga ia yang kau pilih?. Meskipun, waktu perjumpaan yang kumiliki, jauh lebih awal dari pada dirinya.''
Murong selalu seperti itu, ketika menyangkut perihal Ziaruo, Ia yang paling anti dalam mengumpamakan sesuatu yang tak mungkin, justru akan banyak membayangkan sebuah titik kecil, dengan perwakilan kata ''Jika''.
Pria tersebut masih duduk disana, dengan cangkir di tangan, serta dua cangkir lain(cangkir Cangge dan cangkir miliknya) yang masih kokoh berdiri diatas meja.
Ia enggan melepas kebersamaan beberapa saat yang lalu.
Bahkan, pelayan yang hendak membersihkan meja, serta mengambil cangkir bekas pakai disana ia minta untuk pergi.
__ADS_1
Murongyu duduk tenang sendirian, menyesap perlahan isi cangkir, sembari berusaha merangkumkan bayangan sosok yang ingin dilihatnya lagi.
''Bahkan jika pikiranku mengerti dan memahami segala kemustahilan ini, hatiku tetap tak menuruti.'' Murongyu.