Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Beraninya kau.


__ADS_3

"Weiyun....kamu sayang bibi kan?, datanglah kemari, hari ini bibi ingin melihatmu lebih dekat."


Ucapan itu di tekan sedemikian rupa demi menampilkan kelembutan seperti biasanya.


Iya, yaksa kini seakan tengah mencari cara untuk memohon belas kasihan sosok sang bocah, yang kini sedang bimbang.


Bagaimanapun ia menolak dengan keras, pikiran dan hatinya tahu bahwa sosok di depannya saat ini jelas akan lebih memilih Yun'er ketimbang diri sendiri.


Dengan gambaran dalam benak akan berpisah serta hidup kesepian di Yincang tanpa sosok pria kecil ini, kegundahan Yaksa kembali meluap.


"Mengapa kau ingin meninggalkanku?, bukankah segalanya berjalan dengan baik di sini?." Yaksa terdengar menghiba.


Mendengar kegetiran dan rasa tak berdaya dari sosok siluman di depannya, rasa sesak menyeruak dalam hati Weiyun.


Dengan dirinya yang tak pernah mengenal dunia luar, bocah kecil tersebut tak pernah merasa ada yang salah dengan tampilan Yaksa, bahkan kasih sayang besar justru mengalir tulus untuk mahkluk di sana, selayaknya keluarga sendiri.


"Siapa yang akan meninggalkan bibi?, dan mengapa Yun harus pergi dari sini?."


Dengan suara yang sedikit bergetar, bocah itu mencoba untuk menenangkan Yaksa yang menunjukkan gejolak tak terkontrol.


Dan dengan ketidak tahuan yang di miliki, perkataan barusan memang benar apa adanya.


Yaksa menggeliat di tempat sejenak, memalingkan wajah dan tubuh beberapa kali, dan kembali bergerak ke tempat semula.


"Aaaahkkkhhhh...Mengapa dewa menghukum ku dengan buruk?, bukankah aku telah kehilangan banyak?." Bibir Yaksa meluncurkan banyak perkataan, bola mata di telapak tangan itu kembali memerah dan berputar-putar menggelinding di seputar telapak tangan, seolah tengah menunjukkan sebuah kemarahan atas ketidakberdayaan dan keputusasaan.


"Aku tidak memintanya datang kepadaku, dan aku secara baik memperlakukannya selama ini, lalu mengapa sedikit keindahan di sini ingin kau renggut juga?."


Yaksa mengeluarkan banyak pertanyaan dengan kegelisahan yang entah itu di tunjukkan untuk siapa.


Namun yang jelas kemarahan yang ada serta kekacauan yang terjadi, tentulah bersangkutan dengan dirinya(Weiyun) atau juga dengan sang ibunda.

__ADS_1


Tubuh kecil itu semakin meringsek ke sisi belakang, dengan langkah yang bersiap kembali masuk kedalam pondok, bocah chubby di sana hanya berpikir ingin mencari tempat bersembunyi.


"Yun...datang kepada bibi...Yun kau ingin bersama bibi kan?." Bujuk Yaksa sembari mengulurkan tangan, dengan bola mata diatasnya tak terkontrol.


Bahasa dari bibir Yaksa memang masih terdengar lembut, akan tetapi dengan tubuh yang meliuk kasar tak beraturan di sana, Weiyun tahu semuanya tidak akan berakhir baik.


"Bibi...bibi kembali dulu, Eiyun ingin di sini menunggu ibunda." Bibir kecil sang bocah bergetar dengan gugup.


"Haah...Iya..kita akan menunggu ibunda bersama, ayo datang ke bibi kita akan menjemput ibunda di depan gerbang." Yaksa masih mencoba membujuk bocah kecil itu untuk mendekat kepadanya.


Ia tak ingin Weiyun masuk kedalam gubuk, dan membuatnya sedikit kerepotan berurusan dengan mantra yang dulu sengaja dia pasang sendiri, untuk melindungi bocah kesayangannya dari sesuatu yang buruk.


Sebuah mantra yang akan secara otomatis terbentuk, ketika sebuah ancaman mendekati sang pemilik rumah, meskipun itu datang dari diri sendiri.


Bagi Yaksa bukan tidak mungkin untuk menghancurkan penghalang tersebut, namun dengan kehancuran penghalang yang terpasang, Yaksa juga akan kehilangan sebagian dari kekuatan yang di miliki sebagai titik balik serangan karena menghancurkan mantra sendiri.


Dan jika ia kehilangan sebagian dari kekuatannya saat ini, mungkin akan kesulitan untuk berurusan dengan Ziaruo, meskipun sekarang wanita itu memiliki wujud manusia.


Yaksa masih berusaha membujuk sosok kecil di depannya sekarang, namun dengan kemarahan yang semakin sulit di kontrol dalam benak, bahasa dan tindakannya tidak lagi selembut di awal.


"Tidak!..... bibi kembali dulu, Yun ingin di dalam pondok dan menunggu ibunda." Bocah tersebut langsung berlari masuk kedalam ketika telah menyelesaikan ucapan, segera mencari tempat bersembunyi dengan harapan sang ibunda cepat datang.


Dan jika waktu tidak bisa menunggu hingga kedatangan sang ibunda, ia juga telah bersiap untuk melakukan perlawanan sebisa mungkin.


Bagaimanapun dan sekecil apapun kemampuannya saat ini, Weiyun adalah putra baptis serta murid dari paman bongkok, yang tak lain adalah Murongxu kaisar negri Atas awan yang terhukum.


"Aaaahkkkk....Aaahkkk....Jeblar....Jeblar...braaaak..braaaaak."


Yaksa berteriak dengan penuh kemarahan, di ikuti suara hempasan, desisan, serta benda-benda yang bertabrakan dengan benda keras lainnya.


Ekornya yang kuat menghempas dan menghantam apapun yang di sentuhnya.

__ADS_1


Membuat halaman pondok yang terlihat natural serta indah dengan garis pandang panorama alami, menjadi porak-poranda seakan telah terjadi badai dan gempa yang hebat.


"Yun...Wei..yun, cepat datang kepada bibi....Weiyun cepat datang."


Suara itu terus terdengar dengan selingan desisan yang kini terdengar lebih jelas. Bagi mereka yang mendengarnya, akan memahami bahwa itu bukanlah panggilan untuk orang yang di sayangi, namun lebih terdengar seperti sebuah kalimat yang menakutkan yang di lakukan oleh pemangsa terhadap buruannya.


Tubuh Yaksa bergerak semakin cepat, melintasi halaman depan dan berputar mengelilingi pondok dari depan ke belakang, melata dengan gusar mengitari pondok beberapa kali, dengan bola mata di tangan yang menatap tajam kearah pintu serta jendela-jendela yang ada.


Yaksa mampu melihat dengan jelas, sosok mungil yang meringkuk di ujung kamar ruang tidur di bagian tengah pondok, layaknya tatapan tembus pandang yang akurat.


Namun apa yang bisa di lakukan, ia hanya bisa menatapnya dengan tajam dan tanpa bisa menembus penghalang.


"Yun....Yun.....datang kepada bibi, cepat keluar bibi bisa melihatmu dengan jelas di sana." Panggilan itu masih terus di lakukan.


"Sreeet...sreeet...gedebug...braaak...braaaak....." Suara-suara tersebut masih terus terdengar, dan sosok kecil di dalam ruangan hanya bisa memeluk tubuh sendiri dengan imajinasi yang bisa di pastikan 85% benar, tentang apa yang terjadi di luar pondok.


"Ibunda....cepat datang Eiyun takut, bibi...bibi menakutkan." Gumamnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ia tidak hanya menangis untuk rasa takut akibat tindakan Yaksa, bocah kecil tersebut juga merasa sedih untuk perubahan sosok yang telah dianggapnya sebagai sosok bagian terpenting lain dalam hidupnya.


"Bibi...Eiyun takut, bibi menakutkan.." Bocah kecil itu semakin erat memeluk diri sendiri.


Ada sesuatu yang tak nyaman dalam hati dan pikiran sang bocah, atas tindakan serta pengertiannya tentang pemikiran Yaksa, yang hendak menelan dirinya.


Seolah sebuah kehancuran besar tengah melanda dunia kecil miliknya yang indah, serta menumbangkan pemikiran yang selama ini telah dipahami sebagai kebenaran, bahwa keluarga akan selalu saling menjaga dan mengasihi.


Dan di sini, Yaksa yang di anggapnya sebagai bagian dari keluarga sendiri mematahkan gambaran tersebut.


Perasaan takut, gelisah serta kecewa atas kesadarannya sekarang, membuat manik bening mata itu berkaca-kaca.


Hingga telinga kecilnya menangkap sebuah suara dari luar pondok yang sangat di kenalnya. "Apa yang kau lakukan Yaksa?, beraninya kau menggertak putraku!."

__ADS_1


__ADS_2