
Di dataran lembah perbatasan hutan misteri.
Pertarungan antara Jiang jing wei dan Jiang jing yun jelmaan masih berlangsung.
Kekuatan yang seimbang diantara keduanya, semakin menimbulkan kecemasan pada wajah semua orang.
Diawal pertempuran, Jing mampu mendesak jelmaan tersebut hingga pada titik, dimana ia mampu mencetak beberapa luka pada tubuh Jing yun.
Akan tetapi, entah karena Jing wei jarang menggunakan pedang tersebut, atau masih belum mampu menguasainya.
Pria Jing sesekali menunjukan keanehan, tatapan mata miliknya sesekali menampilkan kilatan tajam yang aneh.
Seolah manik mata itu, haus dengan darah atas setiap kehidupan disekitar.
Rayyan yang berkolaborasi dalam pertarungan, adalah orang pertama yang menyadari keanehan tersebut.
Setiap kali Jing menorehkan luka di tubuh Jingyun jelmaan, dan darah makhluk tersebut membasahi pedang, maka manik mata Jing, kembali berkilat tajam.
Sebanyak apa senjata itu ternoda darah, sebanyak itulah jing menampilkan keanehan.
Diawal-awal Rayyan merasa itu sebuah kebetulan.
Akan tetapi, ketika kejadian tersebut berulang kali terjadi, pria tersebut mulai memperhatikan lebih cermat.
Namun, di tengah gerakan pertarungan, serta musuh yang tak dapat di anggap remeh di depannya, perhatian serta kecurigaan Rayyan tak dapat dipuaskan dengan jawaban yang benar.
Sementara, Jing yun lawan mereka yang terluka akibat sabetan dari Dragon sword, seolah tak memiliki imbas atas luka itu sendiri.
Dalam hitungkan kerling mata, luka sayatan, serta pukulan dari Jiang jing wei kembali pulih.
Menyaksikan kejadian yang demikian, Rayyan semakin cemas.
Jika benar sesuai dengan apa yang ia curigai, tentang senjata di tangan Jing wei dan luka pada tubuh jelmaan di sana terkait, maka kondisi pertempuran akan berakhir dengan kekacauan yang besar.
Bukan hanya ancaman dari sang makhluk jelmaan.
Akan tetapi, juga dari Jing wei yang akan kehilangan kendali atas dirinya.
''Aku harus segera mengakhiri ini.'' Rayyan.
Pria tersebut mengambil langkah mundur beberapa jengkal.
Dengan segera ia memusatkan tenaga pada cambuk ditangan.
Dan tak menunggu waktu lama, pria tersebut kembali menyerang kearah sang jelmaan.
Rayyan dengan cepat menayunkan cabuk, yang kini di lingkup cahaya keunguan, kearah sasaran di depannya dengan kuat.
Dalam sekejap, suara lengkingan dari sabetan cambuk memecah keheningan lembah.
''Cetar...zeblaaaar.''
Kilatan cambuk Rayyan menggelegar dasyat, menyambar kuat dengan hentakan api keunguan, kearah Jingyun dengan sekali sabetan.
Seketika pukulan itu menyentuh tubuh jelmaan, semua orang melihat kesakitan, serta raut wajah takut dari sang jelmaan.
''Ahhkkkk...''
Sebuah pekikkan keras, yang terdengar seperti lengkingan panjang binatang malam, menggema hebat serta keras.
__ADS_1
Semua berpikir bahwa, setelah ini mereka akan benar-benar terbebas dari makhluk pemakan jantung dan hati, yang mereka takuti.
Disana, di tengah pertempuran di kamp tubuh sang jelmaan terbakar.
Bahkan, api keunguan yang bersumber dari senjata cambuk Rayyan terus menyala, meski tubuh itu berguling-guling ditanah.
Akan tetapi, dalam sekejap saja ketenangan semua orang kembali terenggut.
Dengan mata terbuka lebar dan tak percaya, semua orang melihat dengan jelas perubahan pada tubuh dengan nyala api itu.
Tubuh itu meski perlahan namun, dengan pasti mulai bangkit dari tanah.
Suara pekikan kesakitan beberapa saat yang lalu, kini berganti menjadi tawa keras yang menggema di kaki bukit.
Suara itu memantul memenuhi lembah di sana.
Bahkan, seolah seluruh pepohonan hutan juga ikut menggemakan tawa dari sang jelmaan.
Tubuh terbakar itu smakin kokoh berdiri, dari sayatan luka serta daging yang rusak oleh api cambuk milik Rayyan, perlahan mulai memulihkan diri.
Meskipun, penyembuhan dari sabetan di tubuh tersebut, sedikit memakan waktu lebih lambat dari sebelumnya.
Namun, itu sudah cukup untuk kembali merenggut keyakinan semua orang, atas kebebasan diri dari mimpi buruk disana.
Rayyan mengepalkan tangan kuat pada genggaman cambuk.
''Yaaa..benar...itu kamu, aku masih mengingat betul, bau busuk ini.''
Mendengar perkataan dengan nada sarkas dari Rayyan, jelmaan Yun tersenyum.
Mata tajamnya menatap kearah Rayyan dan sejenak beralih kearah cambuk di tangan.
''Sebutkan alasan, agar nanti aku tidak merasa sungkan, atas alasan yang kau gunakan untuk menemui dewa di bawah sana.''
Jelmaan Yun, masih tetap arogan dengan apa yang ia hadapi.
Ia merasa harus mengetahui siapa dan apa sebab musuh di depannya, begitu gigih dan enggan untuk ia taklukkan.
Namun, Rayyan bukanlah pria pada umumnya, mana mungkin dengan mudah menyemburkan sesuatu dari mulut itu.
Sekalinya ia berkata, maka tentu saja itu bukanlah hal yang mudah untuk di tanggung oleh pihak lawan.
''Aku hanya meminta nyawamu, itu saja.'' Jawab Rayyan.
Jelmaan Yun mengernyitkan dahi.
Bukan hanya dirinya, bahkan hampir semua orang yang disana memahami perkataa itu.
Meski, mereka tak dapat mengetahui apa dan mengapa dari sebab kebencian dari pria Rayyan disana.
Yang jelas, hampir semuanya mengerti bahwa Rayyan menginginkan kematian bagi sang jelmaan, dan itu bagus untuk pihak mereka saat ini.
Jelmaan Jingyun menyadari satu hal, bahwa pria Rayyan di depannya sekarang, tengah meminta nyawa sendiri untuk ganti nyawa seseorang, yang telah diambilnya entah itu siapa, dan kapan ia lakukan.
Meski jelmaan Yun mengakui, atas tuduhan pelenyapan nyawa yang di tujukan untuk dirinya, namun haruskah ia menuruti?, dan tentu saja itu tidak mungkin ia lakukan.
Bagi jelmaan Jing yun, sudah barang tentu sering mengambil nyawa manusia-manusia di sekitaran hutan misteri.
Dan jika dirinya harus mengembalikan setiap kebrutalan yang di lakukan. Mungkin, dalam ratusan kehidupan terdahulu, dan di masa mendatang tidak akan pernah cukup untum menebusnya.
__ADS_1
Lalu mengapa ia harus peduli?, hidupnya adalah miliknya.
Dan satu orang seperti Rayyan, tidak akan pernah ia perhitungkan.
Jelmaan Yun, kembali menyeringai.
Keputusan pikirannya untuk selamat jauh lebih hebat dari, kecemasannya untuk takut atas musuh disana.
Membunuh atau di bunuh, selamat atau harus menghilang seperti abu di udara, serta tak memiliki kesempatan menagih janji dari sang kaisar Awan.
Sementara dengan menyelesaikan ucapan itu, Rayyan kembali bergerak cepat menyerang kearah jelmaan.
Tangannya kembali memusatkan tenaga, serta mengayunkan cambuk kearah sasaran. ''Matilah, maka aku akan menganggap semuanya impas.''
Rayyan dengan sangat mahir menghentakan cambuk, sehingga kilatan-kilatan dengan suara memekik keras itu, semakin intens terdengar di telinga semua orang disana.
Di tengah kondisi sekitar yang kian menggelap, kilatan cambuk Rayyan seperti sebuah pendar keindahan, dengan cahaya ungu yang meliuk-liuk di kegelapan, menyabet kearah Jingyun tanpa segan.
Melihat kejadian di depannya, Jiang jing wei juga kembali mengayunkan pedang.
Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dan mengambil celah kosong ketika jelmaan Yun, tengah menghindari serangan dari Rayyan.
Dan alhasil, yang terlihat disana tampak pergulatan satu lawan dua, dengan pendaran cahaya ungu dan keemasan yang berpadu dalam kolaborasi indah.
Sebuah perpaduan lukisan keindahan tak berkanvas, namun dengan kengerian untuk sesuatu yang jauh lebih hebat dari senjata itu sendiri.
Dan meski demikian, mata semua orang tetap waspada.
Karena, bagaimanapun dan berapa kalipun sosok di sana terluka, dengan cepat pula tubuh itu menyembuhkan dirinya kembali.
Dibalik pertarungan yang tengah berlangsung, justru banyak dari para prajurit milik Jing, menjadi sasaran pukulan-pukulan mematikan, yang memental kesembarang arah.
Jendral Feng segera memerintahkan semua, untuk sedikit menjauh.
Akan tetapi, masih dengan kesiagaan yang terus di terapkan.
''Oh...hahaha...hahha...''
Sosok JingYun yang telah berubah menjadi makhluk jejadian tersebut, kembali tertawa dengan keras.
Seolah, ia tengah mencemo'oh dan meremehkan kebodohan, dari kedua lawan di depannya saat ini.
''Kalian bersekongkol untuk mengalahkanku...hahaha...'' Jelmaan Yun.
''Baguuus.....Jadi lebih baik, biarkan aku yang mengatar kalian bersama ke dunia bawah.'' Lanjutnya lagi.
Jelmaan Jingyun mundur beberapa langkah, dengan tangan yang mengepal kuat ia melengkingkan lolongan panjang.
''Hentikan, dia sedang memanggil bantuan.'' Pekik Rayyan dengan suara keras.
Secepat ia mengatakannya, secepat itu pula ia kembali menghentakan cambuk di tangan.
Kali ini Rayyan mengarahkan pukulan cambuk, tepat kearah tenggorokan sang jelmaan.
Dan di sisi lain, Jiang jing wei yang mendengar seruan dari Rayyan, dengan cepat melesat kearah Jingyun seraya mengayunkan pedang.
''Mati kau...'' Pekik Jing wei dengan suara keras.
''Boooom....blaaar...blaaar...boom...''
__ADS_1