Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 8 Bolehkah cemburu?


__ADS_3

 


Di dalam sebuah ruangan yang tampak remang-remang .


 


Dion merebahkah tubuhnya kasar, hari ini ia kesal akan banyak hal.


Kesal karena tiba-tiba tasnya di acak-acak orang lain.


Kesal karena menjadi tontonan, kesal karena menjadi hilang kendali, serta kesal karena telah menuruti amarahnya.


Bahkan, ia juga merasa kesal atas sifat Wita yang jelas-jelas tahu, selama 3 bulan terakhir ini, ia sudah bersabar dan berusaha berbuat baik, meluangkan waktu untuk bersama dirinya.


Pria itu juga kesal, saat menatap cermin, dan melihat pantulan tubuh serta wajahnya sendiri.


"Coba aku bisa melihatmu, pasti tidak akan semuram ini hari-hariku." Gumamnya pelan.


Memikirkan gumamannya sendiri, Dion melompat antusias.


Ia berjalan cepat dan berhenti di depan sebuah laci, ditariknya perlahan pegangan pada pintu laci, dan meraih sebuah ponsel.


Melihat benda tersebut, bibirnya melengkungkan garis lebar, dan mata itu memancarkan sebuah rona cerah.


Dengan bergegas, Dion kembali duduk di atas ranjang, serta mulai mengutak atik ponsel.


Sementara itu di tampat yang berdeda, namun dengan waktu yang hampir sama.


 


"Thing..thing..thing..thing." Sebuah bunyi notifikasi, tanda pesan masuk.


Seorang wanita yang kini duduk di dalam mobil, tersenyum mendengar suara tersebut.


Dengan cepat, Ia merogoh sakunya pada rok seragam sekolah.


Perlahan membuka kotak pemberitahuan notifikasi ponsel.


Bibir pink ranumnya, kembali menyunggingkan sebuah senyuman lembut.


Bahkan mata coklatnya yang unik, juga berbinar cerah.


"Dari orang yang sepecial ya?." Tanya Rasya, dengan sikap setenang mungkin.


Ia sadar, bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, untuk gadis yang duduk di sampingnya tersebut.


*Rahartika duduk di kursi depannya, menemani Rasya yang sedang mengemudikan mobil di sebelahnya *


"Mana mungkin kau menganggapku sebagai pria. Sudah untung dia memanggilku dengan sebutan kakak dan bukannya Om atau pak, mengingat perbedaan usia diantara kita." Pikirnya dalam diam.


"Tapi...jika nanti aku sudah memastikan dengan benar perasaanku padamu, maka .." Lanjutnya lagi dalam pikiran.


"Eheeeemmm....''


Gadis itu hanya menjawab singkat, dengan bereheem ria sambil mengangguk pelan.


Dan hal itu bermakna, ia mengiyakan tanpa penyangkalan.


Seolah tanpa ada rasa sungkan, atau kuatir akan pikiran, serta pendapat orang lain.


Hati Rasya merasa kecewa.


"Ternyata om Adi orang yang terbuka, dan sangat mempercayaimu ya." Ucap Rasya, dengan nada yang masih tenang pada raut wajah tampannya.


Padahal jika boleh di gambarkan, saat ini mungkin akan ada awan gelap, yang menutupi seluruh ruangan dalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Maksud kak Rasya apa?, dan Ayah memang mempercayaiku kak. Banyak hal yang menyangkut diriku, bisa aku putuskan sendiri." Jelasnya, tetap dengan nada tenang serta lembut.


Akan tetapi, dengan mata dan tangan yang terfokus pada ponsel legend miliknya.


Mendengar jawaban serta sikap Rahartika, tanpa sadar Rasya menghela nafas pelan.


Ia merasa bahkan sebelum mereka menjadi hanya sebatas dekat saja, gadis itu sudah memiliki seseorang yang special.


"Kak Rasya jangan membuat praduga, atau memiliki pemikiran yang setengah-setengah, jika memang ada yang ingin di ketahui boleh koq bertanya.'' Sambung Rahartika, yang kini mengalihkan pandangan, dan menatap pria di sampingnya.


Bibir mungilnya kembali melepas senyuman lembut untuk pria tersebut. Ia tahu bahwa dari baris ucapan pria itu, ada sesuatu yang mengambang.


Oleh karenanya, setelah ia membalas pesan pada ponsel, Rahartika kembali bertanya.


"Maksud kakak, ternyata kamu sudah di beri lampu hijau, oleh om Adi untuk menjalin hubungan dengan seorang pria."Jawab Rasya tenang, atas pertanyaan Ika.


"Dan aku tahu, pasti salah satu pemuda yang berada di rumah makan tadi siang." Sambung Rasya, dalam pikiran.


"Tuhan, apa aku benar-benar menyukai gadis baru gede ini?, apa mungkin saat ini Engkau sedang bercanda denganku tuhan?." Sambungnya lagi masih dengan kebungkaman.


"Kak Rasya berfikir terlalu jauh, ayah memang mempercayaiku. Namun, untuk memiliki kekasih, aku masih belom berfikir hingga kesana."Jawab gadis itu lagi, sebelum kembali berkutat dengan ponsel.


Karena memang dari benda kecil nan unik itu, kembali terdengar suara notifikasi sebuah pesan masuk.


Ploong...


Seolah ada angin sepoi, yang perlahan meniup awan hitam di atas kepala Rasya, dan bergerak menjauh ketika Rasya mendengar, bahwa Ika belum memikirkan untuk memiliki kekasih.


"Tapi ..tadi tidak menyangkal bahwa, dia sedang berbalas pesan dengan orang yang special, aarrggh ...apa yang kupikirkan?." Gusarnya dalam hati.


Pikirannya kembali kalut, dan si awan hitam kembali lagi duduk di atas kepala, bahkan menendang, si angin sepoi-sepoi menjauh.


"Lhaa... tadi katanya sedang membalas pesan dari orang yang special?, memangnya dia bukan kekasihmu?." Tanyanya lagi, dengan senyum sekilas. Yang tentu saja senyum aspal.


Asli tapi palsu, senyuman memang asli dari bibirnya, namun palsu hanya untuk menutupi sesak, dan gemuruh di hati.


"Maksud kakak yang ini?.'' Tanyanya lagi, sambil mengangkat ponsel legend miliknyanya.


Rahartika menunjukan benda itu, ke arah Rasya.


"Heeehhh..''


Gadis itu menghembuskan nafas panjang, sebelum kembali berkata. ''Dia memang seorang yang special bagiku, namun bukan dalam artian seseorang seperti kak Rasya fikirkan. Dia orang yang banyak menderita, namun dia juga seorang yang kuat serta hebat.''


Rahartika, terdiam sejenak, seolah tengah mengingat sesuatu, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


''Kami sudah lama saling mengenal, bahkan ponsel ini dar...'' Lanjut gadis tersebut kembali, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapan, Rahartika tiba-tiba saja berhenti.


Ia menatap lekat kearah pria yang berada di sampingnya, seolah dia menemukan sesuatu yang menarik.


"Hheeeemmmmmmzzz..aku tahu sekarang, ck..ck...ck...pasti kak Rasya......" Ucapnya tegas, dengan mata yang menelisik ke arah Rasya.


Saat melihat Rahartika menatapnya lekat, dengan senyum tipis menyeringai, ujung mata kanan sedikit berkerut, serta jari telunjuk kanan gadis itu mengarah padanya, dengan gugup ia berkata. ''Ap...apa ..apa yang kau tahu?.''


Rasya merasa sangat gugup, seolah olah ia sedang tertangkap kering.


**( he..he ..kan di dalam mobil, dan tidak sedang kehujanan jadi pakai kering saja ya .) **


Ia takut dan malu, jika sampai ketahuan. Bahwa di usianya yang sekarang, ia menyukai lebih tepatnya tengah tertarik, dengan gadis yang masih belia disampingnya tersebut.


''Bisa mati kutu aku....'' Cemasnya, dalam hati.


"Kak Rasya sedang jadi agen penyelidik ya, hadeeeh.....nggak lucu kak...eeheeeehh." Sahut gadis itu reflek, sambil menghela nafas panjang.


"Kak Rasya bilang saja kepada Ayah, kalau aku hanya berteman dengan mereka, dan tolong sampaikan, jika ada yang ingin ayah ketahui, bisa bertanya langsung padaku.'' Lanjut Rahartika, dengan wajah sedikit manyun.

__ADS_1


''Heeh ..maafkan Ayah kak Rasya, mungkin dia mencemaskan aku, he..he..he ..jadinya kak Rasya yang di repotkan." Sambung Rahartika kembali, menjelaskan dari sudut pandang serta versinya.


Mendengar hal tersebut, lagi lagi Ploooong, rasa lega hinggap dalam hati dan fikiran Rasya.


Ia tahu, saat ini gadis di sampingnya tersebut, mengira bahwa dirinya tengah dimintai bantuan oleh Adi, ayah Rahartika.


Untuk menanyakan perihal teman special pria gadis tersebut. Jadi motif pribadinya masih gelap, alias tidak ketahuan mata Rahartika.


"Maaf om Adi, aku pinjam nama anda sebentar, jika nanti berhasil, aku bersedia menebus dengan mengabdikan diri menjaga anda di hari tua nanti." Pikirnya dalam diam.


Tanpa terasa senyum tergambar di wajah tampannya.


 


Sementara itu, di sebuah ruangan gedung rumah sakit.


 


Seorang pria paruh baya, sedang merapikan meja kerjanya, dan bersiap-siap hendak pulang.


Namun, secara tiba-tiba ia bersin beberapa kali.


''Haaaziiimmmm ...haaziimmmm..., kenapa aku seperti ini?. Padahal kondisi kesehatanku baik-baik saja, apa ada yang menusukku dari belakang ?.'' Gumam Dr.Adi pelan, sambil mengusap ujung hidungnya, dengan beberapa lembar tisu.


Berbeda lagi dengan keadaan seorang pemuda, yang tengah tengkurap di atas tempat tidur.


Ia tersenyum cerah layaknya mentari pagi, setelah membaca beberapa pesan dari ponsel, yang tak lepas dari tangannya sejak tadi.


Ia membalikkan tubuh kekarnya, dengan posisi terlentang, serta senyum yang mengembang, dan mata terpejam.


"Kau selalu bisa mengembalikan ketenangan dan semangatku Tika."


Ucapnya pelan, sehingga terdengar seperti gumaman saja.


 


Flash back on


*Kisah di antara si kembar legend*


*¤ Thing...thing....( suara notifikasi phonsel 1)


Hallo gembul di sana, apakah sedang actif?.


¤ Ding...dong..ding..dong.( suara notifikasi phonsel 2)


Hallo gembul disini


, siip kebetulan sedang actif, apa kabar gembul di sana?.


¤Thing..thing..thing..


Siip, gembul di sini agak mendung, mungkin sebentar lagi ada guntur, makanya chat sama gembul di sana, mencari angin buat mendepak awan di sini, biar nggak jadi menggelegar.


¤Dhing ..dhong ...dhing ..dhong.


Haiiish....dasar !!!!gembul lagi gombal..🤓....keep spirit...U..can do it!.


¤ Thing ..thing..thing...


😃😂 tanx...Spiiiriiiittttt!, I can do it!...😍😘.


¤ Ding..dong..ding..dong..


😲😨😨😨😭.*

__ADS_1


Flash back off


__ADS_2