
''Tidak menatap, namun terlihat.
Tidak bergerak tetap beranjak.
Didalam remang, bayanganyapun masih terlihat terang, di dalam hati juga terasa hangat. Bukankah demikian yang mulia?.'' Tanya Ziaruo kepada Jing.
Wanita itu menggumamkan ucapan yang kini ia rangkai, sebagai pertanyaan untuk sang suami.
Mendengar hal itu, Jing tersenyum seraya mengeratkan pelukannya.
Jing menempatkan Ziaruo diatas pangkuan, dengan tubuh membelakangi pria tersebut.
Ia mengerti apa yang di ucapkan oleh Permaisuri Yun.
''Kau benar, bahkan dengan jarak ratusan ribu, serta terpisah sejauh puluhan benua, selama mereka memiliki kasih sayang. keduanya tetap akan mampu saling menatap, dengan hati dan kerinduan yang dimiliki.'' Jawab Jing, sembari menekan pelan pucuk kepala Ziaruo, dengan ujung dagu bawahnya.
''Namun, aku tak ingin diam dan tak bergerak, ketika sebuah rindu bergemuruh, dan hanya mimpiku yang menyapamu.
Aku tak ingin, hanya melihat dirimu dari balik angan dan kenangan semata.''
''Yun...''
''Aku ingin selamanya seperti sekarang, bersama menggerakan tangan, pikiran, serta hatiku, untuk mendekapmu.'' Lanjut Jing lagi.
Ia mengatakan segalanya dengan ucapan yang dalam, serta gerak lembut, mengusap tangan wanita itu, yang ia tumpukan diatas genggaman.
Seolah, tak ada apapun yang lain dalam pikirannya kini, selain diri dari sang Permaisuri.
Namun, pada kenyataannya, Jing tengah menekan kuat, rasa takut yang sangat besar.
Ketakutan akan kehilangan istri tercintanya.
kecemasan, atas apa yang telah ia ketahui beberapa hari yang lalu, dari Kaisar Murongxu.
''Mungkin jendral tua itu, jauh lebih beruntung dariku.'' Ucap Jing dalam hati.
Jing memejamkan matanya perlahan, meresapi kesakitan atas luka tak berdarah, serta kecemasan di hatinya.
Ia ingin menghilangkan segala kecamuk dalam benak, yang tak kunjung dapat di redakan.
''Heeeeh....'' Pria tersebut menghela nafas.
''Meskipun meraka (jendral dan sang istri), kehilangan kedua anaknya, meskipun mereka menderita atas kecurangan dan ketidak adilan, namun keduanya saling mendukung dan tetap di persatukan, dalam tahun-tahun kehidupan yang panjang.'' Lanjut Jing lagi, masih dalam pikirannya sendiri.
Dan jelas saja, Ziaruo mengetahui akan pemikiran itu, dalam hati ia merasa bersalah dengan kesedihan yang dirasakan oleh Jing.
''Maafkan aku Jing...'' Tanpa sadar, Ziaruo mengatakan permintaan itu dengan suara lirih.
Mendengar ucapan tersebut, Jing tertegun sejenak, ia membalik tubuh Ziaruo, yang tampak menunduk dan sendu.
__ADS_1
Membawa wajah itu, tepat menghadap kearah wajahnya.
''Yun...katakan kepadaku, mengapa kau meminta maaf?.'' Tanya Jing, dengan sorot mata menyelidik.
Pria itu ingin memastikan apa yang kini tengah ia pikirkan.
Dan jika boleh, Jing berharap bahwa apa yang difikirkannya saat ini adalah salah.
''Yang Mulia...'' Panggil Ziaruo dengan tatapan lekat kearah mata sang suami.
Sebuah tatapan sebagai persetujuan, atas pertanyaan dalam diam Jing.
Pertanyaan bahwa wanita itu mengetahui, atau lebih tepatnya dapat mengerti pikiran orang lain, khususnya pikiran Jing saat ini.
''Tidak mungkin...itu pasti salah, kau...kau ...benarkah kau bisa melakukan hal itu.'' Tanya Jing lagi.
Kali ini, pertanyaan itu meluncur jelas dari bibir sang suami.
Bukan sekedar pemikiran, dan praduga yang di simpan dalam diam.
''Anda benar yang mulia, bahkan aku dapat melihat apa yang dipikirkan oleh orang lain, dalam jarak beberapa jengkal.'' Jawab Ziaruo pelan.
Wanita itu, bergerak perlahan dari pangkuan sang suami, ia memggeser tubuhnya dan duduk diatas ranjang.
Meskipun, ia turun dari peraduan manja suaminya, namun ia tetap berada tepat di depan pria tersebut.
Mendengar hal itu, jantung Jing berkecamuk, berdebar sekaligus bergemuruh hebat. Seolah banyak hal tengah bergulat disana, menghimpit segumpal daging di dalam dada bidang miliknya.
Sejak dulu ia ingin mengetahui, apapun tentang diri Ziaruo.
Namun, entah mengapa, sekarang tubuhnya gemetar, telinganya seakan menolak, dengan apa yang akan di dengarnya.
Sebuah kebenaran yang mungkin, telah sebagian ia ketahui dari Murongxu saingan cintanya, beberapa hari yang lalu.
''Yun....ja...'' Jing ingin mengatakan, bahwa ia tak ingin mendengar apapun saat ini.
Akan tetapi, ucapannya terpotong. Ia melihat Ziaruo menotok beberapa bagian tubuhnya dengan gerakan yang sangat cepat.
Sehingga, membuat ia tak dapat bergerak sama sekali.
''Maafkan aku....''
''Mungkin sudah saatnya anda mengetahui, keseluruhan tentang apa dan siapa wanita ini.'' Ucap Ziaruo lagi.
Wanita itu, duduk diatas ranjang dengan tubuh menghadap sang suami.
Perlahan ia menggerakan tangannya, menyentuh pipi Jing dengan lembut.
Apapapun yang nantinya anda dengar, ingatlah bahwa Yun anda, adalah wanita ini.
__ADS_1
Dan siapapun dirinya dikehidupan dulu, itu tak akan mengubah apapun status diantara kita sekarang.
Dan anda harus memahami bahwa, diatas setiap ingatan yang saya miliki, selama paduka masih menginginkan kebersamaan kita, wanita ini selama dikehidupan sekarang, hanya akan menjadi permaisuri anda.
Ziaruo terdiam sejenak, serta menghela nafas panjang. Bahkan, ia juga memejamkan mata coklat miliknya.
Jing melihat segalanya, dengan seksama.
Ekpresi itu, seolah mengatakan bahwa banyak hal yang berat, serta menyakitkan untuk di ceritakan.
''Jika kau tak dapat mengatakan semuanya, lupakan Yun...Aku hanya ingin dirimu, kau permaisuriku, baik itu siapa dan seperti apa kau di masa lalu, tak akan mengubah apapun.'' Ucap dalam diam Jing.
''Bagi dunia ini, Ziaruo, janda Yun adalah wanita sebatang kara dan tanpa asal usul, dari hutan Barat.
.........................................'
Ziaruo memulai ceritanya, dari awal ia datang kedunia ini sekarang, bertemu dengan Yongyu, Murongyu, Jiang jingwei, Murongxu, bahkan ia juga mengatakan tentang dirinya yang kehilangan ingatan, serta penyebab kejadian tersebut.
Wanita itu juga menjelaskan tentang kemampuan yang dimilikinya, membaca pikiran orang lain, kultuvasi, kemampuan beladiri serta magic-nya menghadirkan benda dari kehampaan, dengan bantuan rajah pada tangannya.
Bahkan, Ziaruo juga menampilkan sebuah kelopak bunga kecil, yang di tarik dari rajah pada tangan kirinya saat itu, sebagai pembuktian atas ucapannya.
Ia memutuskan, untuk menjadi sosok gambaran terbuka, di hadapan sang suami saat ini, dengan tanpa menutupi apapun, atau dengan kata lain, dirinya akan mengatakan apapun, yang ingin di ketahui oleh pria tersebut.
Jing mendengar, dan memperhatikan segalanya dengan cermat. ia tak dapat memberikan komentar, atau pertanyaan apapun.
Hanya manik mata pekat miliknya saja, yang memberikan reaksi. Sejenak membulat, berganti sendu, berbinar, dan sejenak kemudian membulat kembali.
Ziaruo mengerti, apa yang ingin di ucapkan sang suami. Namun, ia berpura-pura tidak memperhatikan, dan tetap melanjutkan kisah tentang hidupnya.
Hanya ingin mengatakan segalanya, tanpa menutupi apapun lagi.
Sekarang ia ingin jujur, tanpa mengindahkan rasa takutnya, akan menyakiti pria di depannya saat ini.
Ziaruo juga mengetahui, di sela mendengarkan perkataannya, Jing tengah memusatkan tenaga dalam, untuk membebaskan totokan di tubuhnya.
''Apapun dan siapapun adanya wanita ini dulu, ia adalah permaisuri negri Zing sekarang, istri dari Jiang jing wei.''
''Yyuuun...'' Panggil Jing, dengan nada kesulitan.
Pria itu masih belum bisa terbabas dari totokan, namun ia telah bisa bebicara, meski masih dengan terbata.
''Yyuuun...le..pas..kan..to..tok..totokan..ini.'' Ucap Jing lagi.
Pria tersebut, menatap lekat kearah Ziaruo, penuh harap.
Sementara yang ditatap, seolah mengabaikan, dan bahkan kembali melanjutkan capannya.
''Mungkin jika ia dilahirkan bukan karena sebuah hukuman, atau jika tidak memiliki ingatan tentang kehidupan terdahulu. Maka, di dalam seluruh kehidupan yang dimiliki wanita ini sekarang, Anda adalah pria satu satunya.'' Ziaruo.
__ADS_1