Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Epiaode 7 Rasa rasa beraneka cerita.


__ADS_3

 


Sementara itu di kota yang jauh...


 


Dibalik sebuah gedung yang gagah berdiri, tampak seorang wanita cantik, sedang duduk pada sebuah bangku taman di tengah kota.


Terlihat jelas disana, wajah itu sedang menampilkan rasa kecewa serta amarah.


Ia tengah membongkar isi sebuah tas ransel yang berada di hadapannya.


Dan...tak jauh dari tempatnya duduk, berdiri seorang pria dengan gaya santai.


"Katakan dimana kau menyimpan benda itu?." Tanya wanita tersebut, kepada sang pria dengan nada tinggi.


"Cepat serahkan padaku, jangan bilang kalau kau tak membawanya." Ucapnya lagi, sembari menadahkan tangan kanan, meminta sesuatu kepada pria tersebut, yang sebenarnya masih kebingungan atas permintaan kekasihnya.


"Apa yang kau minta?, aku tidak mengerti maksudmu?." Jawab pria tersebut jujur. Karena memang sedari tadi, dia merasa kebingungan.


Di tambah sekarang dia juga merasa malu, karena tiba-tiba saja keduanya menjadi fokus pandangan, dari orang-orang yang berlalu lalang, serta mereka yang sedang menikmati waktu santai di taman.


"Dinginkan pikiranmu, dan jika sudah tenang kau boleh datang menemuiku." Ucap sang pria dengan nada datar, sembari mengambil tas, serta memasukkan kembali semua barang miliknya yang berserakan.


"Jika kau tidak bisa tenang dan berbicara dengan baik, jangan temui aku lagi." Lanjutnya masih dengan nada yang sama.


Manik mata pria itu menatap tajam, ke arah wanita yang kini diam tanpa sepatah katapun di depannya.


"Kau telah membuatku malu, jika bisa jangan lagi menampakan wajah bod*hmu itu di depanku." Ucap pria tersebut lagi, sebelum beranjak pergi.


Mendengar ucapan kekasihnya, wanita itu tersadar bahwa ia baru saja telah melakukan kesalahan besar.


"Dion ...Dion ...tunggu, maafkan aku... maafkan kebodohanku.'' Pimtanya memelas.


''Aku takut kau meninggalkanku." Jelasnya, sambil menarik tangan pria tersebut, ketika hendak melangkah pergi.


Pria yang tak lain adalah Giodion atmadja, cucu tunggal Mahesa atmadja pemilik beberapa hotel besar di negri tersebut.


Pemuda kaya dengan sikap dingin, acuh serta kasar.


Karena perjuangannya yang gigih, serta dukungan dari tuan Mahes kakek Dion, beberapa bulan lalu, telah setuju untuk menjalin hubungan dengannya.


Meskipun ia tahu pemuda tersebut, tidak pernah mencintainya.


Dengan kepercayaan besar, bahwa suatu hari nanti, usahanya akan mampu meluluhkan dinding es yang berdiri kokoh, di dalam dada bidang pemuda tersebut.


"Dion aku salah, maafkan aku." Ucapnya lagi, setelah di rasa pria itu mulai mengindahkan ucapanya kembali.


"Baik aku beri kamu satu kesempatan lagi, jelaskan padaku apa yang kamu cari di dalam tasku?, dan jelaskan mengapa kamu melakukan hal ini?." Tanya Dion, sembari membalikan badan, serta menatap lekat wanita tersebut.


Ada rasa kesal, serta amarah pada wajah datar pria tampan itu.


"Aku ...''


Ucapan wanita itu terhenti sejenak, ia ragu ragu.


Namun, karena melihat sang kekasih mengernyitkan kening, ia kembali berkata. ''aku mencari sebuah ponsel, sebuah ponsel lama milikmu."


"Beberapa hari yang lalu, ada yang menelponku, dia mengatakan bahwa kau memiliki kekasih lain, seorang wanita yang kau kenal di luar kota.'' Wanita itu berusaha menjelaskan, alasan di balik tindakannya.


Namun seolah ia tahu, bahwa pemuda tersebut semakin kesal keapadanya, ia kembali berkata. ''Maafkan aku karena telah bodoh mempercayai ucapan orang tersebut, serta meragukanmu. Tapi percayalah, aku tidak akan mengulanginya lagi."


Gadis cantik tersebut, masih mengenggam erat tangan Dion, agar tidak pergi meninggalkannya.


Wita adalah kekasih Dion menurut versi Wita.

__ADS_1


Akan tetapi, yang sebenarnya bagi Dion adalah sebuah kesepakatan dengan sang kakek, jika dia bersedia menjalin hubungan dengan Wita putri dari sepupu jauh sang kakek, dengan batas waktu 6 bulan.


Jika dalam kurun waktu tersebut, Wita tidak mampu membuat Gidion jatuh hati padanya. Maka, sang kakek akan mengijinkan cucunya kembali ke kota B, untuk mengurus cabang hotel di sana.


Namun sebenarnya sang kakek sudah tahu, tujuan Dion ke kota B, yaitu untuk bertemu kembali, dengan cinta masa kecilnya dulu.


Sesungguhnya, ia tidak keberatan akan hal tersebut, namun ada suatu pertimbangan lain yang mengharuskan Mahesa, melarang sang cucu untuk datang ke kota B.


Mendengar ucapan Wita, Dion tersenyum tipis dengan seribu makna.


Back to story.


"Lalu ...menurutmu, apakah penelpon itu benar-benar hanya ingin membuat kita bertengkar, ataukah mengatakan yang sebenarnya?." Tanya Dion kepada Wita, dengan nada sinis.


"Tentu ..tentu saja aku percaya padamu." Jawab Wita reflek dan gugup.


Karena saat ini baginya, tatapan orang yang sangat ia cintai tersebut, terlihat sangat menakutkan.


Ia tak bisa menebak, apa yang ada di dalam pikiran kekasihnya itu.


Mendengar Jawaban itu, pemuda tersebut tersenyum menyeringai, dan kembali bertanya. "Benarkah?,..lalu apa yang kau lakukan barusan?.''


Sebuah ucapan yang lebih mendominasi, dan menakutkan bagi Wita.


Seolah tatapan mata dan suara Dion saat ini, memvonisnya sebagai pembohong.


" A..ku ...aku."


Mendapat perlakuan yang demikian, Wita hendak menjelaskan lebih detil.


Akan tetapi, belum sempat ia berkata ucapannya terpotong. Dion menutup mulutnya secara kasar, menggunakan telapak tangannya yang kokoh, atau lebih tepatnya membekap mulut Wita.


"Tutup mulutmu yang berbau bus*k itu, aku sangat membenci seorang pembohong." Ucap Dion kasar.


Sejak dulu ia tahu bahwa pria di depannya tersebut, memang dingin dan kaku.


Meski demikian, ia juga tak menyangka bahwa akan secepat itu, menerima perlakuan kasar dari kekasihnya tersebut.


Hati Wita merasakan kesedihan yang besar.


Namun, tetap saja ia tak ingin kehilangan orang yang ia cintai sejak dulu.


"Kenapa, apa kau ingin menangis?, harusnya kau tahu hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat, bukankah sejak dulu aku tidak pernah menyukaimu.'' Dion.


''Jangankan waktu 6 bulan, bahkan jikapun kau menghabiskan waktumu, seumur hidup di dekatku, tetap tidak akan mengubah apapun.''


''Kau tetap tidak berarti apa-apa buatku, jadi kuminta bisakah kau menyerah sekarang?." Ucap Dion lagi, dengan kata-kata yang lebih ditekan, untuk menyadarkan sang wanita, atas upayanya yang sia-sia.


Sebenarnya, Dion tidak tega dan tidak ingin menyakiti siapapun.


Namun, karena Wita keras kepala dan terlalu sombong akan dirinya, jadi ia terpaksa melakukan hal ini.


Dion hanya ingin wanita tersebut, berhenti berharap serta tidak mengganggunya lagi.


"Mengapa kau begitu kejam Dion?, aku tulus mencintaimu. Bahkan, dari jauh-jauh hari saat pertama kau tiba di sini, aku sudah suka padamu." Ucap Wita, di tengah isak tangis lirih.


"Tetaplah menangis di sana, dan buatlah dirimu itu menjadi tontonan orang orang itu, dasar gadis bodoh." Sahut Dion lagi, sembari melangkah pergi dari sana.


....................


Kembali lagi, kesebuah ruangan rawat inap VIP rumah sakit.


 


Berbeda dengan aura di taman tengah kota, yang tampak seperti mendung.

__ADS_1


Disini, berbanding balik 360º dengan yang disana.


Seolah seluruh ruangan menjadi bernuansa pink, dan dipenuhi gambar hati lope-lope bertebaran memenuhi ruang.


*imajinasikan ya *


Tiga orang, di dalam ruangan tersebut tampak akrab bercengkrama.


Membahas hal-hal dari panjang dan pendek, dari timur ke barat, atau mungkin dari musim kemarau ke musim penghujan.


Intinya mereka ( khususnya Rasya dan Ayahnya) selalu berusaha, menemukan cara agar percakapan tidak menjadi canggung, serta terasa tidak nyaman.


Bagi tuan Wijaya, ia ingin Rasya lebih akrab dengan Rahartika.


Bahkan dalam fikirannya, sudah menyetujui apa bila ada hubungan yang lebih special lagi.


Bak gayung bersambut, ternyata Rasya yang sejak bertemu dengan gadis itu, dirumah makan tadi sudah merasa tertarik, ia menyambut dengan baik kesempatan yang di berikan sang ayah.


Layaknya ada empati dan telepati dari mata ke mata, diantara ke dua orang tersebut ( Rasya dan Wijaya).


"Om permisi sebentar, saya mau menelpon supir keluarga saya ." Ucapnya sopan meminta izin.


"Apakah kamu sudah akan pulang?." Tanya Rasya reflek, sambil ikut berdiri dari duduk.


Entah mengapa hati Rasya menjadi kecewa, ketika mendengar Rahartika hendak menelpon supir keluarganya.


Melihat hal itu, Rahartika tersenyum lembut ke arah Rasya.


"Tidak kak, saya akan pergi ke rumah teman, untuk kerja kelompok." Jawab Ika tenang, dengan sebuah senyum manis, yang lekat di bibir mungilnya.


"Biar Rasya yang mengantarmu, sekalian dia kembali kekantor." Ucap Wijaya, menyela percakapan Rasya.


"Apa tidak akan merepotkan kak Rasya nantinya?." Tanya Ika memastikan.


"Mengapa harus merasa repot, justru om akan lebih tenang, jika kau membantu menjauhkan dia dari sini." Jawab Wijaya, dengan candaan untuk sang putra.


"Memangnya kau akan keberatan Sya, mengantar Ika kerumah temannya?." Tanya Wijaya lagi, sambil sedikit melirik sang putra yang sudah sedari tadi, berusaha menutupi raut wajah senangnya.


Dan Wijaya tentu saja tahu, akan hal itu.


"Tidak yah... Aku akan mengantarnya selamat hingga tujuan." Sahut Rasya, dengan raut wajah di buat setenang mungkin.


"Bahkan jika bisa, langsung akan aku bawa pulang, serta mengurungnya di rumah, agar tetap aman yah." Pikir pemuda tersebut, merangkai angan.


"Baiklah ...saya akan menerima saran Om, dan terimakasih sudah mau mengatar Ika kak Rasya ." Ucap Rahartika dengan ceria.


"Baiklah kalau begitu, biar saya pamit Ayah sebentar Om" Lanjut gadis itu kembali.


"Ika pamit dulu Om, jika ada waktu nanti biar saya datang menjenguk lagi.'' Pamit Rahartika, sembari mencium kembali punggung tangan tuan Wijaya.


"Ya kamu hati-hati." Jawabnya setelah mengusap sejenak kepala Rahartika, saat gadis tersebut mencium punggung tangan miliknya.


"Jaga baik-baik Sya." Pintanya kepada Rasya.


"Tentu saja Yah, apa perlu langsung di bawa pulang dan di kurung di rumah, biar lebih terjamin keamanannya?, He..he..he." Canda pemuda tersebut, sembari berpamitan.


"Puk..puk..puk..''


Wijaya menepuk punggung Rasya pelan.


Dalam hati, ia menginginkan sang putra bisa bersama Rahartika, terlebih lagi Wijaya tahu ada perasaan special di hati pemuda tersebut.


Dengan suara teduh khas miliknya ia kembali berkata. ''Dasar anak bodoh, cepat pergi nanti dia menunggu terlalu lama.


Wijaya memeluk sang putra, ia memberikan support untuk sang putra dengan sebuah ucapan. ''Oh ya Sya.. ayah juga menyukainya, kejarlah dia ayah mendukungmu.

__ADS_1


__ADS_2