
Mentari mulai merebahkan diri, meninggalkan tahta terangnya, menampilkan lukisan keemasan di ufuk barat.
Menjemput janji atas gambaran, takdir dewa tentang siang dan malam.
Seorang Pria dengan tangan penuh luka, tengah membasuh diri dibalik sebuah batu besar ditepian sungai.
Dari belakang tubuhnya, sebuah bayangan datang menghampiri, serta menyapanya sambil menundukkan tubuh sesaat.'' Hormat hamba Yang Mulia, kekaisaran telah mengirim sebuah undangan pertemuan untuk Baginda''
Seolah tak mendengar apapun, pria tersebut hanya diam.
Ia acuh tak acuh serta tidak mengindahkan ucapan maupun, menerima sepucuk gulungan yang di sodorkan untuknya.
Pria yang tak lain adalah Murongxu dari kekaisaran Awan tersebut, hanya menatap sekilas, dan kembali membasuh tangan serta wajahnya dengan air sungai.
''Kalian salah mengenali orang, Murongxu sudah mati dan aku sendiri yang menguburkannya.'' Jawab Murong dengan nada datar.
Mendengar hal tersebut, sang bayangan tersenyum sekilas, dan kembali berucap.'' Jika demikian, mohon bantuannya untuk menguburkan ini sekalian, didalam pusarannya. Dan hamba mohon undur diri Yang Mulia.''
Murongxu melirik sekilas gulungan yang terletak di atas batu sungai.
Dengan tangan kiri ia meraih gulungan tersebut, sembari bergumam lirih. ''Murongxu...haha..haha...sungguh lucu.''
''Apakah aku memerlukan sebuah undangan?, atau aku harus menjadi Murongxu kembali, sungguh menggelikan.'' Lanjut pria tersebut dengan seringaian tipis di wajahnya.
''Ruoer...kau membangunkan sesuatu yang tak seharusnya.
Bahkan aku telah berpesan dengan banyak ucapan, kau masih saja melanggar.'' Ucapan dengan sebuah pandangan tajam, yang kini tengah mengarah kearah barat, dari tepian sungai di hutan barat kekaisaran Xili.
''Kaisar Jing, sungguh berani sekali kau melampaui batasan. Aku akan menjadikanmu sebuah peringatan untuk orang lain di dunia ini.'' Tambahnya lagi, sebelum menghilang tanpa jejak dari sana.
Sementara itu, di kekaisaran Zing.
Ziaruo mulai menggerakkan tubuh perlahan, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Akan tetapi, ketika mendapati dirinya tengah berada didalam pelukan Kaisar Jing, serta kondisi tubuhnya yang polos tanpa busana, wajah itu berubah menjadi Semerah kepiting rebus.
Sekilas, manik mata coklatnya bertemu dengan manik tajam sang suami.
Dan itu benar-benar membuatnya tersipu, serta kehilangan muka, Ziaruo dengan cepat menarik selimut dan masuk kedalamnya.
Mengetahui hal tersebut, Jing menyapanya dengan penuh kelembutan.'' kau sudah bangun?, apa kau lapar?, atau kau ingin mandi terlebih dahulu?.''
Mendengar pertanyaan Kaisar Jing yang beruntun, Ziaruo perlahan menyembulkan kepala dari balik selimut, tersenyum simpul malu-malu dan menjawab.'' Saya ingin mandi terlebih dahulu, bisakah anda memberikan selimut ini untuk saya?.''
__ADS_1
Ia mengatakan itu, karena ketika Jing menyapanya barusan, pria tersebut memegang erat selimut yang di pakai Ziaruo.
''Bluusshh...'' Rona wajah Ziaruo kembali memerah ketika ia mengucapkan hal tersebut, seolah kini ia tengah berteriak mengatakan bahwa dirinya sedang tidak mengenakan apapun.
Sikap itu, tindakan tersebut nyatanya di mata Jiang Jing wei adalah sebuah sikap yang sangat menggemaskan.
Jika saja ia tidak takut wanita itu kelelahan, mungkin Jing akan kembali mengulang kisah mereka beberapa waktu lalu.
Karena keinginan tersebut tak dapat di penuhi, dalam pikiran Jiang Jing wei timbul pikiran jail.
''Hehe...akan aku lepaskan selimut itu ketika kau berdiri.'' Gumam dalam hatinya.
Akan tetapi, hal tersebut di ketahui oleh Ziaruo, hingga yang tadinya malu-malu, kini berubah jadi berpikiran licik. Senyum mengembang di bibir cantiknya.
Dengan langkah pasti, dan hanya mengenakan balutan selimut saja, Ziaruo mulai menuruni ranjang dan berjalan menuju bak mandi.
Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, sebuah hentakan pada penutup tubuhnya terasa sangat kuat, hingga pada akhirnya selimut tersebut terlepas dari tubuh ramping Ziaruo.
Dalam imajinasi sang Kaisar.
Pertama* Ziaruo akan berteriak dengan tubuh tanpa selimut, dan ia akan datang dan memeluknya sembari menyelimuti.
Kedua* Ziaruo akan melindungi dirinya dan berusaha menutupi bagian sensitifnya sebisa mungkin, maka Jing akan memeluknya, serta mengangkat tubuhnya sembari menyelimuti.
Akan tetapi, kenyataan yang terjadi tak seindah harapan.
Ketika selimut ditarik oleh sang Kaisar, tubuh Ziaruo tertutup dengan siluet kabut keemasan, layaknya sebuah baju.
Kaisar Jing membulatkan mata, ia tak dapat mempercayai penglihatannya. Atau lebih tepatnya, ia kecewa dengan apa yang ia lihat saat ini.
Melihat ekspresi lucu dari wajah sang Suami, Ziaruo tertawa dengan lebar. ''Haha...haha...haha...'' Membuat wajah sang Kaisar semakin masam.
''Apa kau bisa mengetahui pikiranku Yun?, bagaimana mungkin kau bisa secepat itu menutupi tubuhmu?.'' Tanya Jing, dengan wajah seriusnya.
Mendengar pertanyaan spontan tersebut, Ziaruo hanya tersenyum sesaat, sebelum masuk kedalam bak mandi.
''Bukankah anda yang bilang bahwa saya bisa memahami Anda yang mulia?, Lalu mengapa sekarang anda menjadi keheranan?.'' Jawab Permaisuri Yun, dari balik pilar pembatas ruangan.
''Apakah kau membutuhkan sesuatu?, mengapa kau lama sekali Yun?.'' Panggil sang Kaisar, ketika merasa heran setelah lama Ziaruo tak kunjung selesai juga mandinya.
Namun ia tetap tak mendapat jawaban dari orang yang ia tanya. Dan hal itu membuat hati serta pikiran Jing mulai diliputi kecemasan.
''Yun...apa Kau baik baik saja...Yun...Yun....?, Panggil Jing kembali, sembari turun dari ranjang.
__ADS_1
Ia membetulkan pakaiannya sejenak, sebelum melangkah mendekati pilar anyaman, yang terbuat dari rotan.
Kecemasan didalam hati dan pikiran pria tersebut tak lagi dapat ia tutupi. Dengan langkah cepat, ia bergegas menuju kearah dimana Ziaruo membersihkan dirinya.
''Yuuun..'' Pekiknya keras, ketika melihat sang Permaisuri yang sedang membelakanginya.
Wanita itu, sedang fokus membetulkan pakaian.
Tanpa menunggu jawaban ataupun Ziaruo menoleh kearahnya, Kaisar Jing dengan cepat memeluk wanita itu, sembari berucap.'' Mengapa kau tak menjawab ketika aku panggil tadi?, kau membuatku sangat cemas.''
Pria tersebut berkata dengan nada tinggi, seolah ia tengah meluapkan kemarahan di sela kecemasannya, dan Permaisuri Yun paham akan hal itu.
Oleh karena itu, ia hanya tersenyum dan berkata.'' Apa yang Anda cemaskan Yang Mulia?, bukankah saya masih disini, di dekat anda?.''
Mendengar jawaban tenang dari Permaisuri, Kaisar Jing terdiam beberapa saat.
Ia kembali mengeratkan pelukannya dan berkata. ''Entahlah apa yang kupikirkan, seolah segalanya yang terjadi diantara kita adalah mimpi belaka, dan aku takut kau akan menghilang tiba-tiba Yun, Maaf kan atas kekasaran ku, aku....''
Mendengar penjelasan tersebut, Ziaruo kembali tersenyum, dan ia tak ingin mendengar ucapan penyesalan, ataupun permintaan maaf yang lainnya lagi dari sang suami. Oleh karena itu ia menutup bibir Jing dengan dua jari tangan kanannya.
''Saya mengerti, dan seharusnya sayalah yang meminta maaf kepada anda Yang Mulia, karena candaan bodoh wanita ini, telah membuat hati paduka merasa cemas.'' Jawab Ziaruo menyesali sikapnya.
Kaisar Jing tersenyum sesaat, hatinya kembali tenang.
Apapun tidak masalah, asalkan wanita itu masih tetap disana bersamanya.
Perlahan Jing melepas pelukan, menarik tangan Ziaruo dan membawanya keluar dari ruangannya.
'' Ayo....Aku telah menyiapkan sesuatu di taman, kuharap kau akan menyukainya.'' Ucap Jing dengan tangan masih memegang erat tangan Ziaruo, membawanya berjalan menuju taman, setelah berganti pakaian dan merapikan diri.
Ada kebahagiaan di hati Permaisuri, namun manakala banyak pasang mata melihat mereka( para pelayan, penjaga dan juga kasim), wanita itu menjadi malu dan berusaha melepas tangan sang Kaisar.
Akan tetapi, semakin ia mencoba lepas, semakin erat pergelangan tangannya digenggam.
''Diamlah, atau aku akan membopongmu Yun.'' Ucap lirih Kaisar Jing
disela langkah kakinya.
Lagi-lagi tubuh Ziaruo menjadi tegang, ia membayangkan sang suami akan mengangkat tubuhnya, didepan orang banyak. Dengan reflek bibirnya berucap cepat.''Tidak..aku akan menurut.''
Mendengar jawaban cepat dari sang Permaisuri, Jing tertawa lebar.'' Haha..haha...haha...Bagus...haha."
''kau memang istri yang pandai dan pengertian..haha..haha." Lanjut Jing lagi, dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
__ADS_1
''Aku juga bahagia Jing, sama sepertimu.'' Ucap Permaisuri Yun lirih.