
Penderitaan sebuah perpisahan atas seseorang yang di kasihi melebihi diri sendiri, akan jauh lebih menyakitkan dari apapun.
Baik itu untuk kebaikan, ataupun demi alasan yang lain.
Rasa sakit tersebut, tetaplah akan nyata terasa.
Dan hal inilah yang membuat wanita Ziaruo, kesulitan untuk menyampaikan kenyataan itu.
Dalam pertimbangannya, Ziaruo tengah memilih waktu yang tepat.
''Jika.... wanita ini menyakiti sekali lagi, apakah anda akan memaafkannya?.''
Mendengar ucapan itu, Jing hanya memejamkan mata dan diam sejenak.
Ia kembali mencium pucuk kepala Ziaruo, yang kini meringkuk dalam pelukan, dan hanya setinggi dagu bawah Jiang.
''Apa kau harus melakukan itu Yun?.'' Tanyanya lembut.
''Apa ketakutanku sekarang, tidak dapat mengetuk pintu hati para dewa. Sehingga harus memaksamu menyakiti pria ini?.''
Jiang jing wei, menyadari apapun yang meluncur dari bibir Ziaruo, bukanlah hal yang biasa serta mudah.
Dalam hatinya, ia mengerti akan keseriusan dari penyampaian sang istri.
Hati Jing kembali gundah.
Namun adakah hal yang lebih menyakitkan dari kenyataan, bahwa waktu mereka yang tersisa hanya dalam hitungkan bulan?.
Dalam diamnya hati serta pikirannya, Jing Bergumam untuk diri sendiri.
''Kau pasti menderita Yun, dan apa yang telah kau lalui selama ini, mengapa mereka(para dewa) sangat kejam terhadapmu." Pikir Jing.
Pria tersebut memejamkan mata, menahan gemuruh hati agar tak terlihat oleh Ziaruo.
Diatas penderitaan dan ketakutan hatinya, jiang jing wei masih menempatkan wanita itu melebihi diri sendiri.
Ia tidak berpikir bahwa perasaannya lebih penting dari perasaan wanita itu.
Karena Jing selalu menempatkan Ziaruo di atas segalanya.
Dan jika saja, wanita itu masih mampu melihat pikiran orang lain saat ini.
Mungkin hatinya akan memiliki rasa bersalah yang besar, mata itu juga akan kembali menangis, atas kepedulian, perhatian, dan kesedihan Jing.
''Aku selalu akan memaafkanmu, selama kau masih di sini bersamaku.''
Jawaban Jing meluncur datar, tanpa ada perasaan yang membebaninya.
Dan itu adalah ketulusan serta kejujuran hati pria tersebut.
Jing berpikir apapun akan ia maklumi untuk wanita tersebut, selama ia masih bersama.
Dengan karakteristik dari permaisuri Yun, Jing yakin leburukan bagi orang lain atas tindakan Ziaruo, pasti di karenakan suatu alasan tersendiri.
Dan itu juga berlaku untuknya, wanita itu tak akan mungkin dengan sengaja menyakiti, jika bukan karena keterpaksaan.
__ADS_1
Jing siap untuk memaafkan wanitanya.
Namun, yang tidak di ketahui Jing hingga detik ini, kepedihan yang akan di berikan oleh Ziaruo, adalah rasa sakit, serta penderitaan atas kepergian wanita itu.
Jika demikian, apakah dirinya masih mampu untuk bersikap sabar dan memaafkannya dengan mudah?.
Sungguh suatu ujian memang tak pernah dapat di duga. sekuat apapun, sebesar apa persiapan yang di lakukan, nyatanya hal tersebut tetaplah sebuah badai yang akan menghantam secara hebat.
Ziaruo diam tak bergeming mendengar jawaban sang suami.
Hingga beberapa detik kemudian ruangan menjadi hening.
Hanya suara lembut selimut, yang bergesek dengan ranjang, ataupun anggota tubuh keduanya, ketika bergerak saling memanjakan.
Jing memeluk erat, membelai rambut, serta kembali merengkuh tubuh wanitanya.
Jiang jing wei ingin menikmati waktu kebersamaan mereka saat ini, dan tak ingin melepaskan dari dalam pelukan.
Dalam kegundahan Ziaruo hanya dapat berkata. ''Terimakasih..''
Ziaruo menyambut pelukan Jing, dengan kedua tangannya yang merangkul tubuh besar disana.
''Maafkan aku sekali ini saja, dan tak akan ada kesalahan lain setelahnya.'' Ucap wanita itu lagi.
Dan Jing tak menyahuti perkataan tersebut, hanya memberikan kenyamanan dengan pelukan yang kian posesif, untuknya.
Mereka masih bergulat dan bermanja, di atas ranjang.
Hingga matahari hampir bergulir tepat diatas kepala, Jing memanggil para prlayan untuk menyiapkan air mandi bagi mereka.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan, yang berada di sisi sayap kana pavilliun istana.
Langkah mereka tidak cepat dan tidak juga lambat.
Para kasim dan pelayan istana, berbaris berjalan di belakang keduanya, berjarak beberapa jengkal.
Dan langkah itu terhenti di depan sebuah bangunan, dengan pohon mahogani tinggi berada di halaman.
''Semoga Yang mulia kaisar kaisar, dan permaisuri selalu panjang umur.'' Ucap penjaga di depan paviliun.
Ziaruo mengangkat tangan, mengijinkan mereka berdiri kembali, menggantikan Jing yang mengabaikan sambutan dari para penjaga.
Keduanya langsung masuk kedalam, setelah pintu terbuka.
Mereka menunggu siapapun untuk mempersilakan, ataupun menyambut kedatangannya.
''Kalian tunggu di sini.'' Ziaruo meminta semua orang yang di sana, tetap berjaga dan menunggu di luar.
Jing dan Ziaruo saja yang berjalan masuk kedalam.
Sementara itu, bagi seorang wanita yang kini berada di dalam pavilliun, melihat kedatangan keduanya segera membungkuk dan berkata.
''Semoga paduka kaisar dan permaisuri selalu sejahtera.''
Melihat sambutan tersebut, Ziaruo berjalan lebih cepat beberapa langkah dari Jing.
__ADS_1
Ia membantu tubuh sang wanita untuk berdiri kembali, seraya berkata. ''Tak perlu formalitas.''
Wanita yang tak lain adalah selir Gu dari kekaisaran Tang itu, berdiri dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Tampak jelas, tubuh wanita disana kian berisi, dengan usia kehamilannya yang hampir 4 bulan tersebut.
Setelah mendudukan tubuh, Ziaruo menatap kearah kedua pelayan wanita, yang berada tak jauh dari mereka.
Dan selir Gu memahami pemikiran itu.
''Kalian tunggu di luar, kami ada sesuatu yang akan di bicarakan.'' Wanita Gu.
''Baik ...'' Jawab keduanya bersamaan, sebelum berjalan keluar dari sana.
Sepeninggal kedua pelayan itu, Ziaruo memegang tangan dari selir Gu, dan memulai percakapan.
''Apa Anda sudah siap?.''
Selir Gu menatap wanita di depannya sejenak, dan beralih kearah kaisar Jing, sebelum akhirnya kembali menunduk dan mengangguk pelan.
''Eeemmmh.''
''Anda akan menjadi Ziaruo bagi Canzuo saja, dan tidak untuk kekaisaran Tang, ataupun dunia.''
Selir Gu reflek mengangkat kepala dan menatap wanita itu lekat.
Namun tak ada satu ucapan pun terdengar dari bibirnya.
Ia memahami bahwa hanya Canzuo saja, yang mengetahui bahwa dirinya adalah Ziaruo.
''Putra anda akan mendapat apa yang seharusnya menjadi miliknya.''
Wanita Gu masih diam, dan mendengarkan setiap ucapan dari Ziaruo.
''Apakah bisa itu dilakukan?, wanita ini tak ada kemiripan sama sekali dengan permaisuri.'' Jawab selir Gu, setelah beberapa saat.
Ziaruo tersenyum, ia bukan tidak menduga bahwa pertanyaan tersebut, akan meluncur dari bibir selir Gu.
Sejak dari awal ia membawa wanita itu kesana, Ziaruo telah memikirkan solusi untuk permasalahan ini.
Hanya saja, sekarang ada sedikit perubahan.
Yang semula, Ziaruo berencana untuk mengubah wajah selir Gu menjadi dirinya, dengan kekuatan magis. Kini telah berubah, dan harus menggunakan bantuan dari ramuan wanita Yaksa.
Dan itu sedikit membuatnya tidak nyaman.
Hal ini bukan tanpa alasan, karena ia tidak mengetahui apa resiko dari ramuan dari Yaksa tersebut.
Akan tetapi, ia tak memiliki waktu yang cukup untuk mencari solusi lain, dengan batas waktu yang ia miliki.
Ziaruo mengeluarkan sebuah botol bambu kecil dengan tutup rapat, dari balik lengan baju.
Ia juga menjelaskan tentang ketidak nyamanan, tersebut kepada wanita Gu.
Keinginan Ziaruo hanya satu, ia ingin wanita itu mengerti dan memahami, atas setiap kebaikan serta keburukan dari ramuan yang akan di minumnya.
__ADS_1
''Bagaimana apa Anda masih akan melanjutkan rencana ini?.'' Tanya Jing, ketika melihat wanita Gu, menatap kearah sang istri.